Namaku Retno 1.14

Posted on 29 Januari 2017 ( 0 comments )




Namaku Retno 1.14

 

Dan Retno memang senang malam itu. Dia tidur dibuai mimpi indah.

Undangan Makan

Dimas Biyantoro, memasuki lobby hotel. Dia menimang hape tetapi  menunda maksud menelpon Retno karena melihat sepasang lelaki perempuan keluar dari restoran hotel sambil bergandeng tangan. Si gadis bersikap manja, menggandeng erat lengan pacarnya. Keduanya tertawa. Tampak mesra.

Dimas mengenal Yudistira karena beberapa kali dia bertamu di rumahnya menjemput Mas Koco. Lelaki yang biasa dipanggil Yudi itu bersahabat dengan Mas Koco. Siapa wanita itu? Dia tidak kenal. Wanita muda itu cantik dengan busana seronok. Dimas hendak bersembunyi, maksudnya ngintip diam-diam. Tetapi Yudistira sempat melihatnya.

“Kamu tunggu di sini, sebentar, aku temuin seorang teman.” Kata Yudistira kepada teman gadisnya. Dia bergegas menuju tempat Dimas berdiri.

“Hei Dimas, apa yang kamu kerjakan di sini?” Yudistira menyapa.

“Aku mau jemput tamu, disuruh Mbak Retno.”

“Tamu? Siapa?”

“Orang Jakarta, Arya Priambodo.”

Kaget. Tetapi Yudistira menyembunyikan perasaannya. Dia ingat nama Arya, waktu itu temannya memberitahu, Arya melantai mesra dengan Retno di pesta reuni. Namun dia pura-pura tidak mengenal. “Menjemput? Memang mau ke mana?”

“Mbak Retno mengundang dia makan siang di rumah.”

“Oh sialan si Retno, jadi sejak malam pesta itu dia berhubungan dengan playboy Jakarta itu, kurangajar.” Gerutunya dalam hati. “Kamu kenal dia?”

Dimas menggeleng. Dia melihat gadis teman Yudi menghampiri. “Belum tapi nanti juga mengenalnya, gampang kog.” Lalu dia menyambung. “Mas Yudi, cewekmu cantik, pacarmu? Kenalin dong.”

Sebelum Yudistira menjawab.

Tangan gadis itu menggamit lengan Yudistira. “Ayo Mas, antar aku ke atas.”

Yudistira serba salah, gugup. “Kamu duluan, ditunggu Papamu.”

“Iya… tapi aku maunya kamu antar.” Suaranya manja.

Melihat Yudistira serba gugup. Dimas melangkah maju dan menyodorkan tangan. “Kenalin aku Dimas, teman mas Yudi.”

Gadis itu menyambut tangan Dimas. “Oh begitu. Aku Anita.”

“Pacar mas Yudi?”

Anita mengangguk dengan senyum menggoda. Dia lalu menarik lengan Yudistira, “Ayo Mas, aku ini sakit perut.”

Yudistira tak berdaya. Ikut Anita melangkah menuju lift.

Begitu masuk kamar, Anita menghambur dalam kamar mandi. Yudistira memberi hormat pada orangtua si gadis. Lalu dia memencet hapenya.  Hape Dimas sibuk.

Dia berkata kepada lelaki tua, ayah Anita. “Oom kalau ditanya Nita, saya tunggu di lobby.” Dia keluar kamar, menuju lift.

Saat itu Dimas sedang nelpon Retno. “Mbak, aku ketemu Yudi, wah hebat, pacarmu itu bawa gadis, cantik, pakaiannya seksi, separuh payudaranya ngintip dari belahan bajunya. Namanya Anita.” Dimas mendramatisir.

“Dimas, awas kowe, jangan menggoda, dia bukan pacarku.”

“Sorry aku lupa, mantan pacar.” Dimas menggoda.

“Dimas!” Terdengar jerit Retno.

Dimas menjauhkan hape dari telinganya. “Iya, iya mbak, aku guyonan. Memang Yudi itu ndak cocok sama kamu. Laki-laki buaya mana cocok sama Ndoro Retno.”

“Aku ndak mau guyonan begitu.” Retno reda marahnya. “Kamu sudah di Sheraton, wis ketemu Mas Arya?”  

“Lho yah dereng Mbak, kan janjinya kamu yang nelpon dia, beritahu aku sudah nunggu di lobby. Sudah yah Mbak. Aku duduk-duduk di lobby.”

  “Eh Dimas, si Yudi itu nginap di hotel?” Tanya Retno.

“Sudah jelas Mbak, dia pasti nginap di hotel, kan ada si Anita yang seksi bahenol.  Kupikir namanya bukan Anita, itu nama samaran.”

“Yudi itu memang buaya. Mas Koco sama Bapak saja yang mau jodohin aku dengan si buaya.” Kata Retno dengan nada tinggi. “Dimas, tunggu di lobby, aku telpon Mas Arya, janjinya kan jam duabelas. Sekarang kurang lima menit. Tunggu yah.”

Belum juga memasukkan hape ke kantong celana, Hapenya berdering. Dimas menyahut, “Hallo…”

“Hallo Dimas, aku barusan nelpon Mas Koco, menjelaskan tentang Anita supaya tidak salah faham. Dia itu putri sahabat Papaku yang tinggal di Semarang. Dia nginap bersama bapak dan ibunya di hotel ini. Aku bertugas menjemput mereka, sama seperti tugasmu menjemput teman Mbakyumu.” Yudistira menelpon dari balik dinding lift yang tidak terlihat Dimas.


Dimas tertawa dalam hati. “Benar kata Mbakyu, dasar buaya, dikiranya aku ini goblok, atau udik ndak bergaul. Sudah jelas dia itu pacar gelap.” Tetapi Dimas menjawab diplomasi. “Anita itu seksi Mas. Oke Mas, aku mau ketemu Mas Arya dulu.” Lalu dia menutup hapenya.

Saat yang sama Retno sedang online dengan Arya. “Mas, si bontot Dimas sudah di lobby, pakaiannya hitam-hitam, rambut cepak, dia duduk di sofa di lobby.”

“Baik dik Retno, aku segera turun.”

Udah yah Mas, aku tunggu lho.” Lalu Retno menyambung cepat dengan nada manja. “Jangan lupa oleh-oleh itu yo Mas?’

“Yang kamu tunggu aku atau oleh-olehnya?” Arya menggoda.

“Yah kamu tohk Mas Arya.” Retno menyambung dengan tawanya yang khas. “Tapi oleh-olehnya itu bagus lho Mas.”

“Tahu darimana kalau bagus?”

“Kalau yang ngasih itu Mas Arya, pasti oleh-olehnya bagus.” Retno tertawa.

“Kamu mulai pinter muji.”

“Lho kan belajar dari Mas Arya.” Retno tertawa. Hatinya senang.

***

Arya keluar lift sambil menjinjing backpack ukuran sedang. Yudistira mengintip dari tempatnya. “Benar dia Arya, yang melantai bersama Retno. Kurangajar anak Jakarta itu diam-diam naksir Retno. Atau main-main?” Tetapi dia tidak bereaksi, dia menuju lift dan kembali ke kamarnya dengan hati panas dibakar cemburu.

“Dik, kamu Dimas Biyantoro?” Arya menyapa pemuda bercelana jins hitam dan kaos hitam yang duduk di sofa sedang mengutak-atik hapenya, bermain game.

Dimas terkejut. Cepat berdiri. “Iya, kenalkan aku Dimas adiknya Retno. Dan kamu adalah Mas Arya, benarkah?” Dia menyambut uluran tangan Arya.

“Dari tadi nunggunya?”

“Baru saja sekitar limabelas menit. Kita berangkat sekarang? Aku panggil taksi?”

“Kamu naik apa tadi?”

Dimas tertawa, menjawab jujur. “Ojek Mas. Enak, cepat dan murah.”

Arya tetap berdiri, menelpon seseorang dari hapenya. “Pak kamu ke lobby sekarang juga. Mobilmu apa?”

Dia mendengar jawaban, kemudian menyahut. “Oke, aku tunggu di lobby.”

“Taksi hotel?” Dimas bertanya.

“Mobil sewaan, langganan kantor, lebih murah dibanding taksi hotel.”

“Aku bawakan ranselnya.” Dimas menawarkan jasa.

“Oh ini backpack home-industri dari Australia, kamu mau?”

Dimas spontan menjawab, hampir teriak saking senangnya. “Aduh terimakasih Mas Arya, aku pake kuliah pasti dikagumi teman-teman.”

“Teman cewek?”

“Iya semuanya, cewek maupun cowok, Mas. Tapi ada isinya.”

Arya tertawa. “Ranselnya buat kamu, isinya buat Mbakyumu.”

“Buat Mbak Retno?”

“Iya siapa lagi, kan Mbakyumu hanya dia seorang?”

Dimas tertawa senang. “Laki-laki ini keren, tampaknya royal, baru kenal saja sudah ngasih aku ransel mahal bikinan luar negeri. Apa hadiah buat Mbak Retno?” Berpikir demikian, dia berkata. “Boleh lihat isinya?”

Saat itu mobil sedan hitam mengilat berhenti di depan lobby.

“Tidak boleh. Harus Retno yang melihat duluan. Ayo kita berangkat. Kamu duduk di belakang sama aku, beri tahu jalannya sama supir.” Kata Arya.

( Bersambung 1.15 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com