Namaku Retno 1.10
Posted on 19 Januari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.10
Murni melirik arlojinya. “Sekarang duabelas dua puluh lima, telpon sekarang.”
Arya diam.
“Pasti kamu naksir serius. Ayo ceritakan tentang Retno.”
“Ketemu Retno, Sabtu dua hari lalu. Ketika memandangnya pertama kali, aku terpaku di tempat berdiri. Kulihat dia juga menatapku dengan pandangan misterius.”
“Wah koyok di filem-filem, terus kamu kenalan?”
“Lah-iyo-tohk Mbak. Dipesta dansa, saat itu dia dansa dengan seorang pria tetapi matanya memandang aku terus-terusan. Aku menghampiri mejanya, kenalan dan mengajaknya dansa. Kami ngobrol. Dia enak diajak ngobrol.”
“Tunggu apa lagi, telpon dia, sekarang jam setengah satu lewat.”
Arya ragu. Teringat betapa sakitnya ditinggal pergi wanita yang dia cintai. Sejak itu dia enggan jatuh cinta. Hanya mau bergaul biasa.
Murni menganggap saatnya yang tepat mendesak Arya. “Jangan takut jatuh cinta. Hubungi dia. Kamu harus menikah. Gadis bernama Retno atau siapa saja nanti, tetapi yang jelas Papa dan Mama ingin kamu menikah, secepatnya.”
“Aku ragu Mbak.”
“Mana hapemu, biar aku yang nelpon.”
“Lho koq kamu yang nelpon?”
“Aku yang nyambungin tapi kamu yang bicara.” Murni mengulur tangannya.
Arya terpaksa menyodorkan hapenya.
“Namanya Retno? Apa inisialnya?”
“My Retno.”
“Keren juga My Retno.” Murni memencet tuts dan loudspeaker. Terdengar nada sambung. Lalu suara merdu. “Hallo, …”
Murni menyerahkan hape kepada adiknya.
Masih terdengar suara. “Halloooo Mas Arya …. halllooo…”
“Hallo Dik Retno…”
“Aku baru saja mau nelpon kamu, sebabnya sudah setengah satu lewat sepuluh.”
“Banyak kerjaan, maafkan aku.”
“Tadinya kupikir kamu ndak akan nelpon, jadinya aku kaget kamu nelpon tadi pagi, cuma maafin aku yah sebab kebetulan sibuk melayani pemesanan tiket.”
“Aku sudah janji mau nelpon, jadi yah tidak ingkar janji.” Tegas Arya.
Murni menulis sesuatu di kertas memo. “Suaranya merdu, medok jawa, lucu.”
Arya membaca tulisan Murni, dan tersenyum sambil mengangguk.
Nada suara Retno gembira. “Janjimu mau makan lontong mi, jadi ndak? Harus jadi dong! Janji harus ditepati.”
Arya senang mendengar logat medoknya Retno. “Iya jadi dong.” Dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Jantungnya berdebar keras mendengar suara merdu yang medok jawa. Terbayang paras cantik dan tubuh seksi Retno.
Murni berdiri dari kursinya, sambil tersenyum dia mengacung dua jempolnya, lalu berbalik badan menuju pintu. Dia melambai tangan, lalu menghilang di balik pintu.
“Kamu sudah makan?”
“Baru selesai makan, terus nelpon kamu.”
“Makan di mana? Restoran?” Retno ingin tahu.
“Ndak, makan di sini, di kantor. Kamu sudah makan?”
“Sudah. Ini kan waktu istirahat.”
“Makan apa?” Arya membayangkan mulut seksi Retno ketika bicara.
“Aku bawa makanan dari rumah, nasi pecel. Aku masak sendiri, temanku banyak yang pesan, tadi aku bawa sepuluh bungkus, jualanku habis ludes.”
“Satu bungkus berapa?”
“Pake daging empal limabelas ribu rupiah satu bungkus, lumayan buat sampingan.”
“Tiap hari bawa makanan?” Arya punya kesan baik akan keluguan si gadis.
“Senin, Rabu, Jumat sesuai pesanan teman-teman. Tapi menunya ganti-ganti.”
“Kamu punya waktu masak pagi-pagi?”
“Pagi-pagi jadwalku ketat. Sholat subuh, dan mengaji beberapa ayat, lalu masak, selesai masak, mandi, sarapan terus berangkat kantor.”
“Ternyata dia sholat dan mengaji, baguslah.” Arya gembira. “Katamu habis mandi terus berangkat kerja, ndak ganti baju atau dandan?”
Terdengar tawa renyah. “Tidak begitu Mas, itu tadi garis besarnya, mosok ganti baju atau dandan musti diceritain, nanti kamu tanya macem-macem, repot aku.”
“Tanya macem-macem yang bagaimana?”
“Ndak tahu ah. Laki-laki kan banyak macemnya.”
Arya diam. Dia merenung, membayang sosok dan paras Retno.
“Hei Mas Arya, kamu masih dengerin aku …?”
“Iyah… tadi aku ngelamun kamu.”
“Pasti bayangin memeluk aku di lantai dansa, iyah?”
“Koq kamu tahu?” Tanya Arya.
“Seperti kataku tadi, laki-laki banyak macemnya.”
“Memangnya kamu pernah mengenal banyak laki-laki?”
“Eh Mas Arya, lagi-lagi kamu ngelantur, kemarin kan telah kujelaskan aku ndak pernah punya pacar, maksudku belum pernah pacaran.”
“Koq tahu laki-laki banyak macemnya?”
“Tentang laki-laki aku banyak bertanya pada Mas Koco, dia itu guruku.”
“Oh Kangmasmu yang paling tua itu? Namanya Mas Koco, Gatotkoco?”
“Bukan. Namanya Joko Santoso, panggilannya Koco. Sebab waktu kecil, sering nangis kalau berkelahi. Bapak menjulukinya koco, cermin yang mudah pecah. Waktu usia tujuh tahun, Bapak mengantarnya ke perguruan karate. Eh dia serius, kini jadi pelatih, dia atlet daerah cuma sudah mundur, kerjanya sana-sini dan juga melatih.”
“Wah pengawalmu pelatih karate, laki-laki yang berani macem-macem bisa dihajar oleh Mas Koco.”
“Bukan hanya Mas Koco, semua saudaraku karateka.”
“Kamu juga?”
“Ndak Mas, aku ndak suka kekerasan. Aku suka masak, baca buku, nonton filem.”
Meskipun masih ingin melanjutkan percakapan, namun Arya harus siapkan diri untuk rapat dengan klien. “Retno, senang ngobrol dengan kamu, cukup dulu yah. Kamu masih harus kerja, aku juga akan rapat.”
“Eh Mas, tunggu dulu, jangan diputus. Kamu jadi datang ke Surabaya? Iya?”
“Acara apa di Surabaya?” Arya menggoda.
“Lho, yah, makan lontong mi, kan sudah janji. Makannya di rumahku.”
“Oh iya, aku datang Jumat malam, hampir lupa, makannya diundur jadi makan siang, bisa ndak? Jadi Sabtu siang. Soalnya aku tugas luar kota, besok berangkat, Jumat kembali Jakarta, langsung ke Surabaya, Sabtu pagi aku punya kesempatan istirahat, jadi makannya siang saja, bisa kan?”
“Sabtu siang yah? Rumahku di gang Peneleh Jalan Ahmad Jais, nanti aku sms.”
Arya memanggil Estanti menyodorkan note. “Mbak Tanti, ini jadwalku, dari Sydney aku langsung ke Surabaya, Senin pagi masuk kantor. Hubungi hotel dan juga rental-car untuk Sabtu dan Minggu. Hari Jumat dari Juanda aku naik taksi saja.”
“Oke kalau begitu pak Sudir jemput kamu Senin sesuai jadwalmu.”
( Bersambunbg 1.11 )
***
Comments







