Namaku Retno 1.11
Posted on 20 Januari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.11
Surabaya. Hari Rabu di Sydney waktu jam istirahat di sela-sela Rapat, dia sempat menelpon ayah ibunya mengucap selamat jalan dan minta didoakan. “Papa doaian aku, tapi tolong, jangan doa jodoh melulu, jangan lupa doa bisnisku lancar.”
“Yah dan juga sehat, sebab sehat itu mahal.” Potong Sumantri waktu itu.
Arya Priambodo tidak membayang letihnya mengikuti rapat perusahaan. Rapat Rabu sore hingga malam, disambung Kamis pagi hingga siang hanya diselingi istirahat makan dan minum. Kamis sore Rapat selesai dan semua peserta bebas pergi. Arya bersama empat temannya mencari tempat rekreasi sampai tengah malam.
Jumat pagi dia terbang ke Jakarta.
Dia sangat letih. Seharusnya istirahat Sabtu dan Minggu untuk recovery. Tetapi dia justru lanjut terbang ke Surabaya, janjinya pada Retno masuk agenda yang dia anggap penting. Tiba di Juanda langsung ke hotel Sheraton.
Dalam taksi dia menelpon.
“Hallo Retno.”
“Hallo Mas, hari Kamis lalu aku telpon, tapi kamu tolak. Sibuk iya?” Nada suara Retno tenang dan adem.
“Saat itu sedang rapat penting, ndak bisa terima juga ndak bisa telpon balik. Lagipula kalau aku terima telponmu, biaya pulsamu pasti mahal.” Arya tertawa kecil.
“Memangnya kenapa, kamu di luar negeri?” Retno bisa cepat menebak.
“Waktu itu aku di Sydney.”
“Sydney Australia? Wah ini kabar mengejutkan, jadi rapatnya di sana?”
“Selasa berangkat, Rabu Kamis rapatnya. Tadi jam setengah tiga mendarat, jam empat terbang lanjut ke Surabaya. begitu ceritanya Dik Retno.”
“Capek dong Mas.”
“Iya lumayan juga capeknya.”
“Mestinya kamu istirahat di Jakarta, makan lontong mi kan bisa ditunda.”
“Tidak terlalu letih, aku kan cuma duduk di pesawat, naik taksi, nantinya tidur di hotel, bisa cepat recovery.” Arya termenung mendengar perhatian Retno.
“Ke Sydney itu bisnis iya?” Retno makin ingin tahu.
“Kerjaku di perusahaan asing, pusatnya di Sydney, cabangnya di Jakarta.”
“Waktu itu kamu katakan mau keluar kota, kupikir masih wilayah domestik, eh ndak tahunya ke Australia. Sebaiknya malam ini kamu istirahat saja.”
“Iya rencanaku mau istirahat, tidur. Tapi masih sore, jadi aku perlu teman ngobrol, bagaimana kalau kamu ajak kakak atau adikmu datang ke hotel, kita makan malam bersama, ajak juga Mas Koco, aku yang traktir, mau yah?”
Retno terdiam. “Ternyata dia bukan kelas biasa-biasa, mungkin pengusaha kaya. Gawat juga, besok dia melihat rumahku dan kondisi keluargaku, apa katanya? Ah masa bodoh, mau sama aku dengan kondisiku yang sebenarnya, atau tidak, bukan masalah besar bagiku. Memang sudah aturan dunia jaman sekarang, orang kaya hanya mau berteman dengan orang kaya.”
“Hallo Retno, maaf kalau ajakanku membuat kamu curiga atau tersinggung, aku hanya ingin ngobrol dengan kamu dan saudara-saudaramu. Tidak punya maksud buruk.” Kata Arya kalem. “Aku orang baik-baik lho.”
Retno cepat menyahut. “Iya aku tahu kamu orang baik, aku juga tidak tersinggung. Terimakasih undanganmu, tapi aku mesti ijin sama Bapak Ibu juga saudaraku. Tanpa ijin dan dikawal saudara, aku ndak boleh jalan-jalan di malam hari.”
“Baiklah. Aku tunggu jawabanmu. Aku di kamar tujuh kosong sembilan.” Arya membatin. “Retno anak pingitan, tidak sembarangan jalan. Jarang ada gadis seperti dia di jaman sekarang.”
Arya menghela nafas dan menghembusnya pelan-pelan. Pikirannya melayang. “Aku ini tergolong laki-laki beruntung dalam urusan bisnis tetapi buntung dalam soal asmara.” Dia tertawa.
Dia beruntung memiliki orangtua yang bekerja keras. Dalam beberapa tahun domisili di kawasan Pondok Bambu, pasangan asal Yogya Solo itu membeli tanah di daerah Jatiwaringin, beberapa tahun kemudian menjual separuhnya untuk membeli tiga kapling di Kali Malang. Tahun 2003 ketika dia lulus sarjana ITB Bandung, ayahnya menjual satu kapling untuk biaya kuliah master di Queensland University of Technology Brisbane Australia. Dia beruntung lulus cumlaude dan diterima bekerja di perusahaan associates building design consultant di Sydney.
Bulan ketiga bekerja di Sydney, ibunya datang menjenguk ditemani seorang gadis cantik jelita, Susmorini. Dia jatuh cinta pada Rini yang tiga tahun lebih tua. Asmara telah menjerat dan menepis segala pertimbangannya. Tiga bulan kemudian dia menikah di Jakarta dan memboyong Rini ikut dengannya hidup di Sydney.
Dua tahun bekerja di Sydney dia dipindah ke kantor cabang Jakarta sebagai asisten managing director. Gajinya besar. Namun tahun itu bencana melanda rumahtangganya ketika dia mengetahui Rini selingkuh. Perceraian di ka-u-a Jakarta, bertele-tele. Empat bulan proses cerai. Selama masa sulit itu kehidupannya kacau.
Hatinya luka karena cintanya yang begitu besar pada isterinya. Setelah cerai dia menjalani hidup dari rumah ke kantor. Mengalihkan deritanya ke meja kerja membuat prestasinya maju pesat. Kerjanya maju tapi dia belum bisa melupakan Susmorini.
“Sosok Rini sering mengganggu mimpi dan tidurku, suatu bukti aku masih mencintainya. Ingatan akan kecantikannya begitu kuat sehingga sanggup menutup bayangan wanita-wanita lain yang kukenal. Termasuk Retno.”
“Memang Retno tidak secantik Rini. Tapi aku punya harapan Retno bisa kusunting jadi isteri. Dia punya daya tarik luar biasa, pribadi dan tingkah lakunya. Mungkin aku bisa jatuh cinta padanya, sehingga mampu menghapus sosok Rini. Agaknya aku harus mengenal Retno lebih dalam.” Gumamnya dalam hati.
Ketika Arya check-in di counter hotel, hapenya berbunyi lalu putus. Itu misscall. Dia membaca layar. “My Retno”. Dia tertawa.
Dia membiarkan pelayan membawa tas dan ranselnya. Tas kecil berisi laptop bergantung di pundaknya. Dia mengikuti pelayan menuju lift. Begitu masuk kamar, dia membuka dan menghidupkan laptop. Dia membuka file khusus, muncul profil Retno di layar. Foto yang dia potret di pesta reuni es-em-a dua.
Arya memencet tuts hape. Tak lama kemudian terdengar nada sambung. “Hallo Dik Retno. Bagaimana ceritanya, dapat ijin dari Bapak dan Ibu?” Kata Arya sambil menikmati foto Retno.
“Belum. Aku belum ngomong sama Bapak. Kamu jangan marah iya? Janji dulu.”
Arya tertawa mendengar logat medok yang agak manja itu. “Tidak, aku tidak marah, aku janji.”
“Kamu tertawa, ada apa? Dengan siapa kamu di kamar?” Nada cemburu Retno.
“Aku sendiri, hanya sedang mengagumi foto seseorang. Fotomu, Dik Retno. Foto yang kujepret hari Sabtu kemarin, masih ingat?”
“Koq ketawa, memangnya lucu?” Tak ada nada marah, hanya bertanya.
“Oh Dik Retno, ketawa itu bukan hanya sebab lucu, bisa disebabkan senang. Saat ini aku senang memandangi fotomu. Boleh kan?”
Retno diam sesaat, agak malu. Gugup dia menyahut. “Boleh.”
“Pertanyaanku tadi, bagaimana dengan undanganku makan malam?”
“Begini Mas, kemarin itu aku sudah ngomong sama Bapak Ibu dan juga Mas Koco bahwa besok Sabtu siang kamu kuundang makan di rumah. Jadinya kan ndak enak, kamu belum datang kenalan, eh kamu sudah ngundang makan duluan.” Suara Retno yang agak manja itu benar-benar membuat Arya tak berkutik.
“Benar juga pikiranmu.” Kata Arya. “Bagaimana kalau undanganku diubah jadi makan malam di hotel. Undangannya kusampaikan besok.”
Retno tertawa. “Begitu juga bagus. Kamu undang sendiri kepada mereka.” Dalam hati Retno menolak. “Apakah dia mau pamer kekayaan, makan malam sepuluh orang di hotel begitu kan biaya mahal. Malah keluargaku bisa tersinggung. Meskipun dia tak bermaksud demikian. Tapi tetap saja aku harus menolak dengan cara halus.”
“No problem. Sekarang apa yang kamu kerjakan?” Sahut Arya.
“Lima menit lagi magrib, aku mau siap-siap sholat, terus mengaji, membantu ibu siapkan makan malam. Terus duduk-duduk, ngobrol, acara selanjutnya nonton tivi atau baca buku atau nonton filem di kamar.”
“Kamu rajin sholat.”
“Biasa-biasa saja. Eh eh Mas, katamu mau tidur sore-sore?”
“Tidak jadi.” Kata Arya. “Kupikir sebaiknya aku kerja, menyelesaikan laporan dari Sydney. Sekarang mandi air hangat, lalu pesan makan malam. Setelah itu nulis laporan, dan kira-kira jam sembilan atau sepuluh aku telpon kamu, boleh?”
( Bersambung 1.12 )
Comments







