Namaku Retno 1.8
Posted on 15 Januari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.8
“Terimakasih Bu. Sekarang saya periksa jadwal penerbangan yang ibu minta.” Jari-jari lentik Retno mulai menari diatas keyboard. Dia bekerja dengan semangat baru dan harapan baru.
Suatu Awal
Senin itu hari yang sibuk bagi Arya. Sejak tiba di kantor dia langsung memimpin rapat dengan staffnya. Satu jam berikut meneliti laporan yang bertumpuk di mejanya. Beberapa berkas dia tandatangani. Beberapa lainnya ditumpuk di sisi meja, setelah dia membubuhi catatan. Dia menekan bel.
Sekretarisnya muncul. Wanita bertubuh tambun usia diakhir tigapuluhan, teruar parfum keras dari tubuhnya. Estanti yang berkacamata plus minus, tidak sempat duduk. Arya mendorong tumpukan map.
“Kembalikan kepada yang bersangkutan, belum lengkap. Secepatnya dilengkapi, harus siap hari ini juga.” Tegas Arya.
Estanti meraih tumpukan map itu lalu balik badan menuju pintu. Dia berhenti mendengar suara pimpinannya.
“Bu Tanti, mbakyuku Murni, mau datang.” Arya menanti reaksi dari wanita yang terkenal supel dan ramah namun tegas dalam urusan disiplin kantor.
“Siap Boss, makan siangmu tetap jam dua belas, hari ini apa menunya?” Suaranya merdu dan ringan untuk ukuran tubuh setambun dia.
“Aku ingin sate dan sop kambing. Satenya limabelas, nasi separuh.”
“Baik. Jangan lupa Boss, hari ini ada dua rapat dengan klien, sudah kuatur, jam dua dan jam empat. Tiket ke Sydney juga sudah siap.”
“Urusan Sydney sudah beres?”
“Beres. Surat dan dokumen sudah siap. Berangkat Selasa malam take-off jam dua puluh dua kosong kosong, tiba Sydney Rabu pagi tujuh dua puluh lima. Ada supir yang jemput. Istirahat dan makan di hotel. Rapat di hotel itu juga, mulai Rabu siang, Kamis siang selesai. Hari Jumat kembali Jakarta, take-off jam sepuluh kosong kosong tiba Jakarta jam setengah tiga, nanti kusuruh Pak Sudir menjemput.”
“Terimakasih Tanti, kamu memang dewi penolongku.”
Estanti keluar ruangan dengan wajah berseri. Ibu tiga anak ini senang mendapat pujian dari atasannya yang ramah. Dia membayangkan oleh-oleh negeri kanguru apa lagi yang dia terima dari bossnya.
Arya kembali menekuni laptop, menyelesaikan konsep yang sempat tertunda.
Hapenya berbunyi. Tanda sms yang masuk. Di layar muncul sederet angka yang tak dikenal. Dia menghela nafas panjang, mendorong punggungnya ke sandaran kursinya. Sesaat dia berpikir, lalu menekan tuts hape. “Ini aku, Rini. Aku tahu kamu sulit memaafkan aku. Barusan aku kirim email, please dibaca, dan dibalas lewat sms ke nomor ini atau lewat email bahwa kamu sudah membacanya.”
Jari-jari Arya lincah menekan tuts laptop, membuka file pribadi yang dikunci dengan password. Saat berikut foto-foto seorang wanita cantik muncul dilayar. Susmorini, biasa dipanggil Rini, mantan isterinya. Dia tak tahu alasan mengapa dia masih menyimpan foto mantan isterinya.
Arya menghela nafas. Wajahnya tampak letih. Dia merasa sepi dalam hati setiap memandang wajah cantik itu. Terbayang sosok wanita yang hampir tigapuluh bulan menjadi isterinya, menemaninya di tempat tidur, memberinya kenikmatan seks dan cinta. Arya menarik nafas panjang lalu menghembusnya keras dari mulut.
Saat berikut dia membuka inbox emailnya. Dia membaca dengan berbagai rasa berkecamuk dalam dadanya.
“Kepada Mas Arya yang berbudi mulia.
Aku seorang bodoh yang menatap bulan yang begitu indah memukau di malam hari, cahayanya yang gemerlap dihiasi kemilaunya bintang gemintang, tetapi lupa sumber kehidupan ini adalah matahari yang tidak kelihatan indah malah panas teriknya sering menjadi sasaran caci dan omelan. Itulah aku. Seorang bodoh yang melepas matahari mengejar bulan yang penuh tipudaya.
Sekarang sudah terlambat, semua telah terjadi, piring yang indah telah kupecah, kasur dan pembaringan tempat kita memadu cinta telah kubakar, aku telah menyakiti hatimu dan juga orangtuamu. Aku maklum dan legowo bahwa kamu tak akan memaafkan kesalahan dan kekejamanku. Itulah buah dari pohon yang kutanam.
Bodohnya aku. Matahari itu kulepas.
Kamu yang memecah perawanku. Selama dua tahun aku tenggelam dalam cinta dengan kamu. Tetapi bencana itu datang tiba-tiba. Pertemuan dengan mantan pacar adalah bencana. Aku terbuai “indahnya bulan”.
Begitu bodohnya aku sehingga lancang bertengkar dengan kamu yang begitu mulia, sengaja menyakitimu hanya agar kamu menceraikan aku. Sungguh kebodohan yang menyatu dengan kegilaan.
Perselingkuhanku itu tak bisa dimaafkan bahkan oleh diriku sendiri.
Mulanya ada pembenaran dalam diriku tetapi ketika mendung hitam mulai menutupi bulan purnama itu dan gemintang pun redup diselimuti mendung, maka terangbenderanglah kesalahanku dimataku sendiri. Aku melihat sendiri betapa bodoh dan gila, betapa kejam dan jahat, betapa tak tahu malu dan tak punya moralnya aku.
Aku telah kehilangan kesempatan, telah membuang peluang terbaikku. Aku tahu tak mungkin kamu memaafkan dan mengampuni kesalahanku. Tapi aku masih mimpi kamu memaafkan dan menerima aku kembali, dan jika itu terjadi aku akan menjadi isteri sekaligus budak yang melayani kamu sebagai suami dan majikan. Aku akan menebus semua kesalahanku dengan apa saja yang ada dalam diriku.
Tampaknya mustahil. Tetapi boleh saja aku bermimpi, karena mimpi inilah yang bisa menghibur aku sekarang ini.
Pacarku itu pembohong yang paling keji. Empat bulan setelah perceraian kita, terbongkarlah kebohongannya. Dia telah memiliki isteri, anak hartawan. Dia tak pernah berniat mengawini aku sebagaimana janjinya.
Uangku habis. Lalu aku dibuang. Untung papa masih mau mengampuni aku, mengirim uang dan memanggilku pulang ke rumah. Aku kini dirumah papa di Semarang bersama papa dan ibutiriku. Oh iya Papa telah bercerai dari Mama, itupun gara-gara persoalanku.
Aku masih beruntung mobilku bisa kuambil lagi. Itu mobil kenang-kenangan pemberianmu, tak pernah akan kujual. Mobil itu akan menemaniku untuk selamanya.
Mas Arya, sekarang ini aku bekerja di perusahaan teman ibutiriku, gajinya lumayan. Kini aku sedang mencari kesempatan kedua. Tahun kemarin aku umrah, rencananya satu atau dua tahun kedepan aku mau naik haji.
Mas, aku ingin bertemu. Aku ingin minta ampunanmu, dan mendengar sendiri dari mulutmu kamu telah memaafkan aku, bukan dari sms atau email. Aku tahu ini sulit, tetapi aku mohon, please beri aku waktumu, bertemu meskipun hanya lima menit. Aku sangat membutuhkan maaf dan ampunanmu.
Terimakasih telah membaca suratku ini. Rini Susmorini.
Arya melirik jam dinding, setengah duabelas. Dua tahun lebih dia tergila-gila akan kecantikan isterinya. Selama itu dia bahagia, hidup rasanya di awan, melayang-layang tidak memijak bumi. Rini memberinya kebahagiaan yang mengisi semua kamar-kamar dalam hatinya. Tetapi ketika malapetaka itu datang lalu buntutnya perceraian, kamar-kamar itu berubah menjadi merah darah. Hatinya berdarah-darah.
( Bersambung 1.9 )
Comments







