Wisang Geni Two Bab 23 bag 1
Posted on 24 September 2014 ( 0 comments )
Bab Duapuluh Tiga
Blambangan
Bab 23 bag 1
Keduanya melakukan perjalanan menuju pucuk-ijo, sisi paling puncak sebelah selatan gunung Widodaren. Mereka menunggang empat kuda bergantian. Selain tiga ekor kuda sendiri, satu milik Wulung. Satu milik Wadung diberikan kepada pemilik warung.
Ditengah perjalanan sewaktu istirahat di tengah hutan Geni melatih Ningsri, terutama malam hari. Geni kagum akan kecerdasan Ningsri yang begitu cepat menyerap ajarannya.
“Jangan jauh-jauh. Aku tak mau sendirian. Masih takut.”
“Aku selalu didekatmu. Eh Ning, katamu kamu belajar silat dari ayahmu?”
“Ayahku pendekar Cina, datang ke tanah Jawa mencari ibunya, wanita Tumapel tinggal di desa Turi pinggiran Karangploso ternyata nenek sudah lama mati. Dalam perjalanan pulang ke Jedung, bapak kesasar di hutan dekat kali Beji. Uniknya Bapak sakit demam, bertemu ibu dan rombongan sedang menuju keraton. Ibu merawat Bapak, buntutnya Bapak ikut ke keraton jadi salah satu ponggawa pengawal. Tidak lama bekerja, ibu kemudian membawa Bapak ke rumah kakek di pucuk-ijo ini, mereka kawin dan menetap.”
“Jadi kamu masih mengalir darah Cina, pantas kulitmu putih bersih.”
“Tapi kata orang aku mirip ibuku, dia cantik, putih, maklum ibu berdarah keraton dan tinggal di keputren.”
Seperti yang diceritakan Ningsri. Pucuk-ijo daerah yang sangat dingin dan sering turun hujan. Keduanya disambut Pramadi dan Pratiya dan isteri-isterinya. Masuk ke ruang dalam, disambut sepasang suami isteri, orangtua Ningsri.
Lelaki itu usia limapuluhan, bertubuh kekar, kulitnya putih, mata agak sipit. Wanita itu berusia sekitar empatpuluh lima, cantik seperti penuturan Ningsri. Kulitnya putih, langsing, rambut panjang dan potongan tubuhnya proporsional.
Mata lelaki itu menyelidik. Ketika Ningsri menyebut nama Wisang Geni pendekar nomor satu tanah Jawa, mata lelaki itu bersinar tajam. “Aku pernah mendengar namamu, ilmu-silatmu tinggi tetapi cerita di luaran tentang sepak-terjangmu banyak sisi buruknya, kata mereka kamu dikelilingi banyak isteri dan selir, benarkah?”
Wisang Geni terkesiap. Tak pernah menyangka akan pertanyaan blak-blakan seperti itu, sesaat dia gugup. Ningsri pun ikut gugup.
“Benar. Itu masa lalu. Sekarang tidak punya isteri.” Wisang Geni lalu menambahkan. “Aku telah memutuskan hidup sendiri sampai ketika bertemu Ningsri, keputusanku berubah, aku mencintainya, ingin menjadikannya isteriku.”
“Ning, jawab yang jujur, apakah kalian telah berhubungan suami isteri?” Lelaki Cina itu menatap putrinya dengan matanya yang tajam.
“Tidak. Tidak pernah.” Tegas Ningsri Dewi.
“Bagus. Itu barulah putriku.”
Hanya satu hari keluarga Ningsri mempersiapkan upacara nikah.
“Jangan lupa syaratku, kamu mesti bersumpah.”
“Apa sumpahku?”
“Tidak boleh punya isteri lagi. Tidak boleh meniduri wanita lain. Tidak boleh pergi jauh dari sisiku. Tidak boleh memukul aku. Tiap saat melindungi aku, tiap saat mencintai aku. Mau kamu bersumpah demikian?” Tegas Ningsri didengar keluarganya.
Ayah dan ibunya saling pandang. Merasa putrinya agak keterlaluan.
“Hamba bersedia, paduka senopati.” Wisang Geni menggoda.
“Terus aku, apa sumpahku, janjiku?”
“Tetap mencintai aku, selamanya. Itu saja.”
“Itu saja?”
“Yah itu saja.”
Upacara nikah tidak meriah, tetapi berlangsung khidmat. Kemudian keduanya makan bersama keluarga kemudian menyepi di rumah kecil di samping rumah besar. Sepuluh hari pasangan itu mengarungi hidup bersama yang menyenangkan. Hanya bercinta, makan dan tidur. Kesempatan itu digunakan Ningsri memperdalam waringinsungsang dan wiwaha.
“Aku mau berlatih terus selama perjalanan ke Blambangan.”
“Ning sebaiknya kamu tinggal di rumah, tunggu aku di sini.”
“Mengapa persoalan ini kamu bicarakan lagi. Aku ikut!”
“Untuk keselamatanmu, Ning.”
“Aku selamat jika berada di sisimu, ingat kamu sudah bersumpah, tak akan pergi jauh dari aku. Berani melanggar sumpahmu sendiri?”
Wisang Geni menyerah. “Baiklah. Kamu mulai menguasai aku.”
Ningsri tertawa menggoda. “Kamu suamiku, aku pasti tak akan melampaui batas.”
“Kamu isteri yang paling istimewa. Lebih dari isteri-isteriku terdahulu.”
“Jadi aku ikut ke Blambangan, tak ada tawar-menawar lagi.”
“Tapi kamu harus rajin berlatih waringinsungsang dan wiwaha.”
Hari kesebelas di pucuk-ijo, mereka pamitan. Alasannya mau berkelana. Mereka tidak menceritakan misi ke Blambangan. Sesuai perintah Raja, misi itu harus dirahasiakan.
Mereka menunggang kuda, dua kuda lainnya mengikuti dari belakang.
“Tujuan kita ke Selatan.” Kata Ningsri. “Terus menuju Timur sampai ke Blambangan.”
“Ke Selatan sampai dimana? Laut Selatan?”
“Jika terus ke Selatan kita akan tiba di kawasan kali Sumbermanjung. Itu wilayah yang dikuasai senopati Marto.” Kata Ningsri.
Perjalanan dilakukan pada siang hari, malamnya nginap di rumah penduduk.
Siang hari ketiga mereka memasuki kawasan Sumbermanjung. Udaranya sejuk pemandangan hijau meluas. Dimana-mana pepohonan dan sawah serta kebun. Para petani dan penduduk setempat tampak bekerja.
Ningsri dan suaminya memasuki warung makan yang juga rumah penginapan. Beberapa tamu pendatang sedang ngobrol sambil makan. Ningsri Dewi dan Wisang Geni memasang telinga, mendengar. Ternyata penduduk beberapa desa kawasan adalah pekerja keras. Tapi hidup dalam kemiskinan. Mereka diperas penguasa dengan upeti dan pajak yang mencekik leher.
Senopati Marto penguasa kawasan itu hidup bagai seorang raja. Dia memiliki banyak isteri dan selir. Tak seorang wanita cantik pun yang lolos dari nafsunya. Selain itu dia mewajibkan penduduk membayar pajak yang cukup tinggi sehingga hampir tidak menyisakan sesuatu untuk dimakan.
Kedatangan pasangan suami isteri itu telah diketahui anak buah senopati sejak dari gerbang desa. Ketika mendengar tamu asing seorang wanita cantik jelita, anak buah yang ingin menjilat penguasanya, menghampiri pasangan itu di warung.
“Tidak layak bagi tetamu terhormat makan di warung, majikan kami senopati Marto akan memarahi kami jika kami tidak mengundang kalian berdua makan di rumahnya.” Kata ponggawa bertubuh kekar sambil menatap genit Ningsri.
“Terimakasih atas undangan majikanmu, kami lebih suka makan di warung rakyat, sampaikan salam hormat kepada senopatimu.” Suara Ningsri datar.
“Jangan menolak. Senopati akan memarahi kami habis-habisan. Sebaiknya kalian berdua ikut kami.” Ujar ponggawa itu dengan suara yang dibuat-buat seakan dia penguasa.
Sejak tadi Wisang Geni bermain-main dengan kacang rebus hidangan di atas meja. Tapak tangan kirinya belum pulih namun jari telunjuknya dan ibu jari normal. Dia menoleh memandang isterinya.
Lalu jari-jari Geni bergerak. Tiga butir kacang menghantam mulut si ponggawa yang kontan kesakitan. Mata ponggawa melotot, dia mencabut senjatanya. “Berani memberontak di kawasan Tumapel.” Dia bereseru. “Tangkap mereka!”
Ningsri melenting dari kursi. Beberapa gebrakan jurus “tari pengantin” dia menerobos kumpulan ponggawa yang jumlahnya sekitar limabelasan. Tenaga dalam dan ringan tubuhnya sejak dilatih suaminya, meningkat pesat. Para ponggawa kelabakan tak mampu melawan kecepatan Ningsri. Beberapa diantaranya jatuh geletak kesakitan.
Para tamu serabutan lari keluar warung.
Tak lama kemudian serombongan ponggawa datang mengiringi tiga komandan regu. “Siapa berani memberontak disini?”
Ningsri Dewi maju. Dia mengacung lencana baja ukuran telapak tangan yang ditandai dengan cap kerajaan Tumapel. “Aku senopati Tumapel, panggil senopatimu kemari.”
Para ponggawa merunduk melihat tanda kebesaran yang biasa dipegang petinggi keraton. Tiba-tiba seorang diantara tiga komandan regu berseru. “Jangan percaya, itu palsu, tangkap pemberontak!”
Pada saat itu juga Ningsri bergerak cepat. Tubuhnya melayang pesat, dia menggunakan waringinsungsang yang meski belum sempurna dilatihnya namun karena sebelumnya memiliki ringan tubuh yang lumayan tinggi, maka gerakannya sangat cepat.
Ponggawa yang berteriak palsu itu menghindar dari serangan Ningsri, dan membalas menyerang. Terjadi keributan di kalangan ponggawa. Sebagian takut dan enggan karena melihat tanda kerajaan Tumapel itu.
Selama ini mereka belum pernah melihat nyata tanda kebesaran itu, namun sebagai prajurit Tumapel mereka telah diwanti-wanti bahwa melanggar perintah pejabat pemegang tanda kebesaran keraton adalah makar. Dan hukumannya adalah mati.
Maka komandan itu, sendirian, menghadapi Ningsri. Ilmu-silatnya lumayan tinggi, hanya masih satu kelas dibawah Ningsri. Dalam beberapa jurus tangan Ningsri telah mampir di pipinya. Empat kali tamparan menerpa mulut dan pipinya. “Tar…tar tar tar …..”
Saat berikut tubuh Ningsri berputar dalam jurus “tari bunga seruni” menghantam perut komandan. Tubuh lelaki itu terangkat tinggi dan jatuh menghantam bumi.
Saat bersamaan beberapa bayangan berkelebat memasuki warung.
Seorang laki-laki berwajah tampan di usia limapuluhan, tinggi langsing dengan kumis tipis muncul bersama empat lelaki berpakaian pendekar. Dia menggenggam pedang tipis yang mengilat kena sinar matahari. “Namaku Marto. Siapa gerangan pendekar wanita yang galak ini?” Dia mengulas senyum, ingin memikat Ningsri Dewi.
“Aku senopati Jedung, anak buahmu berani membangkang. Tidak mengakui tanda kebesaran keraton Tumapel.” Suara Ningsri agak tinggi, layaknya senopati utama yang paling dipercaya keraton dan pemegang tanda kebesaran istana. Dia memperlihatkannya dengan mengangkat lencana tanda kebesaran di depan muka senopati Marto.
Senopati Marto hanya melihat sepintas, tidak membungkuk apalagi memberi hormat. ”Mana kulihat, asli atau palsu?” Katanya sambil menjulurkan tangan.
Marto menyerang hendak merebut lencana. Gerakannya pesat, lincah, dua tangannya menyerang mengarah dada Ningsri.
Tapi Ningsri lebih cepat, lincah dia menyimpan lencana sambil mengelak dan balas menyerang. Ningsri menyerang dengan jurus-jurus baru yang ditimbanya dari sumur keilmuan sang suami.
Pada saat bersamaan empat pengawal senopati Marto bergerak mengurung Ningsri. Tetapi Wisang Geni bergerak lebih cepat. Dia tiba disisi isterinya lebih awal. Tangan kanannya yang mulai pulih menggenggam belasan butir kacang. Dia tidak berniat menurunkan tangan maut.
Empat pendekar itu ingin meringkus Ningsri, bergerak cepat. Tetapi Ningsri berkelit mundur ke belakang. Pada saat mana Wisang Geni menyentil dengan butiran kacangnya. Kacang itu melesat bagaikan kilat, tidak tertangkap mata karena dikerahkan dengan tenaga wiwaha tingkat tinggi.
Empat pengawal itu terkejut. Mereka mengelak dari sergapan benda kecil yang diikuti desir angin tajam. Mulanya berhasil mengelak, namun butiran kedua dan berikutnya tak lagi sanggup dihindari. Berturutan kacang-kacang mengenai dahi dan bagian tubuh lain.
Saat berikut Wisang Geni melayang dengan tambung hanging humawah (tidak melihat tapi merasa), wulangun humadhemmi carumuka (jatuh cinta membunuh musuh), rumaras sapudhendha rumuwek martana (merasa marah mencakar kehidupan) dari jurus lalawa mengepak sayap menembus awan.
“Biarkan senopati busuk ini aku yang urus.” Teriak Ningsri Dewi.
(Bersambung Bab 23 bag 2)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







