Wisang Geni part Two Bab 21 bag 4

Posted on 10 September 2014 ( 0 comments )


Bab 21 Bag 4

      “Besok.”

      Mereka menyelesaikan makan. Ningsri memanggil pelayan.

      Seperti biasanya, empat pelayan membersihkan meja makan. Dua diantaranya masuk lagi dan duduk bersimpuh dekat pintu.

      Ningsri mengambil pinang dan mulai mengunyah sambil melirik genit. Dia ingin laki-laki itu merampas kinang dari mulutnya seperti kejadian beberapa hari lalu. Tetapi Wisang Geni hanya diam memandangnya dengan pandangan yang sulit ditebak.

      “Mau nginang?” Ningsri bertanya, penasaran.

      Wisang Geni mengangguk.

      Ningsri mengambil kinang dari mulutnya, dengan senyum genit dia menyuapnya ke mulut Geni yang lantas mengunyah. Dia senang melihat Geni tidak menolak malah menikmati kinang bekas mulutnya itu. Dia berpikir. “Sejak sekarang aku akan memberimu kinang bekas mulutku padamu supaya kasmaranmu makin besar padaku.”

      Wisang Geni bangkit dari kursi. “Masakanmu enak, aku makan banyak sampai kenyang. Boleh aku istirahat, duduk di amben?”

      “Boleh.” Ningsri menuntun ke amben. “Akan kuambil air untuk cuci kakimu.”

      Senopati itu kembali dengan baskom air dan kain tebal. “Kakimu kotor tetapi tidak sekotor kemarin.” Dia membersihkan sambil memijit.

      Wisang Geni memandang kecantikan yang begitu dekat namun tak bisa diraihnya. “Mengapa kamu mau merendah, mencuci kakiku?”

      “Bukannya merendah. Kamu tamuku, orangtua mengajariku untuk menghormati tamu.” Ningsri tersenyum. “Nanti malam kamu tidur di kamar tamu. Ada mbok-mbok yang melayani. Nanti malam kita makan bersama kangmasku dan ponggawa kepercayaanku. Mereka senang bisa duduk bersama pendekar nomor satu tanah Jawa.”

      “Jangan sebut-sebut pendekar nomor satu, aku bukan nomor satu, masih banyak pendekar yang lebih jago. Aku tidak suka. Julukan itu mengingatkan aku telah membunuh banyak pendekar. Tanganku berlumuran darah.” Suara Wisang Geni datar dan dingin namun mengandung duka.

      Ningsri memperhatikan sejak datang siang tadi paras lelaki itu tampak murung. Penasaran dia bertanya. “Ada apa Mas, kamu kelihatannya tidak bahagia, atau kurang senang? Adakah ucapanku yang salah?” Tangannya tetap lincah memijit.

      “Banyak yang kupikirkan selama beberapa hari ini, percakapanku dengan kakek yang mengingatkan aku akan masa laluku.”

      “Ceritakan kegundahan hatimu, aku mendengarkan.” Kata Ningsri lembut.

      “Wanita ini begitu cantik, lembut dan bisa merasakan kegundahanku.” Wisang Geni berbisik dalam hati. “Hidupku memang tidak bahagia.”

      Ningsri diam. Matanya memandang lelaki itu dengan iba bercampur mesra.

      “Aku sendirian, kesepian.” Kata Wisang Geni lirih. “Biasanya ada isteri-isteriku yang menghibur, menggoda, bercengkerama. Kini tak ada lagi, semuanya pergi. Ternyata seks, nafsu birahi, tidak kekal. Yang kukejar selama ini, nafsu birahi, hanya kosong belaka. Di situ tak ada kebahagiaan. Yang ada hanya kenikmatan sementara. Ternyata bahagia bukan datang karena terpenuhinya nafsu.” Suaranya makin lama makin pelan.

      Ningsri Dewi berhenti memijit, menggeser duduknya. Kini dia duduk di sisi Geni, menunggu laki-laki itu menutur lebih lanjut. Lama menunggu tak ada suara keluar dari mulut Wisang Geni. Ningsri mengamati wajahnya. Dia heran melihat lelaki itu memejam mata. “Tidurkah dia? Begitu cepatnya?”

      Jari tangan Ningsri merapat ke lubang hidung Geni, terasa nafas yang halus bagaikan ada dan tiada. “Dia pulas.” Bisiknya. Dia melangkah ke luar ruangan sambil memesan pelayannya untuk duduk dekat amben dan memanggilnya jika laki-laki itu terjaga.

      Esok pagi, ketika matahari mulai bersinar Ningsri Dewi mengatur perbekalan. Empat pengawal pribadi yang ilmu-silatnya mumpuni, duabelas ponggawa pilihan beserta kakak dan iparnya, berjumlah duapuluh orang. Mereka mempersiapkan kuda-kuda dan perbekalan lain, kemah dan juga makanan kering, air dan tuak.

      “Jagoanmu belum bangun, pasti tidurnya pulas.” Tegas Pramadi.

      “Dia mimpi memeluk Ningsri,” goda isteri Pramadi.

      “Kamu juga mimpikan dia Ningsri?” Goda isteri Pratiya.

      Ningsri Dewi tertawa senang. “Setelah makan, kita berangkat.” Lalu dia melangkah ke dalam rumah. “Aku akan bangunkan dia.”

      Timbul pikiran iseng Ningsri Dewi membuka perlahan pintu kamar, begitu masuk dia menyambit dengan biji sawo.  

      Biji kecil itu melesat ke arah kaki Wisang Geni. Tiba-tiba Ningsri kaget, tubuh pendekar itu melejit, melayang dan dua kakinya mengait balok melintang penyanggah atap. Dua tangan Geni mengembang. Itulah jurus lalawa mengepak sayap menembus awan.

      Dan tiba-tiba saja Geni menerjang. Ningsri berusaha mengelak. Tapi kecepatan Geni sangat fantastis. Dalam sekejap saja, dua tangan pendekar itu telah memeluk tubuh senopati. “Nakal, membangunkan aku dengan cara itu.” Tangan Geni menepuk bokongnya.

      Sesaat tadi Ningsri merasa gentar. Jurus pendekar itu tampak mengerikan. Sebagai pendekar yang juga memiliki kanuragan, Ningsri tahu bahwa jurus Geni tadi dengan mudah bisa membunuhnya. Seumur hidupnya belum pernah dia menyaksikan jurus sehebat itu, tidak juga jurus ayahnya.

      Selain itu ada perasaan senang dalam hati Ningsri melihat laki-laki itu telah kembali iseng memeluk dan meremas bokongnya. “Mas, turunkan aku, nanti dilihat orang.”

      Keduanya saling menatap. Saat berikut Ningsri merunduk malu.

      “Mas, jurusmu itu mengerikan. Apa namanya?”

“Aku jarang menggunakannya, namanya jurus manarang manambayang majatha (menggantung di tempat tinggi melayang dan menggigit) salah satu jurus dari kumpulan lalawa mengepak sayap menembus awan.”

“Aku mendengar cerita pertarungan di warung karangploso ketika kamu permalukan dua sesepuh keraton, Wadung dan Wulung. Katanya kamu menggunakan jurus itu.”

      Wisang Geni diam.

      “Mas, bagaimana seandainya kamu mandi? Setelah itu kita makan dan berangkat.”

      “Aku tidak terbiasa mandi.”

      “Airnya dingin, segar.” Ningsri tersenyum. “Katamu mau berubah jika perubahan itu membawa kebaikan.”

      Wisang Geni tertawa. “Dasar licik. Baiklah aku mandi.”

      “Habis mandi kamu salin pakaian, telah kusediakan pakaian untukmu, masih baru.”

      Wisang Geni menatap tajam.

      “Pakaianmu kotor, kalau mau ganti pakaian itu bagus, kalau tidak mau, tak ada yang memaksa. Siapa berani memaksa pendekar berilmu tinggi seperti kamu.” Dia melanjutkan dengan mimik menggoda. “Kalau telanjang dada, orang akan menonton tattoo lalawa di dadamu, aku yang risih, berkuda dengan lelaki yang dikenal sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa. Pasti dikira aku isterimu, isteri yang baru.”

      Wisang Geni tertawa. “Pakaian ponggawa keraton?”

      Ningsri menggeleng. “Dalam perjalanan ini kami semua mengenakan pakaian biasa, pakaian rakyat jelata. Aku tahu kamu tidak suka kemewahan.” Lalu dia memutar tubuhnya. “Lihat pakaianku. Ini pakaian rakyat biasa, tidak mewah.”

      “Kamu bukan rakyat biasa.”

      “Ini tidak mewah.” Protes Ningsri.

      “Tubuhmu itu yang mewah, kamu cantik.” Kata Wisang Geni.

      Pujian itu membuat muka Ningsri dijalari rona merah. Dia malu tapi hatinya juga senang. Sambil merunduk malu dia berkata. “Kamu mau pakaian itu?”

      Wisang Geni mengangguk.

      “Ayo ikut aku, kamu mandi di kamarku.”

      Wisang Geni tertawa menggoda. “Kamu memandikan aku?”

      Wanita itu menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa. Dia menyahut manja. “Kamu kan bukan bayi. Kamu mandi sendiri, di kamarku semuanya aku sediakan, maksudku mbok pelayan yang mengaturnya, aku tunggu di luar kamar.” Saking senangnya Ningsri tertawa lepas.

      Dan suara tawa itu yang digandrungi Wisang Geni sekali lagi mengaduk-aduk sanubari pendekar itu. “Aku tak pernah bisa melupakan suara tawanya, mimik dan gerak mulutnya saat ketawa. Wanita ini benar-benar istimewa.” Bisik hati Wisang Geni sambil memandang Ningsri Dewi dengan mata mendelong.

      Dan senopati wanita itu bertambah gembira, parasnya makin berseri. “Ternyata dia tidak liar.” Bisiknya dalam hati. 

( Bersambung bab 22 bag 1 )



Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com