Namaku Retno No 1.1.

Posted on 02 Januari 2017 ( 0 comments )


Novel judul "Namaku Retno"

1.1

Gadis Baju Merah

Arya Priambodo berdiri dari kursi, melangkah ke bar yang berada dekat arena dansa. Dia mengambil gelas berisi pepsi, menyandar punggungnya ke meja bar memandang lantai dansa. Beberapa pasangan pria wanita sedang melantai diayun musik intrumentalia irama slow. Pandangannya berpindah-pindah dari satu pasangan ke pasangan lain.

      Tiba-tiba dia merasa tegang, tubuhnya kaku seakan halilintar masuk ruangan,  menabrak dan menyengat dirinya. Seakan semua wewangian parfum dan keringat puluhan tetamu terserap menerobos hidungnya. Seakan cahaya lampu berganti serpihan bunga warna-warni melayang-layang diantara kumpulan pedansa itu.

      Seakan langkah semua pasangan bergerak slow-motion. Ruangan seakan sunyi sepi dan hening, tak ada suara, padahal lagu instrumental yang mengudara dari sound-system canggih, lumayan keras menembus gendang telinga. Perasaan Arya bagaikan melayang-layang di angkasa. Matanya terpaku pada sosok si wanita baju merah. Dan terus terang saja wanita itu telah menyerap segenap perhatian Arya.

      Wanita itu cantik jelita dan anggun bagai seorang dewi. Dia mengenakan rok hitam polos berenda sebatas betis yang pinggangnya ketat dan bagian bawahnya mengembang. Ketika dia memutar tubuhnya, rok yang terbuat dari bahan katun itu bergerak macam alunan ombak. Blus merah lengan pendek tampak longgar namun tak mampu menyembunyikan tonjolan di dadanya. Dia tinggi semampai, kulitnya kuning langsat, bersih. Rambut ikal hitam pekat terurai sebatas bahu.

      Pasangan itu berdansa dengan lincah dan lancar.

      Arya sepertinya memperhatikan pasangan itu, namun sesungguhnya matanya hanya terpaku pada sosok gadis baju merah itu.

      Pasangan itu bergerak lincah, terkadang menjauh dari tempat Arya berdiri, terkadang mendekat sedemikian rupa sehingga Arya bisa fokus menatap wajah gadis itu.

      Arya bergumam, “sungguh kecantikan yang jarang kutemui. Parasnya jelita, potongan tubuhnya proporsional.” Matanya hampir tak berkedip memperhatikan gadis itu. Dia melihat si gadis juga memandang kearahnya. Beberapa kali pandangannya bentrok dengan tatapan si gadis. Mereka saling pandang.

      Dalam setiap kesempatan saat wajahnya menghadap Arya, gadis itu menatap tajam. Gadis itu mengetahui kehadiran Arya. Dia menyadari bahwa Arya memperhatikannya. Dia pun memperlihatkan perhatian secara terang-terangan, menatap mata Arya tanpa kedip. Sinar matanya bening tajam.

      Pasangan itu melantai dengan tidak merapat sementara pasangan lain saling mendekap dalam alunan lagu instrumental “softly as I leave you”. Gadis itu, sengaja atau tidak, sering memosisikan tubuhnya menghadap ke arah Arya. Setiap pasangannya memutar ke arah lain, dia balik pada posisi menghadap Arya.

      Keduanya saling tatap, Arya tersenyum dan mengangkat tangannya yang menggenggam gelas isyarat menawarkan minuman. Gadis itu tersenyum manis, membalas senyum Arya. Senyum yang mengundang dan menantang.  Senyum misterius.

      Lagu indah itu selesai. Arya melihat si gadis dan pria pasangannya melangkah ke salah satu meja dimana seorang wanita duduk sendirian. Meja itu hanya punya tiga kursi, sudah terisi, gadis baju merah, pria pasangannya dan wanita yang sendirian.

      Arya melihat kursi kosong. Tanpa ragu dia melangkah menuju meja si gadis, menyambar kursi itu dan meletakkan di dekat si gadis baju merah.

      “Hallo, boleh aku bergabung?” Kata Arya sopan. Namun dari gerakannya yang tegas, sepertinya dia tidak sungguh-sungguh memerlukan ijin lagi. Karena dia sudah duduk di antara tiga orang itu.

      Pria itu menjawab,”silahkan, toh anda sudah bergabung.”

      Sambil meletakkan gelasnya di meja, Arya menyapa lelaki yang duduk di samping gadis berbaju merah. “Namaku Arya,” sambil menyodorkan tangan.

      Lelaki itu menyambut uluran tangan. “Aku Hendrik, ini tunanganku Martina, dan ini kawanku Retno.”

      Arya cepat membaca situasi. Ternyata Retno sendirian.

      “Kamu dari angkatan tahun berapa?” Tanya Hendrik.

      “Bukan. Aku diajak Ronggo dan isterinya, kebetulan aku lagi sendiri dan tidak ada acara.” Arya memandang Retno.

      “Oh Ronggo yang itu,” Kata Hendrik sambil menunjuk lelaki kurus yang sedang dansa.

      “Benar. Dia yang mengenakan kemeja hitam.” Kata Arya.

      Dan Arya tak mau membuang peluang di depan mata. Dia menoleh kepada si gadis dan berkata. “Boleh saya mendapat kehormatan dansa dengan anda?”

      Gadis itu menatap Arya. Sesaat dia ragu kemudian menjawab, tatapannya mantap. “Boleh,” sahutnya namun tetap duduk.

      Arya berdiri dan menyodorkan tangan. Arya mengira-ngira tingginya sekitar seratus enam puluh lima. Cukup tinggi dan langsing. Wajahnya yang jelita pantas dengan potongan tubuh yang proporsional. Sungguh seks appeal yang bisa mengguncang hasrat laki-laki. 

      Arya memegang tangannya, menuntunnya ke lantai dansa. Saat itu lagu “a day in a life of a fool” yang popular dilantunkan Nana Mouskouri sedang mengalun merdu dinyanyikan penyanyi wanita yang suaranya serak basah mirip legenda Italia Connie Francis.

      Jari tangan si gadis terasa lembut dalam genggaman Arya. Aroma parfumnya lembut.

      Tangan Arya melingkar pundak belakang si gadis. Meski tertutup blus merah yang kainnya lembut dingin, Arya membayang kulit pundak dan lengan yang halus mulus.

      “Namaku Arya Priambodo, panggil aku Arya. Namamu Retno iya?” kata Arya.

      “Retno Wulandari Setianingrum, panggil saja Retno.”

      “Bukan Ratna?”

      “Bukan! Retno! Nama Retno khas Jawa. Kalau Ratna bisa berasal daerah mana saja.”

      “Nama yang bagus, seperti orangnya, cantik.”

      “Terimakasih. Kamu suka memuji wanita rupanya.”

      “Jarang. Aku bodoh dan kaku.”

      “Kulihat kamu tidak kaku.” Suara Retno lirih dan merdu.

      “Sorry kalau pujianku membuatmu tidak nyaman, tetapi memang benar, kamu cantik.”

      “Ah biasa saja, aku nyaman saja.” Retno tertawa lirih.

      Arya diam, kakinya terantuk sepatu Retno. “Sory.”

      Retno tersenyum sambil berkata lirih. “Its okay, kamu bukan anak es-em-a dua?”

      “Bukan. Orangtuakua asli Jogja, aku lahir dan menetap di Jakarta.”            

      Retno menatap tajam. “Wah anak Jakarta, hebat dong.” Nada suaranya sinis.

      “Katepeku Jakarta tapi rumah di pinggiran.” Arya menyahut hati-hati.

      “Kamu merendah. Bilang saja dari Jakarta, tidak usah menyebut dari pinggiran.”

      Arya serba salah. Sadar teman barunya terdesak, gadis itu berkata lirih. “Terkadang aku terang-terangan, kesannya seperti sinis. Tetapi ndak kog, aku ndak sinis.”  Retno tersenyum, garis-garis mulutnya tampak penuh dengan bibir merekah dan gigi putih teratur rapi. Matanya polos tanpa maskara dan eyeshadow bersinar seindah batu topaz.

      Arya terpesona kecantikan si gadis, tetapi merasa bimbang untuk memuji lagi.

      “Kamu asli Jogja?” Tanya Retno.

      “Ayahku Jawa. Ibuku Jawa, dan aku Jawa. Keluargaku asal Jogja. Sekarang menetap di Jakarta. Aku masih numpang di rumah orangtua.” Mata Arya terpaku pada paras cantik itu. “Kamu cantik. Sudah lama aku memperhatikan kamu.” Arya mengalihkan pembicaraan dengan pujian. Dia tahu wanita cantik paling senang jika dipuji kecantikannya.

      “Aku tahu, kamu berdiri bersandar di bar, kamu lama memperhatikan aku. Waktu itu aku berpikir, apakah kamu punya keberanian datang kenalan?”

      “Ternyata aku berani, ya?”

      “Dalam pesta atau pertemuan, tidak semua laki-laki yang mengagumi seorang wanita, berani mendatangi wanita itu dan mengajaknya kenalan atau melantai.” Tubuh Retno cukup tinggi untuk ukuran wanita. Meskipun demikian dia harus sedikit menengadah memandang mata pasangannya. ( Bersambung 1.2.)





Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com