Wisang Geni part Two Bab 20 bag 2
Posted on 25 Agustus 2014 ( 0 comments )
Bab 20 bag 2
Wulung terkesiap. Tak disangkanya Atis memiliki jurus ampuh yang meloloskan diri dari serangannya juga membalas dengan jurus yang mengincar titik kematian. “Kurangajar rupanya pelacur kecil ini punya mainan yang hebat.”
“Kakek pelacur, mulutmu bejat. Inilah jurus agung ciptaan kakekku Sagotra.” Seru Atis tajam. “Jika dia tahu kamu berdua menghina cucunya, dia akan mencarimu, sembunyi di keraton pun kamu akan dikejar.”
Lagi-lagi Wulung terkesiap. “Kamu cucu Sagotra?” Namun dia tetap menyerang gencar, tujuan membunuh Atis secepatnya harus terlaksana.
“Memang iya, mau apa kamu?” Teriak Atis.
Saat itu Gayatri terdesak. Serangan kakek Wadung kejam dan telengas, mengincar kematian. Amarah membakar dadanya, Gayatri menyerang balik dengan jurus-jurus hebat dari kitab “lhakeswara” yang digabung dengan ajaran gurunya, nenek Seruling Kencana, kumpulan “pilih bumi melepas rembulan”.
Meskipun belum lama mendalami ilmu ajaran Seruling Kencana namun karena jurus-jurusnya memang hebat maka dari keadaan terdesak, Gayatri berbalik unggul atas angin. Tetapi Wadung tidak terima baik didikte gadis muda yang pantas jadi anak atau cucunya. “Wulung ayo kita gunakan jurus bersatu-padu, bunuh dua betina ini.”
“Jangan. Jangan. Dia cucu Sagotra, aku tak mau berurusan dengan si Tua Gila dari Merapi itu apalagi dia sudah hidup bersama Grajagan dan Pancasona.”
“Kita bunuh semuanya, dua-duanya biar tak ada saksi hidup, Sagotra si Gila itu tidak akan tahu.” Teriak Wadung.
Wulung yang tadinya enggan, terpaksa beraksi kembali. Dia menyerang gencar. Terdengar benturan tenaga. Atis terpental mundur, memang kalah tenaga, namun dengan waringin sungsang dia mampu melayang mundur mengurangi tekanan tenaga lawan.
Tapi jurus Wulung yang berikutnya tak terhindarkan, cakar macan yang beracun menggaruk dada Atis dari puncak payudara sampai dekat pusar. Lukanya dalam, sebagian daging koyak dan mengucur darah merah. Atis teriak kesakitan. Limbung dan jatuh.
Gayatri juga mengalami hal yang sama, benturan membuat tangannya kesemutan. Meskipun telah mengalami perkembangan pesat sejak melatih tenaga dalam Lhakeswara tetap saja Gayatri kalah matang. Jurus berikut akan berakibat sama dengan Atis, jurus cakar macan Wadung mengancam dada Gayatri.
Pada saat kritis itulah, bayangan berkelebat masuk arena tarung. Terdengar pekik nyaring seperti suara kucing, lalu suara lengking gadis jubah hitam bertopeng. “Kakek cabul kubunuh kalian!”
Gadis itu menggunakan serangkaian pukulan berantai, semuanya dari jurus-jurus mematikan. Dia menyerang Wadung sepenuh tenaga, niatannya membunuh sebelum kakek itu melukai Gayatri.
“Hei apa permusuhan kita, mengapa menyerang aku?” Seru kakek Wulung.
“Kau cari mati?” teriak kakek Wadung yang harus menarik kembali cakarnya yang nyaris membunuh Gayatri.
Gadis jubah hitam kaget mengetahui dua kakek itu sangat mumpuni, bahkan kerjasama keduanya melahirkan jurus bersatu-padu yang mematikan. Lalu dia berteriak kepada Gayatri. “Gayatri gunakan jurus Dinak Din Naachu Mein Gae Dil Jumne Zamana cepat!”
Bagaikan robot diperintah majikan, Gayatri cepat mengubah jurusnya. Gadis jubah hitam pun memainkan jurus sama. Itulah jurus andalan perguruan Himalaya yang artinya “aku menari, hati menyanyi dan dunia bergembira.”
“Siapa kamu? Malini?” Seru Gayatri. Dia memastikan Malini melihat ilmu ringan-tubuh dan tenaga-dalam yang tinggi serta ukuran tubuhnya yang tampak gemuk. Padahal gadis jubah hitam bertubuh langsing, hanya jubahnya longgar sehingga tampak gemuk.
“Jangan cerewet, kita hajar dua kakek cecunguk ini dulu, bicara belakangan!” Gadis itu bergerak lebih pesat dan bertenaga. Gayatri meskipun berusaha keras mengimbangi, namun tetap saja kalah dibanding gebrakan si jubah hitam. Namun jurus Himalaya yang memang khusus dimainkan dua atau tiga orang semakin trengginas.
Dua kakek itu terdesak hebat. Pikiran mereka bercabang menyaksikan goyang tarian Gayatri yang tubuhnya seksi gemulai. Jikalau saja gadis bertopeng melepas jubahnya dan ikut memperlihatkan tari dan goyang pinggul, dua kakek itu bisa makin terdesak.
“Ini jurus gila!” Teriak Wulung.
Atis berusaha bangkit, duduk, dadanya terasa panas. Seketika dia tahu cakar itu mengandung racun. Pikirannya bekerja keras, dia melihat meskipun Gayatri dan orang bertopeng itu masih bertahan terhadap serangan dua kakek itu tetapi hanya masalah waktu, tak lama lagi dua kakek itu akan menurunkan tangan jahatnya.
Tiba-tiba Atis berteriak. “Itu kakek Sagotra datang, katanya pergi tidak lama, nyatanya lama. Hei kakek cepat datang, cucumu dilukai orang, cepat Kek!”
“Lari! Tak ada gunanya diteruskan, jika si Gila Merapi itu datang bisa repot kita. Dia datang bertiga, cepat lari.” Teriak Wulung. Dua kakek itu melesat ke punggung kuda dan melecut kudanya kabur.
Menambah gertakannya Atis berseru pura-pura marah. “Kek kamu lama baru muncul, lihat cucumu dilukai orang.”
Berkata demikian tubuh Atis bergetar keras, lalu muntah darah.
“Atis……!” Gayatri menubruk tubuh temannya. “Atiiiissss…!”
Dia memeluk Atis yang pingsan, lengan dan lehernyanya membiru, racun telah merasuk cepat ke pembuluh darah. Kebayanya robek dibagian dada, tampak luka di payudaranya, lima goresan panjang yang berdarah. Sekitarnya hitam lebam.
“Tis bangun Tis. Apa yang harus kukatakan kepada mas Geni, bahwa aku tak sanggup membela dan melindungi kamu?”
Tangan itu memegang pundaknya. “Sudahlah Gayatri. Dia keracunan keras, lihat parasnya sudah membiru. Dia sekarat.” Suara si Jubah hitam.
Gayatri menoleh. “Siapa kamu? Kamu dari Himalaya, menguasai jurus Dil Jumne Zamana warisan ayahku? Urmila?” Tiba-tiba Gayatri lompat sambil teriak. “Benar kamu Urmila, matamu tak bisa menipu aku!”
Mereka berpelukan.
Tetapi belum juga melepas rindu, saat berikut Gayatri mendengar suara Atis yang mengeluh. Dia kembali sadar keadaan Atis temannya. Dia melompat menghampiri Atis.
Tangan Atis bergerak perlahan, matanya membuka. “Mbakyu… dingin mbakyu….. Mana mas Geni? Sampai…kan selamat … tinggal padanya. Katakan Atis …. mencintainya… sampai mati.” Suara Atis terdengar lirih dan putus-putus, tetapi Gayatri bisa mendengar semua kata-katanya.
Gayatri jongkok memeluk Atis dan menangis keras. “Tis jangan mati…. Tis…. Aku bagaimana… sendirian…. Tis jangan mati….”
Atis mati dengan bibirnya menyungging senyuman.
Gadis jubah hitam mengelus pundak Gayatri menghiburnya agar berhenti menangis.
“Benarkah kamu Urmila?” Suara Gayatri masih berbaur isak tangis.
“Benar, aku Urmila, putriku.”
“Jangan panggil aku putri, panggil Gayatri.” Gayatri memeluk Atis, menangis keras. Meskipun Atis saingan dalam percintaan tetapi gadis muda itu tetap sahabatnya.
Urmila membiarkan Gayatri menangis. Dia terbiasa memanggil Gayatri dengan panggilan tuan putri karena Gayatri anak Yudistira, majikan dan gurunya. “Sekarang kamu ramah padaku, nanti kamu akan marah padaku.”
“Aku tak akan marah padamu, Urmila, apapun kesalahanmu.”
“Benarkah? Apapun kesalahanku?”
“Benar apapun kesalahanmu.” Tegas Gayatri.
“Awas, jangan ingkar, jangan menjilat ludahmu kembali, yah?” Berkata demikian Urmila melepas kerudungnya. Tampak paras jelita wanita Himalaya.
Urmila jongkok di sisi Gayatri dan memeluk sahabatnya itu. Gayatri balas memeluk anak buahnya yang juga kakak perguruannya. Mereka tak berbeda usia.
“Mana Shamita?”
Kini Urmila yang menangis. “Dia mati. Ceritanya panjang. Kuceritakan nanti, dia mati berkorban jiwa untuk aku.”
Gayatri kembali memeluk Atis di pangkuannya. “Apa yang harus kita lakukan dengan mayat Atis?” Gayatri bertanya.
“Dimana Wisang Geni? Kita bawa ketempat Wisang Geni dan perguruan Lemah Tulis.” Tukas Urmila.
Wadung dan Wulung berkuda lewat depan warung dimana Wisang Geni duduk santai diapit dua muridnya yang mabuk cinta Dyah Mekar dan Laras. Hanya mereka bertiga. Beberapa murid lain sedang berlatih silat jauh di hutan pinggiran.
“Wisang Geni, isterimu yang genit Atis berkelahi dengan wanita Himalaya, mereka saling bunuh di warung. Cepat lerai mereka, atau kamu kehilangan nyawa isterimu.” Teriak Wadung sambil melecut kudanya berlari cepat.
“Hei Wadung, berhenti dulu.” Wisang Geni berteriak keras.
Dari kejauhan dua kakek tertawa keras. “Wisang Geni, aku telah membunuh isterimu yang muda, si Atis, kuperkosa lalu kubunuh ….” Teriak Wulung.
Terkesiap. Sesaat Wisang Geni bingung, antara percaya atau tidak ucapan dua kakek itu. Saat berikut dia bersiul memanggil kuda Wulung. Dia lompat ke punggung kuda.
Laras melompat ke kudanya sendiri. Dyah Mekar tak mau ketinggalan lompat ke punggung Wulung, tepat dipangkuan gurunya. Tangan gurunya memeluk erat dadanya. Dyah Mekar tertawa. “Kalau Pras melihat kamu memegang dadaku dia pasti cemberut.”
“Mana berani dia marah sama gurunya. Gajah Lengar pun tak berani marah kepadanya paling-paling dia merengut padaku. Tetapi begitu kuelus dan kuhibur, luruh marahnya.” Laras tertawa geli. “Lagipula mereka punya isteri muda di desa tetangga, apa salahnya kalau kita jadi selirnya mas Geni.”
“Panggil aku guru.” Seru Wisang Geni.
“Emoh, aku mau panggil mas Geni atau Geni saja…” Dyah Mekar tertawa, sambil mendekap erat tangan gurunya merapat ke dadanya.
Wisang Geni tertawa. “Pernahkah mereka menanyakan hubungan kita?”
“Prastawana punya isteri di kampung tetangga, jadi kalau aku sekali-sekali mencari kesenangan bercinta dan menjadi selirmu, mana bisa dia protes?” Tukas Dyah Mekar datar.
Sebenarnya hubungan segitiga Dyah Mekar, Laras dengan gurunya telah cukup lama terjalin namun mereka tidak sering bercinta. Kalaupun bercinta itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tetapi beberapa bulan belakangan ketika Prastawana dan Gajah Lengar terang-terangan mengaku punya isteri muda, karuan memicu kemarahan Dyah Mekar dan Laras yang lantas lebih sering menggoda gurunya untuk bercinta. Dan Prastawana tak berdaya menentang gurunya, meskipun dia pernah berdebat dengan Wisang Geni, namun dimatanya Wisang Geni adalah raja dan penguasa Lemah Tulis.
Banyak murid Lemah Tulis mengetahui Wisang Geni yang menyukai perempuan. Mereka tahu bahwa tidak hanya Dyah Mekar dan Laras, atau Prawesti yang menjadi isteri Wisang Geni, tapi beberapa murid lain juga pernah bercinta dengan sang guru. Tersiar dari mulut ke mulut di kalangan murid perempuan bahwa sang guru jantan perkasa.
“Gajah Lengar juga punya isteri di desa tetangga, dia tahu aku sering tidur bersama gurunya, tetapi mana berani dia protes. Mereka berdua, Pras dan Lengar mengawini dua gadis bersaudara, terkenal cantik dan masih muda, usia enambelas dan tujuhbelas.” Kata Laras dengan mimik cemberut.
Mendengar penuturan dua muridnya, Wisang Geni tertawa puas.
Tidak berapa lama tiga guru dan murid itu tiba di warung. Wisang Geni melompat dari punggung kuda bersamaan dengan Dyah Mekar dan Laras. Melihat kedatangan suaminya Gayatri melompat memeluk. “Mas… Mas Geni… Atis mati… dibunuh dua kakek itu.”
“Siapa yang membunuh?” Wisang Geni melepas pelukan isterinya sambil menghampiri mayat isterinya yang paling muda itu.
“Dua kakek itu…”
“Tadi aku bertemu dengan mereka, katanya kalian berdua bertarung, saling mengancam membunuh.” Tukas Wisang Geni sambil lalu.
“Mereka mengadu domba kita. Kami tak pernah bertengkar.” Tegas Gayatri.
“Katakan yang jujur Gayatri,” seru Wisang Geni.
Mata Gayatri melotot, marah karena merasa dituduh membunuh Atis.
Urmila memotong cepat. “Aku saksinya, tanya juga pemilik warung ini, dua kakek itu yang membunuh Atis dengan jurus cakar macan. Coba kamu periksa lukanya.”
Dyah Mekar berseru. “Guru, lihat ini bekas cakar macan beracun.”
Wisang Geni memeriksa. Bekas cakar di dada Atis yang sudah menghitam. “Benar ini perbuatan Wulung dan Wadung hanya mereka yang memiliki cakar macan beracun.”
Gayatri diam. Dia sakit hati dituduh membunuh Atis. Matanya mengawasi Dyah Mekar dan Laras. Tadi dia melihat Dyah Mekar menunggang Wulung berdua Wisang Geni, duduk di pangkuan suaminya. Dia mengawasi Laras. Wajah dua murid itu berseri-seri.
“Tuduhan Sekar benar, Geni bercinta dengan Laras dan Dyah.” Katanya dalam hati.
Sebenarnya telah cukup lama dia mencurigai Wisang Geni. Ketika mereka menetap di Welirang, seringkali suaminya pergi ke Lemah Tulis, sendirian. Alasannya melatih para murid. Ternyata bohong semata. Gayatri cemburu, sakit hati karena dibohongi.
Terdengar suara Wisang Geni menegur Urmila. “Kamu Urmila?”
Urmila mengerling genit. “Kamu tinggalkan aku begitu saja.”
Semua orang yang berada di situ bingung mendengar ucapan Urmila. Ucapan yang membongkar rahasia percintaan yang tersembunyi.
Melihat Wisang Geni berdiam, Urmila melanjutkan. “Ayo Mas Geni ceritakan kepada isteri-isterimu ini, katakan siapa aku!” Tegas Urmila tanpa merasa malu.
Didesak demikian Wisang Geni berkata tegas. “Urmila ini juga isteriku, kami telah menikah, aku lupa kapan, tetapi sudah berlangsung cukup lama.”
Tangan Gayatri menutup mulutnya saking kaget. Begitu juga Dyah Mekar dan Laras.
“Kamu isteri mas Geni?” Gayatri memandang tak percaya.
Urmila mengangguk. “Ingat janjimu, kamu tidak akan marah padaku.”
“Isteri mas Geni masih banyak lainnya.” Tegas Dyah Mekar.
“Apa maksudmu?” Gayatri bingung.
“Aku dan Laras juga isterinya.” Tegas Dyah Mekar. “Sudah lama.”
“Tapi kalian berdua isteri Prastawana dan Gajah Lengar.” Potong Gayatri.
“Kami berdua isterinya.” Tegas Laras. “Drupadi bersuami lima orang Pandawa, aku dan Dyah hanya dua orang suami.” Laras tertawa geli melihat mimik Gayatri yang putih pucat. Saat berikut wajahnya merah padam karena marah.
Wisang Geni garuk-garuk kepala. “Benar, mereka juga isteriku. Kalian semua isteriku, sebenarnya selir dan isteri sama saja.”
“Berapa banyak lainnya?” Seru Gayatri, marah karena merasa dibohongi selama ini. “Selama ini kamu telah membohongi aku.”
(Bersambung Bab 20 bag 3)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







