Namaku Retno 1.13

Posted on 27 Januari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.13

“Kalau ada pria ngelamar kamu jadi isteri, terus diboyong ke Jakarta, mau?”

 “Wawancara dulu, cinta beneran atau hanya mau maen-maen.” Retno berpikir. “Apakah ini pernyataan serius? Ah ndak mungkin.”

“Kupikir kalau orang itu melamar kamu, pastinya dia cinta beneran.”

“Aku mau yang permanen.” Tegas Retno, tapi suaranya merdu dan ramah.

“Permanen, apanya yang permanen?” Arya ingin tahu.

“Cintanya yang permanen, rumahtangga permanen, semua serba permanen.”

 “Oh begitu.”

“Apakah ini berlebihan? Terlalu muluk?” Retno balik bertanya.

“Kupikir itu normal. Semua wanita ingin yang permanen.”

“Tidak semua, ada yang hanya mau mancing duit si laki-laki. Begitu sudah jadi isteri, barulah terbuka kedoknya.” Tutur Retno, nadanya serius.

“Kamu termasuk yang mana?”

“Aku tidak mata duitan, tidak materialistis, hidup sederhana juga oke, hidup di kalangan atas juga oke. Aku wanita yang tumbuh dari tradisi Jawa, hidup sederhana, setia, manut pada suami dan mau bekerja membantu suami.”

“Katamu sederhana, tapi bergaul di kalangan atas kamu juga mau.”

“Lho kalau suamiku orang berada, bisnisnya maju, yah aku harus menyesuaikan diri, supaya suami tidak malu, tetapi masih sebatas tidak sombong, tidak takabur dan tidak materialistis. Banyak lho, orang kaya yang sederhana. Seperti Arya Priambodo, bisnisnya maju sampe di Australia tapi dia tetap low-profile.” Retno tertawa.

“Kenapa tertawa?” Arya bertanya.

“Aku baru belajar ilmu dari kamu, memuji orang. Bisnismu maju, benar kan?”

“Oh itu bukan bisnis, aku karyawan, kantorku pusatnya di Sydney Australia, yang di Jakarta ini cabangnya, jadi kalau dipanggil rapat yah mesti datang ke Sydney. Kalau ndak datang bisa dipecat.”

“Oh begitu, kantor apa Mas, boleh aku tahu?”

“Nama perusahaannya Associates Building Design Consultant Sydney, besok aku kasih kartu namaku, ingatkan aku. Kantorku di Jakarta, di Jalan Thamrin.”

“Aduh Thamrin kan daerah perkantoran elit dan mahal. Jabatanmu apa, boleh kan beritahu aku?”

Office-boy.” Arya menelan rasa geli akan keinginan-tahu si gadis.

“Mas, aku tanya yang bener.” Retno menjerit. “Ndak apa, ndak kasih tahu sekarang, besok juga aku tahu dari kartu namamu.”

“Besok juga kamu ndak bakalan tahu, sebab di kartu nama, tidak tercantum  posisi atau jabatan, cuma namaku saja.”

“Mas tega banget kamu, aku ingin tahu, pasti jabatan eselon atas.”

“Aku beritahu, tapi rahasia, ndak boleh beritahu siapa-siapa, jabatanku di cabang Thamrin itu asisten managing director.”

Retno hampir teriak senang. Dan dia tidak tahu mengapa dia senang. “Itu, benar kan, perkiraanku kamu pasti eselon atas.”

“Ingat yah Dik Retno, info itu kamu yang mendesak, jadi keep-secret yah?”

“Jabatan keren koq dirahasiakan.”

“Nanti dikira aku pamer.”

“Tidak begitu Mas. Aku tahu kamu ndak pamer.” Tegas  Retno. “Memang tadinya kamu  tinggal di Sydney, atau orangtuamu tinggal disana? Bagaimana ceritanya bisa dapat kerja di Australia, aku juga ingin kerja di luar negeri, tapi pasti ndak diijinkan Bapak. Tahu ndak Mas, Bapak itu maunya ngeliat aku setiap hari. Eh koq aku ngelantur, bagaimana kisahnya bisa kerja di sana Mas. ”

“Aku ambil master di Brisbane, begitu lulus aku melamar kerja, beruntung aku diterima.” Arya tertawa, senang ngobrol dengan gadis yang suaranya medok lucu.

“Beruntung. Tapi kalau kamu tidak pinter yah ndak diterima, biasanya orang bule itu memilih dengan obyektif, beda dengan kita di Indonesia, seseorang meskipun dia pinter, rajin dan hebat prestasinya, kalau ndak pinter menjilat yah tidak dapat tempat.” Retno tertawa geli. “Negeri kita ini tidak menghargai orang pinter. Tetapi menghargai orang yang lidahnya panjang.”

Arya tertawa. “Lidah panjang?”

“Iyah, pejilat profesional, lidahnya panjang sampe di perutnya, mirip dasi. Lidahnya basah dengan liur, iiiihhh koq aku ngomong jorok.” Retno tertawa.

“Tapi Mas, repotnya, dia kesulitan makan sebab kalau mau makan lidahnya harus digulung dulu,” dia tertawa geli, lagi. “Tetap saja sulit makan, mulutnya kan penuh dengan gulungan lidah, jadi yah ndak bisa makan, lapar terus, tapi para pejilat itu sudah terbiasa, biar lapar asalkan bisa menjilat atasannya demi jabatan dan uang.”

“Itu ciri-ciri pejilat, kalau koruptor?” Tanya Arya menikmati humor.

“Wah ini lebih gawat lagi, tangannya panjang sampai mendekati betis, kuku dan jari-jari tangannya kelewat panjang, dia kesulitan memeluk selir gelapnya, tandatangan cek juga repot, memegang duit apalagi menghitung duit, juga ndak bisa. Kalau kencing ndak bisa buka celana, gawat kan Mas. Iiih koq aku cerita yang jorok-jorok…. hi.. hi.. hi..”

Lucu .....”

“Lho ini serius Mas, kata kakekku, mereka akan tampak seperti itu di pengadilan Allah kelak.” Kata Retno serius. “Masih ingat kan, kisah dialog antara jin yang minta pensiun dan malaikat. Nah para jin itu takut sama pejilat profesional dan koruptor, jin-jin itu takut terpengaruh.”

Arya tertawa. Dia terpukau mendengar guyonan yang dilepas dengan suara merdu. “Gadis ini sangat hidup, ceria, banyak sisi positifnya yang terpendam, makin digali makin bersinar.”

“Mas, wis cukup iya, kamu mesti istirahat, besok kita ngobrol lagi.”

“Tunggu dulu, katamu tadi Bapak tidak ijinkan kamu kerja di luar negeri, maunya ngeliat kamu tiap hari. Enak dong disayang Bapak.”

“Kata Bapak, aku ini yang membawa kedamaian di keluarga, ada lagi katanya yang lain, tapi aku malu, nanti dikira bohong atau pamer.”

“Selain kamu pembawa kedamaian, apa lagi katanya?” Desak Arya.

“Kata Bapak, aku bawa rejeki.”

“Mirip dewi Sri dalam pewayangan?”

“Persis dugaanku iya kan, kamu ngejek aku.” Suara manja si gadis.

“Ndak, aku ndak ngejek.”

“Aku seneng kamu ndak ngejek. Eh Mas, sudahan iya, kamu kan perlu istirahat.”

“Jadi adikmu jemput aku jam duabelas?”

“Iyah jam duabelas, tapi setengah jam sebelumnya dia sudah di lobi, nanti aku telpon kamu begitu dia tiba di lobby, lengkap dengan ciri dan pakaiannya supaya gampang kamu kenali.”

“Baik. Jam duabelas. Siapa nama adikmu?”

“Yang jemput besok, namanya Dimas Biyantoro, adik bontot.”

“Dik Retno. Aku mau bertanya, tapi kamu harus berpikir positip. Besok aku mau memberimu oleh-oleh dari Australia, mau kamu menerimanya?”

“Koq begitu Mas?”

“Tidak ada maksud tersembunyi. Hanya sebab ingin memberimu oleh-oleh, itu saja, maaf kalau kamu tersinggung. Oleh-oleh itu kubeli khusus untuk kamu.”

“Aku tidak tersinggung. Cuma kaget dan heran.”

“Sudahlah, aku mau tegas-tegas. Kamu mau kan menerimanya, aku paksa nih.”

Retno cepat menyahut. “Mau. Tetapi oleh-olehnya itu apa?”

“Besok saja kamu tahu.”

Retno menjerit. “Ndak. Aku mau tahu sekarang, ayo katakan Mas Arya.” Suara manja merdu itu menerobos telinga Arya.

“Tas kulit buaya. Dan hoodie itu lho sweeter yang pake tutup kepala.”

Retno menutup mulutnya dengan jari tangan. Dia heran, dua benda itu pernah singgah di benaknya untuk memilikinya. Dia melihat profil tas kulit buaya di etalase internet. “Tas itu kan mahal.” Katanya masih tak percaya. “Hoodie warnanya apa?”

“Merah. Seperti warna yang kamu pake di pesta dansa itu. Aku ndak tahu warna favoritmu, tapi yang pasti merah tidak kamu benci, karena kamu kenakan di pesta.”

“Aku suka warna merah. Mas, terimakasih yah. Tapi koq kamu beli oleh-oleh mahal buat aku?”

“Supaya kamu senang. Benarkah kamu senang?”

“Iya Mas, aku senang.”

Dan Retno memang senang malam itu. Dia tidur dibuai mimpi indah.

(Bersambung 1.14 )

***


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com