Wisang Geni part Bab 20 bag 3
Posted on 31 Agustus 2014 ( 0 comments )
Bab 20 bag 3
“Berapa banyak lainnya?” Seru Gayatri, marah karena merasa dibohongi selama ini. “Selama ini kamu telah membohongi aku.”
“Aku tak tahu, tetapi tidak banyak.” Wisang Geni menyahut datar. Baginya urusan wanita yang menjadi isteri dan selirnya tak pernah diingatnya. Ketika masih beristerikan Walang Wulan, dia adalah suami yang setia, suami yang hanya memiliki seorang isteri. Namun sejak matinya Wulan, isteri tercintanya itu, dan sejak mendalami tenaga-dalam wiwaha dia tak lagi bisa menguasai nafsu birahinya.
“Bagaimana dengan suami kalian?” Urmila merasa heran, bagaimana mungkin Wisang Geni bisa memperisteri dua muridnya yang telah bersuami.
“Mereka tahu. Tapi tak ada yang berani protes.” Sahut Dyah Mekar.
“Mereka cari senang, kita juga cari senang.” Laras menambahkan dengan tertawa genit.
“Tak usah khawatir Gayatri, kami bukan isterinya, hanya singgahan jika kebetulan aku kasmaran atau Mas Geni ingin dihibur.” Tutur Dyah Mekar menggoda Gayatri.
Gayatri memandang Wisang Geni dengan sinar mata kecewa dan marah, saat berikut dia menggigit bibir. “Ada pesan Atis, minta dikubur di welirang, kamu suaminya, kamu bawa dia, naik kuda bersamamu.”
“Aku akan mencari dua kakek jahat itu. Akan kutagih hutang nyawa Atis.” Wisang Geni mengepal dua tangannya.
“Dia mati gara-gara ulahmu, semua isterimu mati karena dibunuh musuhmu. Dua kakek itu sangat membencimu karena pernah kamu permalukan, dia balas dendamnya kepada Atis. Aku juga nyaris terbunuh jika tidak ditolong Urmila.” Tutur Gayatri.
Wisang Geni menyahut santai. “Jika kalian berada bersamaku tak mungkin ada kejadian ini. Seharusnya kalian tidak perlu pesiar ke rumah Sekar.”
Suara Gayatri sinis. “Sekar bahagia. Rumahnya besar indah macam istana kecil, punya lima pelayan. Dia tak punya saingan, Samba hanya beristeri dia seorang. Dia memanjakan Sekar, semua keperluan Sekar dipenuhinya.”
“Apa maksudmu menceritakan?” Tegas Wisang Geni dongkol dan cemburu.
“Kamu pernah bertemu Samba, jika kamu teliti wajah Samba, akan kautemukan kemiripan Samba dengan Antaseno, bagai pinang dibelah dua.”
Melihat wajah Wisang Geni memucat, Gayatri tahu cerita itu telah menikam tepat di jantungnya dan menimbulkan sakit hati mendalam. “Kamu membohongi aku selama ini, sekarang rasakan betapa sakit-hatinya dibohongi Sekar.” Gayatri tertawa sinis. “Antaseno itu putra Samba, bukan anakmu, itu pengakuan Sekar kepadaku.”
“Kamu bohong.”
Gayatri menggeleng. “Kamu ingat ketika Sekar lima hari disekap pasukan Pranaraja? Lima hari tanpa henti Sekar menikmati percintaan dengan Samba. Empat tahun kemudian, di bukit Gugun, Samba menculik Sekar. Mereka sembunyi di dalam goa, melanjutkan kisah cinta yang tertunda. Ketika kutemukan, Sekar tertawa bahagia dalam pelukan suami barunya.“ Gayatri tertawa sinis. Suaranya bermuatan sakit hati dan gembira.
Wisang Geni masih pucat. Tadinya merasa superior bagaikan raja penguasa yang bisa mendapatkan perempuan yang disukainya. Kini dia terpukul, penuturan Gayatri didengar Dyah Mekar, Laras, Urmila sangat melukai kebanggaannya sebagai laki-laki.
Wajah Gayatri berseri, puas melihat Wisang Geni terluka. Dia juga heran, mengetahui tak ada lagi getar cinta dan rindu yang biasanya membara ketika bertemu suaminya setelah beberapa hari berpisah. Kini dia merasa hambar. Ternyata kebohongan suaminya itu telah menoreh luka besar dan mendalam di hatinya.
“Sekarang ini Sekar hidup damai dan bahagia. Sedangkan aku? Aku selama ini telah dibohongi suamiku.” Kata Gayatri.
Wisang Geni mendadak menanyakan sesuatu yang mengusik hatinya. “Angga apakah dia putriku?”
“Tentu saja dia anakmu, lihat, hidung mata mulut semuanya mirip kamu. Rambutnya hitam ikal, itu rambutmu. Rambutku lurus. Angga itu anakmu.” Tegas Gayatri sengit.
“Iya Anggreni anakku, putriku.” Tukas Wisang Geni, suaranya seperti keluhan seseorang yang terluka. Bukti bahwa Sekar melahirkan anak Samba, dan bahwa Antaseno bukan anaknya, itulah pukulan yang melukai batinnya.
Laras menggandeng lengan gurunya. “Ayo kita ke Welirang, kuburkan Atis menuruti pesannya.” Dyah Mekar memondong mayat Atis, meletakkan dipunggung kuda Wulung.
Urmila berkuda berdampingan Gayatri. “Maafkan aku, Gayatri. Bercinta dengan Geni terjadi begitu saja. Tak ada rencana. Geni itu perayu ulung, aku dan Shamita tergoda.”
Perasaan Gayatari galau, diaduk-aduk berbagai macam rasa. Urmila adalah sahabatnya. “Kapan kalian mulai berhubungan?”
“Setelah perpisahan dengan kamu. Sejak itu kami berdua menjadi kekasihnya. Memang kami bercinta, tetapi tidak sering.”
“Tidak bercinta dengan kalian, dia juga akan bercinta dengan wanita lainnya. Hari ini terbuka mataku bahwa Wisang Geni itu bukan suami dan laki-laki untuk aku. Temanku Sekar, kamu kenal Sekar kan? Dia cepat memutuskan pergi dan melupakan Geni, waktu itu aku menganggap keputusannya itu terburu nafsu. Kini aku mengerti, keputusan Sekar itu sangat tepat dan seharusnya aku pun mengambil keputusan yang sama.”
“Maksudmu kamu akan pergi meninggalkan suamimu?”
Gayatri mengangguk, pasti.
“Lantas bagaimana dengan anakmu?”
“Aku akan membawanya, dulu aku gagal memaksa Geni membiarkan Angga dibawa ayah ke Himalaya. Kini aku tak mau mengalah. Angga tak boleh hidup bersama ayahnya yang tukang kawin itu, suatu contoh buruk bagi Angga.”
“Pulang ke Himalaya?”
“Baru tadi aku berpikir pulang ke Himalaya. Aku akan bicarakan ini dengan guruku?”
“Kamu punya guru? Siapa?”
“Seruling Kencana, selama ini Angga hidup bersamanya di Welirang.”
“Aku ikut kamu. Aku merindukan masa-masa dulu, berpelukan denganmu semalaman.”
“Dulu kita bertiga dengan Shamita, kini Shamita tak ada lagi diantara kita.”
“Tak apa. Masih ada aku.” Urmila menoleh memandang mesra temannya.
“Katamu Shamita tewas, dibunuh?”
“Gara-gara ingin menjadi pendekar tangguh, kami berpikir jalan pintas yakni mendapatkan darah widali sakti. Mulailah hari-hari berburu widali sakti, kami berkeliling tanah Jawa mengira-kira dimana dia akan muncul. Pada akhirnya kami temukan tempat persembunyiannya, juga cara membunuhnya tetapi salah seorang diantara kami harus berkorban. Dan siapa yang menjadi korban adalah pilihan widali. Binatang sakti itu hanya menggigit leher dan mengisap darah korbannya. Karenanya kami membalur obat bius di leher kami berdua. Ternyata widali menggigit leher Shamita yang tewas seketika karena kehabisan darah, tetapi widali itu menjadi lemas karena obat bius. Aku cepat membunuhnya dan mengisap darahnya.” Tutur Urmila.
Gayatri tersenyum. “Pantas kulihat kanuraganmu kini lebih tinggi dari aku, tenaga dalam dan ringan tubuhmu maju pesat.”
“Itu berkat widali. Tapi dia juga membawa perubahan pada diriku.”
“Apa?”
“Tubuhku hangat. Nafsu birahiku lebih besar.”
“Kamu kasmaran pada Geni? Kupersilahkan kamu mendampingi dia.” Tegas Gayatri tersenyum. Dia tak merasa cemburu. Seakan cintanya pada Wisang Geni telah padam.
Urmila menggeleng kepala. “Kamu tak mau lagi dengan Geni, aku juga tak mau.”
Rombongan tiba di lereng gunung Welirang.
Gayatri berlari menuju rumah kecil dekat danau. Urmila mengikutinya. Seorang anak perempuan kecil, rambutnya dikuncir tertawa memperlihatkan lesung pipitnya. “Ibu… ibu…” serunya sambil berlari memeluk Gayatri.
Gayatri memeluk anak semata wayangnya. Memeluk erat sambil menangis, semua duka sakit hatinya tumpah dalam tangisnya.
Seruling Kencana menyapa muridnya. “Siapa yang menyakitimu muridku?”
Gayatri melepas putrinya lalu memeluk gurunya, menangis dalam pelukan sang guru. Dia mencurahkan perasaan sakit hatinya dibohongi Wisang Geni selama ini. “Guru, aku mau pulang ke Himalaya. Sudah tetap keputusanku.”
“Kamu harus bawa Angga.” Bisik sang guru. “Bujuk Angga sekarang juga.”
Gayatri memeluk putrinya. “Angga, kamu mau ikut ibu atau ikut Geni.”
“Aku ikut ibu, ikut Geni juga.”
Gayatri mengelus pipi putrinya. “Angga harus memilih, ikut ibu atau ikut Geni?”
“Kata eyang guru, aku harus ikut ibu. Karena ibu sayang aku. Tapi ibu tidak boleh pergi tinggalkan aku.”
“Ibu dan Angga akan selalu bersama, Ibu tidak kan pergi-pergi lagi.” Lalu Gayatri menoleh menatap gurunya yang tersenyum. Ternyata selama ini Seruling Kencana telah menanamkan dalam benak Anggreni agar lebih mencintai Gayatri katimbang Wisang Geni.
“Terimakasih Guru.” Bisik Gayatri.
“Sudah pasti pulang ke Himalaya?” Seruling Kencana bisa menebak pikiran muridnya.
Gayatri mengangguk.
“Aku ikut.” Tukas Seruling Kencana.
Mata Gayatri membelalak, kaget lalu tiba-tiba berseru. “Benarkah guru, kamu ikut?”
“Mana bisa aku pisah dengan Angga.” Gerutu nenek jubah kuning itu. “Dia telah memberiku cahaya dalam hidupku yang gelap selama puluhan tahun.”
“Bagus guru, aku senang tidak berpisah dengan kamu. Aku akan bereskan urusan dengan Wisang Geni. Jika dia masih ngotot mempertahankan Angga bersamanya, kalau perlu Angga akan kubawa kabur diam-diam.”
Seruling Kencana tertawa. “Bagus muridku, aku senang melihat semangatmu, jangan lagi jadi perempuan yang nerimo.”
Siang itu setelah mengubur Atis di pekarangan sisi rumahnya, Wisang Geni bersama Gayatri dan Urmila pergi ke rumah danau. Mereka makan bersama Seruling Kencana dan Anggreni yang duduk di pangkuan ibunya. Usai makan Wisang Geni memberi isyarat mengajak Gayatri dan Urmila ke tebing cinta. Maksudnya mau bercinta. Tetapi dua wanita itu menolak.
Wisang Geni memandang heran.
Gayatri menggeleng kepala. “Aku sedang tidak bergairah.”
“Aku ikut apa kata Gayatri.” Sahut Urmila agak sinis.
Tampak air muka Wisang Geni berubah, pucat lalu merah. Malu dan marah.
“Mas Geni, aku mau pulang Himalaya, bersama Angga.” Gayatri membuka percakapan, dia tahu percakapan mungkin akan meningkat jadi perdebatan.
Wisang Geni yang sedang kesal menyahut spontan, suaranya tinggi. “Tidak boleh. Angga harus bersamaku, dia anakku.”
“Dia anakku, aku yang melahirkan!” Tegas Gayatri. Matanya tak berkedip menantang.
“Tidak boleh.” Tegas Wisang Geni. “Jangan membantah.”
“Tidak bisa. Aku harus membawa anakku, aku tak mau dia dipelihara wanita wanita selirmu.” Suara Gayatri tegas dengan nada tinggi.
Seruling Kencana menyela. “Tidak baik bagi pertumbuhan jiwa Angga melihat ayahnya hidup dengan banyak isteri. Lagipula tidak mungkin ada wanita yang menyayangi Angga seperti kasih sayang ibunya sendiri, meskipun mereka isterimu atau muridmu.”
Wisang Geni terdiam.
“Lagipula kalau Angga ikut ibunya, kamu bisa bebas pergi kemana-mana, tak perlu khawatir Angga diculik musuh-musuhmu. Ingat Geni, musuhmu banyak, mereka mengintai kamu. Mereka tak mampu menandingi kamu, tetapi mereka akan membalas dendam dengan menyakiti Angga. Apakah kamu bisa mengawal Angga sepanjang hari, sepanjang bulan dan sepanjang tahun?” Tutur Seruling Kencana.
“Perjalanan ke Himalaya, sangat berbahaya. Mereka hanya berdua.” Tukas Wisang Geni, yang memang khawatir keselamatan Gayatri dan terutama Angga.
“Aku ikut bersama mereka.” Tukas Urmila yang dari tadi diam.
Wisang Geni menoleh memandang wanita cantik itu.
“Guru ikut bersamaku.” Tukas Gayatri.
Wisang Geni memandang Seruling Kencana.
“Aku ikut, mana mungkin aku berpisah dengan Angga.” Kata Seruling Kencana.
Wisang Geni memeluk erat putrinya. “Kamu mau ikut siapa? Ikut Geni atau ikut ibu?”
“Aku mau ikut ibu.” Angga menangis, dia tak tahu arti perpisahan, tetapi perasaan dan nalurinya yang murni membuat dia menangis.
“Kapan kalian berangkat?”
“Hari ini juga kita ke Jedung. Waktu pulang dari rumah Sekar, aku dengar kapal dalam perjalanan ke Jedung. Biasanya kapal akan menunggu muatan lima hingga tujuh hari. Kurasa kami masih punya waktu mengejar kapal itu.”
Tidak berapa lama Gayatri bertiga Urmila dan Seruling Kencana telah siap berangkat. Mereka mempersiapkan kuda putih dan kuda Urmila.
Tiba-tiba Wisang Geni berseru. “Wulung! Kamu ikut si Putih, betinamu.” Lalu kepada Anggreni dia berkata. “Angga, kuda Wulung itu untuk kamu!”
Anggreni gembira. Dia bersama Seruling Kencana menunggang si Wulung.
Memandang kepergian isteri dan putrinya, Wisang Geni berdiri mematung. Laras melirik gurunya. “Kamu tidak berduka, berpisah dengan Gayatri dan Anggreni?”
“Tentu saja berduka. Tak mungkin kamu bisa membaca perasaanku.”
“Nanti malam aku dan Dyah menunggu kamu di danau.” Bisik Laras.
“Lengar dan Prastawana sudah berangkat ke Lemah Tulis?”
“Mereka berencana pergi menemui isteri mudanya.” Bisik Dyah Mekar. “Mereka mengerti bahwa kita berdua akan mendampingi kamu, menghibur kamu yang sedang berduka kehilangan isterimu yang muda genit itu.”
“Kata Lengar, kamu yang perintah Prastawana dan Lengar ke Lemah Tulis menemui kakek Padeksa.” Tukas Laras. “Mereka bawa pesan apa?”
“Tidak ada pesan penting, hanya supaya mereka berdua pergi. Supaya aku bebas bercengkerama dengan kalian. Aku sedang berduka, jadi perlu hiburan, dan itu tugas Laras dan Dyah Mekar.” Kata Wisang Geni.
( Bersambung Bab 21 bag 1)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







