Wisang Geni part Two Bab 17 bag 2 by John Halmahera
Posted on 15 Agustus 2014 ( 0 comments )
Bab 17 bag 2
Suara panggilan “Seeekaaaarrrrr” masih diulang-ulang mengumandang di seantero lembah dan gunung, tebing dan batu cadas. Suara itu menembus ke dalam goa dan bergaung lama membuat dua insan itu makin tidak nyaman.
“Pergilah Sekar. Ada pertemuan ada perpisahan.”
“Kamu mengusir aku?” Sekar mendesak. Nadanya agak marah.
“Tidak! Aku tidak mengusir, bagaimana mungkin mengusir seorang yang sangat kucinta. Maksudku, kamu bebas untuk pergi kembali kepada suamimu. Kalau itu pilihanmu, tetapi sebenarnya aku tak mau kamu pergi, aku ingin kamu berada disisiku sekarang dan selama-lamanya.”
Sekar menatap tajam Samba.
Sekar bimbang. Sesaat dia berpikir akan pergi menjumpai Wisang Geni, saat berikut dia menggeleng kepala. Dia memandang Samba, menemukan duka dan kesedihan yang mendalam. “Laki-laki ini telah memberiku kepuasan, dia memujaku, menyiram jiwaku dengan cinta, menyuburkan jiwaku yang belakangan ini menahan derita karena dilupakan Geni. Dia jantan dan sempurna ditempat tidur, dia sangat mencintaiku, aku yakin itu. Dulu aku mengambil keputusan yang salah, tidak mengikuti dia ke istana Kediri, itu keputusan yang salah. Kini aku tak akan ambil keputusan yang salah lagi.”
Terdengar lagi teriakan yang menggema diseantero lereng gunung. Teriakan Wisang Geni yang mencari isterinya. “Seeeeekaaaaaarrrrrrr…..”
Sekar menggeleng kepala. “Geni, kamu butuh aku hanya untuk melayanimu, aku sudah bosan melayanimu, apa yang kubutuhkan tidak bisa kamu berikan, aku butuh cinta dan kesetiaan, sedangkan kamu tak lagi mencintaiku seperti dulu, malah sengaja bermesra dengan Atis depan mataku, di depan banyak orang. Kamu menyakiti dan mempermalukan aku. Geni, kamu dan pelacurmu itu sengaja menyakiti hatiku.” Bisiknya dalam hati.
Lalu Sekar memandang Samba dengan mesra.
Sekar tersenyum telah memutuskan sesuatu yang penting yang menyangkut masa depan kehidupannya. “Tidak. Aku tetap disini.” Sekar memutuskan dengan hati yang bulat. Dia memegang tangan Samba, menciumi tangan kekar itu.
Terkejut, Samba menatap tidak percaya. “Kamu tidak pergi?”
Kemarin Sekar begitu bimbang dan ragu, kini dia tahu apa yang dia inginkan sekaligus tahu telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Parasnya berseri, menyirat rasa bahagia. Dan sepasang matanya yang bening indah memancarkan sinyal cinta dan birahi yang tulus tak dibuat-buat. “Tidak. Aku tak mau pergi!” Sekar mengerling.
“Ohhh Sekar.” Diam sesaat Samba melanjutkan. “Kamu mau bersamaku selamanya?”
Sekar mengangguk. “Yah selamanya.”
Samba memeluk erat. “Oh Sekar betapa aku bahagia.”
Sekar balas memeluk.
Mereka diam, merasakan debar jantung masing-masing. Suasana hening sesaat.
“Perutmu berbunyi, kamu lapar, aku juga lapar.” Samba turun dari pembaringan, mengambil makanan kering dan tuak. “Nanti malam kita keluar cari makanan, pasti orang-orang yang mencarimu sudah pergi jauh.”
Setelah makan dan bercinta mereka tiduran hingga menjelang malam. Goa itu gelap hanya diterangi cahaya rembulan dari celah besar itu.
“Kita keluar sekarang, cari binatang buruan, aku lapar.”
“Kamu tidak takut bertemu Wisang Geni?” Tanya Samba.
Sekar menggeleng. “Aku tidak takut!”
“Sebenarnya aku yang takut, dia pasti akan membunuhku.”
“Sudahlah, aku tidak suka membicarakan dia! Ayo keluar cari makan.”
Samba ingat anak sungai, agak jauh dari tebing. “Kita cari ikan.”
Dibawah sinar rembulan, mereka berenang dan bercanda di air. Berciuman. Merasakan nikmatnya berpelukan dalam air. Suasananya penuh keriangan.
Setelah puas berenang dan menangkap ikan, mereka mentas dan mengenakan pakaiannya kembali. Mereka menikmati ikan bakar, Samba yang membakar. “Kamu duduk diam saja, dewiku. Aku akan melayanimu, kalau perlu akan kusuapi.”
Udara dingin, Sekar harus mengerahkan tenaga-dalam untuk mengatasinya Sekar tertawa. “Katamu akan membawaku ke rumahmu di Tanjung Gerinting, menjadikan aku permaisuri, ratu dalam hidupmu, apakah benar-benar dari lubuk hatimu atau karena dorongan nafsu birahi saat itu.”
“Dari lubuk hati yang sarat mencintaimu, dewiku.”
“Mungkin karena dorongan nafsu birahi? Mungkin sekadar rayuan?”
“Aku sadar ketika mengucap kata-kata itu.” Samba diam sesaat, memegang tangan Sekar dan menciumi tangan itu dengan mesra. “Dengar sayangku. Aku akan membawa kamu ke rumahku, disana kamu akan kulayani dan kupuja. Kamu isteriku, permaisuriku, pujaan dan ratu dalam hidupku. Hanya kamu seorang, tidak ada perempuan lain.”
“Aku punya seorang anak laki-laki namanya Antaseno.”
Mendengar itu Samba terdiam.
Sekar tersenyum, geli melihat wajah muram kekasihnya. “Kangmasku, jangan sedih, aku mulai mencintaimu. Aku ingin bersamamu seterusnya. Tapi kamu harus bersumpah, bahwa semua ucapanmu itu bukan dusta. Bersumpahlah kamu menjadi suamiku, suami yang akan menjadikan aku isteri tunggal dan permaisuri dalam hidupmu.”
Samba menyahut, suaranya tegas. “Aku bersumpah demi arwah orangtuaku, jika ingkar janji maka aku akan menjadi binatang melata dalam kehidupanku kelak.”
“Sumpahmu berat.” Sekar tersenyum. “Sekarang kita sudah suami isteri. Aku akan memanggilmu kangmas.”
Samba menimang-timang kerisnya. Detik berikut dia menebas separuh jari kelingking kirinya. Jari itu putus, darah bercucuran.
Sekar menjerit. “Hei apa yang kamu lakukan, mengapa jadi begini?”
“Itu bagian dari sumpahku. Itu sumpah setiaku. Aku laki-laki sejati, tidak akan ingkar janji, apalagi ingkar sumpah.” Tegas Samba.
Sekar memegang tangan yang berlumuran darah. “Aku tidak mau kamu menyakiti diri, bukan begitu cara mencintaiku. Akan kubikin ramuan obat.” Dia melangkah. “Antar aku cari dedaunan obat, aku tak mau sendirian.”
Samba mengantar kekasihnya mencari daun-daun obat. “Malam gelap dan kelam. Bagaimana bisa mengenali daun dan akar obat?”
“Aku tahu. Aku ahlinya soal ramuan.”
Laki-laki itu memandang Sekar yang sibuk menumbuk daun dan akar.
“Jarimu sakit? Mana jarimu biar kusambung, aku bisa jahit, tapi dimana mendapatkan jarumnya?” Kata Sekar bingung.
“Jariku sudah kubuang. Buntung begini juga bagus, biar kamu bisa mengingat bahwa aku bersungguh-sungguh dengan sumpahku.”
Sekar melabur obat di kelingking yang tinggal separuh. Membalut dengan sobekan kain bajunya. “Aku ingin hidup bersamamu, itu keinginanku, tetapi masih ada persoalan.”
“Apa Sekar?”
“Kamu punya isteri dan selir? Dulu aku bodoh, membiarkan suamiku kawin lagi. Sekarang aku tak mau. Aku mau kamu hanya untuk aku. Itu syaratku!” Tegas Sekar.
“Aku tak akan melanggar sumpahku, aku memujamu, hanya kamu seorang, satu-satunya.” Dia mengubah posisi, memandang paras cantik Sekar. “Tetapi kamu perlu pelayan yang selalu melayanimu, pelayan wanita.”
“Cari saja pelayan wanita yang tua, usianya limapuluhan. Aku tak mau ada saingan.”
“Baik Sekar. Akan kulaksanakan.” Samba tersenyum.
“Ada lagi persoalan lain dan ini yang paling penting yang harus kamu tahu.” Suara Sekar terdengar mesra.
Samba menatap. “Apa lagi? Masih adakah yang lebih penting dari kamu jadi isteriku?”
Sekar bangkit duduk, berhadapan dengan kekasihnya. “Ada! Kamu punya seorang putra, putra tunggalmu.” Tegas Sekar.
Samba bingung. “Apa? Putra?”
“Antaseno yang kulahirkan itu, dia bukan putra Wisang Geni, dia putramu. Lima malam bersamamu, bercinta denganmu, aku yakin terjadi pembuahan dalam tubuhku. Seorang wanita akan tahu saat-saat itu. Setelah bersamamu, memang aku bercinta dengan Wisang Geni, tetapi keadaan sudah lain, karena bekas tubuh dan keringatmu masih melekat di tubuhku dan cintamu masih terasa menikam dalam-dalam lubuk hatiku. Dan pembuahan itu telah terjadi.” Tegas Sekar. “Wajah Seno sangat mirip denganmu, matanya, mulut dan hidungnya. Bentuk muka yang bulat telur. Dia sangat mirip denganmu. Kini usianya tiga tahun lebih. Lima malam ternyata buahnya adalah Seno, kamu sungguh hebat kangmasku.”
Samba mendengarkan dengan perasaan yang berkecamuk. Airmata bening membasahi matanya yang memandang mesra mulut penuh pesona yang menutur hal yang paling menakjubkan yang pernah didengarnya.
“Kamu menangis?” Sekar mengelus pipi kekasihnya.
“Aku bahagia. Tak kusangka kamu telah melahirkan anakku. Oh Sekar, aku sangat mencintaimu, kamu segala-galanya bagiku.” Samba memeluk wanita yang sudah ikrar menjadi isterinya. “Tadinya aku berpikir ingin memohon padamu melahirkan anak-anakku. Ternyata belum kesampaian justru aku sudah jadi bapak dari anak yang kamu lahirkan.”
“Waktu itu aku bersikap bodoh. Tetapi kamu lebih bodoh lagi, mengapa kamu tidak memaksakan niatmu. Bawa lari aku ke istana Kediri. Kamu punya kesempatan, karena aku sudah pasrah.” Bisik Sekar sambil mengelus kepalanya.
“Tapi kamu memohon dengan tangis ingin ke Argowayang menemui suamimu, untuk pamitan.” Bisik Samba. Tanpa sadar Samba telah tekuk-lutut, membiarkan sang isteri mengelus kepalanya seperti anak kecil.
“Seharusnya kamu paksa aku, bagaimanapun juga kamu sudah mendapat diriku, kamu tahu apa reaksiku waktu kita bercinta, itu reaksi wanita yang siap menjadi isterimu dan ibu dari anak-anakmu.” Potong Sekar.
“Tetapi aku tak berdaya menolak permintaanmu.”
“Aku wanita, waktu itu aku punya suami, tidak semudah itu aku harus mengaku cinta padamu dan mau kamu boyong ke istana. Lagipula aku pikir kamu hanya senang-senang dengan tubuhku, dan bahwa janjimu itu semuanya bohong karena kamu sedang bernafsu menikmati tubuhku.”
“Oh bodohnya aku. Kebodohan yang membuat aku sengsara selama empat tahun. Kamu benar, seharusnya aku memaksamu.” Dia diam sesaat. “Eh Sekar, Seno itu anakku? Apakah ada yang tahu selain kita berdua?”
“Tak seorangpun tahu. Ini rahasia terbesar dalam hidupku. Setelah kejadian aku menjadi isterimu sekarang, terlebih-lebih tak boleh ada yang tahu. Aku tidak percaya kepada Wisang Geni, mungkin saja dia dendam dan akan mencelakai Seno.”
“Apakah mungkin?”
“Mungkin saja.” Bisik Sekar.
Samba telentang dipangkuan Sekar. Tangannya mengelus perut dan pinggul. “Jadi kapan aku bisa melihat Antaseno? Dimana dia sekarang?”
“Katamu Tanjung Gerinting di Timur. Berarti di tengah perjalanan menuju rumahmu kita bisa mampir di rumah nenekku, mereka berdua yang mendidik dan melatih Seno.”
“Dewi Obat dan Nenek Sapu Lidi?” Ada rasa tegang dalam suara Samba.
“Kenapa? Kamu tak perlu takut, kini kamu sudah jadi suamiku. Akan kukenalkan sebagai suami yang lebih jujur dan setia.” Sekar tersenyum.
“Juga akan perkenalkan aku kepada Seno, bahwa aku adalah ayahnya?”
Sekar mengelus-elus kepala suaminya. “Belum sekarang, sangat berbahaya. Dia masih kecil tak bisa berbohong, jika bertemu dengan Geni dan dia mengaku kamu sebagai ayahnya. Keadaan bisa berbahaya.”
“Kapan menurutmu?”
“Setelah dewasa kita akan menjelaskan kepadanya, dua nenekku akan membantu menjelaskan.” Kata Sekar.
“Sekarang nenekmu yang melatih silat padanya. Tetapi aku ingin mengajari dia jurus perguruanku.” Tiba-tiba Samba berseru. “Dia akan kukirim ke guruku yang mulia. Di kaki gunung Slamet.”
“Dimana gunung Slamet itu?”
“Jauh di kawasan Barat.”
“Siapa gurumu, kalau aku boleh tahu?” Tanya Sekar.
“Kamu memang harus tahu. Dia bergelar pendekar bayangan gunung Slamet. Aku dan kangmas Pranaraja hanya mewarisi separuh ilmunya. Kami tidak sempat menyelesaikan ilmunya lantaran tugas kerajaan memanggil.”
Melihat Sekar diam. Samba melanjutkan. “Percayalah guruku tak kalah hebat dari sesepuh Lemah Tulis Pendekar Suryajagad, guru Wisang Geni itu.”
Sekar tertawa. “Eyang Suryajagad itu kakekku, dia suami nenek Sapu Lidi.”
Kaget. Tapi Samba kemudian tertawa. “Tak kusangka nenek dan kakekmu, dua pendekar yang ilmunya tidak terukur.”
“Kangmas, aku setuju Seno berguru pada gurumu, kamu punya hak atas pendidikan anakmu. Tetapi biarkan sementara ini dia dilatih nenek. Setelah dewasa dia kita bawa ke gunung Slamet. Lebih bagus buat dia memiliki kepandaian dari dua aliran perguruan.”
Malam itu mereka nginap.
Esok paginya mereka bermain di sungai. Sekar tampak sangat bahagia, wajahnya selalu berseri-seri. Kecantikannya kian memesona Samba yang makin tenggelam dalam kenikmatan cinta dan birahi.
Dulu Wisang Geni pernah tergila-gila seperti itu, tetapi Sekar merasa risih dan mencegah suaminya merendah. Kali ini Sekar membiarkan Samba bertekuklutut dibawah kakinya. Malah dia makin menggoda Samba masuk perangkap kecantikannya. Godaan Sekar ibarat tentakel gurita raksasa yang lilitannya membuat Samba tidak berdaya melepas diri. Jerat cinta yang mematikan.
Samba makin terperangkap dalam jejaring cinta Sekar apalagi setelah pengakuan Sekar bahwa Antaseno itu adalah putranya. Bukan putra Wisang Geni. Sekar juga makin pengalaman dalam bercinta dan menggunakan seantero pesonanya untuk menjerat Samba agar tetap tekuk-lutut dibawah kakinya.
Mereka sedang duduk di tepi sungai, ketika terdengar suara seseorang. “Sekar!”
Bersambung Bab 17 bag 3
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







