Wisang Geni part Two Bab 22 bag 1
Posted on 14 September 2014 ( 0 comments )
Bab Duapuluh Dua
Senopati Utama
Bab 22 bag 1
Rombongan mengarah Selatan menuju Karangploso. Duabelas ponggawa berpakaian rakyat jelata dibagi dua. Enam di depan sebagai penunjuk jalan, enam di belakang mengawal perbekalan. Tidak banyak perbekalan yang dibawa, hanya beberapa tenda dan makanan. Wisang Geni dan Ningsri Dewi berkuda bersisian di tengah antara pengawal depan dan pengawal belakang.
Mereka berkuda hanya siang hari. Malamnya bermalam. Mereka mendirikan tiga tenda dalam formasi segitiga. Satu tenda untuk Ningsri dan dua iparnya. Satu untuk Wisang Geni dan dua kakak Ningsri. Satu lagi untuk para ponggawa yang tidak berjaga.
Selama perjalanan Ningsri berkuda berdampingan Wisang Geni, percakapan makin lama makin menjalin pengertian. Terkadang kakak Ningsri ikut nimbrung. Wisang Geni banyak menutur perihal dunia kependekaran, nama para pendekar dan jurus-jurus yang sangat mumpuni. Diam-diam Ningsri makin mengaguminya.
Suatu siang tengah perjalanan Ningsri memandang Wisang Geni yang berkuda di sisinya. Dia berkata, lirih. “Mas, kamu pernah mengatakan akan melindungi aku?”
“Benar, aku akan melindungi kamu. Ini bukan rayuan, tapi jujur dan tulus, selama di Lemah Tulis wajahmu terbayang terus, apa yang kulakukan memejam mata, makan, minum, senyummu membayang terus, suara tawamu mengiang di telingaku.” Wisang Geni memandang mesra.
“Kamu melamun diriku terus? Apa saja yang kamu lamunkan?”
“Aku ingin katakan sesuatu dari lubuk hatiku. Aku merasa senang bisa bersama kamu, senang bisa membantu kamu, senang bisa melindungi kamu.”
Ningsri Dewi merasa dirinya melambung ke awan. Meskipun tidak diucapkan jelas, namun semua ucapan Wisang Geni ibarat pernyataan cinta kepadanya.
Tidak heran jika Ningsri Dewi merasa bahagia. Saking gembiranya ingin dia berteriak sekeras-kerasnya bahwa dia mulai menyukai lelaki itu. Saat berikut dia merasa heran dengan dirinya, mengapa begitu gembira mengetahui Wisang Geni mencintainya.
“Ucapanmu tadi, akan melindungi aku selama berada di sisimu. Maksudmu kamu akan berada di sisiku selamanya?” Desak Ningsri Dewi.
“Kalau kamu ijinkan aku di sisimu selamanya, aku bersedia meskipun hanya sebagai ponggawa dan pengawalmu. Selama itu aku akan melindungimu.”
Geni malu mengungkap perasaannya. Dia tahu, tak mungkin mempersunting wanita cantik itu menjadi isterinya, tapi dia tak sanggup berpisah jauh darinya. Tawa Ningsri yang renyah, kecantikan yang selalu berseri-seri, dan badannya bagaikan sosok dewi-dewi dalam cerita pewayangan, semuanya telah melekat dalam benaknya. “Tak mungkin aku berpisah jauh dari wanita ini.” Tegasnya dalam hati.
“Jadi ponggawa yang melindungi aku, selamanya?” Suara Ningsri lirih.
Wisang Geni mengangguk. “Benar.”
“Kalau suatu waktu aku kawin dengan seseorang apakah kamu akan pergi meninggalkan aku?” Desak Ningsri ingin tahu lubuk hati Wisang Geni.
Wisang Geni terdiam. Tak tahu apa yang akan dia katakan. Dia ingin berada dekat Ningsri karena berpikir memiliki peluang menjadi suami wanita itu. Tetapi kalau Ningsri kawin dengan orang lain? Apa yang akan dia lakukan?
“Mengapa diam?” Desak Ningsri Dewi.
Wisang Geni tidak menjawab, melecut kudanya menjauh.
Siang itu Senopati Ningsri Dewi sedang kesal, sejak pagi, bahkan sejak sore kemarin Wisang Geni menjauh darinya. Bagi wanita yang tahu dirinya cantik dan yakin dirinya diminati banyak lelaki hal itu membuatnya kesal. Kemarin Wisang Geni menggembirakan hatinya, kini lelaki itu membuatnya marah dan kesal.
Pramadi dan isterinya menghampiri senopati yang sedang cemberut dan kesal itu. “Kemarin kamu belum menjawab mau pulang dulu ke Widodaren atau langsung Karangploso? Kalau ke Widodaren kita menyeberang di sini, kalau ke Karangploso kita jalan ke arah Timur. Itu sebabnya aku perintahkan rombongan berhenti. Sekarang kamu putuskan kemana kita pergi.”
“Mas, jangan sekali-sekali kamu memerintah anak buahku. Aku satu-satunya pemimpin dan semua perintah harus datang dari aku.” Suaranya ketus.
“Masalahnya kita tiba di simpang jalan.” Kata Pramadi.
Ningsri Dewi diam, berpikir. Matanya memandang Wisang Geni yang menyendiri di kejauhan. Dia teringat tugasnya mengantar pendekar itu ke istana.
“Mengapa dia berdiam diri dan menjauh sendirian? Tidak mau dekat-dekat padaku, tidak mau bicara dengan aku. Apakah pikirnya aku akan mengejar mengemis-ngemis bicara padanya. Dia yang harus datang padaku bahkan kalau perlu minta maaf karena telah membuat aku kesal.”
Ningsri Dewi semakin kesal, saat berikut dia berseru. “Berhenti untuk makan, tidak perlu dirikan tenda, selesai makan kita jalan terus ke Karangploso.”
Pramadi saling pandang dengan isteri dan saudaranya.
“Apa yang membuat dia kesal?” Bisik Pramadi kepada adiknya Pratiya.
Isteri dan saudara serta iparnya menggeleng-geleng.
“Kita saja yang pulang. Kita bukan tamu keraton.” Tukas Pratiya. Pramadi dan isterinya setuju. Dan Ningsri tak bisa mencegah keinginan dua kakak dan isterinya yang mau pulang ke Widodaren. “Jaga dirimu baik-baik Ningsri.” Kata Pramadi.
“Setelah urusanku di keraton selesai, aku akan menjenguk ibu dan bapak.” Kata Ningsri, nadanya agak sedih berpisah dengan saudara-saudaranya.
Rombongan Ningsri berangkat lagi, mengarah Timur. Sebelumnya dia mengenakan kembali seragam keraton, juga memerintah ponggawa mengenakan seragam.
Sore hari mereka memasuki kawasan Karangploso. Mereka berhenti di dekat gerbang desa. Beberapa ponggawa melapor untuk memperoleh ijin mendirikan tenda. Mengetahui senopati Ningsri Dewi sebagai kepala rombongan, tidak sulit memperoleh ijin tersebut.
Ningsri Dewi memandang keliling. Dia tak melihat Wisang Geni. “Kemana mas Geni? Jangan-jangan dia kabur pulang? Tugasku bisa berantakan.” Berpikir demikian, timbul rasa khawatirnya. Dia memanggil dua ponggawa wanitanya. “Panggil pendekar Wisang Geni. Aku mau bertemu dengannya.”
Tak lama kemudian dua ponggawa itu menemuinya. “Pendekar itu duduk menyendiri di warung.” Sambil ponggawa itu menunjuk warung di Utara.
Ningsri Dewi menatap tajam. Tandanya dia meminta keterangan lebih jelas.
“Katanya, jika senopati perlu dia, maka senopati yang menemuinya.”
“Kurang ajar. Apalagi katanya?” Suara Ningsri meninggi.
“Katakan kepada senopatimu, aku bukan ponggawa dan aku bukan anak buahnya.” Ponggawa itu menutur sambil merunduk.
Pipi Ningsri yang putih kemerahan terbakar matahari dan keringatan, semakin merah lantaran marah. Tanpa menyahut lagi, dia berlari menuju warung yang letaknya di pinggir desa. Dari jauh dia melihat Wisang Geni sedang duduk menikmati tuak.
Ningsri duduk di kursi berhadapan dengan Wisang Geni. Dia tampak marah tetapi masih bisa menguasai diri.
Seorang pelayan tergopoh mendatangi membawa tabung tuak dan gelas. Ningsri menuang tuak ke gelas, lalu menenggak dengan matanya tetap menatap Wisang Geni.
“Mas Geni, ucapanmu pada ponggawa tadi, itu mempermalukan aku.”
“Semua kataku adalah benar, kamu perlu aku, kamu datang padaku. Dan aku bukan ponggawa bawahanmu. Itu benar adanya, jadi kamu tak perlu malu.”
Ningsri menatap mata lelaki itu. Tak lama. Dia tak sanggup bertatap lama dengan mata Wisang Geni yang tajam laksana pisau. “Kamu jahat Mas.”
Wisang Geni diam, hanya memandang wajah cantik itu, paras yang membuat dia sering termenung dan bingung tidak tahu cara menghadapinya.
“Kenapa diam? Mengapa kamu menjauh dari aku, tak mau bicara dengan aku? Katamu akan melindungi aku.”
“Di sini tidak ada musuh.”
“Aku tanya mengapa kau menjauh? Apakah perbuatanku ada yang salah?”
“Tidak ada yang salah pada dirimu. Aku hanya ingin menyendiri.”
“Kamu tidak boleh menyendiri.”
“Mengapa tidak boleh?”
“Karena aku minta kamu antar ke tempat ramai, aku mau beli pakaian.”
“Ajak dua ponggawa wanitamu itu, mereka menantimu di luar.”
Ningsri menoleh memandang dua ponggawa pribadinya. “Aku mau kamu yang antar. Aku takut jika tiba-tiba musuh menyerangku.”
“Tidak ada musuh di sini. Lagipula malam segera tiba.”
“Musuhku banyak, di sini, di mana saja. Di desa suasana rame, banyak orang.”
“Tunggu, aku habiskan minuman dulu.”
“Sekarang. Aku mau sekarang!” Desak Ningsri sambil menghampiri Wisang Geni meraih dan menarik tangannya. “Ayo sekarang juga.”
Mereka jalan berdampingan. Dua ponggawa wanita mengawal di belakang. Beberapa pengawal mengiringi dari jauh. Mereka tiba di salah satu kedai penjual pakaian. Ningsri masuk kedai bersama dua ponggawanya. Ningsri memilih barang keperluan wanita.
Wisang Geni berdiri di ambang pintu. Tiba-tiba saja dia bersikap waspada, terdengar langkah seseorang mendekatinya, dari belakang. Wisang Geni tidak bergerak.
Terdengar suara wanita. “Mas Geni kau jadi pengawal senopati cantik itu, hati-hati kamu bisa hilang akal dipeletnya.”
Wisang Geni menoleh. Ekadasa, mantan kekasihnya, yang juga salah seorang dari delapan belas hulubalang keraton Tumapel. “Apa kabar Ekadasa?”
Keduanya berhadapan, saling menatap, dan menyelidik.
Wanita itu masih tampak cantik, kini lebih matang. “Lama aku merana gara-gara mencintaimu. Kamu membuat aku kasmaran ndak karuan. Setelah bosan dan mendapat isteri lebih cantik kau tinggalkan aku, malah menganggap aku sebagai musuh. Kamu kejam tapi aku tak bisa melupakanmu.” Ekadasa memandang dengan mata berbinar-binar.
“Sekarang sudah lupa?”
Ekadasa mengangguk. “Berapa wanita yang telah kamu sia-siakan? Kudengar Manohara dan Prawesti mati terbunuh. Sekar kabur bersama lelaki lain. Tinggal Gayatri dan bini mudamu Atis, mana mereka?”
“Kamu tahu semuanya tentang aku.”
“Tentu saja. Mana kedua isterimu itu?”
“Atis mati terbunuh. Gayatri pulang Himalaya.”
“Kasihan kamu, jadi sekarang kau sendirian.” Dia tersenyum menggoda.
“Benar. Sendirian dan kesepian.”
“Pantas kamu memburu senopati Ningsri.” Ekadasa tersenyum menggoda. “Aku masih tinggal di kamarku yang dulu, mau mampir?”
Wisang Geni menggeleng. Saat dia melirik dalam kedai matanya bentrok dengan mata Ningsri yang menyorot tajam penuh amarah.
“Wanita itu dingin bagai patung es, dia kawin dengan adipati kepercayaan keraton, satu bulan lalu cerai. Setelah perceraian si Adipati masih kasmaran padanya, sering mengigau menyebut nama Ningsri bagaikan orang tidak waras. Ningsri itu wanita penggoda yang memiliki ilmu pelet mematikan, sekali kamu jatuh cinta padanya, tidak akan bisa lepas dari cengkeramannya. Dia bukan wanita gampangan.”
“Aku ingin mengawininya. Aku mencintainya.”
Ekadasa memperlihatkan mimik heran. “Hati-hati, dia akan mempermainkan kamu sedemikian rupa sehingga kamu tak berdaya.”
Sebelum Wisang Geni menjawab, terdengar jerit Ningsri. “Mas Geni…!”
Wisang Geni menoleh. Ningsri melambai tangannya. “Sini Mas.”
Ekadasa tertawa licik. “Cepat pergi kesana, jika tak mau dia menjerit lagi.”
Wisang Geni menghampiri Ningsri yang mukanya memerah.“Mau apa kamu bicara dengan bekas kekasihmu itu, dia Ekadasa, benar?”
“Kamu kenal Ekadasa?”
Ningsri tak perlu menjelaskan ketika Dewi Asmari memperkenalkan Ekadasa kepadanya. Dia menyahut ketus. “Awas kamu janjian ketemu dia.”
(Bersambung Bab 22 bag 2)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







