Wisang Geni part Two Bab 21 bag 1 by John Halmahera

Posted on 06 September 2014 ( 0 comments )


Bab Duapuluh Satu

Mimpi Permaisuri                

Bab 21 bag 1

Empat hari nginap di Welirang hanya dua aktifitas yang dikerjakan Wisang Geni. Pagi sampai sore dia melatih para murid, mematangkan jurus-jurus handal Lemah Tulis khususnya jurus penakluk raja. Dia gembira melihat kemajuan murid-muridnya. Malam harinya Dyah Mekar dan Laras menemaninya, bercengkerama, makan minum sepuasnya.

      Keduanya juga lincah bercerita dan menyenangkan hati sang guru. Mereka tidak perlu menghibur gurunya perihal kematian Atis maupun perginya Gayatri dan Anggreni. Mereka tidak heran karena gurunya tak pernah mengungkapkan perasaan hati atau pikirannya.

      Sebagai murid senior mereka sangat mengenal Wisang Geni. Gurunya hanya mencintai Walang Wulan, isteri pertamanya. Semua murid mengetahui terpukulnya batin Wisang Geni atas kematian Walang Wulan, bahkan laki-laki itu sempat hilang ingatan. Mereka mengerti sejak kematian isteri tercintanya, Wisang Geni tak lagi mengenal cara mencintai wanita. Dia menyukai wanita diukur dari hasrat birahi. Tak ada cinta lagi.

      Dyah Mekar dan Laras serta beberapa murid perempuan Lemah Tulis lainnya bisa menerima kondisi tersebut. Bergaul dan berhubungan intim dengan sang guru hanya berdasar nafsu, tak perlu bicara cinta. Suka sama suka.

      Meski setiap hari sibuk bercengkerama dengan Dyah Mekar dan Laras tetapi pikiran Wisang Geni digayuti bayangan seorang wanita. Sejak pertemuan dengan Ningsri Dewi, sering Wisang Geni membayang paras dan tubuh senopati cantik itu.

      Teringat janjinya akan bertamu di rumah senopati Tumapel itu.

      “Wulung dan Wadung pembunuh Atis pasti punya hubungan dengan Ningsri Dewi, mereka sama-sama ponggawa andalan keraton.” Kata Wisang Geni kepada Dyah Mekar dan Laras. “Akan kulabrak rumah senopati itu, mungkin dua kakek itu sembunyi di sana.”

      “Jangan pura-pura, katakan saja kamu ingin menemui senopati itu.” Kata Laras.

      “Pikiranmu membayang paras dan tubuhnya yang cantik. Sudahlah Mas Geni, jangan cari-cari alasan untuk bertemu dengannya.” Tambah Dyah Mekar.

      “Aku telah berjanji akan ke rumahnya siang ini. Terus ke Jedung mencari tahu apakah Gayatri dan Angga telah berangkat.” Kata Wisang Geni.

      “Aku ikut.” Seru Dyah Mekar.

      “Aku ikut.” Kata Laras tak mau mengalah.

      Wisang Geni menatap dua muridnya. Mereka bertatapan.

      “Boleh ikut. Tapi kalian nginap di Jedung, kalian selidiki apakah Gayatri dan Angga sudah berangkat.” Kata sang guru. “Jangan membantah!”

      “Tapi kamu jangan nginap di rumah senopati.” Tegas Dyah Mekar.

      “Mana mungkin aku nginap di sana.”

      “Kapan berangkat?” Kata Laras.

      “Berangkat sekarang, kita bermalam di hutan. Besok sore tiba di Jedung.” Tukas Wisang Geni yang tampak bersemangat.

      “Kudamu si Wulung kamu berikan kepada Angga. Sekarang kamu tidak punya kuda.” Dyah Mekar tertawa melihat gurunya agak bingung.

    “Sudahlah aku pinjam kuda murid lain. Mas Geni naik kudaku.” Laras menoleh kepada Dyah Mekar. “Kamu naik kudamu sendiri, jangan pangkuan, kudaku bisa mati lelah.”

      Sore hari Wisang Geni tiba di rumah kepala desa.

      Dia langsung menerobos ruang tamu. Karuan beberapa pengawal menghadang. Namun dengan beberapa jurus gebrakan sebelas pengawal itu tergeletak pingsan kena totok. “Mana Ningsri Dewi, keluar kamu jangan sembunyi!”

      Senopati itu muncul. Busana keraton yang ketat memeta potongan tubuhnya yang molek. Parasnya yang jelita tampak merah padam, dia sangat marah melihat kelakuan Geni.

      “Apa yang kamu lakukan, datang-datang ngamuk macam orang kesurupan?” Suara Ningsri Dewi datar, dingin. Tampaknya dia berupaya menahan amarah.

      “Mana dua kakek pembunuh itu?” Seru Geni masih saja dengan nada tinggi.

      Saat itu dua pasang lelaki wanita muncul. Dua lelaki itu kakak kandung Ningsri Dewi yang juga kakak perguruan, dua wanita itu adalah isteri-isterinya. Mereka berjaga-jaga di sisi adiknya. Tampak mereka juga dikuasai amarah.

      “Kamu mencari kakekmu? Di sini tak ada kakek-kakek, yang ada aku Pratiya dan kakakku Pramadi, apa maumu mengganggu adikku Ningsri Dewi?”

      “Aku mengundangmu baik-baik, mengapa datang-datang kamu ngamuk.” Seru Ningsri Dewi dengan suara tinggi.

      “Aku mencari Wulung dan Wadung, mereka telah membunuh isteriku.”

      Ningsri Dewi mengangkat tangannya, isyarat agar para ponggawa tak ada yang menyerang. “Dua kakek itu tak ada di sini. Beberapa hari lalu mereka singgah minta sangu, katanya mau pulang keraton. Mereka sudah pergi.”

      Wisang Geni terdiam. Dia menatap paras cantik itu, mencari tahu kebenaran.

      Ningsri Dewi tertawa kecil ditatap demikian rupa. Mata senopati itu melotot. “Sekarang buka totokan pengawalku.” Nadanya memerintah.

      “Kamu buka sendiri, jangan minta tolong padaku.”

      “Kataku, buka totokannya!” Suara Ningsri tegas dan keras. “Cepat buka!” Bentaknya.

      Wisang Geni tercengang. Belum pernah ada wanita yang membentaknya selama ini.

      “Buka totokannya!!” Ningsri membentak lebih keras, matanya melotot. Tampak sekali dia menahan amarah.

      “Kalau marah kamu makin cantik.” Wisang Geni melompat-lompat sambil kakinya menotok tubuh para pengawal.

      Ningsri Dewi tampak lega, ketegangannya lenyap. Dia menatap pasukan pengawalnya. ”Tunggu apa lagi, kalian kembali ke pos!”

      Dalam sekejap para pengawal menghilang. Tinggal dua pasang suami isteri. Ningsri Dewi menoleh. “Kangmas pergilah, aku mau bicara dengan pendekar Wisang Geni.”

      Ruang tamu itu kosong. Tak ada orang.

      “Kamu benar-benar senopati yang berkuasa.” Wisang Geni menyukai gaya senopati wanita itu memerintah anak buahnya.

      “Aku penguasa resmi pelabuhan Jedung dan kawasan Tumapel Utara.”

      “Aku harus memanggilmu apa?”

      “Panggil saja Ningsri.”

      Wisang Geni mendekat. Tampak lebih nyata kecantikan wanita itu.

      Terpisah sejengkal, keduanya begitu dekat satu sama lain. Mendadak Ningsri Dewi menyerang dengan totokan ke pinggang dan dada. Namun Wisang Geni lihai melapis diri dengan tenaga wiwaha. Ningsri terkesiap totokannya tidak mempan. Saat itulah Wisang Geni menotok pinggang, meraih dan memeluknya.

      Ningsri Dewi lemas tak berdaya. Tetapi masih bisa protes.  “Lepaskan aku!” Serunya. “Kamu sudah kelewatan, kurangajar menghina penguasa…… Ayo buka totokanmu!”

      Geni tersenyum. “Aku melamarmu jadi isteriku.”

      “Lepaskan aku! Buka totokanmu!” Amarah Ningsri memuncak, dia mengulang teriakannya. “Le …. pas … kan… !”

      Wisang Geni meremas pantat dan menepuk pinggang Ningsri. Totokannya terbuka.

      Senopati itu menggeleng kepala, rambutnya yang sebatas dada terurai. “Ikut aku ke dalam, kita bicarakan pesan permaisuri Hyun.” Meskipun marah, tetapi dia masih bisa menahan diri, mengingat tugasnya membujuk  pendekar liar itu ke istana.

      Mereka masuk ke ruangan dalam yang cukup luas. Ada meja kursi dan amben, ada pintu menuju kamar pribadi senopati itu. Sebelum masuk Ningsri memanggil pelayan.

      “Kamu mau minum susu kambing campur tuak, kamu pasti belum pernah mencicipi masakan istimewa. Kamu mau makan apa? Kambing bakar?” Dalam sekejap Ningsri Dewi bisa berubah, tingkahpolanya lemah lembut dan suaranya lunak.

      “Bibirmu menggemaskan.” Sahut Geni.

      “Mau makanan yang kutawarkan tadi?” Ningsri Dewi ingat pesan Kim Mei bahwa muluknya pujian Wisang Geni adalah jurus merayu.

      “Mau asalkan makan bersamamu, biar bisa memandang kecantikanmu.”

      Pura-pura tidak mendengar pujian akan kecantikannya Ningsri Dewi memerintah dua pelayan wanitanya menyiapkan jamuan. Dia menoleh kepada Wisang Geni, tersenyum genit menggoda. “Tunggu di sini, aku mau ke kamar.”

      Ningsri melangkah genit. Dia melangkah perlahan, sekali dia menoleh kebelakang menangkap basah mata Geni yang melototi lenggok tubuhnya. Dia tertawa dalam hati.

      Pemandangan itu sangat memesona Wisang Geni. 

      Tidak lama kemudian Ningsri kembali.

      Wisang Geni masih terpukau akan kecantikan Ningsri. Matanya besar, bulu matanya lentik. Yang paling menarik dari wajah cantiknya adalah bibir yang tebal merah dengan mulut kecil. Bibirnya disemir gincu merah, basah. Lidahnya sering menjulur keluar membasahi bibir tebalnya.

      Dia duduk berhadapan dengan Wisang Geni. Terdengar suara pintu terbuka, beberapa pelayan masuk membawa nampan. Daging kambing panggang, dan susu kambing campur tuak. Setelah mengatur makanan di meja, para pelayan mundur dengan jalan jongkok.

      “Mbok kalian tetap di sini, temanin aku.”

      Inggih Ndoro.” Empat pelayan duduk bersimpuh.

      “Silahkan makan.” Kata Ningsri.

      Geni berdiri hendak duduk di sisi Ningsri. Wanita itu menolak. Dia bangkit dan pindah tempat. “Serem. Aku takut. Ayo makan dulu, jangan berpikir yang aneh-aneh. Makan sambil bicarakan urusan kita.”

      “Kambingnya enak.” Wisang Geni mencicipi.

      “Sudah tentu enak, aku sendiri yang masak. ini minum tuaknya.”

      “Benarkah kamu sendiri yang masak?”

      “Bukan aku, aku hanya mengawasi, tetapi resepnya aku yang mengajari.”

      “Kamu punya suami?”

      Ningsri menggeleng. “Tujuh tahun tak pernah bersama laki-laki sejak aku cerai dari adipati goblok itu. Suami pilihan ibuku. Hanya satu bulan kawin lalu cerai.”

      “Kamu cerai? Suamimu kasar, suka memukul?”

      “Mana berani dia pukul aku. Dia laki-laki lemah, dasar goblok.”

      “Siapa yang goblok?” Wisang Geni mengunyah daging yang lezat itu.

      “Yah suamiku itu. Aku kawin masih muda, umurku lima belas tahun.”

      “Sekarang umurmu duapuluh dua?”

      “Kamu pinter berhitung.” Pandangan Ningsri menyelidik.

      “Semasa kecil aku pernah belajar sastra.”

      “Sastra apa?”

      “Tulisan dan sastra Jawa kuno, sejarah raja-raja, falsafah dan pandangan hidup.”

      Senopati itu memandang kagum. “Tak kusangka laki-laki liar seperti kamu mengerti sastra.” Ningsri tersenyum. “Oh jadi Lemah Tulis juga mengajarkan sastra.”

      “Orangtuaku ponggawa utama pasukan istimewa keraton Kediri yang dipimpin Mahisa Walungan, adik raja Dandang Gendhis. Kami hidup di keraton. Tapi perang Ganter itu telah mengubah jalan hidupku. Kediri runtuh, orangtuaku mati dalam perang.”

      “Seharusnya kamu memusuhi Tumapel, tetapi anehnya kamu bersahabat dengan permaisuri Hyun dan Raja Ranggawuni?”

      “Mereka tidak terlibat perang. Lagipula pembunuh orangtuaku para pendekar bayaran Tumapel, semuanya telah kubunuh. Tak seorangpun yang kubiarkan hidup.”

      “Jika tak ada perang Ganter, tentu kamu menetap di keraton, kawin dengan wanita keraton, nyatanya sekarang keliaran di dunia persilatan dan mengawini perempuan siapa saja yang kamu temui. Mungkin tiap melihat wanita cantik timbul minatmu mengawininya. Baru bertemu aku, kamu lantas melamar ingin mengawiniku.” Ningsri tersenyum.

      Wisang Geni bukan lelaki tampan, tetapi tidak juga buruk rupa. Sebagian wanita menganggapnya menarik, fisiknya yang kekar dan matanya yang tajam, menyirat sifat jantan. Cerita yang terakhir itu, mulai menggeser penilaian Ningsri, tadinya menilai Wisang Geni laki-laki liar, kini kesan buruknya sedikit memudar.

      Melihat lelaki itu bermuram muka, mungkin tersinggung atau marah, Ningsri cepat mengalih pembicaraan. “Apakah ucapanku menyinggung perasaanmu?” Katanya sambil mendorong piringnya yang kosong. Dia selesai makan. Salah seorang pelayan membawa piring kecil berisi pinang-jerkat.

      Mulut seksi itu mengunyah dengan perlahan. Tampak Ningsri menikmati

      “Cuaca di sini panas, meski banyak angin, tetap saja panas. Sejak kecil aku terbiasa di gunung, udaranya dingin dan bersih.” Katanya sambil menginang.

      “Kamu suka nginang? Biasanya orangtua yang nginang.”

      “Nginang bagus untuk kesehatan mulut. Gigi dan gusi kuat. Mulut baunya wangi. Biasanya orang yang nginang itu ketagihan, tetapi aku tidak. Hanya pinang jerkat tanpa kapur sirih. Sehari bisa lima kali. Mau coba? Enak!”

      Wisang Geni suka berterus-terang. “Mulutku bau busuk?”

      Ningsri mengangkat pundaknya, isyarat tidak tahu. “Mungkin saja.” Katanya hati-hati.

      “Tapi aku belum mencium kamu.”

      Ningsri diam, mulutnya mengunyah, matanya memandang Geni dengan lembut. “Kamu suka berterusterang, aku juga suka berterusterang, dalam hal ini kita cocok. Jadi jangan tersinggung dengan ucapanku tadi.”


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com