Namaku Retno 1.2.
Posted on 04 Januari 2017 ( 0 comments )
“Namaku Retno” 1.2.
“Dalam pesta atau pertemuan, tidak semua laki-laki yang mengagumi seorang wanita, berani mendatangi wanita itu dan mengajaknya kenalan atau melantai.” Tubuh Retno cukup tinggi untuk ukuran wanita. Meskipun demikian dia harus sedikit menengadah memandang mata pasangannya. ( Bersambung 1.2.)
“Aku lama memperhatikan, ingin mengajak kamu dansa sebab aku melihat sorot matamu mengandung teka-teki,” Arya menunda kata-katanya, sekali lagi kakinya nabrak ujung sepatu Retno. ”Sorry, kakiku nabrak lagi, aku memang tidak mahir dansa.”
“Tidak apa. Lanjutkan, ada apa dengan sorot mataku.”
Mereka dansa lebih merapat. Tubuh wanita itu membuat Arya merasakan jantungnya berdebar kencang dan kehangatan menjalar sekujur tubuhnya. “Sorot matamu seperti menantang dan mengundang aku.”
“Tapi aku tidak mengundang kamu. Itu perasaanmu saja. Perasaan sering menipu.”
“Kamu memang tidak mengundangku. Tapi aku tertarik dan sangat ingin mengenalmu.”
“Hanya tertarik, begitu saja? Aku tak percaya, pasti kamu berfantasi yang jorok-jorok.“
Arya tertawa pelan. “Tidak begitu. Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Boleh aku minta nomor hapemu?“
Gadis itu senyum menggoda. Dia menyebut sederet angka dengan cepat. “Itu nomornya, kamu sudah ingat, sudah hapal?”
Arya menyahut, “ya, aku sudah ingat.“ Arya mengingat-ingatnya dalam hati.
Dia seperti tak percaya, menatap laki-laki itu dengan tajam, mencoba memasuki alam pikirannya. “Itu tadi nomorku yang privat. Kalau kamu lupa, dan aku yakin kamu pasti lupa, boleh bertanya lagi, tetapi saat itu mungkin aku akan memberi nomor lain. Sebab tadi kamu hanya iseng dan basa-basi bertanya.“
“Nomor hape yang lain, nomor kekasihmu, pacarmu?”
“Kamu memancing tapi biarlah kujawab, aku tak punya pacar, ndak laku.”
“Aku tidak percaya gadis cantik macam kamu tak punya pacar. Pasti banyak laki-laki yang pernah menjadi pacarmu. Dan sudah banyak diantaranya yang kamu kecewakan, kamu tendang, belum ada yang cocok?”
“Kamu salah. Aku belum pernah pacaran. Aku tak percaya lelaki, kata ibuku di jaman sekarang ini sulit menemukan lelaki yang bertanggungjawab.” Suara Retno agak gemetar.
“Termasuk aku? Kamu tak percaya padaku?”
“Terlebih-lebih laki-laki macam kamu, perayu ulung, orang seperti kamu ini hidup di atas kebohongan, contohnya kamu tanya nomor hape-ku, tetapi kamu tidak mengingatnya, bagimu hanya basa-basi. Laki-laki suka berbohong, dan aku paling benci kebohongan.”
Arya melihat kemarahan di mata si gadis. Sepasang bintang kejora itu mendadak terang benderang, bersinar tajam dan sepertinya siap memancarkan api.
Arya merapatkan diri tetapi gadis itu meronta membuat jarak.
“Kamu marah?” Tanya Arya.
“Iya, aku marah. Katamu aku punya banyak pacar, kamu pikir aku ini perempuan apa?”
“Maaf jangan marah, itu sebenarnya pujian, kamu cantik jadi wajar jika banyak pria jatuh cinta padamu. Aku sungguh-sungguh memuji dan memuja kecantikanmu, tetapi mungkin kamu salah tafsir.”
“Kamu menyalahkan aku?”
“Oh tidak. Aku yang bersalah, salah omong, aku minta maaf.”
Arya menarik tubuh si gadis. Kali ini tidak ada penolakan meski tetap pasif. “Aku ingat nomor hape-mu,” bisiknya di telinga si gadis. Arya menyebut deret angka yang tadi disebut si gadis. “Betul kan? Tak mungkin salah.” Dan Arya terus mengingatnya.
“Memori ingatanmu bagus.” Retno diam sesaat kemudian melanjutkan. “Kamu akan meneleponku?” Pertanyaan itu tercetus begitu saja.
“Yah aku akan menelponmu setiba di Jakarta.“
Lagu “a day in a life of a fool” selesai, langsung disusul “historia de un amor“ Spanish love song yang klasik. Mereka melantai lebih merapat. Beberapa kali Arya merasakan tonjolan lunak payudara Retno. Rambut gadis itu kadang menggelitik hidungnya, harum. Arya memandang Retno yang juga menatapnya dengan sinar mata lembut.
Aroma parfum serta sentuhan gadis cantik itu membuat Arya seakan mabuk. Dia mengakui betapa cantiknya Retno. Mata hitam terang itu gemerlap macam bintang kejora, alisnya hitam tebal, hidungnya bangir, ada bayangan kumis tipis di atas mulutnya yang sensual, bibirnya tebal dipoles lipstick warna burgundy yang mengilap dan basah.
“Kamu sudah makan?“ Tanya Arya.
“Sudah. Kamu?“ Retno menatap mata Arya. “Disini makanannya banyak pilihan.“
“Sebelum dijemput Ronggo, aku sudah makan duluan. Masih kenyang.“
Keduanya bertatapan. Arya agak merunduk, Retno menengadah. Begitu rapatnya, begitu romantisnya sehingga ujung hidung hampir bersinggungan. Ketika bicara, keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
“Kamu pandai dansa,“ bisik Arya.
“Dulu di es-em-a aku pernah berlatih tari nasional, jadinya ikut berlatih dansa, memang aku bisa dansa tetapi aku tidak suka pesta, jarang. Tadi Hendrik dan tunangannya mengajak Mas Koco dan aku ke reuni, ditengah jalan Mas Koco dipanggil bosnya.“
“Siapa Mas Koco?“
“Dia Kangmasku yang paling tua, kandung. Dan Hendrik itu sahabatnya sejak es-em-pe, sering main di rumah. Martina juga temanku sejak es-em-a. Mereka sudah mau kawin.“
“Saudaramu berapa?“
“Banyak. Aku satu-satunya putri. Dua kakak, dan dua adik, aku ditengah.“
“Pasti kamu dimanja.“
“Tidak dimanja, tapi disayang.“ Diam sejenak kemudian dia bertanya. “Saudaramu banyak? Berapa?“
“Aku sendiri.“
“Anak tunggal?“ Retno tertawa lirih. “Pasti kamu dimanja?“
“Maunya bapak banyak anak. Tapi ketika melahirkan aku, ibuku sakit keras dan belakangan tidak bisa melahirkan lagi. Jadilah aku anak tunggal.“
Retno berkata lirih. “Orangtuamu masih tinggal di Jakarta?“
“Masih. Mereka menikmati hari tua di Jakarta, kadang-kadang mudik ke Jogja dan Solo menjenguk sanak familinya. Tadinya mereka bekerja keras membesarkan aku, kini ganti aku yang bekerja keras menggantikan bapak.“
“Kamu anak yang berbakti.“
“Aku dididik untuk bisa mandiri. Disiplin. Sejak usia dini aku harus mengikuti pola hidup yang diciptakan orangtuaku. Sekolah umum. Pulangnya belajar ngaji. Di es-em-pe aku mulai mengenal basket yang jadi hobi. Aku main di es-em-a, juga di klub. Tapi lulus es-em-a aku tak punya waktu lagi, harus memilih basket profesional atau kuliah. Papa memutuskan aku harus kuliah.“
“Tinggimu berapa? Satu delapan puluh?“ Retno mengira-ngira.
“Hari Jumat kemarin masih satu delapan dua, ndak tahu sekarang hari Sabtu.“
Retno tertawa. “Mungkin sudah bertambah tiga senti. Kamu suka humor?“
“Suka. Mungkin menurun dari papa. Bapakku orangnya serius, sangat serius, tetapi seringkali muncul komentarnya yang kocak dan sinis, guyonan yang segar.“
“Aku punya cerita humor. Dialog iblis dan malaikat.“ Retno tertawa.
“Ceritakan.“
“Iblis berkata kepada malaikat. Sampaikan kepada Tuhanmu, aku minta pensiun. Jawab malaikat, loh tugasmu kan menggoda manusia sampai hari kiamat, sekarang belum kiamat kog sudah minta pensiun, apa alasanmu. Iblis menjawab dengan sedih. Aku nganggur sekarang, sebab semua manusia tidak lagi bisa digoda, mereka sudah menguasai semua ilmu dan jurus iblis, malahan sekarang ini aku takut tergoda bujukan manusia.“
Arya tertawa lirih. Retno ikut tertawa.
“Rupanya kamu suka humor.“ Kata Arya.
( Bersambung 1.3. )
Comments







