Wisang Geni part Two Bab 20 bag 1
Posted on 25 Agustus 2014 ( 0 comments )
Bab Duapuluh
Pulang
(Bab 20 bag 1)
Matahari pagi mulai bersinar. Wisang Geni sedang makan bersama para muridnya. Rutinitas tiap hari, dari pagi sampai senja berlatih silat di hutan kawasan Timur Jedung.
Setelah melepas lelah Prastawana dan para murid mempersiapkan kuda masing-masing. “Kamu tidak ikut?” Prastawana bertanya pada isterinya.
Dyah Mekar memandang dengan mimik yang sulit diartikan, menyahut datar, “aku capek, istirahat di sini menemani guru.”
Prastawana menatap tajam. “Baiklah, berbuatlah sesukamu.”
“Hei Pras pergilah menjenguk si genit itu.” Tukas Dyah Mekar marah.
Laras juga menolak ikut. Dia menyahut ketus ajakan suaminya Gajah Lengar. “Aku di sini menemani mbak Dyah. Pergilah ke kampung isteri mudamu.”
Gajah Lengar tertawa. “Temani guru, senangkan hatinya supaya dapat tambahan jurus.”
Rombongan menghilang dalam kerimbunan hutan. Dyah Mekar menarik tangan Laras, lalu sama-sama melangkah masuk kamar dimana Wisang Geni sedang berbaring telentang.
“Mas kamu melamun siapa? Gayatri dan Atis?” Dyah Mekar melempar diri berbaring di sisi gurunya. “Sekarang hari kelima, janjinya kan tujuh hari. Lagipula ada kami berdua, buat apa pikirkan mereka.”
“Mereka telah pergi? Semuanya?” Wisang Geni bertanya.
“Semua. Hanya kita bertiga di sini.” Laras sambil tersenyum genit duduk dekat gurunya. “Gayatri dan Atis tidak ada, tetapi ada kami berdua yang melayani kamu.”
Senja hari Laras terbangun. Kaget mendengar suara dari luar rumah. “Dimas Wisang Geni, kamu di dalam rumah? Aku, Pamegat.”
Laras menepuk pantat Dyah Mekar. “Bangun Dyah, ada orang! Mas Geni bangun, Pamegat mencarimu!”
“Kalian keluar dulu, temui Pamegat.”
“Mereka curiga melihat kita bertiga.”
“Katamu tadi, kamu tak perduli omongan orang, yang penting gurumu mencintaimu. Sudahlah kalian berdua temui dia. Jangan lupa pakai baju.”
“Yah sudah tentu pake baju, mosok bugil?” Gerutu Laras.
Dua wanita cantik itu keluar tergopoh-gopoh. Begitu berada di luar kaget melihat serombongan orang, tepatnya pasukan keraton. Diantaranya beberapa ponggawa wanita.
Keduanya tak sempat menata rambut yang awut-awutan. Keduanya terpahna sesaat, ada rasa malu, merasa rahasia hubungannya dengan sang guru telah diketahui orang.
“Guru sedang tidur di kamar sebelah. Apakah urusannya penting?” Kata Laras.
“Yah urusan penting.” Ujar Sang Pamegat.
Laras bergegas masuk kamar. “Mas bangun, temuin Pamegat, aku tadi ngomong kalau kamu tidur di kamar lain. Kamu keluar dari kamar sebelah.”
Kim Mei, isteri Sang Pamegat, menggerutu, “temanmu tidak waras. Itu muridnya bukan isteri kok tidur sekamar. Awas loh kangmas, jangan ketularan, itu penyakit menular.”
Sang Pamegat berbisik lirih. “Mana bisa aku nyeleweng, kamu selalu berada di sisiku, lagipula cintaku dan perhatianku selalu tercurah kepadamu.”
Ponggawa wanita disebelah Kim Mei nyelutuk sinis. “Pendekar liar, tidak punya tata-krama, sungguh celaka aku ditugaskan berurusan dengannya.”
“Hati-hati Ning bergaul dengan Wisang Geni.” Bisik Kim Mei tersenyum licik. “Dia penakluk wanita!”
Ningsri ingat, sejak sore sampai malam kemarin, Kim Mei telah memberinya kursus kilat tentang latar belakang Wisang Geni, sebagian kisah petualangannya, kebiasaan buruk dan juga ilmu-silatnya yang tinggi.
“Waktu itu aku melihatnya sebagai pendekar muda berilmu tinggi. Tadinya dia rendah hati, tidak sombong. Kini jauh berubah, ada tattoo kelelawar di dadanya, itu jurus silatnya lalawa mengepak sayap. Konon tattoo itu menantang seluruh pendekar tanah Jawa untuk menjajal kanuragannya. Dia kini temberang, sombong dan memandang enteng semua orang. Tentang wanita, dia permainkan semua isterinya, jika suka dia tiduri, jika bosan pergi mencari yang lain. Gilanya hampir semua wanita jatuh cinta dan kasmaran padanya.”
Ningsri menggumam. “Huhhh… kamu sendiri jatuh cinta juga?”
“Tidaklah. Kim Mei sudah jadi milik Sang Pamegat, tinggal di keraton, sudah punya anak, aku bahagia, lagipula aku tak pernah bicara dengan Geni, tidak akan jatuh cinta padanya, cintaku mutlak milik suami dan anak-anakku.”
“Tampaknya dia liar dan buas.” Tukas Ningsri dengan ketus.
“Sebuas-buasnya binatang bisa ditaklukkan oleh sang penjinak, kupikir Wisang Geni bisa dijinakkan oleh wanita yang cerdas dan yang mengerti cara menaklukkan.”
“Ajari aku, Kim Mei. Bagaimana menaklukkan Geni yang liar dan buas itu.”
“Mau jadi isterinya?”
“Apa? Jadi isterinya?” Seru Ningsri lalu menyambung dengan ketus. “Emoh. Sekali tidak, selamanya tidak. Aku bisa mati dirongrong sakit hati.”
Hari itu Ningsri melihat penampilan pendekar liar itu. Dia membenarkan kata Kim Mei, laki-laki itu sombong dan temberang. Dia perayu ulung terbukti dengan dua muridnya yang mau jadi selirnya. “Ini hari pertama aku bergaul dengannya. Entah berapa banyak hari lagi baru aku lepas dari tugas menjengkelkan dan jijik ini.” Gerutunya dalam hati.
Wisang Geni muncul dengan telanjang dada, tampak tattoo kelelawar di dadanya. “Oh Kangmas Pamegat, ada urusan apa, dadakan kamu mencari aku?”
“Dimas. Aku mengantar senopati Ningsri Dewi, kini penguasa yang ditunjuk keraton mengepalai semua urusan kawasan Utara dan Timur Tumapel.” Pamegat menunjuk penunggang kuda di samping Kim Mei.
“Senopati? Wah hebat, aku baru tahu ada senopati perempuan.”
“Memang kenapa kalau aku perempuan, pikirmu hanya lelaki yang bisa jadi senopati?” Suara Ningsri Dewi tinggi. Dia kesal karena harus berurusan dengan pendekar liar.
Sejak menerima tugas dari kerajaan sebagai penguasa Jedung dan harus berurusan dengan Wisang Geni, dia bertanya kepada banyak orang tentang Wisang Geni. Semua menjawab sama. Kanuragannya tinggi, pendekar nomor satu tanah Jawa, isterinya banyak, selirnya banyak dan kelakuannya liar. “Dia lebih liar dari orang yang paling liar, bercinta dengan murid sendiri, itu perbuatan gila.” Gumamnya dalam hati.
“Maaf aku lancang dan telah menyinggung perasaan senopati Ningsri Dewi, senopati cantik jelita. Lupakan yang telah kukatakan tadi.” Wisang Geni merunduk memberi hormat. Lalu tegak lagi dan menenggak tuak dari bumbung.
Sang Pamegat tertawa geli dalam hati. Ningsri senang dihormati dan dipuji cantik. Tetapi tidak memperlihatkan, air mukanya tetap kaku dan masam.
Kim Mei berbisik. “Waspada dengan tuturnya, dia pandai mengumpak dan merayu, kamu harus hati-hati, dia telah menyerangmu dengan jurus pertamanya, memujimu.”
Ningsri menoleh dan berbisik. “Akan kuingat semua nasihatmu.”
Salah seorang ponggawa wanita yang berada di ujung kiri memberi hormat dengan merangkap dua tangannya. “Kami datang dengan maksud baik. Ingin berkenalan dengan pendekar nomor satu Tanah Jawa Wisang Geni.”
“Maksud baik? Maksud baik apa?” Dyah Mekar mewakili gurunya.
“Pemimpin kami punya maksud baik,” kata ponggawa wanita berusia tigapuluhan. “Ingin bicarakan hal penting dengan pendekar Wisang Geni.” Suaranya datar tapi santun.
Wisang Geni menunda minumnya. Matanya mengamati senopati wanita itu. Meskipun dibungkus busana ponggawa yang resmi namun tampak jelas potongan tubuh wanita itu proporsional. Parasnya cantik dengan rambut panjang sebatas dada yang diikat rapi. Dia tampak anggun di atas punggung kuda hitamnya yang bersurai putih kecoklatan.
“Apa urusannya?” Tanya Wisang Geni.
“Namaku Ningsri Dewi, aku membawa pesan dari keraton.” Tegasnya tanpa basa-basi, sebagaimana seharusnya perkenalan pertama.
“Katakan pesannya, akan kupertimbangkan untuk melaksanakan.” Tegas Wisang Geni yang matanya tetap melahap kecantikan wanita itu. Dan dia tidak menyembunyikan rasa kagumnya membuat paras wanita yang putih macam kapas tampak merah. Merah karena malu dan juga karena keringatan disengat matahari.
“Apakah kamu bisa meluangkan waktu mengunjungi rumah kepala desa Karambang, di situ tempatku bekerja. Aku membawa pesan penting dan rahasia dari adik perguruanmu yang adalah murid Gajah Watu.” Kata Ningsri.
Wisang Geni terkesiap. Dia menyahut melalui ilmu pendam suara. Hanya Ningsri Dewi yang mendengarnya. “Maksudmu permaisuri Waning Hyun?”
Diluar dugaannya, wanita cantik itu juga menyahut dengan ilmu suara tanpa wujud. “Benar. Siapa lagi kalau bukan permaisuri Hyun.”
Laras menyela pembicaraan. “Setahuku kepala desa Karambang bernama Setiati.”
“Setiati dan Gajah Pringgon kini bawahan majikanku senopati utama Ningsri Dewi.” Kata wanita yang tadi membuka percakapan.
Laras yang tadinya ingin mempermalukan senopati cantik itu, terdiam.
Wisang Geni meneliti lebih seksama. Cantik dan seksi. Sinar matanya tajam, bulu matanya lentik. Namun Wisang Geni menyembunyikan rasa kagumnya. “Tak kusangka aku diundang senopati utama Tumapel, aku akan datang, tiga atau empat hari lagi.”
Paras Senopati Ningsri Dewi berseri. Dia tersenyum senang. “Terima kasih telah menerima undanganku. Aku tunggu kedatanganmu, sekarang aku kembali ke Karambang.”
Sang Pamegat tertawa senang. “Beres sudah urusanku memperkenalkan senopati Ningsri Dewi. Selanjutnya aku pamit bersama isteriku, kami masih punya urusan lain.”
“Terimakasih kangmas, telah mampir.”
Rombongan itu pergi meninggalkan tiga orang Lemah Tulis itu.
“Mungkin urusannya penting atau dia hanya mencari-cari jalan bertemu dengan guru. Yah siapa tahu?” Dyah Mekar menggoda gurunya. Dia tadi memperhatikan mata gurunya yang memandang kagum kecantikan Ningsri Dewi. Hatinya terbakar cemburu.
Laras juga dibakar cemburu. Dia menggoda dengan sinis. “Mas Geni, kulihat matamu melotot tampaknya kamu ingin mengunyah mentah-mentah senopati itu.”
Wisang Geni hanya menoleh sekilas lalu tersenyum kepada dua wanita muridnya itu lalu meneruskan menenggak tuak. “Aku lapar, mau makan, kalian cari makanan dulu.”
Hampir setiap hari gadis jubah hitam menanyakan kepada pemilik warung, namun jawaban tetap sama. Dua wanita itu belum kembali. Hari itu hari keenam berada di desa, gadis jubah hitam merasa bosan menunggu. Matahari terik, udara panas, dia menunggang kuda menuju pantai Utara yang tidak jauh dari warung. “Aku ke pantai, tidak lama.” Katanya kepada pemilik warung.
Gayatri dan Atis menunggang kuda, tidak bergegas. Karena matahari terik keduanya menjalankan tunggangan dengan santai, untuk menghindari debu. Mereka memasuki desa. “Kita istirahat minum air kelapa.” Kata Atis. “Di warung yang kemarin kita singgah.”
Dua wanita cantik ini masuk warung. Pemilik warung senang karena akan mendapat persenan dari si jubah hitam. Dia menyuruh putranya ke pantai memanggil sang tamu.
Dua kakek itu mengenali Atis, tetapi tidak mengenal Gayatri.
“Hei kamu, Atis, isteri Wisang Geni!” Tegur kakek bernama Wulung.
Atis terkesiap. Tak menyangka bertemu dua musuh suaminya yang berilmu tinggi itu di desa terpencil. Dia berbisik kepada Gayatri. “Mbakyu, mereka musuh kangmas Geni.”
“Masih ingat sama aku? Namaku Wulung. Persis nama kuda milik suamimu, dan kamu pelacur genit yang mengolok aku kakek pelacur? Masih Ingat?” Kakek bernama Wulung menegur dengan nada marah.
“Mana Wisang Geni? Laki-laki sombong, mana dia? Akan kugunduli rambutnya yang ubanan!” Seru Wadung tak kalah bengisnya.
Dua orangtua itu tidak lain dua sesepuh baju putih keraton Tumapel, kakek Wulung dan Wadung. Mereka pulang tugas. Satu bulan melakukan perjalanan ke ujung Timur, menyisir pantai Timur kawasan selat Bali. Dari Tanjung Keben di Blambangan pantai Selatan mereka pulang ke arah Utara menyisir Tanjung Canding dan terakhir di desa Tongas Utara. Tugasnya mengamati daerah pantai Timur. Itulah tugas rahasia dari Sang Pamegat.
Atis mengenal dua kakek itu, tahu sampai dimana tingginya ilmu-silat mereka. Tak mungkin mampu menghadapi dua kakek itu meskipun dibantu Gayatri. “Mbakyu kita lari saja.” Bisiknya lirih.
Gayatri yang tidak mengenal dua kakek itu tidak tahu batas kepandaian dua orangtua itu. Namun mendengar ucapan Atis, suara dan tubuh temannya yang gemetar seketika dia tahu dua musuh itu dari kalangan kelas utama.
Muncul akal licik Atis. “Kamu mencari Wisang Geni, tunggu di sini, tak lama lagi dia datang menjemput kami. Tapi aku yakin kalian akan lari terbirit-birit. Jadi pergilah sekarang, mumpung dia belum datang. Daripada kalian dihajar habis-habisan dengan ilmu kelelawarnya.” Seru Atis memberanikan diri.
Dua orangtua itu saling pandang, seakan mengerti suasana. Tetapi mereka berpikir kebalikan dari kemauan Atis.
Wisang Geni tidak ada, inilah kesempatan bagus membalas dendam. Membunuh Atis sebelum Wisang Geni muncul, ketika dia muncul maka dia akan terguncang melihat isterinya mati. “Cepat bunuh dia!” Teriak Wulung.
Sambil berteriak, Wulung bergerak pesat menyerang Atis dengan pukulan mematikan. Atis tak menyangka kata-katanya justru memancing musuh untuk menyerang dengan jurus mematikan. Tetapi Atis yang kini ilmu-silat dan tenaga dalamnya lebih berkembang, tidak tinggal diam. Begitu juga Gayatri, sejak tadi telah siap siaga.
Ketika Wulung menyerang Atis, Wadung pun tidak berdiri diam. Cepat dia menyerang Gayatri dengan pukulan telengas. Dia tak tahu bahwa Gayatri adalah isteri Wisang Geni, namun melihat dua wanita itu datang bersama-sama, pasti teman dekatnya.
Seketika terjadi pertarungan sengit dalam warung yang membuat beberapa kursi meja jungkir balik dan patah berkeping-keping.
Pemilik warung, isteri dan anaknya berteriak-teriak. “Jangan berkelahi di sini, warung bisa hancur. Berkelahi di luar.”
Empat orang sambil tetap saling menyerang bergerak keluar warung.
Memasuki duapuluh jurus, cengkeraman cakar macan Wulung menggaruk lengan Atis yang berteriak kesakitan. Gayatri tidak sempat menolong karena juga berada dalam tekanan jurus-jurus hebat kakek Wadung.
Jurus berikutnya, pukulan keras mengarah perut memaksa Atis mundur satu langkah, Wulung pun mengirim tendangan maut ke dada isteri Wisang Geni itu. Disaat kritis, Atis bergerak dengan ringan-tubuhnya yang paling dia andalkan “waringin sungsang” sambil menjotos berturutan “bahni anempuh toya” (api menyerang air) dan “bhaskarogra” (matahari memuncak panasnya) dua jurus dari “bang bang alum alum” (semua merah, semua hidup, semua mati) ciptaan pendekar merapi, Ki Sagotra, kakek Atis.
Wulung terkesiap. Tak disangkanya Atis memiliki jurus ampuh yang meloloskan diri dari serangannya juga membalas dengan jurus yang mengincar titik kematian. “Kurangajar rupanya pelacur kecil ini punya mainan yang hebat.”
( Bersambung Bab 20 bag 2)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







