Wisang Geni part Two Bab 17 bag 3

Posted on 15 Agustus 2014 ( 0 comments )


Bab 17 bag 3

      Mereka sedang duduk di tepi sungai, ketika terdengar suara seseorang. “Sekar!”

      Bagai disambar petir Sekar dan Samba menoleh kearah datangnya suara.

      “Gayatri!” Seru Sekar, ada ketakutan dalam nadanya.

      “Aku sendirian, mbakyu. Tak ada yang membuntuti. Kamu aman mbakyu.”

      “Apa maksudmu aman?” Sekar menghampiri. Ototnya tegang, dia tak pernah percaya Gayatri sejak wanita itu mengkhianati Wisang Geni.

      Gayatri balik bertanya. “Dia kekasihmu? Sepertinya aku pernah mengenalnya.”

      Sekar masih curiga akan kehadiran Gayatri. “Katakan dulu maksudmu.”

      “Kamu aman, artinya aku sahabatmu, rahasiamu rahasiaku.” Dia teringat seseorang. “Aku ingat sekarang, dia senopati Samba yang dulu menawan kamu?”

      Samba menghampiri.

      “Aku melihat saat kamu memanggul tubuh mbakyu Sekar mendaki lereng. Tetapi aku tidak memberitahu siapa pun.” Tegas Gayatri.

      “Mengapa?” Tanya Samba.

      Gayatri hanya tersenyum, misterius.

      “Kemarin Geni mencari, teriak-teriak namaku.” Sekar berkata, curiganya berkurang.

      “Semua kami mencarimu, sejak dini hari hingga siang hari, mencari di lereng sampai ke hutan. Aku tidak memberitahu seseorang telah menculikmu.” Tutur Gayatri. “Kemarin aku pamitan padanya, mengatakan mencarimu di lembah cemara.”

      Mereka ngobrol akrab.

      Samba menghampiri membawa empat ekor ikan dibungkus daun waru. “Kalian makan sambil berbincang-bincang.” Dia melangkah dan duduk agak jauh.

      Gayatri menyambar satu. “Kelihatan dia mencintaimu.”

      “Samba lak-laki sejati, jantan.” Sekar mengambil seekor, makan dengan lahap. “Aku mulai mencintainya, tetapi aku memberinya syarat dan dia bersumpah bahwa hanya aku isterinya seorang, tak ada wanita lain, tak ada selir dan tak boleh kawin lagi.” Tutur Sekar.

      “Kulihat kamu telah menguasainya.” Gayatri menatap tajam. “Kamu mau kembali ke Welirang?” Dalam hati Gayatri mengharap Sekar tidak kembali kepada suaminya.

      “Sudah bulat tekadku meninggalkan Geni. Cerita Sekar sebagai isteri Wisang Geni sudah tamat. Sekarang babak baru, Sekar sebagai isteri Samba.” Dia tertawa lepas.

      “Apa yang membuatmu mengambil keputusan ini?”

      “Telah lama aku memendam sakit hati. Sejak dia bermain cinta dengan muridnya sendiri Laras dan Dyah Mekar.”

      “Apa? Dyah dan Laras? Darimana kamu tahu?”

      Sekar tertawa. “Sudah lama mereka berhubungan, sembunyi-sembunyi. Prastawana dan Gajah Lengar tahu, tapi mana berani menentang ketuanya.”

      Gayatri kaget. “Tak mungkin! Aku tak percaya!”

      “Coba perhatikan atau kamu tanya langsung pada Geni.” Sekar tertawa sedih. “Puncak sakit hatiku ketika Geni terang-terangan lebih memilih Atis yang genit katimbang aku.”

      Gayatri merasa sakit hati. “Selama ini kita dibohongi. Tapi mengapa kamu diam saja?”

      “Aku tak berdaya. Jika kuberitahu padamu, kamu tak akan percaya. Tapi aku yakin Westi tahu rahasia ini, tetapi dia sangat memuja ketuanya, tak mungkin dia buka mulut.”  

      Keduanya berpelukan, perpisahan.

      “Katakan pada Geni, tak usah mencariku, aku sudah pergi dan tak mau bertemu lagi dengannya. Katakan aku bertemu lelaki yang mencintaiku lebih tulus dan lebih jujur. Lelaki yang hanya beristerikan aku seorang.”

      Sekar diam sejenak lalu merogoh kantongnya, menyodorkan kalung emas pemberian Raja Ranggawuni. “Bawalah  kalung ini tunjukkan kepada Geni bukti kamu bertemu aku, lalu kamu berikan untuk Angga putrimu, katakan ini hadiah dari bibi Sekar.”

“Kamu tinggal dimana?”

      “Aku percaya padamu, tapi belum waktunya kuberitahu.” Sekar tertawa. “Aku sendiri belum ke sana.”

     Tiga hari kemudian. Sekar dan Samba tiba di lembah Cemara, menjenguk Antaseno dan dua neneknya. Dengan hati berdebar-debar Samba menemui dua nenek yang tingkahnya menurut Sekar sangat aneh. Dia memberi hormat. “Aku Samba sekarang ini  suami Sekar, memberi hormat kepada nenek berdua.”

      Dewi Obat dan Nenek Sapu Lidi terkejut, parasnya sampai pucat. “Sungguh mirip dengan Antaseno.” Kata Dewi Obat yang nama aslinya Kunti.

      “Bagaikan pinang dibelah dua. Ini sunggh kejadian aneh.” Kata Nenek Sapu Lidi.

      “Apanya yang aneh?” Seru Sekar yang tampak gembira menggendong putranya.

      “Anakmu mirip dengan dia.” Tukas Nenek Sapu Lidi yang nama aslinya Murni.

      Tiba-tiba Nenek Kunti berseru. “Aku ingat! Kamu senopati Samba, adik mahapatih Pranaraja yang dulu menawan aku dan Sekar.” Lalu dia menoleh pada cucunya. “Ayo Sekar ceritakan semuanya, mengapa dia jadi suamimu, ada apa dengan Wisang Geni?”

      Sekar menghampiri Samba, mengangkat putranya sehingga wajahnya nempel ke wajah Samba. “Lihat Nek, kemiripan mereka.” Lalu dia memberi isyarat pada suaminya. “Mas kamu bermain-main dengan Seno. Tapi ingat jangan beritahu rahasia anakmu.”

      Tanpa disuruh dua kali, Samba menggendong Seno, menciumi dia dengan sayang, lalu menurunkannya di tanah. “Ayo kamu lari, aku kejar kamu.”

      Antaseno gembira. Dia segera berlari, gerakannya pesat membuat Samba takjub.

      Nenek Murni memegang lengan Sekar dan menepuk pantatnya. “Ayo ceritakan, jangan membuat kami berteka-teki.” Serunya.

      Sekar menceritakan kejadiannya. Semula Pranaraja ingin mengambilnya sebagai selir, tetapi kemudian diserahkan kepada adiknya. Sejak sore hari Samba melayani Sekar di kemahnya sendirian. Sekar yang tak bertenaga karena dibius hanya bisa pasrah, tetapi Samba tidak memaksa. Mereka ngobrol sambil makan dan minum tuak. Dan malamnya Sekar tak lagi bisa bertahan, membiarkan Samba memasuki tubuhnya. “Tak ada paksaan Nek, itu suka sama suka.”

      Nenek Kunti berseru. “Aku ingat. Kemahmu selalu gelap dan aku mendengar kamu tertawa dan menjerit senang. Tiap malam?”

      “Iya Nek setiap malam sampai pagi. Selama lima malam berturutan.” Tegas Sekar sambil tertawa. “Nek, saat itu, firasatku bicara, terjadi pembuahan dalam tubuhku.”

      “Aku tidak heran, enambelas purnama kamu di laut kidul bersamaku kamu menahan birahimu. Jadi begitu bertemu Samba yang tampan dan pandai merayu, kamu jatuh cinta.” Tutur Murni si Sapu Lidi. 

      “Dia mencintaimu Nduk?” Tegas Kunti.

      “Empat tahun dia mencintaiku Nek, kemarin dia berhasil menculik aku.” Sekar menceritakan detail pertarungan di bukit Gundu sampai kejadian dia dibawa ke goa. Sekar juga menceritakan sakit hatinya terhadap Wisang Geni yang sudah terpikat Atis yang genit.

      Dua nenek itu menyumpahi Wisang Geni dan Atis.

      Samba dan Sekar menginap beberapa malam. Sebelum meninggalkan lembah cemara, Sekar berjanji pada nenek dan Antaseno, dia dan Samba akan sering menjenguk.”Sekali-sekali nenek bertiga ke rumahku.”

      Dua hari perjalanan dari lembah cemara Samba dan Sekar tiba di desa Panton di Tanjung Gerinting. Begitu  masuk rumah Samba memanggil semua selirnya. “Ini isteriku Sekar yang kuceritakan pada kalian.” Katanya memperkenalkan Sekar.

      Sekar tertawa, “Ternyata kamu benar-benar menceritakan aku kepada mereka.”

      Sekar berkeliling memperhatikan rumah dan lokasi. Rumah besar dan mewah, terletak di ketinggian, jauh dari bibir pantai. Desa itu berada dikaki bukit yang dipadati pepohonan.

      Di pekarangan rumah ada sumur kecil yang airnya bening. Ada pohon-pohon mangga, nangka, sawo, juwet, durian. Ada kebun bunga, kebun singkong. Serambi rumah menghadap matahari terbenam di Barat. Pemandangan indah, ke laut lepas dan kaki langit.

      Perempuan bernama Harum, muda dan cantik, menghampiri Sekar yang sedang memandang matahari senja di kaki langit Barat.

      Dia jongkok merunduk dan berkata, suaranya merdu, bicaranya sopan. “Ndoro putri, silahkan masuk. Kami sudah sediakan air kembang untuk memandikan Ndoro putri.” Dia tetap jongkok ketika Sekar melangkah melewatinya.

      “Tuanmu dimana?” Tanya Sekar.

      “Tiduran di kamar, menanti Ndoro putri.”

      “Aku mandinya di mana?”

      “Dalam kamar, kata Paduka dia ingin menyaksikan kami memandikan isterinya.”

      Pertamakali dalam hidup, Sekar pendekar yang biasa bergelut di dunia kasar, seorang wanita desa, merasakan nikmat dimandikan para pelayan. Air terasa dingin segar.

      Sekar berdiri di bak mandi yang terbuat dari kayu keras. Harum menyelimutinya dengan kain sutera yang langsung nempel dan memeta tubuh molek yang bak gitar.

      “Ndoro putri cantik jelita bagaikan dewi-dewi.” Puji Harum.

      Hati Sekar berbunga mendengar pujian tulus itu. Dia melangkah ke pembaringan. Bagaikan putri keraton menuju kamar pengantin.

      Para pelayan cepat menarik tirai biru muda dari bahan sutera, sebagai sampiran penutup pembaringan. “Kami menanti diluar, jika memerlukan sesuatu silahkan panggil.” Suara si pelayan sopan dan santun.

      Para pelayan keluar kamar meninggalkan pasangan suami isteri itu.

      “Aku tidak mau memanggil dengan teriak-teriak .…” Seru Sekar.

      “Semua tersedia dewiku. Itu ada tali, jika kamu tarik, genta di ruang tengah akan berbunyi dan pelayan masuk, siap melayani kamu.” Samba tertawa senang.

      “Mereka memanggilmu Paduka, kamu seperti raja.” Sekar mengerling.

      “Di rumah ini aku memang raja dan kamu permaisuri, di luar kita rakyat biasa. Karena aku menggaji mereka, keping emas perak dan perhiasanku banyak, aku juga punya permaisuri yang cantik jelita. Apalagi yang kucari? Semua sudah kumiliki sekarang.”

      “Kita juga membawa banyak keping emas dan perhiasan peninggalan Linggapati. Juga baju-baju Dedes Ayu, semuanya bagus dan cocok untuk aku.” Kata Sekar. “Nantinya aku ingin baju baru bukan yang bekas.”

      Sekar benar-benar terbuai dengan kesenangan ibarat putri-putri kerajaan yang hidup di keputren. Dia mencium mesra kekasihnya.

      “Kangmas, jangan lupa bereskan selir-selirmu tadi.”

      “Sudah kuatur. Besok pagi mereka pergi, semuanya.”

      “Pelayan penggantinya?” Tanya Sekar yang makin manja.

      “Besok pagi mereka sudah datang sebelum yang muda pergi. Tiga pelayan berusia limapuluhan, mereka semua mengikuti perintahmu Sekar.”

Ketika masuk rumahnya di Lemah Tulis Gayatri tidak menemukan Wisang Geni dan Atis. Dia tahu mereka bepergian. Kemana dan berapa lama, dia tak tahu.

“Aku menunggu mas Geni dan Atis disini, jika tiga hari belum juga datang, aku akan ke Welirang menemui Angga dan guruku.” Katanya kepada Dyah Mekar, Sawitri dan Laras. Tiga wanita itu datang membawa makanan. Mereka bersantap sambil ngobrol.

Dyah Mekar menanyakan keadaan Sekar.

Gayatri sudah siap dengan jawaban. “Aku ketemu Sekar di tengah jalan. Dia bersama seorang pendekar usia sekitar empatpuluhan. Pendekar itu penolongnya ketika dia diculik penjahat dari kubu Linggapati.”

“Jadi Sekar masih hidup?” Tanya Sawitri nadanya senang. “Mengapa tidak kembali ke sini bersamamu?”

Gayatri meniru ucapan Sekar. “Katanya padaku, katakan kepada mereka yang di Lemah Tulis, aku sudah cerai dan bukan lagi isteri Wisang Geni. Alasanku, aku bosan hidup dengan suami yang punya isteri banyak. Aku sering harus menunggu giliran, atau membujuk dia jika ingin bercinta.”

Tiga murid wanita terkejut, bahkan sampai melongo. “Sekar itu isteri yang manut, setia dan melayani suaminya. Mengapa bisa begitu tegas?” Tukas Sawitri. “Gara-gara ketua melupakannya, lebih mencintai dan lebih memanjakan Atis. Aku rasa itu yang memicu keputusannya. Aku pantas memujinya, lantaran berani mengambil sikap tegas.”

“Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan, seperti katanya kepada kita waktu itu bahwa untuk bisa bercinta dengan suaminya dia harus menunggu giliran atau harus antri. Dia bosan.” Kata Laras.

 “Harus kuakui Sekar wanita luar biasa, begitu sabar menghadapi ketua dan begitu manut setia menjalani hidup sebagai isteri ketua. Dia berani mengambil keputusan besar, pergi meninggalkan suaminya. Aku kagum padanya.” Kata Dyah Mekar. 

 “Dia pesan untuk memberitahu mas Geni bahwa dia tak mau bertemu atau pamitan. Putus. Cerai. Dia telah menemukan suami yang hanya beristeri satu.” Tutur Gayatri. “Untuk meyakinkan bahwa aku bertemu dengannya, dia memberiku kalung emas yang dikenal mas Geni sebagai benda miliknya, kalung emas itu dia hadiahkan untuk Angga.”

“Dia telah menemukan suami, mungkinkah pendekar baju hitam itu?” Tukas Sawitri. “Katamu dia tampan dan berusia empatpuluhan, siapa namanya?”

“Menurut cerita Sekar, dialah suaminya sekarang, mereka pernah bertemu empat tahun lalu dan sejak itu si pendekar tak pernah melupakannya. Itu sebagian rahasianya yang dia ceritakan padaku. Rahasia lainnya dia sekap untuk diri sendiri.” Kata Gayatri.

“Ada yang tak kumengerti ucapan Sekar, bahwa suaminya tak punya murid perempuan sehingga tak akan terjadi skandal cinta guru dan murid. Kutanyakan, apakah Geni punya hubungan cinta dengan muridnya. Tapi Sekar tidak menjawab.” Gayatri menatap tajam Laras berganti Dyah Mekar yang tentu saja parasnya pucat.

Gayatri menambahkan. “Kupikir penolongnya itu telah menjerat hatinya. Mereka berdua tampak senang dan gembira, jalan bergandengan.”

“Akhirnya Sekar menemukan jalan hidupnya sendiri. Dia wanita istimewa, layak mendapat apa yang dia inginkan.” Kata Sawitri, nadanya senang. Dyah Mekar dan Laras diam merasa malu rahasianya diketahui Sekar.

Malam itu Gayatri tidur sendirian. Dia bolak balik sulit memejam mata. Ada rasa cemburu terhadap Atis bahkan juga Laras dan Dyah Mekar. Ada rasa minder jika teringat dia ternoda oleh Arjapura. Tetapi dia masih yakin Wisang Geni mencintainya. Hari itu ketika Wisang Geni mengampuni semua kesalahannya, mereka bercinta. Dan Gayatri tahu suaminya masih kasmaran padanya, masih mencintainya, cinta yang panas membara.

“Tapi dia suami tidak setia, bisa saja suatu waktu aku dibuang seperti nasib Sekar, apakah sebaiknya aku pulang ke Himalaya? Banyak pria di sana yang menginginkan aku.” Pikirannya menerawang jauh ke kampung kelahirannya.

Dua hari kemudian Wisang Geni dan Atis tiba di Lemah Tulis.

Atis bertanya pada Gayatri. “Mbakyu kamu ketemu mbakyu Sekar?”

“Aku bertemu dia.” kata Gayatri.

 “Dimana dia? Aku tidak melihatnya, aku mau ketemu dia!” Tegas Atis.

Bersambung Bab 17 bag 4

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com