Namaku Retno 1.15
Posted on 29 Januari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.15
“Tidak boleh. Harus Retno yang melihat duluan. Ayo kita berangkat. Kamu duduk di belakang sama aku, beri tahu jalannya sama supir.” Kata Arya.
Sejak pagi Retno tampak gembira. Pergi ke pasar belanja semua keperluan kemudian memasak dikerjakan dengan wajah berseri-seri. Kegembiraan itu tidak luput dari pengamatan ibunya wanita berusia awal limapuluhan.
“Kamu gembira siang ini. Ada apa?”
“Ah ndak Bu, biasa saja.”
“Tidak biasa. Hari ini kamu kelihatan ceria dan gembira. Tidak bisa kamu sembunyikan. Kamu naksir perjaka Jakarta yang kamu undang?”
“Dia duda tapi ndak punya anak. Dua tahun menikah dia cerai. Namanya Arya.”
“Kamu baru kenalan?”
“Iya Sabtu malam minggu lalu. Setelah itu beberapa kali dia nelpon aku. Ngobrolnya enak, dia ndak sombong. Biasanya anak Jakarta itu sombong-sombong.”
“Kamu dadakan ngundang makan.”
“Ndak dadakan. Aku wis ngomong sama ibu hari Kamis. Dua hari lalu.”
Sang Ibu tertawa. “Dia nginap di mana? Kamu nyuruh Dimas menjemput?”
“Hotel Sheraton.”
“Wah banyak duit kalau nginapnya di hotel berkelas.”
“Tiga hari dia rapat di Sydney, selesainya Jumat kemarin, dia terbang langsung Jakarta terus ke Surabaya. Soalnya dia sudah janji mau makan siang di sini.”
Retno kemudian menceritakan pertemuannya dengan Arya.
“Bu, kemarin dia menanyakan apakah aku mau menerima oleh-oleh dari Australia yang sengaja dia bawa untuk aku, kujawab mau, ibu bapak ndak marah?”
“Katamu baru satu kali bertemu, tapi sudah mau terima oleh-oleh?”
“Ibu dan Bapak ndak marah kan?” Desak Retno.
Sang ibu meneliti paras putri tunggalnya. Tampak wajah cantik itu memerah malu. Dia tertawa. “Ndak. Ibu ndak marah. Bapak juga ndak marah. Kan ada orang berbaik hati sama anak Ibu, ndak mungkin Ibu marah. Tapi pasti ada maksudnya.”
Retno tersipu malu. “Ndak Bu, katanya hanya mau menyenangkan aku.”
“Dan kamu senang?”
Retno tidak menyahut, pura-pura sibuk menata meja makan untuk prasmanan.
“Kamu senang sama dia?” Ibunya mendesak.
“Ndak tahu Bu, kan baru kenal.”
“Hati-hati Retno. Gunakan perasaan dan pikiran dengan baik. Jangan sembrono, semua harus dipikir dan dirasakan dengan seksama. Bagaimana dengan Yudistira?”
Muka Retno berubah, murung. “Mas Koco sama Bapak ngotot supaya aku mau dijodohin dengan Yudistira, tetapi aku ndak mau. Kata Ibu tadi supaya aku gunakan rasa dan akal untuk memilih jodoh. Kepada Yudistira, aku tidak suka, Bu. Akalku juga berkata dia bukan pilihan untuk aku. Bu, aku ndak mau dipaksa!”
“Kenapa? Karena sudah ketemu Arya?”
“Sebelum ketemu Arya. Sejak mula ketika Mas Koco ngomong Yudi naksir aku, langsung kujawab tidak suka, dan aku minta maaf tidak bisa memenuhi keinginan Mas Koco. Perasaan suka itu tidak bisa dipaksa-paksa, iya kan Bu?”
“Kalau kamu tidak suka, ya sudah, tetapi khusus Arya, ibu nasihati kamu, hati-hati Nak, selidiki dulu keadaannya, maunya apa, hubunganmu dengannya mau dibawa ke mana, hanya senang-senang atau prospeknya ke pelaminan. Jika tidak ada kepastian, lebih baik kamu menahan diri. Artinya jangan kamu jatuh cinta, sekarang ini semua orang harus cari aman, kamu juga harus cari aman.”
“Iya Bu, akan Retno perhatikan.”
Wanita bernama Endang Pratiwi yang adalah seorang guru SMA itu tersenyum. “Menunya empat macam, tapi semuanya masakan Jawa, apakah dia doyan? Kalau dia sering bisnis ke Australia, mungkin dia terbiasa masakan Eropa?”
“Dia tertarik lontong mi, jadi menu pertama yang kusajikan yah lontong mi.” Retno diam sesaat. “Mungkin juga dia akan cicipi nasi pecel.”
***
Mobil yang mengantar Arya dan Dimas berhenti di mulut gang. “Kamu cari parkiran, nanti kalau mau jalan, kutelpon.” Kata Arya kepada supir.
Tidak jauh dari mulut gang, mereka berhenti di rumah lantai dua.
Dimas membuka pagar. “Ini rumahku, Mas.”
Arya tidak memberi komentar, hanya menyahut. “Tidak jauh dari hotel yah?” Sekilas dia memperhatikan tiga sepeda motor berjajar di pekarangan.
Sekilas pandang Arya yang memang arsitek bangunan, menyimpulkan garis besar rumah. Ukuran tanah lebar delapan meter dan panjang duapuluh hampir habis untuk bangunan. Tampaknya rumah belum lama direnovasi, sekitar lima tahunan.
Pekarangan yang hanya lebar delapan kali panjang tiga meter sebagian dipasangi konblok. Di pojok yang masih tanah tumbuh pohon belimbing yang buahnya rimbun. Rumah tampak bersih dan nyaman. Untuk ukuran di dalam gang, tergolong besar.
Teras sempit hanya muat dua kursi dan sebuah meja. Lantainya ubin merah bata. Dimas mengajak Arya masuk. Di ambang pintu Arya memberi salam. Terdengar balasan salam. Suara Retno dan beberapa orang pria.
Retno mengenakan jin biru pucat dengan kaos hitam polos. Mukanya tanpa make-up, dia menghampiri dan menyambut uluran tangan Arya. “Jadi juga datang ke gubuk aku, jangan ketawain yah rumahku.”
Sejak awal Arya mengingatkan dirinya untuk berhati-hati memberi komentar, tak mau merusak suasana hati tuan rumah. “Lontong mi, ada ndak?”
“Sudah siap. Tinggal disajikan dan dimakan.” Retno tersenyum.
Retno mengajak Arya ke ruang tamu.
“Ini Bapak, ini Ibu.” Kata Retno memperkenalkan Arya dengan orangtuanya.
Arya salaman sambil memperkenalkan diri. “Saya, Arya Priambodo.”
Sekilas Arya mengamati lelaki tua yang masih tampak kekar, jangkung dengan tatapan mata yang keras. Isterinya, yang kelihatan lebih muda, masih tampak cantik, parasnya bagai pinang dibelah dua dengan Retno.
“Ini kangmasku yang tertua Joko Santoso akrab dipanggil Mas Koco dan isterinya Mbak Ningsih, dan ini Mas Bambang Susetiyo dan isterinya Mbak Susi, ini adikku Darma Susilo dan yang bontot tadi Dimas Biyantoro.” Lalu Retno menunjuk kursi kosong mempersilahkan Arya duduk.
“Lho Retno kog ndak langsung makan saja,” kata ibunya.
Dimas Biyantoro memotong. “Bu, sebelum makan, mbak Retno diharap membuka oleh-oleh dari Australia.”
“Kenapa sih buru-buru, nanti saja,” Tukas Retno malu-malu.
“Sebaiknya sekarang, sebab ransel itu sudah jadi milik aku, Mbakyu hanya isinya. Jadi kan harus cepat-cepat serah terima.” Tutur Dimas Biyantoro bersemangat.
Retno memandang Arya, lalu menoleh pada ibunya.
“Bukalah Retno.” Kata Ibunya.
Retno agak malu-malu juga kesal, menyuruh adiknya. “Sudah, buka saja Dimas.”
Dimas mengeluarkan tas kulit buaya warna hitam keabuan dan hoodie merah yang masih dalam bungkus plastik. Dia memberikannya kepada Retno yang menerima sambil memandang Arya. “Terimakasih yah Mas. Hadiahmu bagus banget.”
Arya menyahut sopan. “Terimakasih kamu mau menerimanya.”
Tiba-tiba terdengar suara serak Mas Koco. “Itu biaya makan lontong mi, ha .. ha.. ha..” Dia tertawa keras seakan ada yang lucu.
Saat itu juga suasana berubah, menjadi hening. Semua terdiam. Arya diam, meskipun merasa nada itu sinis, tetapi tidak bereaksi. Sekilas dia memandang Mas Koco lalu beralih ke Retno.
Tubuh Mas Koco yang lebar dan kekar serta rambutnya yang tebal dengan kumis dan mulut yang agak lebar memperlihatkan keangkeran. “Mas Koco tampaknya tidak bersahabat, tapi mungkin aku salah tafsir.” Bisik Arya dalam hati.
Ketika beralih ke paras Retno yang merah padam, dia terpesona betapa cantik gadis itu dalam kesederhanaan. Tubuhnya yang berisi, seksi dan proporsional tampak menonjol dalam busana sederhananya yang ketat.
Ketika bertemu di pesta seminggu lalu, potongan tubuh gadis itu tersembunyi. Atau tidak terlalu diperhatikan Arya. Namun siang ini kecantikannya tampak jelas.
Paras Retno memerah, kesal mendengar sinisme Kakangmasnya.
“Ah Mas Koco suka guyonan, aku bukan penjual lontong mi, jelek-jelek begini aku karyawati travel FlyMe, punya penghasilan sendiri.” Ucapnya sinis tetapi dibungkus senyum dan tawa kecil. Dia menatap tajam Mas Koco.
Sang ayah, Purwanto, memotong pembicaraan. “Ayo kita makan. Retno ajak Arya memilih makanan.” Dia menggapai ke arah Arya. “Silahkan nak Arya.”
“Terimakasih Pak, saya bisa ambil sendiri.” Sambil Arya melangkah ke meja.
Retno mendampinginya. “Kamu mau lontong mi dulu?”
“Iya sudah tentu, lontong mi.” Sahut Arya sambil mengambil piring kosong.
Retno mengambil piring dari tangan Arya. “Mana aku sajikan.” Lincah memindah lontong, taoge, mi lengkap dengan kuahnya, lalu jari-jari tangannya meremas magli jadi potongan kecil dan disebar dalam piring. Berikut dia menyiram dengan sambal petis encer. “Kalau kurang kamu tambah sendiri, kuah petisnya mesti pas baru enak.”
Makan siang itu menjadi cair, obrolan berjalan lancar.
Arya duduk diapit Retno dan Purwanto. Diseberang Arya, Mas Koco duduk berdua isterinya didampingi Bambang dan isterinya. Sepasang mata Mas Koco sering menatap tajam Arya, seakan harimau lapar hendak memangsa korbannya. Dimas dan Darma duduk dekat pintu.
“Kerjamu di Jakarta di bagian apa?” Tanya Purwanto.
“Di kantoran, pegawai biasa.” Arya merendah.
Mas Koco melempar kritikan pedas. “Pegawai biasa tapi nginap di Sheraton, hebat juga sampean Mas Arya.”
Retno menoleh pada ayahnya. “Bapak, Mas Arya kantornya di jalan Thamrin, dia kerja di perusahaan asing dari Australia, jabatannya asisten managing director, menurut aku sih pantas-pantas saja kalau nginap di Sheraton.” Retno tidak menoleh kepada Mas Koco, tetapi kata-katanya ditujukan kepada Kakangmasnya, bahkan dia tersenyum menggoda. “Mas Koco ini semakin kelewatan, belum apa-apa sudah memusuhi Mas Arya, maunya apa sih? Mau maksa aku jadi isteri Yudi, emoh aku.” Katanya dalam hati.
Merah padam muka Mas Koco, namun karena kulitnya agak hitam, perubahan paras mukanya tidak kelihatan.
Retno mengalih pembicaraan, bertanya kepada Arya. “Mau nambah lontong mi, atau nasi pecel pake empal daging sapi atau nasi rawon?”
“Nasi pecel deh, tapi separuh saja.” Kata Arya. “Terimakasih Dik Retno.”
Melihat kangmasnya kehilangan muka oleh ucapan Retno, Bambang Susetiyo upaya mengalih pembicaraan. “Mas Arya sudah lama kerja di Australia?”
( Bersambung 1.16 )
Comments







