Namaku Retno 1.5

Posted on 12 Januari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.5

Waktumu 30 Hari !

Pagi hari langit cerah diwarnai semilirnya angin membawa suasana sejuk dan nyaman. Di teras belakang sepasang suami isteri paruh baya Sumantri dan isterinya Sri Dewi sedang ngobrol sambil menikmati minuman dan makanan ringan.

Lelaki tua usia pertengahan limapuluhan itu meletakkan koran dan kacamata-baca di meja. Dia memandang isterinya.

“Jakarta makin rawan kejahatan. Banyak terjadi pembunuhan dan perampokan, tawuran antar warga, juga kekerasan etnis. Tigapuluh tahun lalu keadaan jalanan masih aman, wanita pulang kerja malam-malam masih merasa aman.” Kata Sumantri. “Tapi tidak hanya Jakarta, kejahatan juga menyebar ke seluruh pelosok negeri. Belum lagi jika terorisme masuk hitungan.”

“Yah itu kan gara-gara banyak rakyat yang miskin dan tak punya pekerjaan. Jadi cari yang gampang, merampok mencuri. Masih banyak keluarga yang makan sehari, tidak makan esok harinya.” Kata Sri Dewi dengan mimik sedih. “Jaman Pak Harto lebih enak, beras murah, bahan pokok murah, keamanan terjamin.”

“Kesulitan itu diperparah dengan kondisi alam yang tidak bersahabat. Lihat banjir, tanah longsor, gempa bumi, sunami, ribuan rakyat jadi korban. Tampaknya alam mulai marah, karena manusia kelewat batas dalam merusak lingkungan, iyatohk.”

“Kejahatan di Jakarta jauh lebih tinggi dibanding kota lain.” Kata Sri Dewi.

“Itu resiko tinggal di Jakarta. Makanya kamu wanti-wanti sama Murni kalau nyetir mobil malam, harus hati-hati dan waspada, kalau perlu hindari pulang malam.”

“Rumahtangga Murni harmonis, Bambang Sulis telaten ngurusin isteri dan anaknya. Selalu dia menjemput isterinya kalau pulang malam nginap di rumah orangtuanya.”  Sri Dewi memegang piring kecil ketan putih, lalu menyiramnya dengan gula aren cair.

Paras Sumantri tampak suram. “Murni bahagia. Tapi Arya nelangsa, pernikahan berantakan karena isterinya berkhianat.” 

“Aku selalu berdoa semoga dia cepat menemukan jodoh yang setia dan manut serta mau berkorban untuk kepentingan suami.” Sri Dewi menyodor piring ketan itu. “Kangmas aku selalu bersyukur. Tigapuluhan tahun lalu, kita  suami isteri nekat hijrah ke Jakarta. Kita jual semua harta warisan dan milik pribadi dan membeli kapling tanah di Jatiwaringin. Kita beruntung perkembangan Bekasi dan Jakarta sangat pesat. Jual separuh tanah Jatiwaringin, membeli kapling di Kalimalang perhitunganmu tepat. Sekarang kita punya asset cukup lumayan.”

“Harta kita ini tidak sedikit pun kecampur uang haram, kita dagang batik Jakarta Solo, buka kios di Tanah Abang. Buka warung makanan. Jual beli tanah. Semuanya halal. Itu sebabnya aku ndak mau Arya kiprah di politik atau bekerja di perusahaan. Kecil-kecil kan lebih enak jadi raja di perusahaan sendiri daripada diperintah orang, jangan-jangan malah diperintah untuk ikut korupsi berjamaah.”

“Tapi akhirnya Arya bekerja di perusahaan juga.”

“Perusahaan asing sangat beda dengan nasional, manajemen dan gajinya lebih bagus, selain itu mereka lebih menghargai prestasi karyawan. Dan yang lebih penting lagi umumnya perusahaan begitu bersih, tidak ada korupsi.”

“Dalam wawancara tivi kata kiyai Arifin, korupsi sekarang ini sudah dianggap pekerjaan halal bagi para koruptor. Kata kiyai itu, kalau uang haram hasil korupsi  kita belikan makan dan minum untuk anak-anak kita, nantinya ada saja penyakit aneh-aneh yang menggerogoti anak-anak kita. Sebabnya, yah uang haram itu, Mas.”

“Makanya kita patut bersyukur, kita bekerja keras bisa sampai kaya seperti sekarang ini.”

“Tiap bulan aku manut perintahmu, memberi makan anak-anak yatim, memberi mereka uang saku dan beras di Jakarta sini, di Solo tempat aku dilahirkan dan juga di Jogja tempat kelahiranmu. Benar kata kiyai Arifin, orang kaya wajib memberi sandang pangan pada anak-anak yatim.”

Sumantri memegang kepalanya yang pelontos dengan dua tangannya. “Harta kita ini harus ada yang mewarisi. Anak cucu kita. Ndak boleh putus di Arya.”

Sri Dewi yang di usia limapuluh satu masih tampak segar dan cantik hanya bisa diam, memandang suaminya dengan sedih.

Lelaki itu mengeluh dan berbisik lirih. “Aku tidak pernah bosan memohon pada Allah agar dikaruniai cucu. Aku ingin banyak cucu. Tapi bagaimana lagi dengan Arya, koq sampai sekarang masih belum juga kawin. Padahal aku sudah wanti-wanti cepat kawin, aku ingin ngemong cucu, semua teman sebayaku sudah punya cucu. Kalau bisa tiap tahun lahir seorang cucu, iyatohk?”

“Kangmas, hari Kamis lalu, aku ngomong sama Arya, supaya cepat kawin, kalau bisa usahakan kawin dalam waktu dekat ini.”

 “Bagus kalau sudah ngomong, desak terus, kita ini orang Jawa, bilang sama Arya anak harus manut orangtuanya, aku ingin cucu yah mesti cepat punya cucu. Kalau orang Amerika atau Eropa kawin umur empatpuluh yah sudah umum, tapi kita lain, aku dulu kawin umur berapa … duapuluh … iyatohk?

“Duapuluh dua Mas, aku delapanbelas.”

“Nah itu… coba Arya sekarang umurnya berapa… tigapuluh … iyo?”

“Tigapuluh satu.”

“Apa menurutmu dia takut kawin, gara-gara Susmorini?”

“Dari luar ndak ketahuan, kalau ditanya jawabnya sudah melupakan Rini, cuma barangkali saja belum ketemu gadis yang cocok.”

“Kalau dia ndak bisa cari sendiri, yawis kita yang cari …”

“Arya pasti ndak mau, dulu kita yang jodohin dengan Rini dan hasilnya gagal berantakan.” Sahut Sri Dewi.

“Aku ndak nyangka, Rini begitu halus, manut, lemah lembut selalu hormat sama mertuanya, koq bisa selingkuh dan berubah jadi mata duitan… bener-benar aneh.”

“Kelakuan manusia sulit ditebak, Mas.” Tukas Sri Dewi.

“Termasuk anak kita. Aku makin sulit mengikuti jalan pikirannya.” Sumantri melirik arloji di tangan kanannya. “Rupanya anakmu itu belum bangun, tadi malam pulang jam berapa?”

“Biasa anak muda, tadi malam pulangnya larut, kata Mbok Tari pulangnya jam tiga pagi, jadi tidak heran bangunnya siang.”

“Sekarang ini jam enam, masih juga tidur, apakah tidak ngantor?”

“Setahuku hari ini dia ngantor. Tadi juga dia sudah bangun, mungkin sekarang sedang siap-siap, katanya harus tiba di kantor sebelum jam sembilan, ada rapat penting dengan anak buahnya.”

“Bagus kalau semangat kerjanya masih kuat. Meski usianya sudah kepala tiga, duda muda itu perlu diawasi. Jangan sampe kekecewaannya terhadap mantan isterinya menjadikan dia bertindak aneh-aneh…. Iyatohk?”

“Tidak mungkin Mas. Putra kita itu selalu komunikasi dengan aku. Dan aku mencari tahu keadaannya dari Murni, Mbakyu Sarika dan Mbok Tari. Dia biasa-biasa saja. Oh iya, menurut Murni, tadi malam itu dia pergi jalan-jalan berdua Maya.”

“Bagus juga kalau hubungannya dengan Maya makin serius, aku sudah ingin cepat ngemong cucu, kamu juga iyatohk?”

Pada saat itu Arya muncul, menghampiri orangtuanya. Dia salaman cium tangan bapaknya dan mengecup kening ibunya, lalu duduk di kursi antara dua orangtuanya. “Ngobrol apa, kelihatannya serius? Lihat muka Papa cemberut, lagi ngambek Pap?”

“Lihat … tigapuluh satu tahun usiamu masih juga belum kawin… nah kapan aku gendong cucu? Apa ndak takut aku keburu mati?” Tukas Sumantri.

“Ah papa sehat, seger, pasti umur panjang, masih kuat malahan bisa kawin dua belas perawan lagi.”

“Kamu ini ngawur… ngomong ndak pake aturan.” Potong Sri Dewi.

Sumantri tertawa sambil mengelus-elus kumisnya. “Iya benar, papamu masih kuat, tapi tidak untuk kawin lagi, yang harus kawin itu kamu, Arya Priambodo?”

Pelayan datang menghampiri. “Ini Den, kopinya, masih panas.”

“Terimakasih mbok.”

Setelah menyeruput kopinya, Arya tersenyum. “Mengapa bicara perkawinanku, aduh ya sabar dong papa en mama, aku pasti kawin, tunggu saja tanggal mainnya.”

“Ini percakapan paling hangat dalam keluarga kita, perkawinan Arya Priambodo, kapan waktunya kita belum tahu, siapa wanitanya juga belum muncul.”

“Kangmas ini bagaimana sih, wanitanya kan sudah ada, itu si Maya.” Dia menoleh memandang anaknya. “Eh bagaimana tadi malam, kamu pulang menjelang pagi, berduaan sama si Maya, apa saja yang dibicarakan?”

“Aku pulang kalau nggak salah jam dua pagi.”

“Wah kemajuan rupanya, kamu antar Maya pulang, apa kata bapaknya pulang pagi begitu ?” Potong Sumantri ingin tahu.

Arya menyesap kopi panas. “Kita makan di restoran. Habis makan terus pulang. Jam sepuluh Maya sudah kuantar pulang.”

Sumantri diam, memandang putranya dengan tatapan penuh tanda-tanya.

Sri Dewi heran. “Lho lantas  jam dua pagi itu, ceritanya apa?”

( Bersambung 1.6 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com