Wisang Geni part Two Bab 21 bag 2
Posted on 06 September 2014 ( 0 comments )
Bab 21 bag 2
Ningsri diam, mulutnya mengunyah, matanya memandang Geni dengan lembut. “Kamu suka berterusterang, aku juga suka berterusterang, dalam hal ini kita cocok. Jadi jangan tersinggung dengan ucapanku tadi.”
“Aku ingin mencium kamu. Boleh?”
Ningsri menggeleng kepala. Dan dia tak sempat menjawab, tangan Wisang Geni menyerang leher. Ningsri menangkis. Serangan pindah ke dada, serangannya cepat. Ningsri terkesiap, menangkis lagi. Mendadak tangan Geni menampar mulut Ningsri. Tamparan menggunakan tenaga lembut, namun cukup membuat senopati itu terbatuk dan kinang melompat dari mulutnya. Geni menggerak tangannya dan kinang itu masuk ke mulutnya.
Geni mengunyah kinang bekas mulut wanita cantik itu.
Ningsri terkejut. “I.. i.. itu kan bekas mulutku…” Katanya gugup. Parasnya merona merah, malu dan serba salah. Dia meraba pipinya yang tadi ditampar. Tak ada rasa sakit, dia kagum akan tenaga dingin Wisang Geni yang bisa menampar tanpa melukai bahkan tidak mendatangkan rasa sakit. Tapi dia bingung tak tahu apa yang harus diucapkan. Tak pernah membayangkan kinang bekas mulutnya akan dikunyah Geni. Juga heran melihat Geni menginang dengan mimik yang teduh. Tidak ada tanda-tanda tidak suka.
Wisang Geni tetap mengunyah kinang lalu berkomentar. “Agak pahit…”
“Kamu benar-benar liar.” Ningsri berkata lirih namun dalam hati merasa senang melihat adanya tanda-tanda pendekar itu menyukainya, itulah isyarat kuat dia bersedia mengikutinya datang ke istana.
Sejak tadi Wisang Geni memperhatikan mimik Ningsri kala berbicara, gerak mulut dan bibirnya yang enak dipandang. “Aku yang liar ini ingin mencium kamu.”
“Tidak boleh. Kamu bukan suamiku.”
“Kamu menggoda aku.” Kata Wisang Geni sambil menunjuk dada Ningsri. “Kamu pake kebaya tapi aku memastikan kamu tidak pake kutang.”
“Aku ndak pakai kutang, bukan berarti mengoda kamu. Busana keraton itu panas dan tidak bebas. Aku lebih suka pakaian begini, sederhana dan tidak panas.” Ningsri diam, matanya menatap tajam. “Lagipula dadaku tertutup rapat oleh kebaya.”
“Tapi kamu membuat aku panas birahi.”
“Salahmu sendiri, kebiasaanmu suka membujuk rayu wanita.” Tawanya merdu mengalun liar, itulah tawa yang mengguncang sanubari dan alam pikiran Wisang Geni.
“Kamu mau jadi isteriku?”
“Tidak semudah itu.” Ningsri menyahut hati-hati. “Apakah begitu caramu memikat wanita lalu melamarnya jadi isteri?”
“Kamu belum menjawab, mau jadi isteriku?”
Ningsri tersenyum. “Aku bukan wanita yang biasa kamu temukan di hutan.”
Wisang Geni tertawa. “Jadi kamu pingitan? Kamu tinggal di keraton?”
“Rumahku di bukit Pucuk-Ijo, jauh di selatan gunung Widodaren.”
“Buat apa pelayanmu duduk di situ.” Geni menunjuk pelayan.
“Mereka menemani aku.“ Ningsri tersenyum menggoda. “Aku tidak mau hanya berdua dengan kamu, aku takut dipeluk, lagipula tanganmu suka jahil.”
“Bagaimana lamaranku tadi, mau jadi isteriku, aku jadi pelindungmu?”
“Aku belum mau kawin?” Dia tersenyum menggoda. “Memang sekarang belum mau, tapi besok-besok mungkin pikiranku berubah.” Ningsri tertawa, merasa malu. Dia bangkit dan melangkah menuju amben beralaskan kasur empuk dan beberapa bantal empuk.
Dia mengatur bantal-bantal. Kemudian menarik tangan Wisang Geni mendorongnya ke amben. “Silahkan tiduran, istirahat.”
Berada dekat dengan wanita cantik itu, tangan Geni menyambar pinggang. Ningsri mengelak dan menangkis. Ningsri cemberut. “Aku tidak suka kalau kamu jahil.”
Wisang Geni berbaring di amben.
Ningsri duduk didekat kaki Geni, tangannya memijit. Tiba-tiba dia berdiri, “kakimu kotor, berdebu.” Lalu dia melangkah gesit kedalam kamar. Tak lama dia keluar membawa handuk dan baskom berisi air. Telaten dia membersihkan kaki Geni, lalu mengeringkan dengan handuk. “Kamu tiduran Mas, biar kupijit kakimu.”
Wisang Geni terkesima. Selama ini isterinya tidak pernah melayaninya seperti yang dilakukan Ningsri. “Kamu panggil aku Mas. Apa artinya?”
“Artinya aku melayanimu sebagai tamu khusus yang nantinya akan kuminta tolong.”
“Jadi semacam suap?”
“Bukan suap, tetapi tukar menukar jasa.” Ningsri tersenyum manja. Lalu dia tertawa genit. Tawa yang menggoda dan memesona Geni.
“Mau jadi isteriku?”
‘Tidak semudah itu.” Ningsri Dewi tersenyum. “Untuk jadi suamiku syaratnya banyak dan sangat berat, tak mungkin bisa kamu penuhi.”
“Katakan!”
“Tidak sekarang. Kukatakan dalam perjalanan menuju Karangploso.” Lalu dia mendesak. “Kamu bersedia ikut aku ke keraton? Katakan iya.”
Wisang Geni mengangguk.
“Awas ingkar. Kamu sudah berjanji!” Tegas Ningsri, senang berhasil membujuk. Langkah awal membawa pendekar liar itu ke istana menemui Raja dan permaisuri sudah terlaksana meskipun baru sekadar janji.
Wisang Geni menatap tajam. “Ningsri Dewi sungguh kamu montok dan cantik, bagaikan dewi. Tapi kamu juga licik, licin bagaikan ular, kamu banyak akal.”
“Kamu lebih licik, buktinya banyak wanita terperosok jadi isterimu.” Ningsri tertawa.
“Mereka menikmati karena memperoleh kepuasan.” Tegas Geni.
“Apa enaknya, hidup dalam persaingan merebut simpati dan cinta suami.”
“Mereka tidak pernah bersaing, hidupnya rukun.”
“Mustahil. Semua manusia punya pilihan dan untuk memilih orang harus bersaing dengan orang yang memiliki pilihan yang sama. Katamu mereka rukun, itu di permukaan, di dalam hati persaingan justru membara bisa menjadi iri dan dengki.” Tutur Ningsri.
Wisang Geni terdiam, mengakui kebenaran pendapat Ningsri.
“Ingat Mas Geni, kamu telah berjanji mengawal aku ke istana, menemui permaisuri Hyun.” Tangan wanita itu gesit dan lembut memijit tapak kaki dan betis Wisang Geni.
“Katakan terus-terang, jangan berputar-putar. Apa maumu mengajak aku ke istana?”
“Raja memerintah aku membawamu ke istana. Ada pekerjaan dan rencana besar menyelamatkan tanah Jawa, menurut wangsit, kamulah pendekar satu-satunya yang mampu melaksanakan tugas mulia itu.” Tutur Ningsri sambil meneliti air muka Geni.
“Omong kosong, aku tidak percaya wangsit, meskipun seandainya mimpi itu kualami, apalagi mimpi orang lain.”
“Meskipun wangsit itu turun kepada Waning Hyun yang konon adalah penjelmaan Dewi Sri pembawa kemakmuran di tanah Jawa?”
“Aku tak percaya. Pasti ada maunya, katakan terus terang.” Wisang Geni mendesak.
“Aku membawamu ke istana, nantinya kamu mendengar sendiri rencana dari Baginda Raja, setelah itu kita berdua pergi ke Blambangan.”
“Hanya berdua? Kamu berani berjalan bersama orang liar, katamu tadi aku seram.”
“Mungkin aku membawa pengawal beberapa pendekar istana yang menyamar, tetapi yang tahu misi itu hanya aku, kamu, Hyun dan Baginda Raja. Aku tidak tahu apa misinya.”
“Misinya pasti berbahaya, pertarungan lawan musuh berbobot. Kawasan Blambangan menyimpan banyak pendekar berilmu-silat tinggi. Misi itu punya resiko kematian, sangat berbahaya, mengapa kamu mau menerima tugas itu?”
Ningsri mengeluh. “Benar Blambangan daerah berbahaya, tadinya aku menolak. Tetapi Hyun memberiku jabatan senopati, ini pengalaman baru yang menarik. Selama ini aku hanya makan tidur berlatih silat di gunung. Aku bosan. Pengalaman jadi senopati sangat menarik minatku. Lagipula aku ingin berkelana kemana-mana.”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, misi itu misi kematian, kamu mau menerima tugas ini pasti ada apa-apanya, ingin jadi selir Raja atau isteri adipati utama?”
Paras Ningsri berubah merah. Benar-benar marah. “Aku bukan wanita gila harta jika tergila-gila dengan harta dan kekuasaan, aku tak akan cerai dari suamiku, apalagi dia sangat tergila-gila padaku, pasti semua permintaanku dia penuhi.”
“Seperti katamu, semua harus ada imbal jasa. Aku membantumu menyelesaikan misi berbahaya itu, tapi kamu harus bersedia menjadi isteriku.” Tegas Wisang Geni.
Sesaat Ningsri terdiam, matanya menatap tajam lelaki yang sesungguhnya mulai menarik hatinya. “Kamu baru satu hari mengenalku. Aku juga baru mengenalmu. Tidak mungkin terjadi perkawinan kalau kita belum saling kenal. Perkawinanku yang lalu merupakan pengalaman pahit. Kini aku memilih suami untuk seumur hidup, perkawinan sampai usia tua. Dalam perjalanan ke Karangploso, kita akan saling mengenal sifat baik dan buruk. Kita akan tahu apakah kita pasangan yang cocok. Aku tak bisa berjanji menjadi isterimu. Satu hal yang harus kita sepakati, jika kita tak ada jodoh, kita berpisah dengan baik-baik, tak ada sakit hati, menyadari bahwa itulah permainan takdir.”
Wisang Geni takjub akan pendirian Ningsri. “Katakan, apakah aku punya peluang?”
“Peluangmu cukup besar. Kamu tak punya saingan, tak ada lelaki lain dalam hidupku setelah perceraianku. Lain dengan aku, sainganku banyak, isteri dan murid-muridmu, selir dan janda-janda. Tetapi aku berani menempuh resiko itu asalkan aku tahu cinta dalam lubuk hatimu dan cinta dalam hatiku.” Tutur Ningsri hati-hati. Dia mengikuti anjuran permaisuri, memberi iming-iming kepada Wisang Geni.
“Baiklah, aku ikut kamu ke istana.”
Ningsri tersenyum, senang mendengar jawaban yang memang sangat dia harapkan. Dia menatap tajam. “Aku ingin tahu, apakah kamu bisa berubah? Kamu suka perubahan?”
“Kalau menyangkut kebaikan, aku bisa berubah.” Tegas Geni. “Lihat saja aku mulai nginang untuk menghilangkan bau mulut.”
Ningsri tertawa senang. “Besok pagi kita berangkat.”
“Jangan besok. Aku perlu ke Lemah Tulis menemui kakek, minta dia mengendalikan perguruan selama aku tidak ada.”
Wanita itu tertawa sinis, meskipun suaranya merdu tetapi tawa itu bagaikan ejekan. “Mau bertemu isterimu, selir-selirmu?”
“Sekarang ini aku tak punya isteri. Atis mati. Gayatri pulang ke Himalaya. Aku memang buruk, tapi aku tidak terikat dengan selir atau para muridku. Misi ini pasti misi adu-jiwa, diatas langit ada langit lain, aku bukan yang paling hebat di tanah Jawa, masih ada yang lebih hebat lagi. Aku ingin tinggalkan pesan pada kakek, seandainya aku mati dan tidak kembali agar Lemah Tulis tetap ada yang memimpin.”
Ningsri trenyuh. “Dia laki-laki bertanggungjawab. Itu salah satu sisi baiknya.” Dia memegang tangan Geni. “Maafkan aku salah sangka. Siapa kakekmu itu?”
“Kakek Padeksa, dia yang memelihara dan mendidik aku sejak aku selamat dan lolos dari perang Ganter.”
“Usiamu berapa waktu itu?”
“Delapan atau sembilan tahun.”
Sesaat Ningsri merenung, mengira-kira. “Artinya kini usiamu empatpuluh satu.”
Geni mengangguk.
“Berapa hari aku harus menunggu?”
Wisang Geni menghitung. “Tujuh atau sepuluh hari lagi aku akan menemuimu.”
“Baik. Aku tunggu sepuluh hari.”
Tidak membuang waktu lagi Wisang Geni melecut kudanya ke pelabuhan Jedung, menemui dua muridnya. Keduanya melapor kapal menuju Kuangchou telah berangkat. “Mereka berangkat dua hari lalu. Kami tidak bertemu tetapi keluargamu terdaftar sebagai penumpang, Gayatri, Angga, Urmila dan Seruling Kencana.” Tegas Dyah Mekar.
“Kita berangkat sekarang ke Lemah Tulis.” Tegas Wisang Geni.
“Hari sudah hampir gelap. Daripada kemalaman di jalan, lebih baik bermalam di sini, besok dini hari kita berangkat.” Kata Laras.
“Lemah Tulis? Kita pulang?” Tukas Dyah Mekar.
“Benar, kalian kembali ke rumah suamimu.”
“Oh kamu bosan? Sudah bosan dengan kami, kamu dapat ganti senopati Tumapel si genit itu?” Suara Laras tinggi.
“Sudah kamu tiduri dia?” Desak Dyah Mekar.
Wisang Geni menggeleng kepala. “Mana mungkin aku menidurinya. Dalam beberapa hari ini aku akan mengunjungi keraton menemui raja dan permaisuri.”
Dua muridnya memandang heran. “Keraton memanggilmu? Jangan percaya pada si genit itu, mungkin dia menjebakmu Guru.” Kata Laras.
“Apa perlunya keraton memanggilmu?” Dyah Mekar mendesak.
“Tak bisa kuceritakan, tapi aku akan pergi jauh, mungkin saja aku mati dalam tarung. Sesungguhnya kita semua manusia tidak tahu apa yang bakal terjadi besok dan lusa.”
Mendengar suara gurunya serius dan tegang, dua wanita itu terperangah. “Tarung apa. Siapa musuhmu? Kakek Wulung dan Wadung itu?” Dyah Mekar mendesak.
Pertanyaan Dyah Mekar itu membantu Wisang Geni menemukan alasannya pergi mengikuti Ningsri Dewi ke istana. Alasan yang tepat untuk berbohong. Dia tak mau rahasia kepergiannya dengan Ningsri Dewi diketahui para murid.
“Aku memang akan memburu dua kakek itu, katanya dia telah kabur dari istana dan bergabung dengan beberapa pendekar di kawasan Selatan.”
“Aku ikut!” Potong Laras.
“Aku ikut! Kita ajak beberapa kawan lainnya.” Tegas Dyah Mekar.
“Tidak boleh. Sendirian aku lebih bebas bergerak. Ini misi berbahaya, lagipula ini urusanku tak ada kaitan dengan perguruan.”
“Guru, kangmas Geni, ajak aku, aku rela mati untuk membelamu.” Tegas Laras yang lantas memeluk gurunya, menangis di dadanya.
Comments







