Namaku Retno 1.3

Posted on 05 Januari 2017 ( 0 comments )


“Namaku Retno” 1.3.
Novel John Halmahera

     
“Rupanya kamu suka humor.“ Kata Arya.

      “Humor itu membuat kita rileks. Jaman sekarang, kita dipaksa serius bekerja, tidak serius maka kita akan terlempar dari persaingan. Humor adalah pencegah stress.“

      Seiring selesainya lagu “historia de un amor“ Retno berkata, “aku capek, kita duduk saja.“ Dia lantas melepas tangannya dari genggaman Arya.

      Mereka kembali ke meja. Arya mampir di meja bar dan mengambil dua botol pepsi.

      “Kalian tampak akrab,“ Hendrik menyapa sambil tersenyum.

      “Ah biasa saja Mas.“ Sahut Retno kalem.

      Hendrik berdiri sambil menuntun tangan Martina. “Gantian jaga meja, supaya tidak diserobot orang.“ kata Martina kepada Retno.

      Okay take your time.“ Sahut Retno.                                                             

      “Mas Arya, temenin Retno ngobrol, iya.“ Hendrik tersenyum pada Arya.

      “Selama Retno mau kutemenin.“ Arya juga tersenyum. Dia memandang Retno yang saat itu menatapnya. Mereka saling tatap, tidak lama. Singkat, hanya beberapa saat namun keduanya seakan bisa membaca pikiran masing-masing.

      Retno mengalihkan pandangannya. Rona merah menjalar diparasnya yang cantik.

      “Kamu asli Surabaya?“ Arya menatap mata yang bening indah itu. Ada butir-butir keringat di pelupuk matanya.

      “Iyah lahir dan besar disini, arek Suroboyo asli.“

      “Masih kuliah? Dimana?“

      Retno tertawa geli. “Hi.. hi.. hi... Tampangku masih seperti mahasiswi iya?“

      Arya ikut tertawa meskipun tidak mengerti apa yang ditertawakan. Dia menikmati suara dan mimik Retno kala tertawa. Suara khas dan merdu. Dan logatnya yang medok Jawa.

      “Kuliah di Airlangga, sudah selesai. Aku kerja di travel FlyMe.“ Retno menjelaskan.

      “Wao kamu sering terbang, kemana saja?“ Sesaat Arya menyesal dengan pertanyaannya yang konyol itu.

      Retno menyahut kalem. “Bukan pramugari, aku di office. Kamu kerja dimana?“

      Konsultan disain bangunan tapi aku juga usaha sendiri, buka restoran aneka masakan Jawa di daerah Jatiwaringin.“

      “Kamu bisa masak?“ Retno tampak antusias.

      Arya menggeleng kepala. “Aku hanya bisa makan, masak ndak bisa. Kamu bisa masak?“

      “Percaya tidak, aku punya lebih kurang dua puluh menu masakan. Masakan Jawa dan Eropa. Semuanya enak dan lezat.“

      “Masakan favoritmu?“

      “Lontong mi dan lontong balap, satu jam sudah tersaji. Kalau hari libur, aku wajib masak menu ini untuk sarapan pagi.“

      “Aku jadi kepingin mencicipi.“

      “Boleh. Tapi biayanya mahal.“ Diam sejenak lalu Retno menambahkan. “Sekitar satu juta setengah sampai dua juta rupiah harus keluar dari kantongmu.“ Matanya berbinar-binar, memandang Arya dengan mimik jenaka.

      “Mahal banget?“

      “Iyah mahal. Tiket pesawat Jakarta Surabaya pepe, tambah lagi dengan ongkos taksi dan penginapan serta  biaya lainnya, nah jumlahnya  bisa sebesar itu, iya kan?“

      Arya tertawa, hatinya senang. “Ini undangan makan? Aku dengan senang hati akan datang ke rumahmu mencicipi lontong mi masakanmu.“

      “Baik. Ini undangan makan. Kamu punya waktu kapan? Besok kan Sabtu, aku libur, menu wajib itu akan tersedia. Mumpung ada di sini, kamu ndak perlu beli tiket pesawat.“ Retno bicara dengan paras ceria, hatinya senang.

      “Sayang sekali, besok siang aku ada janji di Jakarta, jadinya terbang pagi.“

      Melihat air muka Retno berubah, Arya cepat menambahkan. “Sabtu depan. Iyah Sabtu depan aku bisa datang.“

      Wajah Retno riang kembali. “Telpon aku yah untuk konfirmasi. Oh iya sekarang kamu telpon ke hapeku, biar aku tahu nomormu. Masih ingat nomorku?“

      Arya mengangguk, memejam matanya seperti mengingat sesuatu. “Aku ingat.“ Dia menurunkan dua tangannya ke bawah meja. Merogoh saku lalu memencet tuts hape. Arya menatap Retno yang melotot memerhatikan semua geraknya.

      “Mengapa sembunyi-sembunyi, hapemu pasti bagus, arek Jakarta selalu gaya.“

      “Ndak hapeku jelek, model kuno.“

      “Aku ndak percaya.“ Saat itu terdengar intro lagu unchained melody dari dalam tas Retno. Gadis itu cekatan membuka tas kecilnya, merogoh hapenya. “Masuk, sudah masuk, nomormu bagus, buntutnya sembilan tiga kali. Benar iya?“ Dia meletakkan hapenya di meja.

      Arya mengangguk. “Benar.“

      “Ini hapeku, barang jelek, sudah ketinggalan jaman.“

      “Boleh aku foto kamu?“ Arya menatap lekat gadis cantik itu.

      Pertanyaan yang berupa permintaan itu mengejutkan Retno. “Boleh tetapi buat apa?“

      “Supaya aku ndak lupa nelpon kamu.“ Arya mengangkat hapenya dan memotret si gadis. Beberapa kali jepretan.

      Retno tertawa. “Bagus? Kalau jelek, kamu hapus yah, potret lagi.“

      “Bagus kok, dasar kamu cantik, kecantikan asli jawa.“

      Retno meminta hape Arya. “Mana aku mau lihat.“

      Arya menyodorkan hapenya.

      Retno tertawa. “Fotoku bagus. Tapi benar kataku tadi, hapemu bagus dan mahal.“

      Dia makin terpesona melihat kecantikan Retno yang begitu hidup. Gadis itu begitu ceria dan gembira. Sesungguhnya keceriaan dan kegembiraan seorang wanita akan mempertegas kecantikannya. Jika dia cantik akan semakin cantik dan jelita. Itulah Retno dimata Arya. 

      “Usiamu berapa Ret?“ Pertanyaan Arya itu begitu mendadak. Muncul dari perasaan suka dan keinginan tahu. Dia ingin tahu lebih banyak tentang si gadis.

      Retno kaget. Matanya meneliti lelaki didepannya. Dia tidak curiga, tetapi heran. Namun dia menjawabnya lirih. “Dua lima.“

      “Belum kawin?“

      Retno menggeleng kepala.

      “Sudah ada yang punya?“

      Retno tertawa. “Ada yang punya. Bapak dan ibuku. Kenapa sih kamu jadi serius. Umurmu berapa Mas? Isterimu dimana?“ Dia tidak canggung menyebut Mas kepada Arya.

      “Tigapuluh satu. Aku duda, dua tahun kawin lalu cerai, tidak punya anak.“

      Retno tertegun sesaat. “Oh maaf Mas, kenapa sih pake cerai begitu.“

      “Tidak cocok. Dua tahun lalu aku cerai. Itu masa sulit bagiku, hampir aku brooke, aku tak mau banyak melamun tapi lebih suka bekerja.“

      Retno berkata dengan hati-hati. “Dua tahun menduda, belum dapat pasangan?“

      Arya menggeleng. “Belum.“

      Retno mengamati mimik Arya dan seketika tahu lelaki itu tak mau mengungkap masa lalunya menyangkut kisah mantan isterinya.

      Ketika itu seorang lelaki menghampiri langsung duduk di kursi kosong milik Hendrik. “Sudah lama menunggu?“ Lelaki itu bertanya kepada Retno tanpa menyapa Arya.

      “Menunggu siapa? Aku tadi melantai, enak olahraga, kalau duduk terus yah bosan.” Retno merasa tak perlu menyembunyikan sesuatu.

      “Dengan Hendrik?”

      “Sama Mas Hendrik satu lagu, sama teman baruku ini dua lagu, oh ya kalian belum kenalan, ini Arya dan ini Yudistira.” Suara Retno datar dan tawar, tidak lagi ceria.

      Arya menyodor tangannya. “Arya.”

      Yudistira menyalami sambil menyebut namanya. “Panggil aku Yudi.”

      Sesaat hening. Lalu Yudistira memegang tangan Retno. “Ayo melantai.”

      Retno ragu-ragu. Tapi tarikan tangan Yudistira suatu isyarat laki-laki itu tak mau ditolak.

      Arya diam. Memaksa diri tersenyum kepada Yudistira.

      “Terimakasih kamu temanin tunanganku melantai.” Yudistira berkata sinis, tampaknya ada rasa cemburu.

      “Sama-sama,” Arya berusaha bersikap ramah.

      Yudistira menuntun tangan Retno. “Ayo, satu dua lagu.”

      Retno tetap duduk, keberatan. “Aku masih capek.“

      “Ayolah, satu lagu saja.“ Nada suaranya memaksa dan uluran tangannya tegas, dia tak mau ditolak. Retno membaca suasana, memandang Arya dengan tatapan misterius, berdiri dan membiarkan tangannya digenggam Yudistira.

      Arya hanya diam. Hatinya membeku. Tetapi mimiknya tidak memperlihatkan tanda tidak puas atau kecewa.

      “Mengapa dia tidak mengatakan sudah punya tunangan? Tapi mengapa juga dia seakan tak mau diajak melantai oleh Yudistira. Mereka bertengkar?“ Pertanyaan itu seperti api cemburu yang menyulut kemarahan. Teringat akan mantan isterinya yang telah membohonginya, mengaku setia tetapi diam-diam terlibat love-affair dengan pacar lamanya.

      Dalam hati dia mengeritik kelakuan Retno. “Kamu mengatakan membenci lelaki yang berbohong, lantas mengapa kamu sendiri berbohong?“

(Bersambung 1.4.)


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com