Wisang Geni part Two bab 23 bag 2

Posted on 24 September 2014 ( 0 comments )


Bab 23 bag 2

      “Biarkan senopati busuk ini aku yang urus.” Teriak Ningsri Dewi.

      Para ponggawa dan prajurit yang mengurung warung terpesona melihat tarung yang tidak imbang itu. Dalam lima jurus singkat, Wisang Geni telah menggebuk empat pendekar itu tergeletak di tanah kesakitan.

      Di arena lain, senopati Marto kena tiga tamparan dan satu tendangan, terakhir kaki Ningsri menghajar perutnya membuat Marto terpental. Marto tak berdaya, tubuhnya lemas. Sepakan kaki Ningsri telah menjungkir-balikkan semua jalan darahnya. Dia harus memulihkan tenaga paling tidak sepuluh hari semedi.

      Ningsri menghampiri, menempatkan kakinya di lutut Marto. “Sekali injak dengkulmu remuk dan kamu lumpuh selama hidup. Aku juga akan menyepak selangkanganmu supaya kamu tak bisa meniduri wanita lagi. Nah sekarang, katakan cepat, minta ampun.”

      “Ampun pendekar, ampuni aku.” Suaranya bergetar. Tak disangkanya akan mengalami nasib seburuk itu. Kalah tarung dan menyembah minta ampun.

      “Lihat ini, katakan asli atau palsu.” Ningsri memamer lencana baja tipis itu ke depan hidung Marto. “Katakan, asli atau palsu.”

      “Asli, asli. Ampuni aku, siapa gerangan andika yang mulia?”

      “Bagaimana sikapmu jika berhadapan dengan tanda Prabhu Tumapel?” Teriak Ningsri.

      Senopati Marto menyembah dekat kaki Ningsri. Semua prajurit ikut menyembah.

      “Mana ponggawa yang berani mengatakan lencana palsu?” Seru Ningsri bersemangat. Dia menyukai situasi dimana dia memegang kekuasaan atas sekelompok orang.

      Ponggawa itu maju dengan merangkak.

      “Duduk di situ, tunggu hukuman.” Seru Ningsri berwibawa.

      Ponggawa itu menangis. Dia ingat anak isterinya. Sementara dia tahu hukuman mati adalah ganjaran bagi perbuatannya. “Ampuni saya, paduka tuan senopati mulia.”

      Ningsri memandang suaminya yang duduk di sisinya. “Aku benci penguasa yang menindas rakyat, yang menyengsarakan rakyatnya.” Dia menoleh pada Marto dan berkata. “Aku senopati utama Tumapel yang menguasai Jedung dan wilayah sekitarnya.”

      Marto makin merasa bersalah. “Ampuni aku, rupanya aku berhadapan dengan senopati kepercayaan keraton, senopati utama Ningsri Dewi.”

      “Berdirilah, sebagai senopati kamu pantas duduk di kursi. Perintahkan anak buahmu  menyudahi sembah.” Kata Ningsri yang duduk di kursi.

      Mendadak Ningsri teringat pedang yang digunakan senopati Marto. “Eh Marto, pedangmu itu bagus, boleh kulihat?”

      Marto menyodorkan pedangnya. Dan Ningsri meneliti pedang yang terbuat dari baja tipis. “Pedang tajam, pasti buatan orang negeri seberang.”

      “Jika senopati yang mulia berkenan, silahkan memilikinya.” Kata Marto.

      “Terimakasih atas pemberianmu.” Ningsri gembira, meletakkan pedang di meja makan.

      Senopati Marto senang bisa mengikat pertemanan dengan orang penting keraton, dia tahu Ningsri Dewi masih ada hubungan darah dengan permaisuri. “Kehormatan bagi hamba, jika pedang itu menyenangkan hati senopati yang mulia.”

      Ketika itu ponggawa pembangkang yang menuduh lencana keraton sebagai barang palsu, duduk sila di tanah terpisah tiga meter dari kaki Ningsri. Kepalanya tunduk, pikirannya membayang hukuman mati akan dijatuhkan kepadanya.

      Ningsri Dewi memandang ponggawa yang bersalah itu. “Seharusnya kamu dihukum mati. Tapi aku punya kekuasaan yang dilimpahkan Sang Prabhu sebagai bentuk kepercayaan kepadaku. Aku bebaskan kamu dari hukuman mati.”

      Ponggawa itu berteriak. “Ampuni hamba, terimakasih senopati utama yang mulia, anak isteri hamba akan berterimakasih dan mendoakan keselamatan tuanku.”

      “Kamu tidak bebas begitu saja. Ayo menyembah membentur dahi ke lantai dan berhenti setelah aku bilang berhenti, berterimakasih kepada raja dermawan Prabu Seminingrat.”

      Ponggawa itu melakukan apa perintahnya. Benturan dahinya ke lantai tanah sambil berseru minta ampun kepada sang Prahu Seminingrat Penguasa Tumapel.

      Ningsri memanggil pemilik warung.

      Orangtua itu datang dengan jalan jongkok dan duduk sila di depan Ningsri.

      “Hitung semua kerusakan di warungmu. Senopati Marto akan membayar ganti rugi. Dan kamu tidak perlu takut, aku akan mampir lagi ke desa ini.” Ningsri menoleh kepada Marto. “Kamu bayar semua kerusakan.”

      “Baik senopati utama.”

      “Dan camkan ini Marto. Kamu bayar dengan jujur. Jika aku kembali ke desa ini dan mengetahui bahwa kamu mempersulit pemilik warung ini, akan kuhajar sehingga kamu tak bisa meniduri wanita lagi. Berani kamu membangkang?” Kata-kata itu diucapkan dengan teriakan keras membuat semangat Marto terbang.

      “Hamba tidak berani.”

      Lalu Ningsri menoleh memandang ponggawa yang masih menyembah membentur dahinya ke tanah. “Berhenti menyembah. Kamu lolos dari hukuman mati karena kemurahan Sang Prabhu Seminingrat, pergilah sebelum aku mengubah keputusanku.”

      Ponggawa itu sambil mengucap terimakasih, mundur dengan jalan jongkok dan menghilang ke dalam barisan pasukan.

      Ningsri Dewi tampak gembira, menoleh memandang suaminya. “Bagaimana dengan empat cecunguk itu?” Dia menunjuk empat pengawal yang masih rebah kesakitan.

      Wisang Geni menghampiri empat jagoan itu. “Jika aku mendengar kalian sewenang-wenang kepada penduduk, aku akan lumpuhkan kalian. Kalian akan cacat seumur hidup. Berani kamu membangkang?” Wisang Geni meniru gertakan isterinya.

      “Tidak. Tidak berani tuan pendekar.”Seru mereka berempat berbarengan.

      Ningsri tertawa geli, berbisik pada suaminya. “Kamu meniru kata-kataku.”

      “Aku senang melihat kamu begitu gembira.” Ujar Wisang Geni.

      Mereka nginap satu malam. Pemilik warung menyediakan kamar yang paling bagus dan bersih. Melayani makan minum dengan hidangan paling lezat.

      “Mas aku senang kalau punya kekuasaan besar dan dengan itu aku bisa melayani penduduk, membuat mereka sejahtera.”

      “Itu tujuan yang mulia.” Wisang Geni kagum akan pemikiran isterinya.

      “Kalau tugas kita selesai. Aku mau pindah ke kawasan ini, Jedung tidak enak.”

      “Mengapa?”

      “Supaya kamu jauh dari Lemah Tulis. Seperti katamu, kamu ingin meninggalkan dunia kependekaran. Kita menetap di sini, bekerja untuk kesejahteraan penduduk, menyepi hanya aku dan kamu, saling menyinta sampai hari tua.” Tutur Ningsri Dewi.

      Dalam lubuk hatinya, dia masih menyimpan ketakutan Wisang Geni tergoda para murid wanitanya yang cantik-cantik. “Geni harus diasingkan dari Lemah Tulis, hubungan putus, tak boleh ada hubungan selamanya. Dia harus menjadi milikku selamanya. Tak boleh ada wanita lain dalam hidupnya, dia hanya bercinta denganku, hanya aku. ”

      Hari itu mereka menuju ke Timur. Dua hari perjalanan santai mereka tiba di kawasan Pelingdung dekat pantai Selatan. “Mas, pantai ini layak untuk latihan.” Ujar Ningsri sambil memandang keliling. “Kita dirikan gubuk sederhana. Untuk tempat nginap.”

      Wisang Geni menatap tak mengerti. “Mengapa di sini?”

      “Latihan menyelam. Tugasmu menyelam menanam keris di tebing karang. Pekerjaan itu sulit, sedangkan kita belum terbiasa menyelam dalam laut. Aku sering berenang dan menyelam di danau air tawar yang tak ada ombak. Menyelam di laut lebih sulit.”

      “Maksudmu kamu ikut menyelam?”

      “Mengapa tidak? Aku ikut kemana kamu pergi, kamu menyelam aku juga ikut. Kamu terbang ke awan mengepak sayap, aku juga ikut.” Dia tertawa geli melihat tatapan Geni.

      Mereka menyusur pantai sampai menemukan bagian laut yang airnya biru gelap, ciri-ciri kedalaman. “Di atas muka laut ombaknya keras, di bawahnya arus keras menarik kita ke tengah samudera. Jika tidak memiliki tenaga, kita bisa terseret ke tengah samudera dan tak tahu apa yang terjadi.” Suara Ningsri bergetar. Tanda ketakutan.

      Mereka mendirikan gubuk sederhana untuk berlindung dari terik matahari, angin keras dan hujan. Gubuk untuk berdua, agak jauh dari pantai, dikerimbunan pepohohan nyiur.

      Selesai mendandani gubuk, Ningsri menganyam  tali dari kulit pohon kayu yang telah dihaluskan. “Pinggangku diikat dan kamu memegang ujungnya, aku akan menyelam mencari tahu kekuatan arus. Jika aku menarik tali artinya butuh pertolongan, dan kamu cepat menarik tubuhku keluar dari air.” Kata Ningsri.

      “Berbahaya. Kamu yang di atas, aku yang menyelam.” Kata Wisang Geni.

      “Tenagamu lebih besar, jadi kamu yang di atas, aku yang menyelam.”

      “Berbahaya.”

      “Kamu khawatir keselamatanku?”

      “Tentu saja. Kamu isteriku.”

      Ningsri tersenyum. “Itu tandanya kamu mencintai aku. Awas kalau cintamu luntur, kamu sudah bersumpah akan mencintai aku selamanya.” Lalu dia tertawa.

      “Kamu suka mengancam.” Kata Wisang Geni dengan senyum.

      “Memang begitu, terus-terusan diancam supaya kamu tidak lupa.” Lalu dia tertawa menggoda. “Jangan khawatir, aku mampu menyelam, itu mudah.”

      Mereka menetap di pantai, berlatih membiasakan diri menyelam melawan arus dan ombak serta menguji ketahanan tubuh. Setiap hari daya tahan berkembang, makin kuat dan terbiasa. Mereka juga berlatih silat.

      Sejak menjadi isteri pendekar nomor satu itu, Ningsri Dewi membujuk suaminya menurunkan ilmu-silat kelas atas. Wisang Geni mulai memikirkan jurus-jurus yang cocok untuk isterinya. Setelah memahami jurus tari pengantin permainan sang isteri Geni lalu  menciptakan jurus-jurus baru untuk Ningsri.

      “Jurus ini hanya untuk tarung dimana jiwamu terancam. Aku memilih empat dari sembilan jurus tari pengantin, kulebur dengan jurus garudamukha. Jadinya orang tak akan mengenal lagi jurus tari pengantin atau garudamukha yang kamu mainkan.”

      “Kapan kamu ciptakan jurus baru itu, kangmasku?”

      “Satu hari kemarin ketika aku menyuruh kamu perlihatkan tari pangantin.”

      Pada tingkatan kanuragan yang dimilikinya, Wisang Geni dengan mudah membaca dan mendalami jurus apa saja. Sepertinya, sekali lihat langsung terurai dalam benaknya. Ketika Ningsri memainkan tari pengantin, Geni memilih empat jurus yang dileburnya menjadi jurus baru yang ampuh yang bisa dimainkan tangan kosong maupun dengan senjata.

      Jurus pangantyan maring-maring (pengantin mencari angin segar) dilebur dengan prasadha atishasha (menara tinggi bukan main) dari garudamukha prasidha. Jurus srenggara lumunda (cara merayu seperti ombak) dilebur dengan sanakanilamatra (sebesar angin yang terkecil) juga dari garudamukha prasidha.

      Dua jurus lainnya, saramuka majala rimang (senjata pemusnah menjaring asmara) dilebur dengan manusup (masuk menyelinap) dan shuhdrawa (hancur luluh). Lalu paramastri marswakaken mangunsih (bidadari menasehati bermain cinta) dilebur dengan makanjaran (menari dengan lengan terkembang).

      Wisang Geni melatih Ningsri dengan empat jurus barunya. “Dari empat jurus itu bisa bercabang jadi kelipatan duabelas, duapuluh, empatpuluh. Semua jurus kuciptakan untuk tarung hidup mati. Serangan tertuju titik kematian.” Tutur Wisang Geni.

      “Nama jurusnya apa, Mas?”

(Bersambung Bab 23 bag 3)  

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com