Wisang Geni part Two Bab 19 bag 3

Posted on 20 Agustus 2014 ( 0 comments )


Bab 19 bag 3

Sesaat Sekar ragu kemudian berkata. “Terus terang saja, empat tahun lalu aku pernah bimbang ketika Mahamenteri Kediri niat memboyongku ke istana dikawinkan dengan Samba adiknya. Samba juga membujuk aku.”

Sekar tertawa dalam hati. “Lima malam itu dia telah mendapatkan diriku, dan aku juga menemukan lelaki dalam diri Samba yang seharusnya menjadi pasangan seumur hidupku. Aku mengkhianati suamiku, tapi apa daya, rayuan dan sosok Samba begitu memesona membuat aku tak bisa lagi berpikir jernih. Hari pertama itu juga aku sudah terjerat dalam cinta terlarang. Tak kusangka lima malam itu sangat membekas dalam diriku, malah aku yakin terjadi pembuahan. Belakangan aku menyesal karena seharusnya waktu itu aku menerima ajakan Samba ke istana Kediri.”

Dia melanjutkan. “Sepertinya aku ingin menerima tawaran itu. Tapi kemudian kutolak, aku masih kasmaran pada Geni. Aku berbuat kesalahan besar karena telah menolak. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku bosan dan letih selalu memberi kepada Wisang Geni. Tidak ada timbal-balik. Dalam hatiku terpendam mimpi ingin dilayani seorang suami. Ternyata karma berpihak padaku.” Dia menceritakan kejadian diculik disembunyikan Samba di goa. “Mau bilang apa lagi, hari itu juga aku cinta padanya, sungguh aneh? Dan aku tak mau mengulang kesalahanku lagi, aku tidak menolak dia malah aku merangkulnya, mencintainya dan menyediakan diri sebagai abdi dan isterinya. Itulah permainan karma, aku bahagia Tis, sangat bahagia.”

“Tunggu Sekar. Katamu, yakin terjadi pembuahan. Aku tidak mengerti. Ayo jelaskan, aku ingin tahu, kisah cintamu ini menarik.” Gayatri mendesak. Matanya menatap tajam sepasang mata bening Sekar yang dihiasi warna hitam di ujung kelopaknya.

Sekar tertawa senang. “Antaseno itu putra Samba, bukan anak Wisang Geni.”

Karuan saja Gayatri dan Atis kaget, bukan alang-kepalang. Dua wanita itu melongo dengan mata membelalak.

“Seorang wanita pasti tahu kejadian seperti itu, naluri wanita, firasat. Kamu juga bisa merasakan saat terjadi pembuahan yang melahirkan Angga, benarkah?”

Gayatri mengangguk. “Kamu pasti Seno itu putra Samba?”

“Pasti. Ketika aku mengajak Samba ke Lembah Bunga, nenekku begitu heran dan takjub melihat paras Seno dan Samba yang mirip satu sama lain. Mata dan hidung serta bentuk mukanya. Ketika kujelaskan, nenek tidak begitu kaget.”

“Apakah mas Geni sudah tahu rahasia itu?” Desak Gayatri.

“Samba begitu tahu Seno putranya seketika dia menangis bahagia, dia makin cinta padaku dan minta aku melahirkan lagi anaknya. Tentang hal itu Geni belum tahu. Aku belum mau memberitahu, pasti akan sangat menyakiti hatinya.”

“Lambat atau cepat, Geni akan tahu.” Kata Gayatri.

“Boleh saja kau beritahu dia.” Ketika itu pelayan datang. “Ndoro Putri, santapan telah siap di serambi belakang, Paduka Raden menanti Ndoro Putri dan tetamu.”

Sekar mengajak dua temannya. “Ayo makan.”

Makan sambil ngobrol. Aneka masakan daging kambing, rusa, ikan bakar dan minuman tuak campur susu kambing.

Gayatri dan Atis menikmati santapan lezat.

Tangan Samba merangkul  isterinya, ”kamu kelihatan gembira ketemu teman lama.”

“Sejak mengenalmu aku selalu gembira, pernah aku bermuram muka?” Kata Sekar sambil menenggak tuak dan menyandar kepalanya di dada suaminya.

“Benar, kamu selalu ceria, parasmu berseri-seri, tertawa dan menari, kegembiraanmu makin menambah kecantikanmu.”

Gayatri dan dua temannya meneliti Samba yang tampan dan memperlihatkan cinta dan perhatiannya pada Sekar. Bahkan tanpa malu-malu Samba sering mencuri-curi kesempatan mencium pipi, atau lengan atau pundak isterinya.

 “Paras Seno dan kangmas Samba, mirip bagai pinang dibelah dua.” Kata Sekar.

“Mendapatkan kamu adalah puncak kebahagiaanku.” Samba memeluk isterinya dan mencium paras dan berlabuh di mulutnya. Tak lama kemudian Samba meninggalkan ruang makan. “Aku mau tidur.” Katanya sambil mengecup dahi isterinya.

“Mbakyu tampak bahagia.” Tukas Atis tersenyum. “Suamimu sangat mencintaimu.”

“Kulihat tubuhmu makin berisi, segar dan seksi, kulit tubuh makin bersih dan terang. Pantas jika suamimu kasmaran padamu.” Gayatri tertawa menggoda.

“Aku bahagia. Tapi aku harus merawat tubuhku, tidak makan berlebihan, takut gemuk. Supaya dia tetap kasmaran dan tergila-gila padaku.” Sekar tertawa.

Tiga malam berturutan permaisuri Waning Hyun bermimpi. Anehnya mimpi dengan topik yang sama dan bersambung dari malam pertama sampai ke malam ketiga. Maknanya jelas, kutukan keris prabakhara tak bisa dibendung hanya dengan menanamnya dalam tanah lingkungan keraton. Prabakhara berontak,  merasa dijajah keris gandring. Makin lama hawa amarahnya makin besar. Prabakhara berubah menjadi raksasa.

Pada mimpi malam kedua permaisuri melihat raksasa prabakhara mewujud menjadi ratusan raksasa yang mukanya mirip satu sama lain, mereka membakar keraton dan seantero tanah kekuasaan Tumapel, dari Utara sampai ke Selatan, dari Barat sampai ke Timur. Kebakaran dimana-mana, rakyat berlarian sambil menjerit. Banyak yang mati.

Pada malam ketiga Hyun melihat seorang pendekar yang wajahnya tidak tampak berhasil mengalahkan si raksasa, lalu memegang keris prabakhara dan menanamnya dalam laut sekitar desa Muncar dekat teluk Panggang di kawasan Blambangan seketika itu kebakaran ditanah Jawa padam, tampak tanah yang luas hijau riyo-riyo.

Sejak mimpi malam pertama permaisuri telah menceritakan kepada Sang Raja begitu juga mimpi dua malam berikutnya. Raja Ranggawuni menganggapnya sebagai peringatan keras. Dia menanggapi serius. Memang selama perkawinannya dia sangat menghargai pendapat sang permaisuri Waning Hyun.

Mimpi yang menakutkan itu ibarat wangsit. Karenanya Raja tak bisa tidak harus mengambil keputusan. Siapa pendekar itu, permaisuri tak bisa menjelaskan karena dalam mimpinya wajah si pendekar tersembunyi.

“Wisang Geni! Aku pernah menawarkan kepada kakak perguruanmu itu agar keris prabakhara menjadi miliknya. Dia menolak.”

“Dia tidak suka barang mewah.”

“Bukan itu masalahnya. Tetapi aku melihat hanya dia satu-satunya yang bisa kita percaya membawa dan menanam keris itu di laut teluk Panggang daerah Blambangan. Dia tak akan kabur membawa lari keris.” Tegas Sang Raja.

“Harus ada yang mengawalnya. Sang Pamegat? Atau Mahisa Cempaka?”

“Mereka tak bisa membujuk apalagi memerintahnya. Dia tak pernah bersedia menjadi orang keraton, dia tak akan mau menjalankan misi berbahaya ini meskipun itu untuk menyelamatkan tanah Jawa.”

“Jadinya bagaimana?” Waning Hyun tampak khawatir.

“Dia harus bisa dibujuk. Dan sudah tentu oleh seorang wanita cantik jelita yang membuat dia kasmaran habis.”

Waning Hyun tertawa geli. “Paduka tahu persis kelakuan kakak perguruanku.”

“Gadis itu saudara misanmu, Ningsri Dewi.”

Waning Hyun menggeleng kepalanya. “Jangan kangmasku, kasihan Ningsri akan jadi korban nafsu Wisang Geni.”

“Tiga hari dia dilatih Mbakyu Asmari, aku jamin dia bisa membujuk bahkan memerintah Geni.”

“Bagaimana Paduka bisa begitu yakin.”

“Firasatku jarang keliru. Satu malam aku semedi, aku makin yakin. Begini rencananya. Panggil Ningsri dan orangtuanya. Jelaskan hanya kepada Ningsri. Dua orangtuanya hanya mengetahui dan merestui putrinya menjadi penguasa di Jedung dan Karambang. Tiga hari Ningsri dibekali ilmu Dewi Asmari. Pamegat mengantar Ningsri ke Jedung menjadi atasan Setiati dan Gajah Pringgon. Serta mengenalkan misananmu itu kepada Wisang Geni.”

Raja Ranggawuni sambil minum sari buah dari gelas berukir, melanjutkan. “Ningsri membawa Geni ke istana. Di sini kita beritahu misi sebenarnya dan menyerahkan keris itu kepadanya. Mereka berdua pergi ke Timur. Ini rahasia besar. Boleh membawa pengawal, tetapi tak boleh ada yang tahu, selain kita berdua hanya mereka berdua yang tahu misinya. Misi menanam keris prabakara dalam laut di kawasan Blambangan.”

Ningsri Dewi terkaget-kaget dipanggil ke istana bersama keluarganya. Lebih kaget ketika ditunjuk sebagai pemangku kekuasaan tertinggi di kawasan Timur dan Utara Tumapel. Pelabuhan Jedung dan sekitarnya harus aman dan siap menghadapi serangan musuh. Itu alasan Sang Prabhu Seminingrat.

Setiati dan Gajah Pringgon dinyatakan gagal, tetapi tidak dipecat. Kekuasan kini dipegang Senopati Ningsri Dewi. Orangtua merestui tetapi minta agar dua kakak Ningsri bersama isteri masing-masing ikut bersama. Waning Hyun setuju.

“Pernah dengar nama Wisang Geni?” Waning Hyun bertanya ketika berada dalam kamar bersama Ningsri Dewi.

“Pendekar nomor satu tanah Jawa? Aku tahu. Tetapi belum pernah bertemu, belum melihatnya dari dekat. Hanya mendengar cerita.”

“Kamu akan dikenalkan dengan Geni. Dan tugas pertamamu merayu dan membujuk dia datang ke istana menemui aku dan Baginda Raja.” Waning Hyun menjelaskan rinci kepada mbakyu misanannya.

“Dik Hyun, aku ndak mau jadi pelacur.” Tegas Ningsri dengan wajah merah padam. “Apapun alasan dan tujuannya.”

“Bukan pelacur. Tetapi penggoda. Kamu akan dibekali ilmu oleh Dewi Asmari, bagaimana taktik menjerat laki-laki liar tanpa memberikan tubuhmu. Hanya menggoda, ibarat mengiming-iming kucing dengan daging di ujung tongkat, membawa kucing itu datang ke istana. Kamu memiliki segalanya untuk tugas ini, dan hanya kamu satu-satunya, karena kamu orang yang paling kupercaya dan dipercaya baginda suamiku.”

 “Ceritamu tadi, bahwa Wisang Geni itu perayu ulung punya banyak isteri dan selir, bagaimana kalau terjadi kebalikannya justru aku yang terbujuk oleh bujuk-rayunya?

“Yah kawin saja dengan dia, apa susahnya. Dia laki-laki hebat untuk jadi suamimu, kelemahannya hanyalah terlalu menyukai wanita. Jadi ikat dia dengan sumpah berat, maka kamu mendapatkan suami idamanmu.”

“Darimana kamu tahu tentang laki-laki idamanku?”

“Lupa? Kamu cerita padaku alasan kamu menceraikan adipati bodoh itu, dari cerita itu aku tahu laki-laki idamanmu. Kamu ingin seorang suami yang pendekar berilmu tinggi, lebih tinggi dari kanuraganmu, suami itu harus setia dan selalu menjadi pelindungmu.”

“Memang itulah suami idamanku, tetapi sampai sekarang ini aku belum ketemu orangnya. Celakanya aku dikawinkan dengan adipati goblok, yang kata ibu memiliki kanuragan tinggi dan setia serta sangat mencintaiku. Ternyata tidak benar. Dia laki-laki goblok dan lemah. Gara-gara ibuku, aku kehilangan perawan. Tapi aku puas memukul dia sampai merayap minta ampun mencium kakiku. Kawin hanya satu bulan namun sungguh memalukan, aku tak bisa melupakan kegagalanku.” Ningsri menutur dengan emosi tinggi.

“Kamu tahu Ekadasa, salah seorang pengawal keraton. Dia kasmaran pada Geni, dari mulutnya Dewi Asmari banyak tahu tentang kegilaan Geni terhadap kecantikan paras dan tubuh wanita. Kamu akan dibekali ilmu mbak Asmari, sebelum pergi ke Jedung.”

“Apa untungnya bagiku menjalankan tugas berat ini?”

“Kamu jadi penguasa, senopati, mandi setiap hari dimandikan pelayan, makan disuapin pelayan. Kamu jadi raja kecil di Utara dan Timur Tumapel.” Waning Hyun tertawa. “Kamu akan menjadi senopati Tumapel untuk seterusnya.”

“Rupanya enak juga jadi senopati, tapi tugas merayu laki-laki liar itu yang tidak enak. Bingung aku menetapkan keputusanku.”

“Mbak Ning, itu mainan baru yang menarik loh. Juga tantangan bagimu, bisakah kamu membuat Wisang Geni mengemis meminta cintamu, bisakah kamu menaklukkan si penakluk wanita? Nah apa pendapatmu? Cukup menarik?”

“Pantaskah aku jadi senopati?”

Waning Hyun gembira melihat Ningsri bersemangat. “Kamu cerdas, kanuraganmu unggul. Kamu hanya perlu pelajari tugas-tugas senopati, itu mudah, tiga hari kamu sudah akan menguasainya. Baginda akan memberimu hadiah besar jika misimu sukses.”

Setiap hari, terkadang siang dan senja, gadis jubah hitam itu berkuda sepanjang jalanan desa Tongas Utara. Tak ada jejak Gayatri dan Atis. Tetapi dia yakin Gayatri belum kembali dari Timur. “Mereka pasti kembali, aku harus sabar menunggu.” Gumamnya.

Suatu senja di hari keempat dia nginap di desa kecil itu, dua penunggang kuda tiba di rumah penginapan. Mereka minta disediakan kamar. Rumah itu punya dua kamar berdampingan yang disewakan. Satu kamar telah disewa gadis jubah hitam.

Tampaknya mereka dari perjalanan jauh, baju dan kudanya bermandi keringat campur debu. Mereka menanyakan kamar mandi. Pemilik warung menunjuk sebuah bangunan bambu sederhana di pekarangan. Didalamnya ada sumur. Mereka memberi persenan uang, menyuruh kudanya dimandikan dan diberi makan.

Sebelum tidur malam gadis itu sempat mendengar pembicaraan dua orangtua itu. Dia memasang telinga dengan seksama.

“Sebelum pulang ke Karangploso, kupikir kita masih bisa mampir di sekitar Lemah Tulis, mengintip dan mencari tahu tentang Wisang Geni.”

“Kita harus hati-hati. Lemah Tulis menyimpan banyak pendekar tangguh.”

“Wisang Geni telah mempermalukan kita, dia harus bayar dengan nyawanya.”

 “Urusan balas dendam itu tidak begitu penting, yang harus kita pikirkan adalah dimana Raja menyimpan keris prabakhara, untuk mencari tahu tempatnya kita harus hati-hati.”

“Tampaknya warok alas purwo itu sangat menginginkan keris sakti itu.”

“Dia berani bayar mahal dan menawarkan kedudukan tinggi bagi kita, sudah pasti dia ngiler kesaktian prabakhara. Mungkin dia sedang menyusun kekuatan pasukan.”

“Kita tak pernah tahu markas besarnya, tapi pasti di selatan Blambangan.”

“Seberapa besar pasukannya, tak pernah ada yang membocorkan cerita.”

Gadis itu tidak tertarik mendengar cerita keris, atau pasukan blambangan atau warok alas purwo. “Mereka punya dendam pada Wisang Geni dan berniat mencelakai isterinya. Gayatri akan mampir di warung ini, aku tak akan biarkan mereka melukai Gayatri.”

( Bersambung bab 20 bag 1)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com