Wisang Geni part Two Bab 23 bag 3

Posted on 27 September 2014 ( 0 comments )


Bab 23 Bag 3

      “Kamu pilih sendiri.”

      Ningsri seperti berpikir, lalu melompat saking gembira. “Kunamakan jurus pengantin garuda, pasti kamu setuju.”

      “Itu jurus milikmu, jadi hakmu memilih nama.”

      Selain itu Wisang Geni juga melatih isterinya dengan waringinsungsang yang dilebur dengan menunggang angin serta tenaga-dalam wiwaha. Sejak melatih wiwaha pertama kalinya Ningsri kini menguasai wiwaha jurus tiga. Tenaga-dalamnya makin kuat.

      Sebenarnya bagi Ningsri yang telah dibekali tenaga-dalam dari perguruan ayahnya, amat berbahaya mempelajari tenaga-dalam aliran lain, tetapi dibimbing Wisang Geni kesulitan itu teratasi. Tenaga-dalam Ningsri makin kuat.

      Ningsri Dewi berlatih tangan-kosong, senjata pedang tipis dan tali baja. Selain  berbakat dan cerdas, Ningsri Dewi juga rajin dan tekun berlatih. Penguasaan jurus menggunakan tali baja cepat dikuasainya. Tali baja bisa sebagai cemeti, bisa diluruskan untuk menikam. Pertama-tama melatih dengan menikam batang pisang, pada tingkat akhir bisa menembus buah kelapa. Jika diputar dalam jurus pengantin garuda saking tipisnya tali tidak akan terlihat. “Tali bisa membunuh jika diarahkan ke jantung musuh.” Tegas Geni.

      Malam itu cahaya bulan remang-remang, suami isteri itu berpelukan dalam gubuk. “Mas, apakah latihan kita telah mencukupi?”

      “Besok hari duapuluh kita di sini, daya tahan menyelam pun telah mencapai kedalaman yang cukup. Tenaga-dalam dan jurus silatmu banyak maju. Besok kita berangkat.”

       “Aku siap. Sekarang aku mau dirayu. Cintai aku Mas.” Bisik Ningsri lirih dan mesra.

      Mereka berkuda tidak bergegas, ke Timur. Seperti biasa, malam hari istirahat, melatih tenaga-dalam. Pagi dan siang mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa hari kemudian mereka memasuki kawasan Blambangan. Dari tempat mereka berhenti terdengar debur ombak dan desir angin laut yang menggoyang pohon-pohon nyiur. Hari masih pagi.

      “Pantai Blambangan sudah dekat. Kita simpan kuda dan buntalan pakaian di sini. Bawa tali dan pedangmu. Aku hanya membawa prabakhara.” Tutur Wisang Geni. “Kelompok Alas Purwo mengintai, mungkin telah mengetahui keberadaan kita.”

      Ningsri menjawab pertanyaannya sendiri. “Gunakan waringinsungsang, lebih cepat tiba di pantai lebih baik. Lebih cepat tugas menyelam kita selesaikan lebih ringan beban kita.”

      Sesaat Wisang Geni berpikir. “Pantai begini luas dimana letak tebing karang itu?”

      “Aku ingat yang dikatakan permaisuri. Dalam mimpi dia melihat tebing karang itu  tepat di arah Timur dari tugu besar dan tinggi berbentuk lingga, mudah ditemukan.”

      “Tidak lama lagi matahari akan terbit, sekarang juga kita berenang sambil menanti fajar pagi. Cahaya matahari akan memudahkan pekerjaan.” Tutur Wisang Geni.

      Keduanya berlari ke pantai. Mudah menemukan apa yang dicari. Tugu itu tinggi sekitar lima meter menjulang dengan angker, terpisah limapuluh meter dari garis pantai. Mereka menerobos air laut, berhenti di ketinggian sebatas pinggang. Sambil menanti matahari muncul dari arah Timur, Ningsri mengikat pinggang suaminya dengan tali penyelamat. Ujung satunya dilingkar di tangannya sendiri, sewaktu-waktu mudah dia lepas.

      “Aku yakin di sini tempatnya, tebing itu berada di bawah muka laut. Kita coba saja, kalau salah tempat, bisa mencari tempat lain.” Tutur Ningsri.

      “Sebenarnya kita tidak punya banyak waktu. Tidak lama lagi tempat ini akan didatangi gerombolan Alas Purwo. Kita bakal sibuk. Jadi sebaiknya tempat ini tepat sasaran.”

      Wisang Geni melepas keris prabakhara dari ikatan pinggang, memegangnya dengan tangan kanan yang telah pulih sediakala. Dia memeriksa ikatan tali penyelamat di pinggangnya dan ujung lainnya yang melingkar di pergelangan tangan isterinya. “Ning, seperti saat latihan di laut Selatan. Jangan diikat tapi lilitkan ujungnya ke pergelangan tanganmu.” Dia memberi contoh melingkarkan tali itu di tapak tangan, lalu melanjutkan. “Kalau rasanya mulai kehabisan nafas, kamu lepas tali dan kembali ke permukaan.”

      “Aku takut.” Suara Ningsri bergetar, memandang laut yang bergolak dengan ombak  bergulung-gulung. Cukup menggentarkan orang, meskipun tidak segarang malam hari.

      “Aku akan selesaikan pekerjaan ini dan kita pulang dengan kabar gembira.” Wisang Geni menuding ke Timur. “Lihat matahari mulai terbit, Ning, kamu siap?”

      Ningsri melingkarkan tali baja ke tapak tangan kirinya, dia terbiasa melatih senjata tali baja dengan tangan kiri. Dia memeriksa pedang yang terikat di  pinggang rampingnya.

      “Siap menyelam.” Suara Ningsri terdengar tegas dan mantap.

      Keduanya menyumpal telinga dengan potongan kain yang telah disediakan, lalu berlari di atas permukaan air menuju tengah laut dan langsung menyelam.

      Gerakan Wisang Geni sangat cepat, Ningsri tak kalah cepatnya. Mereka harus menahan nafas selama dua hingga tiga menit, untuk menyelam dan kembali ke permukaan. Latihan di laut Selatan membuat semua gerakan menjadi mudah karena arus-bawah selat Blambangan lebih ringan dibanding laut Selatan.

      Cepat sekali mereka telah melewati kedalaman belasan meter.

      Tiba-tiba Ningsri menarik tali. Wisang Geni menoleh, Ningsri memberi isyarat tangan menunjuk ke suatu arah. Dia telah menemukan tebing karang itu.

      Keduanya mengubah arah menuju tebing. Samar-samar di kegelapan yang diterangi sedikit cahaya matahari, tampak tebing itu. Tebing hitam kelam dibungkus kegelapan laut, dan begitu luasnya sehingga suatu keberuntungan Ningsri bisa mengenalinya.

      Mendekati tebing, tampak Ningsri agak kesulitan bernafas. Wisang Geni cepat memeluk isterinya dan mencium mulutnya. Dia menyalurkan nafas dan hawa panas dari mulut ke mulut. Dia menunjuk ke atas, isyarat agar Ningsri kembali ke permukaan. Tidak membantah lagi, Ningsri berenang cepat ke permukaan. Wisang Geni mengikutinya.

      Tiba di permukaan Ningsri Dewi hampir kehabisan nafas. Keduanya istirahat sambil mengapung diayun ombak, memulihkan tenaga dan pernafasan.

      Setelah pulih. Keduanya menyelam kembali. Kini sasaran sudah jelas sehingga tidak perlu memboroskan tenaga dan nafas. Mereka langsung menuju tebing.

      Wisang Geni menyelam dalam-dalam, meraba-raba tebing mencari-cari lekukan yang bisa menyembunyikan keris itu. Tidak lama kemudian dia menemukan celah itu.

      Pada saat itu Ningsri menarik tali dan melepas pegangannya, berenang ke permukaan.

      “Tidak lama lagi kangmas Geni akan menyelesaikan tugasnya. Tidak apa jika kutunggu di pantai.” Berpikir demikian dia lantas berenang menuju pantai. Lega rasanya ketika kakinya memijak pasir di bawah air.

      Tetapi saat berikut dia terkejut, empat lelaki bertubuh kekar mengurung dirinya. Tampak di belakang mereka, di pantai, puluhan orang. Siapa mereka?

      Dua lelaki memegang lengannya. Pedangnya direbut.

      Ningsri telah memutuskan berpura-pura tidak punya kepandaian dan berlaku sebagai orang yang lemas kehabisan nafas. Jika harus bertarung, dia tidak yakin bisa mengatasi puluhan orang itu yang diduganya kelompok Alas Purwo.

      Ketika pedangnya direbut, dia tidak terpengaruh. Tali baja yang melingkar di tapak tangannya menjalarkan rasa aman dan percaya dirinya. Dia sudah sangat mahir menggunakan tali baja itu.

      Empat lelaki itu membawanya menghadap seorang lelaki tinggi besar dengan cambang dan kumis lebat serta rambut gondrong riap-riapan. Tampangnya seram. Lelaki itu duduk di atas batu besar yang mungkin dianggapnya sebagai kursi kerajaan, dua tangannya menopang dengkul, gayanya macam seorang raja.

      Lelaki itu yang rupanya adalah pemimpin, tertawa keras. “Bukannya mendapat ikan, kita malah menangkap wanita cantik montok.” Suaranya parau. Matanya memancar birahi melahap tubuh Ningsri.

      Anak buahnya menyodorkan pedang tipis milik Ningsri.

      “Ini pedang sakti, rupanya kamu pendekar?”

      Ningsri tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Tatapan mata lelaki brewok itu sarat birahi dan nafsu binatang. Dia risih pakaiannya yang basah kuyup memeta potongan tubuhnya yang seksi proporsional. “Penampilanku mengundang bencana.” Pikirnya. Tapi dia tak berdaya, suaminya masih berada dalam laut. “Geni pasti akan mentas, begitu dia muncul maka kita akan bertarung.” Bisiknya dalam hati.

      “Siapa kamu? Dari mana asalmu?” Teriak si pemimpin, mengulang bertanya.

      “Orang biasa, suamiku masih berada di laut, kami berenang tapi terseret arus.”

      “Pedang ini milikmu? Pedang pendekar? Atau milik suamimu?”

      “Itu milik aku, pemberian seseorang.” Tutur Ningsri.

      Sambil menimang pedang si pemimpin membentak. “Apa maksud kalian datang ke daerah ini? Kamu memata-matai kelompok Alas Purwo, cepat mengaku.”

      “Aku tidak tahu Alas Purwo. Aku dan suamiku tersesat  memasuki kawasan pantai ini. Apa nama tempat ini?” Ningsri bersandiwara bagai perempuan bodoh.

      “Telah lama aku tidak memeluk perempuan, kamu cantik dan montok, mari kemari, kupeluk biar tidak kedinginan.” Kata si pemimpin. “Namaku Sang Hyang Pencabut Nyawa, tapi tak perlu takut akan kujadikan kamu isteriku, permaisuriku.”

      Saat Ningsri berenang ke permukaan, Wisang Geni melanjutkan tugasnya. Dia menghampiri tebing, keris ditangan  terasa bergetar. Geni memaksa diri. Keris prabhakara bagaikan bernyawa, meronta dan memberontak. Keris itu bergetar di tangan Wisang Geni. Menahan gerakan keris itu membuat tubuh Wisang Geni berputar dan terpelintir.

      Pendekar Lemah Tulis berkutat dengan keris, lalu dengan segenap kekuatan wiwaha dia menggenggam keris dengan dua tangan, kakinya menendang keras dengan “mangrawis guthaka lawa” (cakar goa kelelawar) salah satu jurus dari kumpulan ”lalawa mengepak sayap menembus awan” dua tangannya meregang dan menusuk tebing.

      Keris itu menghunjam batu karang, masuk sampai gagang. Terdengar seperti suara jeritan, keris itu bagaikan hidup dan menjerit pilu.

 

 

      Saat bersamaan Wisang Geni merasa dadanya panas, bagai ada bara di dalamnya. Telinga yang telah disumbat dengan kain mendengung keras. Wisang Geni tahu persis keadaannya sangat kritis, dia terancam mati kehabisan nafas. Dengan tenaga terakhir dia menggelar ”mangrawis guthaka lawa” (cakar goa kelelawar) dan melesat ke permukaan.

      Semangatnya timbul melihat kilatan cahaya matahari di permukaan. Dia mengerahkan tenaga pamungkas. Tubuhnya melayang ke atas menembus permukaan laut berbarengan  menghirup udara. Kemudian jatuh lagi ke dalam air. Sedikit udara yang masuk tadi telah menolongnya, tenaganya bangkit dan dia melontar tubuhnya ke atas muka laut. Lagi-lagi menggunakan jurus ”mangrawis guthaka lawa” (cakar goa kelelawar). Ombak mengayun tubuhnya. Pikirannya bekerja, “mana Ningsri?”

      Pada saat berada di pucuk ketinggian ombak dia sempat melirik ke pantai dan melihat Ningsri Dewi dalam tawanan sekelompok lelaki. Dia melepas ikatan tali di pinggang dan menenangkan diri dengan membiarkan tubuhnya naik turun diayun ombak. Ketika merasa tenaganya telah pulih, Wisang Geni kemudian berenang ke pantai.

      Tiba di pantai dia merebah diri, bagaikan orang kehabisan nafas. Sebenarnya dia dalam keadaan sadar dan bertenaga hanya pura-pura lemah tak berdaya guna mempelajari situasi di pantai. Sekilas dia tahu isterinya dalam tawanan.          Dia melihat Ningsri sedang dipangku dan dipeluk seorang lelaki berewokan, tubuhnya tinggi besar.

      Sesaat dia melihat mata Ningsri bercahaya. Sinar mata yang sarat amarah. Isterinya tidak luka. Dia berpikir jika Ningsri Dewi telah berada dalam lindungannya, maka semua urusan akan beres. Orang-orang itu tak akan mampu mengalahkannya.

      Dia menatap mata isterinya. Mereka bertatapan. Pikiran pun bekerja.

      Ningsri Dewi pun berpikir hal yang sama. “Tenagaku sudah pulih, sekarang siap-siap menerjang, sekali gebrak harus lolos.”

      Empat lelaki menggotong tubuh Wisang Geni lalu melemparnya ke pasir agak jauh dari posisi lelaki berewok yang sedang memeluk menciumi leher Ningsri.

(Bersambung Bab 23 bag 4)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com