Wisang Geni part Two Bab 22 bag 3
Posted on 21 September 2014 ( 0 comments )
Bab 22 bag 3
“Pokoknya aku tetap ikut kamu.” Ningsri balik badan dan melenggang menuju amben, sengaja melangkah genit mempertontonkan lenggak-lenggok bokongnya.
Saking gemesnya melihat getar pantat Ningsri, Wisang Geni menyambit dengan sepotong kecil buah apel. Tepat mengena pantat Ningsri.
“Aduh…” Ningsri balik badan. Siap-siap hendak menyerang, lalu batal. “Aku tahu itu siasatmu, kalau aku menyerangmu, kamu akan memeluk dan mencium aku. Aku tidak bodoh.” Ningsri lalu merebah di amben. “Apakah dia akan memeluk aku?”
Tetapi Wisang Geni hanya memandang dengan birahi, tidak bereaksi seperti kebiasaan dulu. Tanpa sadar dia telah kehilangan keberaniannya. Menghadapi Ningsri yang penuh pesona itu justru membuat dia merasa dirinya rendah. Malah saat itu dia sadar harus menahan diri, tak boleh gegabah. “Aku kasmaran, tapi harus bisa menahan diri, sekali dia marah akan hilang kesempatanku.”
Malam itu keduanya tidur dengan membawa pikiran masing-masing. Ningsri yang letih menunggu sentuhan asmara yang tak kunjung datang, akhirnya pulas. Dan Wisang Geni yang hanya bisa membayang indahnya tubuh Ningsri Dewi tanpa berani menyentuhnya, lambat laun ikut pulas.
Esok paginya Sang Pamegat disertai beberapa ponggawa, termasuk dua wanita pengawal pribadi Ningsri menemui pasangan itu. Dia menawarkan pengawalan, mengira Wisang Geni dan Ningsri kembali ke Jedung.
“Tidak perlu pengawalan, cukup kami berdua, lagipula kami ke Widodaren, Aku rindu orangtuaku.” Kata Ningsri Dewi.
“Berapa lama di Widodaren? Setelah itu kalian ke Jedung?”
Ningsri mengangguk. “Jedung bisa menunggu. Lagipula aku telah membagi-bagi tugas semua bawahanku selama kepergianku.”
Sore hari menjelang malam, mereka berhenti di tengah hutan. Wisang Geni cekatan mendirikan gubuk tanpa dinding, hanya ditutupi dedaunan yang lebar sebagai atap. Ningsri Dewi duduk menyaksikan lelaki itu bekerja.
“Biar aku pergi sendiri. Kalau mati tak ada yang kehilangan aku, tapi kalau kamu mati ibu bapakmu akan kehilangan putri kesayangannya.”
“Aku yang mengajak kamu masuk misi berbahaya itu, jadi aku harus ikut.”
“Kamu keras kepala, maklum selama ini apa kemauanmu selalu dituruti orangtuamu. Kamu putri satu-satunya. Tidak heran, kamu dimanja.”
“Aku tidak dimanja. Aku juga tidak keras kepala.”
Wisang Geni tersenyum. “Gadis manja. Tidak bisa disembunyikan bahwa kamu itu anak manja, makanya kamu sering mau menang sendiri.”
“Apakah itu buruk?”
Wisang Geni menggeleng. “Buat aku itulah satu hal baru, bertemu wanita yang manja, mungkin kalau jadi isteriku setiap hari kamu minta dilayani?
Ningsri Dewi balik bertanya. “Kamu mau melayani isterimu?
“Aku tidak tahu, karena selama ini isteri-isteriku yang melayani aku.”
“Memang kewajiban isteri adalah melayani suami. Kecuali aku.”
“Benar. Itulah ciri-ciri gadis manja.”
“Aku bukan isteri yang melayani suami. Aku isteri yang suka dilayani suami.”
“Karena kamu merasa kamu cantik?”
Ningsri Dewi tertawa menggoda. Suara tawanya renyah dan beralun merdu. “Aku tidak tahu apakah aku cantik atau seksi. Bukan itu sebabnya aku suka dilayani suami, tapi karena aku punya keburukan.”
“Katakan, aku ingin tahu.”
“Kuberitahu pasti kamu ndak mau dekat-dekat aku.”
“Katakan.”
“Aku suka memerintah orang. Dan aku tidak suka diperintah orang. Aku tak mau dikuasai orang.” Ningsri Dewi meneliti Wisang Geni, ingin tahu reaksinya. Ucapannya hanya ujian, sesungguhnya dia wanita penurut yang setia melayani suami.
“Aku tidak keberatan kamu perintah jika kamu jadi isteriku.” Wisang Geni merayu.
“Kalau isterimu membawamu ke jurang kematian?”
“Kalau aku mencintainya, aku sedia mati. Terus terang aku bosan hidup.”
“Mengapa bosan hidup? Ilmu silatmu tak ada tandingan, kamu bisa lakukan apa saja, bahkan memilih wanita cantik, jika dia tak mau jadi isterimu, kamu perkosa dia.”
Wisang Geni tertawa. “Aku tidak pernah memerkosa wanita.”
“Aku senang, kamu tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk itu.”
Pada saat yang sama terpisah satu hari perjalanan dari tempat Wisang Geni dan Ningsri bermalam, Wadung dan Wulung mempersiapkan jebakan. Tak mungkin semut bisa lolos dari perangkapnya, apalagi manusia. Ketika di keraton mereka mendengar tujuan Wisang Geni dan Ningsri ke Widodaren, keduanya pun berangkat mendahului.
Mereka menguasai peta jalanan menuju Widodaren. Karenanya mereka pasti Wisang Geni dan Ningsri akan melewati warung terpencil di hutan luar desa. Itulah jalan pintas.
Dua pendekar tua itu mengancam pemilik warung. Jika tidak mau bekerjasama maka seisi rumahnya, isteri dan empat anaknya yang masih kecil. akan dibunuh.
“Pasangan lelaki wanita itu jahat, pembunuh dan perampok. Ajak mereka mampir, makan minum. Jika mereka minum tuak, maka urusan akan mudah. Bukan saja keluargamu lolos dari kematian, tetapi kami juga akan memberimu hadiah emas.” Tutur Wadung.
Pemilik warung mengangguk setuju. Apalagi mendengar akan mendapat hadiah emas, dia memperlihatkan rasa senang.
Siang hari Wisang Geni dan Ningsri Dewi mampir di warung. “Kita mampir, makan dan minum.” Kata Ningsri.
Beberapa saat setelah menenggak tuak dan melahap ayam panggang. Racun bekerja. Racun itu tanpa warna, tanpa rasa dan tanpa bau. Racun mematikan, dalam waktu setengah hari, korban akan mati.
Wisang Geni merasa pusing, agak sempoyongan. Dia tahu tuak dan makanan dibubuhi racun keras. Dia melihat Ningsri menelungkup kepalanya di meja. Ningsri keracunan. Wisang Geni cepat bereaksi. Tetapi belum juga tenaga wiwaha bereaksi mengusir racun ketika dua bayangan menyerangnya.
Kepandaian Wadung dan Wulung cuma setengah tingkat dibawah Geni. Dua alasan yang membuat Geni langsung tertekan. Serangan dadakan dan tenaga wiwaha belum bisa bekerja karena terhalang racun ganas.
Pukulan Wulung mengarah dada, Geni menangkis.
“Dess…. Desss…” Benturan tenaga membuat Geni terlempar dua langkah. Nafasnya menyesak, rasanya seperti tangan raksasa mencekik leher menghambat pernafasannya.
Wisang Geni makin panik, ketika Wadung dengan licik menekan kepala Ningsri Dewi. “Apakah kubunuh saja wanita cantik ini?”
Wisang Geni panik, hal itu membuatnya lengah, ketika itulah dua tangan Wulung menghantam dada dan pundaknya. Totokan jari itu begitu kerasnya sehingga kontan membuat tubuh Wisang Geni lemas. Seketika itu Geni ambruk, menabrak kursi dan telungkup di meja.
Wulung mengejar dan menotok dengan jari tangannya, mengunci belasan titik jalan darah Wisang Geni. Dia tak mau ambil resiko karena mengetahui tingginya kanuragan dan tenaga-dalam Wisang Geni.
Dia percaya totokannya yang bertenaga-dalam tinggi. Siapapun pendekar hebat, dengan tenaga-dalam maha hebat pun tak akan bisa melepas diri dari totokan itu. Paling tidak satu hari korban tak akan bisa bergerak.
Wisang Geni masih sadar seratus persen, tetapi pura-pura pingsan. Pikirannya bekerja. Dia tahu, racun ganas menggerogoti tenaganya, juga seluruh jalan darahnya tersumbat. Dia hanya berharap pada keajaiban tenaga wiwaha. Dia menahan diri agar tidak pingsan. Tahu persis begitu dia pingsan, maka tidak hanya dia yang mati, wanita yang dia cintainya juga ikut mati. Malah mungkin Ningsri akan diperkosa.
Dia berpikir membebaskan dari kunci totokan lawan. Tetapi kendala utama adalah dia tak bisa menggerakkan wiwaha karena sumbernya seakan mati daya. Dia sempat melirik Wadung sedang membuka mulut Ningsri dan memasukkan bubuk dan didorong dengan air dari kendi. “Ini pemunah racun. Dia tak boleh mati, kita bisa menikmati kecantikannya.”
Ketika itu Wulung berteriak memanggil Wadung yang sedang mencekoki Ningsri dengan obat pemunah. “Dung, bantu aku. Berdirikan dan tempel penjahat ini ke dinding.” Kata Wulung sambil meruncing kayu menjadikan pasak.
Dua kakek itu masing-masing memegang lengan Wisang Geni, menempelkan ke dinding. Dua tangan Wisang Geni terentang. Wadung dan Wulung kemudian memukul pasak ke tapak tangan. Pasak menembus tapak tangan sampai menggetarkan dinding kayu warung. Dua pasak itu telah menyalib Wisang Geni di dinding.
Wisang Geni yang pura-pura pingsan, mengeluh seakan baru terjaga dari tidur. Dia sanggup menahan sakit yang sungguh mengerikan, rasa ngilu dan perih yang menembus sampai ke otak, membangunkan syaraf-syarafnya.
“Rasakan sekarang penderitaanmu, aku pasti akan membunuhmu, hanya menyiksa kamu adalah kesenangan tersendiri. Tetapi sebelum mati kamu akan menyaksikan kami bergantian memerkosa isterimu.” Wadung menampar pipi Wisang Geni. Berulangkali sampai mulut pendekar itu berdarah-darah.
Tanpa setahu Wadung dan Wulung, rasa sakit yang teramat sangat di tapak tangannya serta tempeleng di mulutnya justru membantu Wisang Geni. Rasa sakit di tangannya itu ibarat percikan api. Ditambah sakit di pipi dan mulutnya telah memercik tenaga-dalamnya. Tenaga wiwaha yang selalu bereaksi jika fisik Geni mendapat serangan dengan cepat melecut syaraf-syaraf otaknya.
Pikiran Wisang Geni bekerja. Dia tahu wiwaha sudah menyatu dengan pikiran dan fisiknya. Dia hanya perlu sumber awal, titik tolak bergerak. Itulah percikan rasa sakit. Secara spontan, pikirannya menerawang rangkaian empat jurus latihan wiwaha yang pernah dilatihnya di lembah kera dan yang menjadi sumber tenaga-dalamnya dalam memainkan perbagai jurus tarung.
Jurus satu “tepung ropoh sambung kalen” (mengawinkan dua unsur tetangga), lalu ”kitrang raja pati” (pertengkaran hebat tentang bahaya yang mengancam), ”ngrupak jajahaning mungsuh” (melemahkan kekuatan musuh) dan “pethuk ati golong pikir” (bersatunya hati, pikiran, tekad dengan perbuatan).
Dia membayangkan, menggerakkan tangan dari posisi terentang mengarah kedalam menyentuh dada, dan sebaliknya dari dada terentang keluar. Semuanya dalam latihan imajiner. Pikirannya fokus pada latihan imajiner itu. Hanya pikiran yang bekerja, fisik tidak bergerak. Hasilnya luar biasa. Tenaga wiwaha yang tadinya kecil makin membesar dan dengan cepat bergerak dan menembus semua jalan darah yang tersumbat.
Bukan alang-kepalang gembiranya namun Wisang Geni tidak memperlihatkan keberhasilannya. Tangannya masih terpaku di dinding. Matanya melihat Wadung yang merobek baju Ningsri dan menciumi dada wanita itu.
Wiwaha telah menembus semua jalan darah. Proses berlanjut, mengusir racun yang membuat dirinya lemas. Karena sejak kecil guru Waragang telah memasukkan anti racun ke dalam darahnya, maka proses mengusir racun lemas, berjalan lancar.
Sementara itu dia melihat Ningsri memberontak, menangis dan teriak histeris. Dadanya telanjang dan Wadung seperti orang gila menciumi bagian yang paling indah dari tubuh Ningsri.
Amarah Wisang Geni bangkit, tetapi dia harus menekan marahnya agar tenaga wiwaha kembali berfungsi sebagaimana mestinya.
Namun telinganya tetap mendengar tangis Ningsri. “Bunuh saja aku …. badanku ini milik Wisang Geni, hanya dia yang boleh memasuki tubuhku.”
“Kamu cantik dan montok. Aku akan memelihara kamu beberapa hari.” Kata Wadung yang berusaha mencopot celana Ningsri.
Wanita itu mati-matian mempertahankan kehormatannya. Dia menjerit minta tolong kepada Wisang Geni. Namun dia putus-asa melihat kekasihnya justru tak berdaya bahkan berada di ujung maut.
“Geni …. aku mencintaimu… Geni… seharusnya aku tak perlu malu mengutarakan cinta padamu…. Sekarang terlambat… tapi Geni ooohhh Geni… jangan mati…” Suara itu sangat mengiba. Tangis bercampur histeris, penyesalan dari seorang wanita yang angkuh yang tak mau menyatakan cinta meskipun dia sangat mencintai Geni.
Saat itu Geni sedang mengubah racun jadi keringat. Sekujur tubuhnya basah keringat, dari rambut sampai ujung kaki. Kemeja dan celananya kuyup menempel di tubuhnya. Racun sudah keluar seluruhnya. Tampaknya mustahil, tetapi memang demikian adanya.
Tenaga wiwaha telah menyatu dalam tubuhnya bertahun-tahun. Darahnya mengandung anti-racun sejak masa kecil. Banyak kejadian darahnya berhasil menangkal dan mengusir racun yang masuk di tubuhnya. Tidak heran hanya dalam hitungan lima menitan, Wisang Geni telah merasakan kesembuhannya.
(Bersambung Bab 22 bag 4)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







