Namaku Retno 1.9
Posted on 18 Januari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.9
Arya merenung, pikirannya melayang ke sosok Rini.
“Bagaimana mungkin aku bisa bertemu denganmu lagi, tak mungkin aku memaafkan perbuatanmu. Apa gunanya? Hampir tiga tahun tidak bertemu, apakah kamu masih cantik, seksi menawan dan menggoda? Bagaimana lagi jika aku tergoda olehmu? Aku tidak yakin pada diriku, bisakah bertahan dari kemungkinan jatuh cinta lagi dan kasmaran padamu.” Bisik Arya dalam hati.
Arya mengelus-elus kepala, memijit dahi, cirinya jika sedang serius memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian dia membalas email. “Kita telah menempuh jalan masing-masing, kita telah melangkah jauh, tak ada jalan mundur. Maaf aku tidak bisa bertemu, aku tidak yakin bisa bertemu dengan kamu lagi.”
Dia bernafas lega, berbisik pada dirinya. “Aku harus kawin secepatnya. Melupakan Rini, menggantinya dengan wanita lain yang lebih layak. Siapa? Retno?”
Dia teringat janjinya akan menelpon kembali gadis itu, jam setengah satu.
Terdengar ketukan pintu.
Estanti muncul di ambang pintu. “Ibu Murni, Boss!”
“Masuklah.”
Murniati masuk, langsung duduk di kursi berhadapan dengan Arya.
Estanti masih dalam ruangan. “Sekarang jam dua belas kurang, sesuai pesanmu sop dan sate kambing segera diantar. Jangan lupa Boss, dua pertemuan dengan klien tepat jam dua kosong kosong. Semuanya di ruang rapat dua.”
Estanti menyerahkan note, jadwal dan isue rapat, lalu memberi anggukan kepada Murni seperti isyarat jangan lama-lama menyita waktu Arya. Dia keluar ruangan tanpa menutup pintu. Peraturan di kantor itu dilaksanakan ketat, pintu ruangan harus terbuka saat menerima tamu.
“Besok aku berangkat ke Sydney. Rapat penting.”
Murni bertanya. “Jadi kamu ndak ngantar Papa dan Mama?”
“Aku sudah minta maaf. Yang penting nanti malam hadir selametan.”
“Sydney rapat apa?”
“Perusahaan menang tender proyek di Bangkok, jadi yang dibahas adalah pelaksanaannya.”
“Kamu akan sangat sibuk.” Diam sesaat dia menambahkan. “Aku mau lapor!”
“Kenapa sih pake lapor segala, kerjakan saja apa yang kamu putuskan.”
“Kamu tahu aku mau lapor apa?” Murni tertawa menatap adiknya.
Arya menggeleng.
Murni tertawa. “Dua laporan. Tadi aku ditelpon Mama, katanya, kamu telah diikat perjanjian dengan Papa, bahwa satu bulan kedepan kamu harus membawa calon isterimu ke rumah besar dan kenalan dengan kita semua. Tiga puluh hari. Wah, harus cepat carinya, kata Mama, kamu sudah punya calon namanya Retno, siapa dia?”
Ketika Arya hendak menjawab, Murni mencegah dengan tangannya. “Aku belum selesai, kata Mama, kalau kamu gagal dalam waktu tiga puluh hari, maka Papa, Mama dan juga aku akan sibuk mencari jodohmu ke Solo dan Yogya, gadis-gadis pesantren yang lugu, setia, dan manut, itu prioritasnya.”
“Iyah, Papa menyebutnya bisnis mencari keturunan.”
“Papa sudah ingin benar gendong cucu, jadi seriuslah Arya.”
“Iya aku serius.”
“Lantas kenapa tidak mau sama si Maya?”
“Lho kamu tahu sendiri, apa dan bagaimana Maya, mana bisa aku hidup serumah dengan wanita seperti itu. Aku mau isteri yang stay at home, biar aku yang cari duit, kalau perlu dia ikut kamu jaga restoran, jadi manager atau apa saja yang menurutmu bagus. Maya itu tidak kerasan di rumah, maunya jalan-jalan, pesta, salon, birthday, pergaulan, mall, fitness dan entah apa lagi yang ada dalam agendanya. Juga shopping, bahkan dia telah pesan jatah akan sering ikut aku jika tugas luar negeri.”
“Sayang sekali, padahal dia cantik dan seksi.”
“Ah Rini masih lebih cantik,” kata-kata itu nyeplos begitu saja dari mulut Arya.
Arya terkejut, Murni pun kaget.
Keduanya tertawa.
Seorang office-boy muncul di ambang pintu, membawa nampan berisi makanan.
“Masuk,” seru Arya.
Pelayan itu menata makanan di meja sofa di sudut ruangan.
“Masih juga kamu ingat dia?” Murni pindah duduk ke sofa, meraih tusuk sate.
“Aku dapat sms dari dia, dan juga email.” Arya juga pindah duduk.
“Uhhhh satenya empuk. Email? Apa isinya?”
“Minta maaf dan minta ketemu.”
“Apa jawabmu? Kamu mau?”
“Aku ndak berani ketemu, takut tergoda.” Arya mulai menyantap makanan.
“Tak perlu ketemu. Wanita itu telah berkhianat dan bekas ditiduri laki-laki lain. Aku tidak setuju. Papa, Mama dan Ibu pasti menentang. Tak ada ruang untuk rujuk.”
Arya tertawa. “Mana berani aku menentang kamu. Terus soal kedua apa?”
“Restoran Kali Malang telah siap, ujicoba masakan beres, iklan dan spanduk di beberapa tempat, malah langganan yang di Jatiwaringin menyambut antusias.”
“Bagaimana dengan menunya, banyak?”
“Jumlahnya tidak sebanyak yang di Jatiwaringin, tetapi semuanya menu pilihan. Satu minggu terakhir ini Ibu aktif mengontrol kualitas masakannya.”
“Jika Ibu yang turun tangan pasti masakannya terjamin. Jadi tunggu apa lagi?”
“Yah tunggu kamu, kata Ibu, kamu yang tentukan tanggalnya, karena kamu pembawa keberuntungan, hoki.”
“Kalau benar aku pembawa hoki, tentu Rini tidak kabur.” Saat berikut Arya kaget dengan komentarnya sendiri. ”Mengapa Rini lagi?” Dia mengeluh dalam hati.
“Lagi-lagi Rini. Kamu terpengaruh email itu.”
“Tidak Mbak. Cuma nyeplos begitu saja. Aku sendiri bingung, kadang-kadang Rini muncul begitu saja dalam benak.”
“Kamu masih mencintainya?”
“Maybe. Tapi aku sangat terluka, masih terasa sampai hari ini.” Tegas Arya.
Murni menatap tajam. “Hati-hati dengan perasaanmu, lupakan dia Arya, hanya itu yang bisa kamu lakukan.”
Arya tersenyum pahit. “Aku tidak tahu apa-apa tentang hari baik untuk opening restoran. Jadi bagaimana aku bisa memilih?”
“Pilih saja hari sesukamu, hari liburmu. Kamu besok ke Australia, pulang hari Jumat, bisa saja hari Sabtu nanti tetapi terlalu dekat, jadi sebaiknya Sabtu depan.”
Arya berpikir beberapa saat. Murni diam sambil menatap paras adiknya.
“Baiklah, Sabtu depan opening.” Arya diam sesaat. “Sabtu besok aku janjian sama Retno di Surabaya, waktu itu aku lupa ada rapat di Sydney. Jumat dari Sydney aku langsung ke Surabaya, Senin balik Jakarta. Hitung-hitung liburan.”
“Kabar bagus, jadi kamu bertemu Retno, hari Sabtu dan Minggu?” Murni gembira. “Kalau begitu kita sepakat openingnya hari Sabtu tanggal dua April!” Tegas Murni. “Nah sekarang telpon Retnomu.”
“Tadi kutelpon tetapi dia sedang sibuk, aku janji jam setengah satu kutelpon lagi.”
Murni melirik arlojinya. “Sekarang duabelas dua puluh lima, telpon sekarang.”
Arya diam.
( bersambung 1.10 )
Comments







