Namaku Retno 1.6
Posted on 12 Januari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.6
“Aku antar jam sepuluh, ketemu bapaknya, yah biasa saja. Aku ndak duduk lagi, langsung terbang ke hotel sultan, ngobrol sama temen-temen.”
“Itu tuh gayanya yang aku ndak suka…. Gaya arek Jakarta jaman saiki, semau gue.” Suara Sumantri agak tinggi.
“Tidak benar semau gue, buktinya aku masih salaman cium tangan sama orangtua. Tidak ada yang salah, Papa. Semuanya wajar-wajar saja.”
“Gaya kamu bercerita itu … bikin kaget Mamamu saja.” Potong Sri Dewi.
“Sorry kalau Mama kaget.”
“Arya Priambodo, dengar yah, ini pengumuman dari ayahmu sebagai kepala keluarga. Papa beri waktu sama kamu satu bulan atau tigapuluh hari untuk memilih jodohmu, sudah dua tahun lebih, hampir tiga tahun kamu menunda-nunda perkawinan, alasanmu mau cari sendiri jodohmu, lah iya sampai kapan?”
Meneliti paras ayahnya yang serius, Arya diam.
“Umurmu sekarang, tigapuluh satu, seharusnya sudah punya tiga anak dan aku sudah gendong cucu, kenyataannya nikah saja belon, wanitanya juga belon ada, bener-bener ngawur.”
“Papa sabar.”
“Tidak bisa begitu, sekarang tidak ada sabar-sabar lagi, satu bulan waktumu, jika tidak… maka aku dan Mamamu akan cari sendiri calon isterimu…ini serius.”
“Tidak bisa begitu, Papa.”
“Harus begitu, satu bulan waktumu, putraku Arya Priambodo!” Tegas Sumantri.
Sri Dewi ikut mendesak. “Kamu sudah melamar Maya, apakah dia pilihanmu?”
“Bukan. Bukan Maya!” Suara Arya lirih namun mengandung ketegasan.
Sumantri dan Sri Dewi sama-sama kaget.
“Lho kenapa bukan Maya?” Potong Sri Dewi.
“Arya, kamu jangan main-main, Maya itu anaknya Susanto, teman Papa main gundu sejak di Jogja.”
“Sabar Papa, orang sabar itu subur. Aku tidak mempermainkan Maya, selama ini juga tidak pernah ngajak dia yang macem-macem. Aku juga tidak menjanjikan cinta, tidak juga mengatakan I love you, pokoknya bergaul biasa saja, sebagai teman.”
“Kenapa bukan Maya yang jadi calon mantuku, apa persoalannya?” Desak Sumantri sambil menatap tajam putranya.
“Tidak cocok. Tiga hari lalu kukatakan itu kepada Maya, tadi malam kuulangi lagi, lebih tegas sehingga dia marah dan menangis. Maaf kalau Papa dan Mama kecewa. Aku tak mungkin hidup bersama wanita yang sikapnya keras, tak pernah mau mengalah, maunya menang sendiri, minta dilayani terus-terusan. Aku mau wanita yang melayani suami, wanita dewasa, yang telah siap menjadi ibu dari anak-anakku, jadi dia harus dewasa dan mandiri.”
Arya melanjutkan dengan nada menyesal. “Maaf Papa kalau aku memutuskan menolak Maya. Perkawinanku pernah gagal, aku tak mau gagal duakali.” Paras Arya tampak muram. Sekilas ingatannya kepada mantan isterinya menguak kembali luka hatinya. Luka yang belum sembuh seluruhnya.
“Dua tahun hampir tiga tahun perceraianmu, sampai sekarang belum menemukan wanita yang cocok, membuat orangtuamu bingung tidak karuan.” Sumantri masih tidak mau mengalah. Kesempatan mendesak putranya tidak disia-siakan. “Tetap saja aku beri waktu satu bulan, jika belum juga ada calon menantuku, maka aku dan Mamamu akan mencari gadis calon isterimu.”
“Mengulang lagi pengalaman buruk, Papa dan Mama memilih jodohku, lalu perkawinanku berantakan karena wanitanya selingkuh?” Kata-kata Arya cukup tajam namun diucapkan dengan suara lirih dan nada rendah.
“Kami memperkenalkan kalian dan kalian setuju kawin. Kejadian perceraian itu bukan salah orangtuamu, bukan juga salahmu. Itu takdir, suatu ketentuan yang tidak bisa kita hindari, suatu kejadian yang harus sama-sama kita lewati.” Kata Sumantri dengan mimik duka.
Tidak dipungkiri perceraian anaknya sangat memukul batinnya. Tidak hanya lenyapnya keinginan menimang cucu, tetapi dia tahu persis betapa terlukanya hati putra tunggalnya itu.
“Hatiku juga terluka perbuatan isterimu, tetapi harus kita lupakan. Kamu harus melupakannya, mengubur kenangan buruk itu dan menghadapi hari esok dengan optimis, Papa yakin di luar sana di suatu tempat kamu akan temukan wanita yang akan membahagiakan kamu dan orangtuamu.” Suara Sumantri penuh haru.
“Tidak semua wanita seperti Susmorini. Masih banyak wanita yang jauh lebih baik, yang setia dan manut.” Sri Dewi menambahkan.
“Papa dan Mama sudah punya calon?” Tukas Arya.
“Menurut Papa, kamu tidak perlu mencari wanita yang kamu cintai atau yang mencintai kamu. Pokoknya dia wanita baik-baik, pribadinya baik, orangtuanya dari keluarga terhormat, cantik dan seksi menurut ukuranmu, kalau perlu wanita itu tidak bekerja sehingga dia kumpul bersama kita sehari-hari, iyatohk?”
“Aku tahu, Papa ingin cepat-cepat gendong cucu. Baiklah kita bikin perjanjian seperti itu, waktuku lebih kurang satu bulan untuk menemukan calon isteri. Jika gagal, nah silahkan Papa cari wanita yang cocok. Kalau bisa bawa beberapa calon supaya aku bisa memilih dengan leluasa. Aku tak perlu ketemu orangnya, bawa beberapa fotonya, tahap berikutnya kami kenalan. Setelah itu yah kawin. Begitu kawin mudah-mudahan dalam waktu satu tahun sudah ketahuan dia hamil atau tidak.”
Ucapan Arya membuat orangtuanya terdiam.
“Menurutku keputusan ini wajar. Aku juga bosan dalam posisi seperti ini, dimana setiap tertarik seorang wanita spontan aku membanding dengan sosok Rini. Sepertinya aku mencari wanita yang lebih cantik dari Rini. Tapi sesungguhnya aku telah diracuni pikiran takut kawin. Makanya aku senang dengan perjanjian ini, jika aku gagal, yah kuserahkan pada Papa dan Mama untuk mencarikan aku isteri.” Arya diam sesaat kemudian melanjutkan dengan tawa kecil. “Tapi wanita itu harus kusetujui, cantik, dan bisa melahirkan anak, jika dalam satu tahun tak ada tanda-tanda hamil, kita cari wanita lain, tak perlu lagi ada cinta-cintaan, kita bisnis cari isteri yang bisa melahirkan.”
Sumantri dan isterinya memandang putranya dengan haru. Sri Dewi hampir saja menangis saking harunya mendengar penderitaan batin putranya. “Rini hampir saja melempar anakku ke jurang tanpa dasar.”
Arya memecah keheningan dengan tawa geli. “Papa tahu, Papa sering kritik aku dan pergaulanku yang fotokopi gaya Amerika, tetapi perjanjian model Papa ini juga gaya Amerika. Cari wanita yang cocok, bikin kontrak pra nikah, kalau cerai si isteri dapat apa dan bagaimana hak asuh anak, semuanya tertuang dalam perjanjian depan notaris. Aku setuju sebab banyak kejadian dalam perkawinan ternyata perjanjian seperti ini justru menjadikan rumahtangga langgeng dan bahagia karena kedua pihak tak perlu saling curiga.”
“Iya kita bikin perkawinanmu sebagai bisnis mencari keturunan, setahu Papa, ini juga tidak menyalahi aturan agama. Asalkan dikerjakan dengan suka sama suka, artinya perjanjian disepakati dua pihak, iyatohk?” Tegas Sumantri.
Sri Dewi bukannya mengalih pembicaraan namun keinginan tahunya sudah sejak Arya menyatakan putus hubungan dengan Maya beberapa menit lalu. “Kamu sudah punya pilihan, maksud Mama, sekarang ini kamu sedang melakukan pendekatan pada seorang gadis?”
Nama itu tercetus begitu saja dari mulutnya. “Retno! Namanya Retno.”
( Bersambung 1.7 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







