wisang Geni part Two Ba 23 bag 4
Posted on 27 September 2014 ( 0 comments )
Bab 23 bag 4
Empat lelaki menggotong tubuh Wisang Geni lalu melemparnya ke pasir agak jauh dari posisi lelaki berewok yang sedang memeluk menciumi leher Ningsri.
Darah Wisang Geni bergolak. Tetapi dia berupaya menekan amarahnya. Matanya menatap tajam isterinya isyarat dia akan segera menyerang. Sepintas menghitung jumlah gerombolan itu sekitar empatpuluhan.
“Siapa kamu? Kamu memata-matai Alas Purwo?” Teriak si pemimpin yang menggeser Ningsri ke sisinya. Tangan tetap memeluk pinggang ramping Ningsri.
“Aku orang biasa, rakyat miskin, datang dari Selatan, tidak kenal Alas Purwo. Apakah aku telah berbuat salah berenang di kawasan ini?”
Seketika semua lelaki itu meledak tawanya. Menertawakan Wisang Geni.
“Kamu bersalah tapi boleh pergi, hanya isterimu harus tinggal di sini jadi isteriku.” Pemimpin itu tertawa keras, tangan yang memeluk Ningsri mengendur.
“Mas bawa aku pulang.” Seru Ningsih, serentak kakinya menginjak kaki si pemimpin, sikunya menyikut dada dan tangannya memukul selangkangan.
Pemimpin berteriak kesakitan. Dia bukannya tanpa kepandaian, ilmu-silatnya cukup mumpuni. Tulang iganya kena sikut tetapi dia sanggup mengelak pukulan ke selangkangan sehingga tinju Ningsri hanya menerpa paha.
Detik berikutnya Ningsri sudah mengarahkan cemeti tali baja itu ke leher dan mata.
Pemimpin itu berteriak kaget. Cemeti Ningsri mengarah mata, dia berhasil mengelak, tapi tali baja Ningsri yang kaku tegang tepat menikam lehernya. Saat berikut tali baja dikedut dengan kasar yang merobek leher si brewok.
“Akkkhhhhh…” Pemimpin berewok itu menjerit kesakitan.
Serangan Ningsri berlanjut, tali baja mengendur, menegang, melingkar melilit gagang pedang miliknya di pinggang Sang Hyang Pencabut Nyawa. Saat berikut pedang berada dalam genggaman. Kini dia memegang pedang di kanan, tali baja di kiri. Ningsri takjub dengan keberhasilan jurus pengantin garuda gubahan suaminya.
Pada saat bersamaan Ningsri menyerang, Wisang Geni bergerak pesat, menggunakan jurus “menunggang angin”. Dia ingin menyelamatkan isterinya dengan segera, tanpa mengulur waktu lagi. Jadilah angin “leysus”, “nilapraconda” dan “bajrapati” yang hamuknya menghancurkan apa saja yang dilewati.
Pada saat Ningsri melepas diri dari dekapan Sang Hyang Pencabut Nyawa dan berlari menuju suaminya, saat bersamaan Wisang Geni bergerak pesat menyambar pinggang isterinya, melempar ke belakangnya. “Ikuti aku, kita terobos kepungan.”
Wisang Geni melanjutkan serangan jurus dahsyat ciptaan pendekar besar Lemah Tulis Eyang Suryajagad. Tubuhnya bergerak bagai gasing, dia berlari membawa serta pasir dan kerikil pantai kemudian disebar berhamburan ke arah kumpulan musuh.
Seketika terdengar hiruk pikuk, jerit marah dan kesakitan. Teriak dan makian. Beberapa
orang kena pasir dan kerikil membuat mereka menjerit kesakitan. Pemimpin itu juga tidak bebas dari serangan mencak-mencak mengelak dan menutup diri dengan jurusnya.
Gerakan itu meloloskan Wisang Geni dan Ningsri yang setia mengekor di belakangnya. Setelah berada di luar kepungan Wisang Geni menghentikan jurus edannya.
Tampak separuh dari gerombolan itu terluka. Para perampok Alas Purwo semuanya tiarap. Hanya dengan tiarap bisa menghindar dari serangan pasir dan kerikil yang menyengat bagaikan lebah berbisa.
Ningsri berdiri di sisi suaminya. “Jurus apalagi itu Mas?” Wanita tangguh ini mempersiapkan dirinya dengan pedang dan tali bajanya, dia menjalankan tenaga-dalamnya ke sekujur tubuhnya. Ningsri Dewi siap tarung.
“Ini jurus angin leysus menyerang penjahat.” Wisang Geni tertawa temberang, senang bahwa isterinya telah berada di dekatnya. Sehingga dia tak perlu memikirkan keselamatan wanita yang dicintainya itu, setiap saat dia bisa melindunginya.
Pemimpin itu merasa gentar. “Siapa kamu?”
“Berani kamu menanyakan siapa aku, beraninya kamu memeluk dan menciumi leher isteriku, kamu punya nyawa berapa?” Wisang Geni bertanya sambil melangkah maju mendekati si pemimpin yang tanpa terasa mundur sebanyak langkah maju Wisang Geni.
“Tunggu, Pendekar. Ini salah faham.”
Pada saat itu terdengar hiruk-pikuk segerombolan orang, sekitar tigapuluhan, berdatangan bergabung dengan kelompok pertama.
Wisang Geni berbisik. “Sekarang kita bisa lari menuju Barat tanpa bisa dihalangi, tapi aku ingin memberi pelajaran kepada mereka.”
Tidak menanti gerakan musuh, Wisang Geni spontan ngamuk dengan jurus lalawa mengepak sayap menembus awan. Dia melayang dan menjejak kaki ke pohon nyiur, lalu melayang ke pohon lainnya. Berpuluh-puluh buah kelapa berjatuhan. Kemudian dengan kepak dua tangannya bagaikan sayap kelelawar, menampar puluhan buah kelapa itu menyerang musuh. Tamparan menggunakan tenaga wiwaha namun jurus yang digunakan diambil dari garudamukha prasidha.
Kelapa itu terbang melingkar mencari sasaran. Puluhan buah kelapa itu melayang bagaikan dikendalikan mahluk gaib, berputar-putar bagai gasing dan melayang dengan kecepatan tinggi. Arahnya tidak beraturan, ada yang saling bentur yang makin meningkatkan kecepatan melayangnya.
Hingar bingar suara orang memaki dan berteriak kesakitan. Dalam sekejap belasan orang menjerit mengerang kesakitan, menggeletak di tanah kesakitan. Sebagian pingsan kena gelontor kepalanya, ada yang kena dada atau kaki bahkan ada yang kena selangkangan.
Ningsri berseru gembira, sambil dia menyerang beberapa musuh di dekatnya. Serangannya dengan senjata tali baja dan pedang tipis itu trengginas, menelan beberapa korban. Dia mendengar suara suaminya di telinganya, “jangan jauh-jauh dari aku, dan jangan berbelas kasihan, bunuh musuhmu sebelum mereka melukaimu.”
Hamuk pendekar nomor satu tanah Jawa sangat trengginas, puluhan kelapa itu telah memakan beberapa korban. “Hari ini aku membuka pantangan membunuh, tidak seorang pun dari kalian yang akan lolos hidup-hidup.” Teriaknya.
Sepak terjang Wisang Geni tidak jauh dari isterinya. Sekali-sekali dia melirik dan memperhatikan keselamatan Ningsri.
Mulanya ada rasa takut, namun lambat laun Ningsri Dewi semakin berani dan gembira. Ternyata jurus-jurus yang dipelajarinya dari sang suami, sangat mumpuni. Begitu pun tenaga-dalam wiwaha meskipun belum sampai ke tingkat empat, namun telah tampak kemajuannya. Tenaganya kini makin besar dan tidak cepat lelah. Gerakannya lincah dan gesit berkat waringinsungsang.
Puluhan jurus berlalu, Wisang Geni menghentikan serangannya, dia berdiri di sisi Ningsri Dewi. Keduanya masih tetap di luar kepungan jauh dari bibir pantai. Tampak puluhan tubuh bergelimang dalam keadaan luka parah. Sebagian tewas mengenaskan.
Pemimpin gerombolan Alas Purwo berdiri terkesima. Dia memiliki kanuragan tinggi dan sanggup menghindar dari belasan kelapa yang menjurus ke arahnya. Tetapi tak sanggup menolong anak buahnya. Amarahnya menjadi-jadi melihat hampir separuh anak buahnya menggeletak tak berdaya.
“Kalian tak akan bisa lolos dari tanganku.” Tegas pemimpin gerombolan yang brewok itu sambil melecut cemetinya. Terdengar suara menggelegar seperti petir di tengah hujan.
“Tarrrr…. Tarrrr…. Tarrrr… Tarrr…”
“Ayo maju kamu, jangan cuma berani menyerang dengan buah kelapa dan melukai anak buahku. Hadapi aku Warok Pecut Halilintar, kupecahkan dada dan kepalamu.”
Sang Hyang Pencabut Nyawa yang amarahnya telah memuncak karena dilukai Ningsri melangkah maju. Sambil memegangi luka lehernya yang darahnya telah berhenti, dia memberi hormat pada Warok Pecut Halilintar. “Biar kuhadapi wanita itu.” Katanya.
“Lelaki itu akan kubunuh, kamu taklukkan si wanita.” Kata Warok Pecut Halilintar.
Wisang Geni memandang sekeliling. Tak ada yang perlu ditakuti, karena anak buah Warok itu tak seorang pun berani melangkah maju.
“Penjahat ini telah menciumi leher dan pundakku, dia pantas mati, biar kuladeni dia.” Tegas Ningsri dengan suara tinggi dan mantap. Tak ada lagi rasa takutnya.
Senopati wanita itu memegang senjata pedangnya yang tipis mengilat diterpa sinar matahari. Wisang Geni tidak mencegahnya namun dalam benaknya dia akan menerjang maju jika isterinya berada dalam bahaya.
Memperhatikan pedang tipis itu Sang Hyang Pencabut Nyawa tertawa. “Sayang jika pedangmu sampe rusak, lebih sayang lagi jika kulitmu sampe lecet, lebih baik kamu mundur. Suruh laki-laki pengecut itu maju.”
Ningsri jijik melihat tampang lelaki yang tadi menciumi lehernya. “Huh masih untung cuma lehermu yang kutikam, bagaimana rasanya? Enak?”
(Bersambung Bab 23 bag 5)
Comments







