Wisang Geni part Two bab 18 bag 1

Posted on 18 Agustus 2014 ( 0 comments )


Bab 17 bag 4
Bab 18 bag 1

Atis bertanya pada Gayatri. “Mbakyu kamu ketemu mbakyu Sekar?”

“Aku bertemu dia.” kata Gayatri.

 “Dimana dia? Aku tidak melihatnya, aku mau ketemu dia!” Tegas Atis.

Gayatri menghela nafas, memandang bergantian Atis dan Wisang Geni. Lalu dia berkata ditujukan kepada Wisang Geni. “Aku bawa pesan dari Sekar, dia tak mau lagi bertemu denganmu, dia sudah cerai dari Wisang Geni. Kisah Sekar sebagai isteri Wisang Geni sudah tamat, kini Sekar telah menemukan cintanya, begitu kata-katanya padaku.”

Atis terkejut, nafasnya seakan terhenti. Tangannya menutup mulutnya.

Wisang Geni kaget, tak percaya apa yang didengarnya. “Jangan main-main, Gayatri! Ceritakan yang sebenarnya.”

“Aku tidak main-main, leontin ini bukti aku bertemu dengannya.” Dia memperlihatkan kalung emas. “Kalung ini hadiahnya untuk Angga.”

Wisang Geni menatap leontin hadiah Raja Ranggawuni ketika pasukan keraton menyerang Linggapati. “Iya ini leontin miliknya hadiah dari Raja.”

Gayatri melanjutkan. “Sekar menyampaikan pesan tak ingin bertemu kamu lagi dan tak ingin kembali ke sini.” Tutur Gayatri.

Terdengar isak tangis Atis. Gagap dia bertanya, lebih mirip keluh kesah. “Mengapa? Mbakyu marah padaku? Dia tak pernah menyinggung marahnya padaku, tapi mengapa dadakan dia pergi dan cerai dari mas Geni.”

“Atis, kata Sekar, kamu mengkhianatinya, menikam dari belakang.” Kata Gayatri.

Wisang Geni terdiam.

Terdengar teriak Atis. “Benar aku telah mengkhianati mbakyu Sekar, tetapi Mas Geni yang salah karena telah melupakan mbakyu Sekar.”

Wisang Geni membentak. “Atis!”

Atis menatap mata suaminya dengan berani. “Mau apa kamu? Mau menyakiti aku seperti kamu menyakiti mbakyu? Aku tidak takut, kamu dengar Mas Geni, aku tidak takut padamu!” Air mata membasahi pipinya yang merona merah menahan amarah.

Wisang Geni diam, berusaha menekan emosinya. Tapi wajahnya pucat, suaranya parau dan agak gemetar. “Katamu ada pesan?” Tanyanya kepada Gayatri.

“Dia mengatakan, dia bukan lagi isterimu. Dia sudah menemukan suami yang hanya beristerikan dia sendiri, agar kalau kasmaran tidak perlu menunggu giliran.” Gayatri menatap tajam suaminya. “Jangan mencarinya, jika kamu hendak membunuh suaminya langkahi dulu mayatnya. Dia tak mau bertemu denganmu lagi.”

“Kalau itu keputusannya, terserah dia, semoga dia bahagia.” Suara Wisang Geni datar. Ada cemburu, sakit hati dan amarah.

 

Bab Delapanbelas

Menjelang Tarung

Bab 18 bag 1

Malam itu Wisang Geni sulit memejam mata sedangkan Gayatri dan Atis pulas dalam mimpi. Dia telentang dengan berbantalkan dua tangannya. Pikirannya melayang ke paras dan tubuh Sekar, wanita yang selama ini mendampinginya, menjadi sisian hidupnya. Sekar adalah sumber inspirasi dan semangat hidupnya. Berkali-kali Sekar mempertaruhkan nyawa, bertarung untuk kepentingannya. “Mencintaiku tanpa pamrih.” Bisiknya dalam hati. “Tak pernah mementingkan dirinya sendiri, selalu mendahulukan kepentinganku.”

Tiba-tiba ada kejelasan dalam pikirannya bagai percikan api yang berkelebat.

Atis! Benar Atis! Wanita muda itu telah membuat dia jatuh bangun mencintainya. Tubuhnya yang masih muda dan segar serta kecantikan paras dan kecerdasan akal pikirannya. Atis lebih cantik dari Sekar, dari semua isterinya. Dan Atis telah memainkan peran sebagai isteri yang sempurna.

Atis ibarat candu. Ketika selesai tarung di bukit Gunduk, tiba-tiba muncul birahinya ingin pulang cepat ke Lemah Tulis dan meniduri Atis. Itu juga menyebabkan dia tidak mau berlama-lama mencari Sekar. Dia ingin secepatnya pulang berlabuh dalam pelukan Atis.

Begitu tiba di rumah dia segera mengajak Atis pergi mencari tempat untuk berduaan. Dan dia bahagia, lupa semuanya ketika hanya berdua-duaan dengan Atis.

“Belakangan aku lebih sering bersama Atis, jarang bercinta dengannya, pasti dia sakit hati.” Dia menghela nafas, benaknya dipenuhi rasa penyesalan. “Sekarang dia telah pergi, rasanya sangat berat kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Apakah dia tidak merasa kehilangan? Benarkah dia telah menemukan lelaki yang lebih mencintainya katimbang aku, siapa lelaki itu?”

Wisang Geni menetap di Lemah Tulis beberapa hari, melatih dan membimbing murid terutama mereka yang memasuki tahapan penyempurnaan jurus penakluk raja.

Pagi hari itu. Selesai makan, Gayatri merapikan bekas makanan. Dia membawanya keluar. Tak lama dia masuk. “Mas Geni, Di luar Prastawana dan beberapa murid ingin bertemu. Mereka menunggu di luar.”

Hari masih pagi, udara masih diselimuti embun, Wisang Geni menemui beberapa murid  yang duduk sila di serambi rumah.

“Ketua benarkah, kamu akan tarung lawan Arjapura?” Gajah Nila bertanya.

“Banyak murid yang ingin menyaksikan tarung itu, katanya mau belajar langsung dengan menyaksikan tarung.” Tutur Daraka.

“Kami semua akan memperoleh pelajaran berharga dengan menyaksikan tarung secara langsung.” Tegas Gajah Lengar.

“Aku tidak keberatan tetapi jumlah dibatasi, hanya para murid yang berbakat. Nanti akan kupilih sendiri. Satu hal lagi, ini tarung pamungkas dan urusan pribadiku, jadi kalian para murid hanya menonton. Apapun yang terjadi kalian tak boleh ikut campur.”

“Kapan ketua berangkat?” Gajah Nila bertanya. Suaranya bergetar saking tegangnya. Dia tahu tarung pamungkas itu akan membahayakan diri ketuanya.

Wisang Geni menoleh pada dua isterinya. “Kami bertiga akan menemui dua anakku di Welirang dan Lembah Cemara. Kemudian menuju Jedung tarung lawan Arjapura.”

“Kami ikut.” Seru Dyah Mekar diikuti beberapa murid lain.

“Boleh, dari Welirang kalian langsung menuju ke Jedung, aku dan dua isteriku ke lembah Cemara.”

Malam itu diserambi rumah Padeksa berkumpul para murid. Wisang Geni telah memilih duapuluh murid yang boleh ikut dengannya ke Jedung.

“Besok pagi kita berangkat. Kita ke Welirang lebih dahulu.” Tegas Wisang Geni.

Tiba-tiba timbul kegembiraan Padeksa. Dia berdiri. “Ayo Geni kita latihan, aku ingin melatih jurusku yang baru.”

“Sejak kapan kakek berlatih, apa nama jurus barumu?” Tanya Wisang Geni.

“Sudah tiga tahun lebih jurus ini kusempurnakan, ada yang mengganjel yang sulit kutembus. Baru satu purnama lalu aku berhasil menyempurnakan berkat bantuan isteriku.” Padeksa memandang Wisang Geni dan para murid dengan mimik lucu.

Para murid tak berani gegabah bertanya, tidak demikian dengan Wisang Geni. “Kek, benarkah kamu beristeri?”

“Pikirmu hanya kamu yang bisa malang-melintang mendapatkan isteri, aku juga bisa tak perduli usiaku sudah lanjut. Satu tahun lalu aku bertemu dengan Gamol.”

“Ah kakek semangatmu masih muda. Mana isterimu, tinggalnya dimana?”

Padeksa tertawa . “Satu tahun lalu aku menolongnya dari kekejaman gerombolan  perampok, suami, dua anaknya, mertua, ibu bapaknya, semua mati terbunuh. Mereka hendak memerkosanya, tapi aku kebetulan datang menolongnya. Sejak hari itu dia tak mau berpisah denganku, aku mengantarnya ke rumah pamannya. Kami menikah di sana, dia berjanji menjadi isteri setia.”

“Dia tinggal di mana?”

“Disini, di rumah ini.” Padeksa tertawa melihat semua muridnya bingung.

Padeksa melanjutkan penuturannya. “Dia tak mau keluar rumah, tak mau bertemu orang, dia hanya mengurung diri di kamar belakang. Semua ada disini, sumur, dapur ada di belakang. Jadi tidak masalah jika dia mengurung diri di rumah, berlaku sebagai isteri yang melayani suaminya.”

Semua terdiam.

“Sebenarnya itu terkait kawulnya. Bahwa dia mau bertemu para murid jika aku sudah menyelesaikan jurusku, hal ini melecut semangatku. Dan selama melatih jurus baruku itu dia membantuku dengan pemikirannya yang cerdas.” Tutur Padeksa.

“Waktu itu paman Gajah Watu tinggal dimana?” Desak Wisang Geni.

“Dimas Gajah Watu mengenal isteriku. Karenanya dia mengalah, rela tinggal di luar,  mungkin di dekat sini, sebab tidak mungkin dia tinggal bersama aku dan isteriku. Tiap pagi atau siang dia datang, malam hari pergi, dia tahu aku sedang melatih garudamukha yang baru, malah dia membantu menjadi semacam  lawan tanding.” Padeksa menghela nafas duka. “Ah sayang dia tewas mendahului aku, kalau tidak bukankah dia akan gembira melihat keberhasilanku?”

“Selama satu tahun isterimu tidak pernah keluar rumah?” Gayatri memotong ingin tahu. Sebenarnya suatu hari dia pernah mendengar lamat-lamat seperti suara wanita dari dalam rumah, namun waktu itu dia tak berani menanyakan.

Padeksa menggeleng. “Kadang aku membawa isteriku pergi, pesiar ke desa-desa selama beberapa hari, lalu balik kembali.”

“Hebat kamu Kek, kamu pergi pulang tak seorangpun melihatmu?” Potong Dyah Mekar yang duduk disamping Prastawana.

“Tengah malam gulita, aku menggunakan ringan-tubuh, maka tak seorang murid pun yang melihatku. Esok harinya kalian baru tahu aku tak ada di rumah.”

 “Kek, mana isterimu, ajak dia keluar, kita mau kenalan.”

 “Sekarang sudah waktunya dia bertemu kalian jurusku sudah rampung.” Padeksa memanggil isterinya. “Gamol… silahkan keluar, para murid ingin kenalan.”

Terdengar suara merdu dari dalam. “Tunggu sebentar, kangmas.”

Para murid menanti dengan penuh keinginan-tahu.

Tak lama kemudian terdengar langkah ringan. Lalu muncul seorang wanita usia tigapuluhan. Parasnya cantik dengan potongan tubuh agak gemuk namun masih tampak langsing. Dia mengenakan celana sebatas lutut, pinggulnya dibalut sewek. Kebayanya yang longgar tak sanggup menyembunyikan dadanya yang montok. Dia merunduk malu-malu.

Mereka berkenalan. “Namaku Gamol, nama asliku sudah kulupakan, Gamol itu nama pemberian kangmas Padeksa.” Katanya lirih.

Atis menoleh kepada Gayatri. “Mbakyu, benar katamu waktu itu. Kau mendengar suara tawa wanita, lirih, aku membantahmu karena aku tidak mendengar. Waktu itu kakek masih di dalam rumah, pasti suara mbakyu Gamol.”

 “Ayo Geni, aku mau menguji jurus baru ini. Gamol yang menamai jurus ini garudamukha pamungkas. Terdiri dari lima jurus yang jika dimainkan bisa memecah menjadi limapuluh jurus yang berbeda, satu antaranya dinamai Gamol “kinambulan” karena diciptakan khusus jika dikerumuni banyak lawan.” Tutur Padeksa.

      “Dimana paman guru melatihnya, kita tak pernah tahu?” Tukas Prastawana.

      “Hanya dimas Gajah Watu yang tahu rahasia ini, itupun tidak tahu banyak. Aku berlatih di rumah dalam gerak lambat yang aku proses di benak. Begitu mencapai kesempurnaan lalu kucoba di alam terbuka tengah malam di luar desa. Enam bulan terakhir jurus itu sudah lengkap. Enam bulan berikutnya proses pematangan, penyatuan gerak dan pikiran. Inilah gabungan duabelas jurus garudamukha dan tujuh jurus garudamukha prasidha. Tenaga-dalamnya murni tenaga garudamukha.” Tutur Padeksa bangga.

      Semua berbondong menuju lapangan terbuka. Para murid membuat lingkaran besar, tengahnya kosong. Padeksa berdiri dengan anggun. Sosok Padeksa yang dulu sering semedi dan jarang memperlihatkan gerak silatnya, kini berubah. Yang tampak seorang laki-laki tua angker dan berwibawa.

      “Kamu jangan segan-segan. Karena aku tak akan menahan diri, aku akan gunakan jurus dan tenaga sebagaimana mestinya.” Kata Padeksa yang langsung menyerang.

      “Baik,” Seru Wisang Geni.

      Dalam sekejap terjadi tarung hebat. Keduanya bergerak dalam jurus yang hampir serupa. Padeksa menggelar “manusup” (menyelinap), “Angluputana” (membebaskan) dua jurus garudamukha tapi yang mirip dengan “prasadha atishasha” (menara tinggi) dan “akwamatyana” (membunuh).

      Jurus-jurus itu tidak asing bagi Wisang Geni, namun hampir dia terkecoh ketika jurus  berubah menjadi gerak yang tak masuk akal bisa dilakukan seorang pesilat. Tapi itulah kenyataan. Wisang Geni terdorong mundur, terpaksa menangkis menggunakan wiwaha yang tidak sepenuhnya dengan jurus gabungan “aniladawut” (angin dan cabut), “agniwisa” (bisa api) dengan sikap “raga” (nafsu birahi) dan “kamuka” (jatuhcnta) dari  penakluk raja.

      Akibatnya fatal. “Dassss…. Buuukkk….”

      Wisang Geni hanya sanggup menangkis satu pukulan, berikutnya tangan Padeksa menerobos membentur dada kanannya. Darahnya bergolak, saat berikut dia merasa darah meleleh di ujung mulutnya.

      Wisang Geni terluka.

      Padeksa berhenti menyerang. “Geni, kamu tidak menggunakan tenaga penuh, aku pun hanya gunakan tujuh bagian tenagaku. Itu sebab kamu terluka.”

      Wisang Geni diam, tenaga wiwaha-dingin dikerahkan berputar-putar segenap tubuhnya dan menetralisir bagian dadanya. Beberapa saat kemudian dia merasa baikan. “”Kek, mari lanjutkan, akan kugunakan tenaga penuh dan jurus baru lalawa mengepak sayap menembus awan, hati-hati Kek.”

      “Bagus juga, kita lihat jurus asli garudamukha atau jurusmu dari gurumu yang sudah mati, mana yang lebih unggul.” Suara Padeksa dingin.

      Seketika itu tarung berlanjut dan berkembang menjadi seru. Dua pihak menyerang dengan jurus mematikan. “Daasssss …. Daaassss…. Daaassss…”

      Berulangkali terjadi benturan tenaga, Wisang Geni melayang-layang di udara dengan jurus lalawa, dilain pihak Padeksa tak kalah trengginas, menggeliat dan balas menyerang.

      Beberapa kali dua pukulan beradu, keduanya sama kuat. Wisang Geni kaget, tak pernah disangkanya tenaga-dalam sang kakek begitu tinggi, tenaga wiwaha yang selama ini jarang menemui tandingan kali ini terbentur lawan imbang.

      Jurus silat ciptaan Padeksa tampak aneh. Ada kemiripan dengan garudamukha dan prasidha yang asli namun memecah dalam gerakan yang aneh dan membingungkan. Hal ini membuat Wisang Geni berulangkali terpukul mundur.

      Tanpa terasa limapuluh jurus berlalu, kedua pendekar semakin dikuasai emosi. Tak ada yang mau mengalah.

      Para murid kebingungan. Mereka tahu lebih lama tarung berlangsung salah satu akan terluka parah.  Siapapun yang terluka, tak ada yang menang. Karena keduanya sama-sama petinggi Lemah Tulis.

      Prastawana dan Dipta saling pandang dan memberi isyarat. Tiba-tiba dua  pendekar ini melompat melayang memasuki arena tarung, sambil teriak. “Berhenti, kalau dilanjutkan biarlah kami berdua yang jadi korban!”

      Padeksa dan Wisang Geni melihat dua bayangan masuk gelanggang, persis ditengah-tengah. Jika tarung berlanjut dan pukulan tak dihentikan maka dipastikan dua pendekar itu akan menjadi korban kena gebuk.

      Saat itu juga Padeksa dan Wisang Geni melompat mundur.

(Bersambung Bab 18 bag 2)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com