Wisang Geni part Two bab 23 bag 5

Posted on 27 September 2014 ( 0 comments )


 Bab 23 bag 5

      “Kurangajar!” Sang Hyang Pencabut Nyawa berteriak sambil menyerang dengan memutar tongkatnya lalu mengemplang dengan keras. Dia masih berlaku baik, tidak tega mengemplang kepala wanita cantik itu. Sasarannya tangan yang memegang pedang. Sekali kepruk dia ingin merebut kembali pedang bagus itu.

      Ningsri gesit mengelak, memainkan pedangnya dalam jurus pengantin garuda dengan ringan tubuh waringinsungsang. Tubuhnya melayang dengan ringan namun pukulan tangan kirinya bertenaga besar dan irisan pedang tipisnya mendatangkan angin dingin.

      Sang Hyang Pencabut Nyawa tak pernah menyangka Ningsri yang tampak lemah gemulai ternyata memiliki kanuragan mumpuni. Kendati telah mengeluarkan jurus-jurus mematikan dari permainan tongkatnya, sedikit demi sedikit dia mulai kewalahan.

      Sepak terjang Ningsri semakin trengginas karena dibakar amarah lehernya diciumi musuhnya itu. Namun Ningsri belum memainkan tali baja yang sebenarnya jadi senjata andalan karena akan digunakan pada saat musuh lengah.

      Selama berguru pada suaminya, Ningsri juga diajari beberapa kiat dan kunci pertarungan menggunakan siasat licik.

      Saat itupun tiba, Ningsri melihat kiprah-laga musuh mulai merosot. Tali baja yang sejak awal melingkari tapak tangannya, dengan memutar pergelangan dan sekali gentak menjadi kejang dan lurus.

      Lalu Ningsri memainkan jurus saramuka majala rimang (senjata pemusnah menjaring asmara) yang telah dilebur dengan manusup (masuk menyelinap) dan shuhdrawa (hancur luluh).          Serangan itu mendadak, sangat cepat dan terlebih lagi tali baja itu begitu tipisnya sehingga tidak terlihat mata telanjang. Sang Hyang Pencabut Nyawa yang fokus pada serangan pedang Ningsri merasakan desir angin dingin mengarah lehernya, namun tidak sempat menghindar. Tanpa ampun tali baja menembus leher sedalam lima sentimeter dan tepat merobek jakunnya.

      Terdengar seruan Ningsri yang dingin dan tajam. “Rasakan seranganku.”

      Sang Hyang Pencabut Nyawa menjerit, tusukan itu menembus lehernya dan ketika ditarik telah merobek jakunnya. Belum juga rasa sakit dan kagetnya hilang, saat berikut pedang tipis Ningsri mengiris melintang perutnya.

      Lelaki tinggi besar itu memegang perutnya yang robek besar, memandang tak percaya pada wanita cantik yang tampangnya mendadak berubah bengis.        

      “Kamu pantas mati, telah berani menciumi leherku.” Seru Ningsri. Dia lalu mundur berdiri di sisi suaminya.

      Beberapa lelaki menghampiri Sang Hyang Pencabut Nyawa yang sempoyongan  jatuh geletak di tanah. Mereka mengamati luka di perut yang tidak lagi tampak karena dilumuri darah yang tak berhenti mengucur. Mereka geleng-geleng kepala seakan memberi isyarat kepada sang pemimpin tertinggi bahwa wakilnya itu tak mungkin tertolong lagi.

      Warok Pecut Samudera yang terpisah sepuluh meteran menggaruk-garuk kepalanya. Dia berpikir keras. Tahu bahwa ilmu-silat Wisang Geni dan Ningsri Dewi tak mungkin dilawan. Seorang wanita usia tigapuluhan, tinggi dengan badan yang subur agak tambun, berbisik. “Siapa pendekar itu, kanuragannya mengerikan. Sekitar duapuluh anak buah kita mati, sebanyak itu juga luka-luka. Aturlah siasat damai, kita tipu mereka.”

      “Pendekar ilmu-silatmu hebat, tandang isterimu juga hebat. Aku minta maaf atas salah faham tadi dengan anak buahku. Aku undang tuan bersama isteri ke rumahku. Makan siang akan kusediakan. Aku Warok Pecut Samudera, ini isteriku Pramoni, siapa gerangan tuan pendekar?” Tutur bahasanya teratur. 

      Ningsri Dewi berbisik. “Mereka bersiasat, memainkan tipu daya.”

      Wisang Geni menyahut dengan suara keras sehingga bisa didengar semua orang. “Aku tak mau membunuh lagi. Sudah cukup. Sekarang aku akan pergi meninggalkan kawasan ini, apakah kalian akan mencegahku? Dan memaksa aku membunuh lagi?”

      Suasana hening. Warok lalu menjawab. “Kalau memang demikian, baiklah. Silahkan tuan pendekar berdua pergi, lupakan semua kejadian salah faham ini.”

 

      Perjalanan pulang menuju Tumapel bagi pasangan suami isteri ibarat bulan madu. Tidak bergegas. Tidak ada tenggat waktu yang diburu. Santai dan penuh canda. Ningsri Dewi melayani suaminya dengan setia dan telaten, memperlihatkan cinta dan kepeduliannya yang besar pada suaminya.

      “Tak pernah aku mencinta seseorang seperti mencintaimu. Tiap hari akan kuingatkan sumpahmu, setiap aku bangun pagi, kamu ada disiku.” Bisik Ningsri mesra.

      Waktu yang lowong mereka isi dengan latihan kanuragan. Wisang Geni telaten membimbing dan melatih isterinya.

      Setiba di keraton, mereka bertemu Prabhu Seminingrat dan permaisuri Waning Hyun. Keberhasilan menyelesaikan tugas menanam keris prabakhara di selat Blambangan menggembirakan Prabhu Seminingrat dan permaisuri. Sang Prabhu merestui Ningsri Dewi sebagai senopati kawasan Selatan. “Kamu boleh istirahat di rumahmu, sementara persiapan di Selatan dikerjakan paman Pamegat. Dua bulan kemudian kamu mulai tugasmu.”

      Ningsri Dewi mengajak suaminya pulang ke Widodaren. Kali ini mereka dikawal pasukan dengan perlengkapan tenda dan semua keperluan. Dua ponggawa wanita kepercayaan Ningsri Dewi, ikut dalam rombongan. Demikian juga pasukan yang mengawal dari Jedung. Para pengawal makin mencintai senopatinya yang tidak melupakan mereka.

       Dua bulan Wisang Geni dan Ningsri Dewi menetap di Pucuk-Ijo. Geni bergaul dengan seluruh keluarga isterinya.

      Suatu malam masih di rumah Pucuk-Ijo, usai bercinta Ningsri Dewi berbisik mesra pada suaminya. “Mas, kamu ingat sekarang ini, malam kliwon?”

      Wisang Geni menggeleng. “Tidak ingat.”

      Ningsri tertawa. Tawa bagai suara bidadari kahyangan yang membuat pendekar Lemah Tulis mabuk kepayang. “Kamu memangsa aku setiap kesempatan. Tetapi aku menikmati hidupku ini, aku bahagia, dan aku makin mencintai kamu.”

      “Kamu isteri yang istimewa.”

      “Mas, ada yang ingin kukatakan padamu, tapi ini rahasia besar.”

      Mendengar suara isterinya yang datar, serius agak serak, Wisang Geni merasa tegang. “Apa? Katakan.”

      “Mas, ada yang akan datang dan muncul dalam kehidupan kita, dan aku sangat mencintainya, aku harap kamu jangan cemburu.”

      “Siapa?” Suara Wisang Geni serak, tersirat cemburu didalamnya.

      “Aku hamil.” Ningsri tertawa menggoda.

      “A..pa… kamu hamil…?” Wisang Geni memeluk erat isterinya, menciumi kening dan rambutnya. “Oh Ningsri betapa aku mencintaimu tak bisa kugambarkan, dan malam ini aku sangat bahagia. Tetapi sejak kapan kamu hamil?”

      “Pertanyaanku tadi tentang malam kliwon, malam ini tepat tiga bulan setelah percintaan pertama kita di kamar ini. Aku mulai merasakan hamil beberapa hari lalu, kemudian aku bincangkan dengan ibu. Kami berdua menemui Mak Bidan. Jelas, aku hamil. Katanya janin telah berusia lebih dari tigapuluh hari.” Suara Ningsri terdengar gembira dan haru.

      “Mas, aku ingin kamu jujur. Berapa anakmu, maksudku dengan wanita lain?”

      “Aku hanya mencintai kamu seorang, jangan mengungkit masa laluku.”

      Ningsri Dewi mengelus dada kekasihnya. “Aku tak mau terjadi perkawinan sesama saudara kandung.”

      “Aku tidak mengerti.” Wisang Geni agak bingung.

      “Bagaimana jika anakmu dari isteri lain kawin dengan anakmu yang lahir dari rahimku, itu sebabnya anak-anak kita harus tahu mereka punya berapa saudara di luaran.”

      Wisang Geni menyahut lirih. “Hanya satu. Anggreni. Dia putriku dari isteri Gayatri, kini mereka menetap di Himalaya.”

      “Dari isteri lain?”

      “Tidak ada. Tadinya kupikir Antaseno putraku ternyata bukan.” Wisang Geni kemudian menceritakan sepintas kisahnya dengan Sekar dan Samba.

 

      Dengan cerdas dan adil Ningsri mengatur pemerintahan kawasan Tumapel Selatan. Dia sering bersama suaminya melakukan perjalanan ke desa-desa, membantu para penduduk, mengajak prajurit untuk menyatu dengan penduduk.

      Dua pengawal pribadinya akhirnya menemukan jodoh dan kawin dengan lelaki setempat. Ningsri memerintah dengan prinsip yang berbeda langit dan bumi dibanding pendahulunya, Marto.

      Dalam kiprahnya Ningsri menjadikan dirinya sahabat para penduduk, dia sering duduk nongkrong di warung bersama penduduk. Tentu saja berdua suaminya. Ketika hamilnya membesar, penduduk mengirim hadiah, hasil panen mereka, seperti buah-buahan.

      Kemana dia pergi Ningsri akan diterima penduduk dengan suka-cita. Dan selama berada disamping isterinya Wisang Geni tak pernah memperkenalkan diri sebagai Wisang Geni. Dia hanya menggunakan penggalan nama Geni, nama yang umum waktu itu di tanah Jawa. Dia jarang memeragakan ilmu-silatnya meskipun tak pernah lalai semedi dan melatih jurus-jurus, serta membimbing Ningsri meningkatkan kanuragannya.

      Dia juga telah melupakan Lemah Tulis. Dia merasa telah cukup berbuat untuk Lemah Tulis, tak perlu lagi bertarung dan membunuh. Dia ingin hidup yang baru. Hidup sebagai manusia biasa yang tidak terlibat pertarungan. Hidup berdua Ningsri Dewi yang begitu telaten mengurusnya. Baginya Ningsri Dewi adalah wanita terakhir yang digaulinya. Tak ada wanita lain lagi.

      Relung dan ruang kosong dalam dadanya yang bidang telah terisi penuh dengan gerak gerik Ningsri Dewi. Isterinya itu bagaikan bidadari. Cantik dan molek. Wanita Jawa yang lebih mengabdi kepada suami katimbang diri sendiri.

      Ningsri Dewi santun tapi tegas. Manja, egois dan mau menang sendiri, tetapi sangat mencintai suaminya. Dalam tiap kesempatan dimana saja dia memperlihatkan cintanya yang meluap-luap bagai air sungai Bengawan Solo yang tak pernah surut.

      Ningsri Dewi keras dalam bersikap tetapi lembut dalam bercinta. Dia sangat egois, tetapi sangat mengutamakan kepentingan suami dan anak-anaknya. Dia menetapkan suami dan keluarganya di urutan atas menyusul kemudian rakyat yang harus disejahterakan.

      Pada waktu-waktu lowong Ningsri akan berlatih tenaga wiwaha dan jurus-jurus silat, tetapi sering kali tidak tuntas karena godaan asmara bersama Wisang Geni sering meluap menjadi peleburan cinta. Selalu di pertengahan latihan, keduanya akan berhenti dan mulai menyerap menikmati arti cinta sejati. Cinta yang mekar dari hari ke hari. Mereka bahagia.

 

Tamat

 

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com