Wisang Geni part Two Bab 22 bag 2

Posted on 14 September 2014 ( 0 comments )


Bab 22 bag 2

Ningsri tak perlu menjelaskan ketika Dewi Asmari memperkenalkan Ekadasa kepadanya. Dia menyahut ketus. “Awas kamu janjian ketemu dia.”

      “Mengapa kamu suka mengancam?”

      “Pokoknya tidak boleh. Sejak saat ini, kamu tak boleh jauh dariku. Awas, jangan membuat aku marah.” Nada suaranya tinggi, tak perduli beberapa orang sekitar mendengar.

      “Itu kisah lama. Dulu, tiap hari aku merasa harus bercinta dengan wanita. Sekarang tidak lagi. Sejak beberapa hari aku bagaikan seorang pertapa.” Wisang Geni berbisik lirih.

      “Bohong!” Bisik Ningsri, suaranya lirih tapi tajam. “Kau nginap bersama dua muridmu di Jedung, pikirmu aku tidak tahu kelakuanmu.”

      Wisang Geni tertawa. “Oh itu sebelum aku ke Lemah Tulis. Itupun karena paras dan tubuhmu selalu terbayang, jadi kulampiaskan kepada mereka berdua.”

      Anehnya Ningsri tidak marah, malah tampak senang. “Kamu membayang aku saat meniduri mereka?”

      “Benar.”

      Ningsri memegang tangan Wisang Geni. “Pokoknya kamu tak boleh jauh dari aku, sekarang ikut aku, kita ke tukang cukur.”

      Cambang Wisang Geni dicukur klimis. Rambut didandani sehingga bisa diikat buntut kuda di belakang lehernya.

      Sore itu Ningsri Dewi mengenakan pakaian biasa, bukan seragam  senopati. Busana itu memancarkan kecantikan paras dan tubuhnya. Parasnya yang dihias oleh perias istana, tampak anggun dan cantik. Rambut Wisang Geni diikat dibelakang leher, berewoknya dicukur bersih. Dia mengenakan kemeja hitam dengan celana hitam yang longgar.

Rambut Wisang Geni diikat dibelakang leher, berewoknya dicukur bersih. Dia mengenakan kemeja hitam dengan celana hitam yang longgar.

      Keduanya tampak serasi sebagaimana layaknya tamu Raja.

      “Ternyata kamu tampan Mas.” Goda Ningsri dalam perjalanan menuju ruang tamu.

      “Ini perubahan yang kamu tuntut. Namun aku tetap saja bagaikan kodok dibanding kecantikanmu.” Kata Wisang Geni.

      “Menurutmu aku cantik Mas?”

      “Sangat cantik, bagaikan dewi-dewi suargaloka.”

      Ningsri senang dipuji cantik. “Kecantikanku ini hanya untukmu, bukan untuk siapa-pun.” Tetapi dia tidak mengungkap kata hatinya itu.

      Biasanya tetamu harus menunggu lama untuk bisa bertemu Raja dan Permaisuri. Tidak demikian dengan Wisang Geni dan Ningsri Dewi. Mereka segera ditemui Sang Pamegat. Keduanya dijamu makan di ruang tamu. Setelah itu mereka diantar masuk ruang pribadi Raja Penguasa Tanah Jawa.

      Raja yang dipertuan kerajaan Tumapel, sang Prabhu Seminingrat alias  Ranggawuni dan permaisuri Waning Hyun duduk di kursi berlapis emas. Pasangan penguasa itu memandang dengan senyum senang.

      Waning Hyun memegang punggung tangan suami junjungannya. “Kangmas baginda, tampaknya Ningsri telah mengubah Wisang Geni menjadi lebih beradab.” Bisiknya lirih.

      Prabhu Semingrat mengangguk. “Benar. Lebih beradab. Tetapi masih liar.”

      Sang Pamegat bertiga Wisang Geni dan Ningsri Dewi jongkok memberi hormat sungkem. Raja Ranggawuni memberi isyarat tangan kearah bantalan yang sarungnya berhiaskan benang emas. Hanya dua bantalan tersedia di lantai depan kursi Ranggawuni dan Waning Hyun.

      Setelah Wisang Geni dan Ningsri Dewi duduk, Sang Pamegat memberi hormat sungkem sekali lagi kemudian keluar ruangan sambil menutup pintu.

      Ruangan itu kedap suara.

      “Tidak perlu basa-basi, bicara seperti biasa. Aku tahu kangmas Geni tidak biasa bertata-bahasa.” Kata Ranggawuni sambil tersenyum.

      “Ada perintah apa, Baginda memanggil hamba?” Wisang Geni bertanya.

      “Bukan perintah dari aku sang Raja. Ini permintaan  tanah Jawa, meminta pengorbanan dari andika kangmas Geni.” Raja yang bergelar Prabhu Seminingrat itu berhenti sejenak lalu melanjutkan. “Cerita bermula dari mimpi permaisuri Hyun. Tiga malam berturutan mimpi itu bagaikan cerita bersambung, suatu peringatan bahwa keris prabakhara akan membuat tanah Jawa banjir darah, dan yang bisa mencegah adalah seorang pendekar berilmu tinggi. Siapa orangnya, tidak terlihat dalam mimpinya, tetapi firasat permaisuri mengatakan andika adalah penyelamatnya. Singkatnya kuminta kangmas Geni pergi ke Blambangan, menanam prabakhara dalam laut sekitar desa Muncar dekat teluk Panggang.”

      Suasana hening. Jelaslah tugas itu sangat sulit.

      Ningsri Dewi menahan nafas. “Mas Geni harus menyelam sampai dasar laut lalu menanam keris, menurut hamba tidak ada manusia betapa pun tinggi tenaga-dalamnya sanggup menyelam sampai dasar laut. Semakin dalam menyelam, tekanan air akan membuat paru-paru pecah.” Suaranya terdengar bagaikan protes.

      Ningsri, anak manja, bicaranya spontan. Dia tak ragu mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya kepada Sang Prabhu Seminingrat. Karena tahu permaisuri Hyun akan membelanya. Namun dia juga bersikap santun di hadapan sang Prabhu.

      Waning Hyun menjawab. “Kamu benar mbakyu, mulanya aku berpikir sama. Namun suatu malam aku bermimpi bahwa menanam keris itu tak perlu di dasar laut. Petunjuk dalam mimpi menjelaskan adanya tebing batu sangat besar. Tebing berada di dasar laut, menjulang ke atas, pucuknya terpisah duapuluhan meter dibawah muka laut. Tanamkan keris di tebing karang itu.” Tutur Waning Hyun.

      Wisang Geni tampak berpikir keras. “Hamba tak pernah mengembara sampai kawasan Blambangan, menurut cerita orang, daerah itu angker, sarangnya para perampok.”

      Raja Ranggawuni menutur hati-hati. “Menurut mata-mata keraton, kawasan itu dihuni kelompok yang dipimpin warok Alas Purwo, sebenarnya mereka penduduk setempat yang dilatih oleh si warok. Konon tujuannya membangun kembali kerajaan Blambangan.”

      “Bagaimana hubungannya dengan Tumapel?” Wisang Geni bertanya.

      “Setahun terakhir ini Tumapel berupaya menjalin kerjasama dengan mereka tetapi tampaknya mereka tidak percaya, meskipun Tumapel telah membantu sandang pangan, emas dan perak. Mereka tidak bisa dipercaya, kalian harus hati-hati.”

      Raja kemudian menyerahkan keris prabakhara kepada Wisang Geni.

      “Sebaiknya keris disembunyikan di bagian tubuh kangmas Geni sehingga tidak kentara dari luar. Kangmas bisa memanfaatkan bilik di balik pintu.” Tukas permaisuri Waning Hyun. “Misi ini rahasia, tak boleh ada yang tahu, selain aku, Baginda Raja dan kalian berdua. Jadi sebaiknya keluar dari ruangan ini keris itu sudah tersembunyi.”

      “Aku akan mengikatnya di balik celana.” Wisang Geni menunjuk paha kanannya.

      “Bagus. Pasti kamu perlu seutas tali untuk mengikatnya.” Waning Hyun melempar tali dari bahan baja tipis yang lentur. “Itu dari baja tulen, bisa jadi senjata.”

      Wisang Geni meneliti tali baja sepanjang dua meter. “Terimakasih permaisuri, ini bisa menjadi senjata andalan, saking tipisnya tidak terlihat mata biasa, apalagi jika dimainkan.” Sambil pendekar Tumapel itu menggerakkan tali baja yang menjadi lurus tegang.

      Wisang Geni dan Ningsri Dewi pamitan. Mereka dicegat Sang Pamegat di depan pintu. Sang Pamegat mengantar ke sebuah kamar besar. “Seharusnya dua kamar, tetapi perintah permaisuri agar kalian ditempatkan dalam satu kamar.”

      Keduanya saling pandang. Sepasang mata Ningsri melotot tajam.

      “Mengapa demikian?” Tukas Ningsri.

      “Permaisuri tidak mengatakan alasannya, perintah adalah perintah.” Tutur Sang Pamegat. Dia memandang Geni dan Ningsri bergantian. “Makan malam sudah tersedia dalam kamar, besok pagi kalian bisa meninggalkan istana.”

      Kamar cukup luas. Tetapi hanya ada satu pembaringan besar. Ada dua amben dengan beberapa meja dan kursi. Di atas meja tersaji aneka macam makanan dan tiga keranjang buah-buahan. Di sampiran dekat meja tergantung enam tabung minuman, tertulis dalam aksara kuno. Tuak, susu kambing dan susu sapi.

      “Kamu suka tuak?”

      “Suka, tapi lebih suka jika dicampur susu.” Kata Ningsri.

      Wisang Geni mengambil satu tabung tuak. 

      “Kamu tidur di situ.” Ningsri menunjuk pembaringan. “Aku di amben.”

      “Aku tidur di amben yang dekat pintu untuk menjaga senopati Ningsri Dewi.”

      “Tidak perlu dijaga. Di sini aman, siapa berani mengacau menyerang istana?” Ningsri Dewi melangkah ke amben yang dialas permadani dan kasur empuk. Beberapa bantal guling tertata rapi. Dia melepas tali sandalnya, kemudian merebah. 

      “Mas Geni, bagaimana rencanamu ke Blambangan?”

      “Itu misi berbahaya, aku lebih suka pergi sendiri, lebih leluasa bergerak, jadi kamu tak perlu ikut, besok kuantar pulang ke Widodaren.”

      Tiba-tiba tubuh Ningsri melenting melompat dan berdiri. Lalu menghampiri Wisang Geni. “Apa katamu? Kamu pergi sendiri? Tidak bisa begitu, aku ikut!”

      “Tidak. Kamu tidak ikut!”

      “Aku ikut! Misi ini aku yang jadi pemimpin, aku yang menentukan! Aku senopati utama, kamu anak buahku.” Diam sesaat menenangkan amarahnya, lalu melanjutkan dengan kata-kata yang tajam. “Kamu harus ikut perintahku, kita berdua ke Blambangan.”

      “Aku bukan anak buahmu, dan aku tak perlu mengikuti perintahmu.”

      Ningsri meledak amarahnya. “Kamu pengawalku. Aku yang bertugas ke Blambangan, dan tugasmu mengawal dan melindungi aku.”

      “Jangan keras kepala Ningsri. Misi itu penuh bahaya, di Blambangan banyak orang jago, aku tidak menjamin bisa pulang dengan selamat.”

      “Pokoknya aku ikut! Tak perlu lagi berdebat.” Seru Ningsri.

      “Jangan membantah, aku pergi sendiri.” Tegas Wisang Geni.

      Sepasang mata Ningsri melotot. Tetapi mata itu mulai berkaca-kaca. Mukanya memerah saking marahnya. Dia berhasil menahan tangisnya. Suaranya parau dan serak tertahan emosi dan tangis. “Kamu jahat. Kamu pura-pura berlaku baik padaku, sekarang setelah keris ada ditanganmu kamu tinggalkan aku.” Mimiknya cemberut, bagaikan anak kecil yang mainannya diambil seseorang yang lebih berkuasa.

      “Aku ndak mau berpisah dari kamu, tahukah kamu mas Geni? Mengapa kamu bodoh begitu?” Apa yang dia pikirkan tentu saja tak berani dia utarakan, malunya sangat besar. “Aku ikut kamu Mas.” Katanya lirih.

      Ucapan itu keluar dari lubuk hati Ningsri. Maksudnya “aku ikut kemana kamu pergi, aku tak mau berpisah denganmu.” Tetapi Wisang Geni tidak mengerti, maksud yang tersembunyi dalam ucapan Ningsri.

      “Besok kita berangkat ke Widodaren.” Tegas Wisang Geni.

      “Mau apa kamu ke rumahku?” Ningsri membayang akan mendengar jawaban bahwa lelaki itu akan melamarnya kepada orangtuanya. Beberapa hari ini dia melamun pergi ke Blambangan berdua sebagai suami isteri, menjalankan tugas sekaligus memadu cinta.

      “Aku harap orangtuamu melarang kamu ikut.”

      Jawaban Wisang Geni melenceng jauh dari harapannya, membuat Ningsri kesal. “Kamu jahat, kamu tidak …” Ningsri menelan lagi kata “sayang padaku”, melanjutkan perkataannya. “Kamu .. kamu tidak pernah baik kepadaku.” Pipinya merona merah.

      “Aku tak mau kamu terluka.” Wisang Geni makan buah apel, lalu menenggak  tuak langsung dari tabungnya.

      “Tak akan ada orang jahat yang bisa melukai aku, karena ada kamu yang melindungi aku, begitu kan janjimu.”

      “Kamu benar-benar keras kepala.”

      “Aku tidak keras kepala, aku membela hak milikku, aku punya hak penuh atas misi ke Blambangan, sejak awal Raja dan Permaisuri menugaskan aku.”

      “Besok kita ke Widodaren.” Tegas Wisang Geni.

      “Pokoknya aku tetap ikut kamu.” Ningsri balik badan dan melenggang menuju amben, sengaja melangkah genit mempertontonkan lenggak-lenggok bokongnya.

( Bersambung Bab 22 bag 3)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com