Namaku Retno 1.4

Posted on 12 Januari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.4

      Dalam hati dia mengeritik kelakuan Retno. “Kamu mengatakan membenci lelaki yang berbohong, lantas mengapa kamu sendiri berbohong?“

      Namun kekesalannya tak mengurangi pengakuan akan kecantikan Retno yang memesona dan juga kecocokan selama dialog singkat tadi. “Dia cantik ayu seksi, cantik Jawa, logatnya masih medok Surabaya, enak diajak ngobrol.“   

      Seorang lelaki muda, Santoso, menghampiri Arya. Usianya sekitar duapuluh enam. Dia menyapa Arya. “Boss, dengan siapa?“ Katanya sambil senyum.

      “Datang bareng temanku Ronggo. Dan tadi itu Hendrik.“ Kata Arya tanpa menyebut Retno dan Martina. “Kamu ngapain di sini?“

      “Aku kan anak es-em-a dua, sengaja datang ketemu teman-teman.“ Santoso tersenyum, “Boss rupanya sudah mengenal Retno? Dia yang melantai denganmu tadi.“

      “Baru kenal.“                                                                                                 

      “Retno itu berbakat. Tadi dia menyumbang dua lagu, suaranya merdu, lagunya hot dan mengangkat suasana jadi hangat dan gembira.“ Santoso tersenyum penuh arti.

      “Yah, aku datang belakangan.“

      “Boss aku bawa mobil, nanti kuantar pulang. Boss nginap di hotel mana?“

      “Aku pake rental car. Tak perlu repot-repot nikmati saja pestamu.“ Kata Arya sambil menepuk-tepuk punggung tangan Santoso dalam genggamannya.

      Hendrik dan tunangannya menghampiri meja. Hendrik berpapasan dengan Santoso, saling tegur dan ngobrol singkat.

      Suara Martina mengejutkan Arya. “Mana Retno?“

      Arya menggerakkan kepalanya mengarah lantai dansa. “Dia bersama tunangannya Yudistira.“ Nada suaranya datar.

      Hendrik dan Martina duduk.

      “Mas Arya, jadi Santoso itu anak buahmu di kantor?“ Tanya Hendrik.

      Arya mengangguk membenarkan pertanyaan Hendrik lalu mengalihkan pembicaraan. “Kata Retno dia masih single, ndak punya pacar.“ Kata Arya nadanya protes.

      “Siapa bilang tunangan? Yudistira yang ngomong?“ Hendrik tertawa geli.

      Martina menyahut dengan suara datar. “Jagoan itu menganggap Retno tunangannya tetapi Retno sendiri tidak menyukainya. Kepadaku Retno berkata tak pernah melayani si Yudi.“

      “Tetapi Retno tidak membantah.“ Tukas Arya.

      “Yudi itu sahabatnya Mas Koco dan juga Mas Hendrik. Dan Mas Koco itu orangnya unik suka menggampangkan sesuatu. Ketika Retno mengadu padanya tentang perilaku Yudi, kata

Mas Koco yah sudah ngomong saja sama Yudi, bahwa kamu ndak suka.“ Tutur Martina.

      Berhenti sesaat Martina lalu menambahkan. “Contohnya tadi. Kita berdua jemput dia dan Retno, dalam perjalanan dia dipanggil bossnya, terpaksa dia batal ikut kami, lalu dia nelpon Yudistira untuk menemani Retno. Ketika Retno protes, dia menyahut dengan gampang, Yudi hanya seorang teman, ndak ada apa-apa. Dan Retno tak mau membantah Kangmasnya.“

      Arya tersenyum mendengar penuturan Martina. “Mas Koco itu Kakangmasnya Retno yang paling tua.“ Potong Arya.

      “Benar, lima bersaudara. Dia putri satu-satunya, diapit dua kakak dua adik.“

      “Sudah dia ceritakan, tadi.“

      Martina menatap Arya. “Kelihatannya kamu naksir Retno.”

      “Bisa iya, bisa tidak.” Arya menjawab diplomatis.

      “Kalian cocok. Kulihat dari jauh, kalian ngobrol sambil dansa merapat, dan di meja ini kalian tertawa-tawa. Retno itu gadis yang sulit akrab dengan lelaki, seingatku dia tak pernah pacaran, hanya kenal-kenal biasa. Banyak laki-laki yang mengejarnya ingin menjeratnya jadi pacar atau isteri.“ Tutur Hendrik.

      “Retno memang cantik. Terus terang aku tertarik. Tetapi mungkin sebatas itu saja. Tolong sampaikan pada Ronggo aku pulang.” Arya bersiap hendak beranjak dari kursinya.

      “Mau kemana, nggak nunggu Retno?” Hendrik bertanya serius.

      “Kan sudah ada tunangannya.” Diam sesaat lalu bertanya pada Martina. “Mengapa dia tidak menceritakan padaku kalau sudah tunangan?” Arya bertanya lagi pertanyaan yang tadi belum terjawab tuntas.

      “Karena dia belum tunangan!” Tukas Martina. “Tidak ada pertunangan resmi.”

      “Jadi?” Mimik Arya bertanya-tanya.

      “Itu hanya maunya si jagoan.” Hendrik agaknya tidak menyukai Yudistira. “Laki-laki itu tak tahu malu, sudah tahu Retno menolaknya, masih juga dia tebal muka mengaku-ngaku Retno tunangannya.”

      Arya diam, agak terkejut juga.

      “Kapan balik Jakarta?” Martina bertanya.

      “Besok pagi.”

      “Kamu punya nomor hapenya Retno?” Desak Martina.

      Arya mengangguk.

      “Eh jangan lupa nelpon si Retno.” Kata Martina.

      “Perlukah aku nelpon?” Tampak Arya bimbang.

      “Retno ndak sembarangan memberikan nomor hapenya, kalau dia berikan padamu artinya dia mau kamu nelpon dia.” Tegas Martina.

      “Oke, akan kutelpon.” Suara Arya sepertinya janji pada diri sendiri.

      “Mas Arya hati-hati! Yudistira itu sok jagoan, bapaknya pejabat.” Suara Hendrik sinis. Dia jelas-jelas memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Yudistira.

      “Ndak usah takut Mas Arya, negara ini bukan milik para pejabat. Ada hukum!” Suara Martina agak tinggi, tampaknya juga tidak menyukai Yudistira.

      “Hukum di negeri tercinta ini sudah tergadai Tina. Hukum ada tapi hanya jadi mainan para politisi dan pemegang kekuasaan.” Tukas Hendrik.

      Arya tertawa. “Kita lihat saja nanti.” Dia berhenti sejenak. “Salam untuk Retno.”

      Hendrik dan Martina hanya bisa saling pandang.

      Beberapa saat kemudian.

      “Itu Retno dan si jagoan,” Tukas Martina.

      “Sebaiknya kita tetap disini, temanin Retno.” Kata Hendrik.

      “Sebaiknya begitu. Khawatir mereka bertengkar.”

      Retno bersama Yudistira menghampiri meja.

      “Mana Mas Arya?” Cetus Retno, mimiknya tidak senang.

      “Pulang,” Martina menyahut datar. “Dia titip salam mesra.”

      “Mengapa pulang mendadak?” Tampak dia kesal Arya pulang tanpa pamitan, juga kesal lantaran kehadiran Yudistira maka Arya pulang. Kekesalannya memuncak. Retno memang lemah lembut, luwes tetapi jika amarahnya memuncak bisa salin rupa jadi macan betina. “Ayo Mas Hendrik kita pulang.”

      “Kuantar kamu pulang, biar Hendrik mengantar Martina.” Potong Yudistira.

      “Aku pulang bareng Mas Hendrik dan Martina,“ Sahut Retno datar dan tegas.

      “Mas Koco pesan sama aku untuk mengantar kamu pulang.“ Tegas Yudistira.

      “Aku mau pulang bareng Mas Hendrik dan Martina.“ Retno menyahut tegas.

      “Kamu ndak percaya sama aku?“ Suara Yudistira tinggi.

Suasana hatinya sedang kesal, Retno menyahut tak kalah tegasnya. “Aku berangkat bareng mereka, jadi pulang harus bersama mereka.“ Dia berdiri sambil menatap tajam Hendrik. “Ayo Mas antar aku pulang.“

      “Ayo. Kamu bagaimana Yud, pulang bareng?“ Kata Hendrik agak terpaksa.

      “Aku bawa mobil, tapi masih mau ketemu teman-teman lain. Kita pisah.“ Dia menoleh pada Retno. “Ret, salam buat Mas Koco.“

      Retno hanya mengangguk dengan menggumam suara lirih. “Iyah.“ Dia masih kesal.

      Di mobil, Retno duduk sendirian di jok belakang. Dia berpikir sejenak lalu merogoh hapenya dan memencet tuts. “Hallo?“

      Suara Arya menyahut. “Yah Dik Retno.“

      “Mengapa pulang dadakan begitu? Sakit perut?“

      “Kan kamu sudah ketemu tunanganmu, jadi aku....“

      Retno memotong dengan nada tinggi. “Dia bukan apa-apa. Bukan tunanganku!“

      “Oh dia bukan tunanganmu?“

      “Bukan dan sejuta kali bukan. Kamu pulang gara-gara dia, aku kesal gara-gara dia.“

      "Sudahlah Dik Retno, jangan marah-marah, nanti kamu cepat keriputan.“

      Retno tertawa. Sadar bahwa tak ada gunanya kesal. “Iyah kamu benar.“

      “Kamu masih di sana?“

      “Ndak! Aku melantai dengan dia hanya satu lagu, balik ke meja, eh kamu sudah kabur. Aku kesal jadi pulang saja. Sekarang ini aku dalam perjalanan pulang diantar Mas Hendrik dan Martina. Hanya bertiga. Eh kamu jadi pulang Jakarta besok?“

      “Iyah, pesawat pagi. Selamat tidur yah Dik Retno yang cantik.“

      “Mas, telpon aku yah? Jangan lupa, awas kalau lupa.“

      “Aku tidak akan lupa.“

      Retno senang mendengar jawaban Arya. Dia tertawa lirih.

      Martina tertawa geli. “Kamu sudah ndak kesal lagi.“

      “Kepada Arya sudah baikan. Tapi aku masih kesal sama si Yudi, maunya apa orang itu,  ngaku-ngaku tunangan. Gara-gara dia itu, Arya pulang.“

      “Ngobrolnya enak sama si Arya?“ Martina ingin tahu.

      “Iyah orangnya ndak arogan.“

      Martina tersenyum. “Ret, kulihat kamu tadi melantai dengan mesra, kamu didekap mesra kayaknya sudah kenalan lama. Cocok iya?”

      “Ngobrolnya enak, nyambung.”

      “Hati-hati fall in love,” Martina tertawa menggoda.

      “Ndak ah, mosok cuma semalam, malahan satu jam kenalan bisa cinta,” Tukas Retno.

      “Loh bisa saja kejadian, banyak contoh love story koyok ngono.”

      “Tapi yang ini ndak lah Mar.” Dalam hati Retno bertanya-tanya. “Benarkah aku fall in love? Dia tampan, matang dan tampaknya mengayomi. Meskipun ada bekas luka di batang hidungnya tapi tetap enak dipandang. Mungkin saja benar ada love story seperti itu.”

      “Dia ngaku padaku dan Mas Hendrik, katanya dia tertarik padamu.“ Tukas Martina.

      “Benarkah?“ Paras Retno memerah malu, jantungnya berdebar-debar. “Kamu jangan ngarang, awas lho.“

      “Benar Ret, aku dengar sendiri dia ucapkan itu.“ Kata Hendrik.

      “Aku tahu kalian memancing aku.“

      “Ndak Ret. Aku serius, dia memang tertarik padamu. Tampaknya dia intelek, tapi sempat  kecewa, katanya mengapa kamu tidak terus-terang mengatakan sudah tunangan.“

      “Sialan si Yudi!“ Retno memotong sengit.

      “Tapi kita jelasin padanya, bahwa tidak ada pertunangan resmi. Dan kamu juga tak pernah mengakuinya sebagai tunangan, malah kamu menolaknya.“ Kata Martina.

      “Terimakasih Mar sudah kamu jelaskan.“

      “Tadi kamu telpon dia, itu bagus. Apalagi kamu pertegas Yudi itu bukan tunanganmu. Paling tidak kamu bisa tidur pulas, tidak kesal lagi.“

      Hendrik memotong ucapan Martina. “Jangan-jangan malah tidak bisa tidur, karena melamun Arya.“

      Retno tertawa senang. Dia senang, mungkin sebab dijodohkan dengan Arya, mungkin  sebab pembicaraannya dengan Arya di telpon. Dia tak tahu alasannya merasa senang. Padahal tadinya sempat jengkel dan kesal lantaran Yudistira merusak suasana akrab yang sudah terjalin antara dia dengan Arya.

      “Senang ketemu dengan lelaki yang intelek, ndak kampungan. Tidak semua anak Jakarta seperti Arya, biasanya mereka arogan, menganggap kita anak Surabaya di bawah mereka.“ Komentar Retno ditujukan kepada dua temannya.

      “Dikiranya kita anak Surabaya kampungan?“ Kata Martina.

      “Mereka lupa sejarah balada musik rock Indonesia justru dipelopori dari Surabaya, Koes Bersaudara, Dara Puspita dan lain lain.“ Seru Hendrik.

      “Iya, tapi tidak semua mereka sombong. Contohnya Arya, dia ndak sombong.“ Kata Retno dengan suara bangga.

      “Lagi-lagi kamu memuji Arya, jangan-jangan sudah cinta nih.“ Kata Martina.

      “Kalau cinta sih, tidak secepat itu. Aku hanya senang kenalan, bertambah satu teman kan bagus untuk pergaulan.“ Tegas Retno. Dalam hati dia membenarkan. “Mungkin saja aku sudah jatuh cinta,  fall in love .... benarkah?“

(Bersambung 1.5)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com