Wisang Geni part Two Bab 21 bag 3

Posted on 10 September 2014 ( 0 comments )


Bab 21 bag 3

      “Guru, kangmas Geni, ajak aku, aku rela mati untuk membelamu.” Tegas Laras yang lantas memeluk gurunya, menangis di dadanya.

      Dyah Mekar ikut memeluk dan menangis. “Jangan tinggalkan aku, Mas.”

      Malam itu dua wanita itu tak mau melepas gurunya.

      “Kalau harus berpisah, malam ini dan malam berikutnya adalah malam terakhir, aku ingin kenangan manis, yang kubawa sampai mati.” Kata Laras.

      Wisang Geni terharu, balas memeluk dua wanita yang selama ini menjadi tempat dia memuaskan nafsunya. “Kalian kembali ke suamimu. Aku akan bicara dengan Pras dan Lengar agar memperlakukan kalian dengan baik.”

      “Guru katakan dengan jujur, kamu akan mengawini Ningsri? Katakan Mas, tak perlu sembunyi, kalau itu membuatmu bahagia, aku rela.” Bisik Dyah Mekar.

      “Mengapa berpikir demikian?”

      “Sejak kapan kamu nginang? Ningsri yang mengajari kamu nginang.” Dyah Mekar balik bertanya.

      “Dia cantik. Lebih cantik dari kami semua, lebih cantik dari Sekar dan Gayatri. Tapi kau harus hati-hati, dia cantik tapi belum tentu hatinya cantik, jujur dan setia padamu. Aku rela melepas kamu pergi, tapi aku tidak rela jika dia mempermainkan kamu, aku akan mencarinya dan membuat perhitungan.” Tegas Laras.

      “Dia wanita keraton. Aku orang dusun, orang liar karenanya tak mungkin kawin dengannya.” Wisang Geni melanjutkan dengan dingin. “Aku memburu Wadung dan Wulung, bukan memburu Ningsri.” Dalam hati dia mengakui Ningsri ibarat bulan, begitu dekat namun mustahil bisa digapai.

      Sampai saat itu dia tidak tahu keputusannya pergi ke keraton, apakah alasan bosan dengan kehidupan rutin di sekeliling para murid Lemah Tulis, atau sebab putus-asa ditinggal pergi Gayatri dan Angga, atau karena matinya Atis, atau karena kasmaran akan kecantikan Ningsri Dewi. Begitu banyak persoalan yang melilit pikirannya, yang sering mendorong dia mengambil keputusan-keputusan aneh yang bahkan tidak dia mengerti.

      Dini hari itu Wisang Geni berpisah dengan para murid. “Kalian wajib menjaga perguruan dengan jiwa dan raga. Tetap bersatu, jangan bertengkar. Kakek Padeksa dan Prastawana akan jadi pimpinan selama aku pergi. Jika masih hidup, aku akan kembali.” Tidak lupa Geni juga berpesan pada Prastawana dan Gajah Lengar untuk berlaku baik kepada Dyah Mekar dan Laras.

      Padeksa memeluk Geni. Kakek tua itu menangis. “Firasatku mengatakan kita tak akan bertemu lagi. Geni aku mendengar tentang senopati wanita Tumapel itu, mungkin saja dia jodohmu, mungkin juga dia membawa bencana bagimu. Hati-hati, wanita cantik selalu lebih berbisa dari ular yang paling berbisa.”

       Wisang Geni memeluk erat orangtua itu.

“Sudah waktunya kamu berubah, Geni. Usahakan mengekang nafsumu. Kamu pasti bisa. Sekarang kamu tak punya isteri. Carilah isteri yang mencintaimu dan setia seperti Wulan, Sekar dan Prawesti. Ingat Geni, perbuatanmu mengumpulkan banyak isteri sangat menghina martabat wanita, jangan lupa, ibumu juga seorang wanita. Sukesih ibumu itu isteri setia. Dia bisa saja lari meloloskan diri dan hidup bahagia bersama Manjangan Puguh yang sangat mencintainya. Tetapi dia memilih bela-pati di sisi suaminya. Pilihan yang mulia, yang hanya bisa dilakukan wanita mulia.”

      Ucapan Padeksa membuatnya sadar. Dia sadar, selama ini dia membohongi semua isterinya dan juga dirinya. Setelah kematian Walang Wulan dia seakan tak bisa mencintai wanita. Dia mengobral nafsu, melampiaskan ke para wanita termasuk beberapa muridnya, merayu dan menipu mereka dengan mengulang-ulang bisikan cinta.

      Beberapa hari lalu dia kasmaran melihat paras dan tubuh Ningsri Dewi. Kembali nafsu memuncaki akal pikirannya, dia hanya memikirkan meniduri wanita itu. Ternyata Ningsri Dewi bukan wanita sembarangan. Senopati cantik itu punya pendirian.

      Dia merasa malu, baru bertemu satu hari dia telah membujuk Ningsri Dewi kawin. Kata-kata wanita itu terngiang kembali. “Kamu baru satu hari mengenalku. Aku juga baru mengenalmu. Tidak mungkin terjadi perkawinan kalau kita belum saling kenal.”

      Semalaman dia memikirkan Ningsri Dewi. Wanita itu sangat cantik. Dia mengaku hatinya telah terpikat. “Apa yang kuinginkan dari Ningsri? Aku telah melamarnya  menjadi isteriku, dia menolak. Seterusnya dia pasti akan menolak. Lantas untuk apa aku mengikutinya ke istana terus ke Blambangan?”

      Malam itu juga Wisang Geni menetapkan hati. Dia harus menepati janji membantu Ningsri menyelesaikan tugas. Tak perlu memikirkan akan memperoleh cinta wanita itu. Menolong Ningsri akan membuat wanita itu mengenang dirinya sebagai penolong. Lagipula dia kini tak punya arah dan tujuan hidup. Dia bosan dengan kehidupan lama dan ingin suatu perubahan. Namun sesuatu yang melekat dibenaknya yang ingin dia lupakan, adalah kesepian dan kesendirian. Bayangan Sekar, Gayatri dan begitu banyak wanita yang berada disekitarnya, kini tak ada lagi. Kini hanya dia sendirian.

      Dia teringat Walang Wulan, isteri yang lebih tua usianya namun telah memberinya cinta tulus tanpa minta imbalan. Sekar yang cantik montok juga mirip Wulan, tetapi dua wanita itu sudah tiada. Wulan mati. Sekar pergi dari sisinya masuk pelukan lelaki lain.

      Lalu Geni teringat ibunya, Sukesih, bayangan ibunya yang cantik yang sering mendekapnya, mengelusnya agar tidur. Geni tertawa, mengingat dia masih menyusu pada ibunya sampai usia enam tahun meski sudah tak ada air susu. Dia menangis, ingat ibunya. Tertawa dan menangis dalam hati mengingat ibunya, “Ibu, sekarang  aku sendirian.”

      Siang itu Wisang Geni tiba di rumah Ningsri Dewi. Beberapa pengawal mencegah dengan santun, tak lama seorang ponggawa menghampiri. “Tuan pendekar dipersilahkan masuk, paduka senopati menunggu di ruang tamu.”

      Geni memandang Ningsri yang berpakaian seragam keraton namun tetap saja tampak potongan tubuhnya yang molek. Paras wanita itu berseri-seri.

      “Kamu datang juga Mas Geni. Aku sudah menunggumu dengan jamuan makan, sudah tiga hari ini setiap pagi aku masak sendiri, mengira  kamu akan datang. Hari ini aku masak enak dan lezat, daging kambing, ayam muda, juga ikan laut. Sayangnya, susu kambing habis, tapi lumayan ada tuak simpanan.”

      “Kamu pikir aku tidak datang?”

      Ningsri menggeleng. “Aku percaya omonganmu. Katamu tujuh atau sepuluh hari, ternyata benar, siang ini hari ke sembilan.”

      Wisang Geni tidak kikuk membuntuti Ningsri masuk ruang dalam. Geni memandang sosok cantik yang melangkah dengan lenggok bokongnya yang menggetarkan hati sanubarinya. Senopati itu berhenti menunggu Geni melangkah di sisinya. “Kamu sudah siap berangkat ke karangploso?” Ningsri Dewi bertanya.

      Tangan Ningsri terasa lembut menggenggam tangan Geni yang kasar, menuntunnya duduk di kursi menghadap meja yang dipenuhi berbagai jenis makanan.

      “Urusanku sudah selesai. Perguruan kutitip pada kakek Padeksa.”

      Kali ini Ningsri duduk bersebelahan. Tangannya mengambil beberapa potong daging kambing dan sepotong besar paha ayam menaruhnya di piring Geni.

      “Murid-muridmu yang cantik-cantik itu? Pasti mereka menangis kamu tinggal pergi.” Ningsri tidak menceritakan bahwa dia mengutus mata-mata ke Jedung. Dia tahu waktu itu Geni nginap bersama dua muridnya. Dia juga tahu Gayatri telah berangkat, tetapi pura-pura bertanya. “Isterimu yang asal Himalaya?”

      “Dia telah pulang Himalaya bersama putriku.”

      “Itu jalan keluar yang bagus bagi putrimu, agar saat dewasa tidak menyaksikan bapaknya mengawini banyak wanita.” Ningsri senang melihat Wisang Geni makan dengan lahap. “Bagaimana rasanya masakanku? Enak?”

      Wisang Geni mengangguk.

      Ningsri menuang tuak ke gelas. “Ini minumannya.”

      “Kamu tidak makan?”

      “Hampir aku lupa makan, saking senangnya melihat kamu datang.” Dia mengambil sepotong ayam bakar. Ningsri mengulang ucapannya tadi. “Aku gembira kamu datang Mas Geni dan kamu bersedia ikut ke istana.”

      “Tidak ada salahnya ikut kamu mengunjungi istana,” tukas Geni datar. “Tetapi aku tidak berjanji ke Blambangan.”

      “Katamu akan membantu aku menyelesaikan misiku ke Blambangan.”

      “Waktu itu aku mengatakan akan membantumu menyelesaikan misi berbahaya itu, tapi kamu harus bersedia menjadi isteriku.” Tegas Wisang Geni.

      “Benar, dan aku belum menjawab bersedia menjadi isterimu atau menolak.” Sejak mula Ningsri telah melihat perubahan Wisang Geni yang tidak lagi agresif menyentuh lengannya atau berusaha meraba bokongnya. “Ada apa?” Hatinya bertanya-tanya. Jauh dalam lubuk hatinya dia ingin tangan pendekar Lemah Tulis itu menjahili bagian tubuhnya, “Itu tandanya dia kasmaran padaku.”

      “Kapan berangkat?” Wisang Geni bertanya.

( Bersambung Bab 21 bag 4 )



Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com