Wisang Geni part Two Bab 22 bag 4

Posted on 21 September 2014 ( 0 comments )


Bab 22 bag 4

Tidak heran hanya dalam hitungan lima menitan, Wisang Geni telah merasakan kesembuhannya.

      Ketika itu Wulung melihat Geni, dia menatap sesuatu yang menonjol menempel di bagian paha Geni. Memang semua serba keajaiban. Keris prabakhara akan bereaksi mengeluarkan cahaya jika tersentuh cairan. Keringat Geni telah memicu cahaya keris itu. Dan itulah yang tampak oleh Wulung, cahaya keris yang merah.

      “Prabakhara! Itu keris prabakhara!” Desis Wulung bagai orang kesurupan.

      Suaranya didengar Wadung yang menunda usahanya mencopot celana Ningsri. Dia menoleh dan bertanya pada temannya. “Keris prabakhara dimana Wulung?”

      “Itu!” teriak Wulung yang tidak lagi sempat berpikir.

      Saat itu Wisang Geni melihat adanya peluang. Dia menyiapkan tenaga wiwaha di sekujur tubuhnya.

      Wulung menyerbu, membungkuk meraih keris di paha Geni. Saat bersamaan Geni menendang, kakinya menerpa dagu Wulung, sekaligus dua tangan bergerak kearah luar dalam jurus ”rumaras sapudhendha rumuwek martana (amarah mencakar kehidupan) salah satu jurus dadakan dari kumpulan lalawa mengepak sayap menembus awan.

      Dua pasak itu tercabut dan terlontar, tetapi tapak tangan Wisang Geni berlumuran darah segar. Geni menjerit saking sakitnya. Itulah jerit kesakitan bercampur amarah.

      Wadung dan Wulung kaget bagai disambar petir, tak pernah menyangka musuhnya sanggup menyembuhkan diri dalam sekian menit. Racun ganas dan pasak serta totokan ternyata tak mampu mencegah kehebatan pendekar nomor satu tanah Jawa itu. Keduanya tak pernah tahu adanya anti-racun dalam darah Wisang Geni, tak pernah tahu ada tenaga-dalam sehebat dan seajaib wiwaha.

      Tendangan Geni membuat mulut Wulung rusak parah disusul tendangan lainnya yang menghantam selangkangan. Kantong dibawah alat jantan pecah, Wulung menjerit keras. Lengkingan yang tak pernah didengar orang, kesakitan yang luar biasa. Jauh lebih sakit dibanding saat tangan Wisang Geni memberontak lepas dari pasak.

      Saat berikut dua tangan Wisang Geni mengepak ke dalam. Seharusnya diikuti dorongan tapak tangan kedepan. Tetapi sadar tapak tangannya luka, maka jurus ”prabanarawata manarawang hanggempung (sinar memancar menembus gelap) dilakukan dengan mengatup dua tapak tangan menjadi tusukan. Tusukan maut yang sangat bertenaga.

      Sepasang mata Wulung melotot tak percaya melihat mata Wisang Geni yang merah saking marahnya. Tak sedetik pun dia bisa menghindar, mengelak apalagi membalas. Serangan Wisang Geni itu tidak tertahankan. Antara pingsan dan sadar Wulung merasakan dua tangan musuhnya menembus dada bagaikan tusukan sebilah pedang tajam.

      Dua tapak tangan itu masuk hampir separuhnya, Wisang Geni kemudian menarik keluar tapaknya dari tubuh musuh liciknya. Lalu dengan punggung tangan dia mendorong keras. Tubuh Wulung terlempar ke tanah.

      Wisang Geni tidak berhenti. Dalam hitungan setengah menit menyelesaikan tarungnya dengan Wulung dia beralih ke Wadung.

      Semua berlangsung dengan cepat dan singkat. Wadung membatalkan upaya memerkosa meskipun masih linglung akibat birahinya yang belum kesampaian dan keterkejutan melihat Wulung mati serta menyaksikan Wisang Geni melayang ke arahnya.

      Wadung cepat bereaksi. Bagaimanapun juga dia seorang pendekar mumpuni yang tenaganya bahkan sangat diandalkan keraton Tumapel sebagai sesepuh. Dia melompat sambil melepas pukulan dan tendangan. “Menyerang adalah pertahanan terbaik, katanya dalam hati. Begitu ada kesempatan aku akan kabur.”

      Tetapi yang dihadapinya kini bukan Wisang Geni yang ketika di warung Karangploso hanya main-main, kini amarah pendekar Lemah Tulis membakar tubuhnya. Tidak peduli tapak tangannya yang luka parah Wisang Geni melayang dengan “menunggang angin bagaikan angin leysus” sambil merentang jurus “agniwisa” (bisa api, pijar) dan “sumujugtundaghata” (menukik ke bawah) dari kumpulan “garudamukha prasidha”. Itulah kemarahan yang amat sangat, yang memancing seluruh tenaga wiwaha membanjir keluar. Dia menggunakan punggung tapak tangan dan tusukan jari tangan.

      Terjadi bentrokan tenaga.

      “Desss…. Desss…”

      Wadung lihai, meminjam tenaga benturan dia melayang pergi, niatnya kabur karena tak mungkin bisa menahan amuknya Wisang Geni. Tetapi pikirannya terbaca oleh Wisang Geni yang tetap melayang. Kini pendekar Lemah Tulis itu menggunakan “manarang manambayang majatha” (menggantung ditempat tinggi melayang menggigit) jurus pamungkas dari kumpulan “lalawa mengepak sayap menembus awan”.

      Keduanya dalam keadaan melayang di udara, Wadung yang ingin kabur terpaksa membalik badan menghadapi serangan dahsyat pendekar lalawa. Tak ada lagi jalan menghindar, hanya bisa menangkis. Itupun dua tangannya terpental, kena sibak tenaga wiwaha yang terus menembus dada, satu tangan lainnya menusuk leher.

      “Huuuaaahhh…” Teriak Wadung, tubuhnya mental dan jatuh ke tanah. Darah menyebur dari dada dan lehernya.

      “Kamu bejat. Membunuh Atis, kini mau memerkosa calon isteriku.” Suara Wisang Geni mendesis, dingin dan tajam.

      Ningsri yang telah duduk sambil dua tangannya menutupi dadanya yang telanjang, berteriak. “Bunuh dia Mas… ” Serunya. Suara Ningsri masih bercampur tangis.

      Wulung tergeletak sambil memegang selangkangan, alat jantannya remuk. Wisang Geni menghampirinya kemudian menginjak pundak dan tulang pinggulnya yang langsung remuk. Wulung lumpuh, bahkan berjalan ataupun tidur pun tak akan mampu. Wadung  menggeliat kesakitan.            Keduanya sekarat, suara ngorok keluar dari kerongkongan.

      Wisang Geni menghampiri Ningsri, menariknya bangun dan memeluknya. Seketika tangis Ningsri tumpah ruah. Histeris. Menangis tak hentinya.

      Sekali lagi Wisang Geni menoleh memandang dua musuhnya. Dua sesepuh itu sekarat dalam keadaan mengenaskan. “Dua penjahat itu sudah mati.” Bisiknya.

      Masih terisak-isak tangis, Ningsri menyahut lirih. “Kamu telah selamatkan aku dari aib besar yang akan membuat aku tersiksa sepanjang hidup.”

      “Tadi katamu kamu mencintai aku, benarkah?”

      Ningsri memeluk erat, menyembunyikan wajahnya di dada yang basah keringat itu. Dia berkata malu-malu. “Selama ini aku telah mencintaimu,  tetapi aku malu, sombong, dan angkuh, tidak mau mengakui kenyataan, tak mau mengalah padamu.”

      “Sekarang?”

      “Sudah kukatakan tadi, aku mencintamu Geni, tubuhku ini kupersiapkan untuk menerima kamu. Aku tak mau lelaki lain. Hanya kamu.” Dia memeluk erat dan menciumi dada lelaki yang dicintainya. “Pasti kamu mendengar semua ucapanku tadi.”

      “Katakan lagi, aku ingin mendengarnya, Ning.”

      “Aku mencintaimu, Geni.” Ningsri mengecup dada penuh keringat itu. “Iya. Tetapi .. tapi kamu… kamu mencintai aku juga iya Mas?”

      “Sudah tentu Ning, aku kasmaran padamu sejak pertemuan di rumahmu, tiap hari memikirkan kamu, hampir aku seperti orang tidak waras.”

      “Kamu memang pintar merayu. Belajar dari guru sastramu Ki Waragang?” Muncul lagi sifat jenakanya yang suka menggoda. Kejadian yang membuatnya histeris tadi seakan telah lenyap dari pikirannya.

      Wisang Geni memeluk erat kekasihnya. “Ningsri, hari ini aku bahagia.”

      Tiba-tiba Ningsri menolak dada kekasihnya. “Tanganmu…. Tanganmu luka…” Dia memegang dua tangan Geni. “Oh pasti sakit… harus diobati, tapi aku tak tahu obatnya.”

      “Di buntalanku ada tabung kecil berisi bubuk obat buatanku.” Lalu Geni melonjor tangan ke arah buntalan yang berjarak tiga meteran, lalu menggerakkan tangannya dan buntalan itu melayang ke arahnya.

      Ningsri menyambar buntalan, Mengeluarkan tabung yang dimaksud. Menuang bubuk ke tapak tangan Geni. Lalu membalutnya dengan seweknya yang dirobek pinggirannya.

            Selama Ningsri bekerja, mata Wisang Geni melahap dada kekasihnya yang tanpa penutup. “Dadamu indah, sungguh indah Ning….”

      Ningsri sadar dadanya telanjang, cepat dia memeluk Geni menyembunyikan dadanya dari pandangan Geni. Saat berikut dia menangis, teringat dadanya diciumi Wadung.

      “Mengapa menangis, kita selamat.”

      “Dadaku ini kotor, karena diciumi kakek cabul itu, oh Geni bagaimana cara membasuhnya? Aku ingin bersih kembali.”

      “Kamu tidak malu telanjang dada?” Goda Wisang Geni.

      “Sudah cukup kamu melihat, aku mau mandi, antar aku Mas.” Dia melangkah mengambil buntalannya, dan menutup dadanya dengan sewek.

      Ketika itu pemilik warung menghampiri bersama isteri dan anak-anaknya. “Ampuni kami pendekar. Dua orang itu menyandera anak isteriku.”

      Ningsri menyahut. “Aku mengerti kesulitanmu. Sekarang aku mau mandi, tugasmu membuang mayat dua penjahat itu, lalu sediakan makan. Awas jangan pake racun.”

      Lelaki tua pemilik warung agak malu-malu. “Aku tidak tahu tentang racun, aku tidak mengerti dan bukan aku pelakunya.”

      “Sudahlah. Kamu juga sediakan kamar buat kami menginap.”

      Lelaki tua itu bersama isterinya cepat-cepat melaksanakan perintah Ningsri.

      Ningsri menuntun Geni menuju sumur yang hanya ditutupi empat dinding dari bambu. “Mas, tunggu aku di situ, jangan ngintip dan jangan pergi jauh, aku takut sendirian.” Suara Ningsri telah berubah gembira seakan kejadian mengerikan tadi tidak pernah terjadi.

      Wanita cantik itu mandi dengan gembira. Menyiram seluruh tubuhnya dengan air, dari kepala sampai ujung kaki. Dia mengenakan sewek yang diikat di perutnya. Dia memergoki Wisang Geni ngintip. Dia tertawa menggoda. “Aku tahu kamu ngintip.”           

      “Oh Ningsri sekian lama ingin melihatnya baru hari ini aku melihatmu bugil.”

      “Aku tidak bugil, hanya bagian atasnya saja.” Ningsri tertawa.   “Mas, kamu tidak boleh cerita orang bahwa kamu melihat aku telanjang. Awas kamu!”

      Mereka makan malam lalu menginap di warung itu.

      Di tempat tidur Ningsri memeluk erat Geni. “Kamu selamatkan aku.” Dia berhenti sesaat merasakan debar jantung Geni, lalu berbisik. “Ajari aku tenaga-dalam wiwaha.”  

      “Harus ada hubungan resmi guru dan murid, tetapi aku tak mau kamu jadi muridku.”

      “Mengapa tak mau?”

      “Aku mau kamu jadi isteriku, setelah itu nanti kuturunkan tenaga wiwaha itu.”

      “Kita kawin di rumahku, kamu melamar pada ayahku. Kawinnya di kuil desa. Nah sekarang ini aku calon isterimu, ajari aku wiwaha.”

      “Benarkah kita kawin di rumahmu?”

      “Benar Geni. Aku tidak ingkar janji.”

      Gembiranya tidak alang-kepalang, Geni memeluk erat. Ningsri menjerit lirih. “Mas, aku tidak bisa bernafas.”

      “Besok kita latihan.”

      Ningsri melepas diri, mukanya cemberut. “Sekarang. Aku mau malam ini.”

      Semalaman Geni membentang inti-sari dan pelajaran dasar wiwaha. Menjelang dini hari keduanya tidur berpelukan tanpa berbuat yang lebih meskipun keduanya digoda nafsu.       “Apa sumpahnya?”

      “Nanti kuberitahu. Geni, sekarang peluk aku, tapi kamu belum boleh meniduri aku, tunggu setelah upacara kawin.”

( Bersambung Bab 23 bag 1 )

 

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com