Wisang Geni part Two Bab 17 bag 1
Posted on 15 Agustus 2014 ( 0 comments )
Bab Tujuhbelas
Cinta Yang Tertunda
Bab 17 bag 1
Samba mendaki lereng gunung sambil memanggul Sekar. Diterangi cahaya bulan di penghujung malam itu dia menemukan persembunyiannya. Dia menguak semak, hati-hati supaya tidak merusak penampakan asli. Semak itulah yang menutupi goa. Siapa pun tak akan mengira antara tebing cadas yang luas itu ada pintu goa seukuran satu kali satu meter.
Hatinya gembira melihat goa yang dicarinya, dia lalu menggeser batu besar penutup goa. Kemudian sambil memanggul tubuh Sekar dia menghilang ke dalam goa. Hati-hati dia membaringkan Sekar di amben tempat tidur. Lalu dia menutup goa dari dalam dengan mendorong batu.
Goa itu terbentuk secara alamiah, cukup luas bisa memuat sepuluh orang. Dindingnya merupakan tebing cadas. Mulut goa ditutupi batu yang bisa digeser. Tebing bagian belakang terbelah, bagaikan pintu, menuju jurang yang tidak tampak dasarnya. Dari celah itu menghembus angin dingin yang menyegarkan udara dalam goa.
Dekat celah yang menghadap jurang, ada sebuah pembaringan kayu yang menempel di dinding goa. Pembaringan beralaskan jerami dan rumput kering ditutupi seprei warna hitam. Pada waktu tertentu Samba memanfaatkan goa untuk istirahat dan berlatih.
Dia temukan goa ini secara kebetulan, lalu dia merapikan isi goa. Dia berpikir goa inilah tempat untuk menyelamatkan diri jika terjadi pertarungan besar dan pihak Linggapati kalah. Tidak diduganya justru goa itu jadi persembunyian bersama wanita pujaannya.
Samba menghampiri Sekar di pembaringan. Memandang sesaat, dia kemudian membungkuk mencabut panah sekecil jari kelingking di leher Sekar, lalu mencium paras cantik yang penuh debu itu. Sekar masih belum sadar.
Samba berpikir keras. Keningnya berkerut. Dia melangkah mondar-mandir sambil melirik Sekar yang masih belum juga sadar. Dia mendekat, duduk di pinggir pembaringan memandangi paras wanita yang dia mimpikan selama empat tahun. “Tidak kusangka akhirnya bisa memiliki Sekar, apapun yang terjadi nanti, jika dia marah dan membunuhku, aku tidak akan melawan. Aku rela mati ditangannya.”
Angin semilir menerobos celah dinding goa membawa angin dingin berembun. Sekar menggigil. Kesadarannya pulih. Tiba-tiba matanya terbuka, dia sadar. Dia melompat, tapi tak ada tenaga. Tenaga-dalamnya melemah.
“Siapa kamu? Dimana aku? Apa yang telah kamu perbuat?” Mata Sekar melotot marah. Dia memegang dada dan mengetahui kebaya masih menutupi dadanya. Sekali lagi hendak mengerahkan tenaga, dia gagal. Tidak ada tenaga.
Samba merasa agak takut menatap sepasang mata indah yang sarat amarah itu. “Tidak. Aku tidak berbuat sesuatu.”
“Dimana aku?” Suara Sekar tinggi dan mendesak. Dia memaksa duduk, lalu berdiri. Tatapan mata Sekar masih kesana-kemari belum fokus kepada penculiknya.
“Dalam goa.” Samba menyahut lirih.
Sekar berdiri, matanya memandang sekeliling. Cahaya bulan meskipun sangat remang masih bisa menerangi isi goa.
Dia meraba pembaringan kayu, jerami, dedaunan dan karpet tebal berlapis berfungsi semacam kasur, dialas seprei warna hitam bersih. Di pojokan, beberapa kendi air minum yang mulutnya ditutupi daun dan diikat. Beberapa tabung bambu berisi tuak dan periuk tanah liat yang mungkin berisi makanan. Tampak juga buntalan pakaian, busur dan seonggok anak panah serta keris panjang yang tersembunyi dalam sarung.
Sekar menatap Samba, samar-samar dia seperti mengenali.
Mendadak ingatannya mengenal lelaki itu. Samba! Senopati Kediri yang muda, tampan dan jantan. Laki-laki yang kasmaran padanya, menawarkan menjadi isterinya. Samba yang belakangan ini justru sering diingatnya, jadi bahan lamunannya.
Lelaki yang telah menidurinya selama lima malam tanpa henti ketika dia berada dalam tawanannya. Itu suka sama suka, bukan pemerkosaan. Asmara dan birahi yang tak pernah dia lupakan selama ini meskipun Wisang Geni berada disisinya.
Seketika parasnya memerah rona malu, jantungnya berdebar kencang. Begitu kencang debaran hatinya seakan terdengar oleh telinganya.
“Aku Samba, empat tahun lalu kita pernah lima malam bersama, masih ingat?”
“Oh aku ingat, dulu kamu menyandera aku, sekarang juga kamu menawanku, mau apa kamu?” Sekar berusaha mengerahkan tenaga dalamnya. Sekar tidak menyebut kejadian dia dengan sukarela bercinta dengan lelaki itu.
“Tadi aku selamatkan kamu.”
“Apa yang terjadi denganku, bagaimana aku bisa berada di goa ini?” Samar-samar dia ingat sedang bertarung lalu limbung dan selanjutnya dia tak ingat.
“Kamu pingsan tapi tidak luka. Hampir terluka parah, aku menyelamatkan kamu, kemudian membawamu ke goa ini.” Tutur Samba.
“Bagaimana aku bisa pingsan?”
“Anak buahku menyumpit kamu dengan paku bius, itu sebab kamu pingsan, tapi sebelum jatuh di tanah aku sudah membopong kamu.”
Sekar memandang dengan mata melotot. “Tenaga-dalamku hilang?”
“Hanya sementara, siang hari besok tenagamu akan pulih, bius tidak berbahaya hanya untuk melemahkan seseorang.” Kata Samba.
“Jangan coba-coba memerkosa, aku akan bunuh diri.” Seru Sekar.
“Mengapa berpikiran aku akan memerkosamu?” Tanya Samba. “Dulu lima malam kita bercinta layaknya suami isteri yang saling menyinta.”
“Dulu, adalah dulu. Sekarang adalah sekarang. Apa maumu menculik aku?” Sekar berdiri ditengah goa, berkacak-pinggang, dua tangannya berada di pinggul, mempertegas sosok tubuhnya yang seksi menggoda. “Apakah aku masih cantik dimatanya? Apakah dia akan terangsang?”
“Tidak tahu. Aku tidak tahu.” Samba masih bingung, pikirannya bertanya-tanya mengapa Sekar marah, bukankah dulu mereka telah bercinta selama lima malam?
Sekar tertegun, tidak menyangka jawaban Samba. “Tidak tahu? Kalau tidak tahu, mengapa menculik aku? Aku tahu kamu pendekar sejati, lepaskan aku, biarkan aku pergi.”
Samba diam, hanya bisa memandang wanita yang dicintainya itu.
Suara Sekar setengah menjerit, marah dan putus asa. “Kamu banci. Coba hadapi suamiku Wisang Geni, bunuh dia, baru kamu merebut aku, itu namanya jantan.” Itu memang keinginan dalam hatinya yang tersembunyi sekian tahun. Dulu, sejak malam Samba memasuki tubuhnya, dia ingin Samba menaklukkan Wisang Geni, memboyongnya ke istana Kediri dan menjadikan dia isteri utamanya.
“Tarung lawan Wisang Geni, aku tidak yakin menang. Ilmu-silatnya lebih unggul. Tapi aku bukan banci, aku laki-laki sejati.” Paras Samba merah padam. “Kamu pasti tahu itu, kita pernah lima malam bersama, kita saling mencinta, apakah itu tidak berarti bagimu?”
Sekar diam. Jantungnya berdetak keras. “Dulu, dia telah mengungkap rasa cintanya. Tak kusangka sampai detik ini dia masih kasmaran padaku. Kukira waktu itu hanya nafsu birahi belaka, bahwa setelah percintaan selama lima malam itu dia akan melupakan aku. Tak dinyana sekarang ini aku berhadapan dengan dia.” Gumamnya dalam hati.
Dia mengamati Samba yang hanya mengenakan celana hitam sebatas lutut. Tubuh atasnya telanjang memperlihatkan dada bidang yang berotot dan berambut lebat. Tampak luka di beberapa tempat yang masih berdarah, bekas pertarungan tadi malam. Dia tampan, berotot, tinggi langsing, kulit kuning sawo. Rambut hitam ikal sebatas leher. Hidung bangir, mulut dihiasi bibir tebal, sepasang mata jernih dengan alis tebal, paras agak bulat. Memerhatikan Samba, jantung Sekar lagi-lagi berdebar kencang.
“Aku sudah bersuami!” Sekar berseru keras, spontan.
“Aku tahu!”
“Aku sudah punya anak!” Lalu Sekar meralatnya. “Anakku satu!”
Samba diam, hanya memandang dengan mata mendelong, mengagumi kecantikan Sekar yang semakin cantik jika marah. “Aku tidak perduli, kamu punya anak atau belum punya anak, aku mencintaimu, sangat mencintaimu!”
Keduanya bertatapan. Tiba-tiba Sekar merasa jengah, malu, pipinya memerah.
Samba mendekat, menatap Sekar. Memegang pundaknya, menariknya dengan lembut. “Kemarilah dewi pujaanku. Aku tak akan menyakitimu.”
Bagaikan robot. Sekar menatap Samba. Tak ada perlawanan.
Sekar memandang lelaki yang ketampanannya pernah membuat jantungnya berdebar kencang, dulu. Sekarang juga, jantungnya berdegup kencang membuat tubuhnya lemas.
Samba menariknya lembut. Dua tangannya memeluk lembut.
Sesaat Sekar merasa kaku, detik berikutnya dia merebah kepalanya di dada bidang Samba. Dia mencium aroma jantan yang keras dari tubuh yang berkeringat. Tanpa sadar Sekar melingkar dua tangannya ke punggung telanjang Samba, merasakan kulit halus dari tubuh yang keras bagaikan batu granit.
Sekar teringat kejadian empat tahun lalu. Lima malam mereka bercinta. Dia kasmaran pada lelaki ini. Tetapi dia merasa malu karena mengkhianati suaminya sehingga dia meminta percintaan itu dilakukan dalam gelap gulita.
Sekar bertanya. “Empat tahun berpisah denganku, sudah berapa wanita yang menjadi istrimu? Kekasihmu pasti banyak?” Dia merasa jantungnya berdebar karena cemburu.
Samba mengecup kening Sekar. “Aku punya selir. Karena laki-laki seperti aku pasti tak bisa hidup tanpa wanita. Tetapi aku katakan kepada mereka, bahwa aku telah beristeri, namanya Sekar, suatu waktu dia akan jadi permaisuriku di rumah ini.”
“Kamu tidak lupa padaku.” Sekar mendesis. “Kupikir kamu lupa.”
“Percintaan kita sangat aneh, aku tak pernah melihat kamu telanjang karena kita bercinta dalam gelap gulita, tetapi selama empat tahun berpisah denganmu, aku sering berfantasi membayang tubuhmu tanpa busana.”
Sekar merasa jantungnya bedebar kencang, dipicu kata-kata Samba yang sarat cinta. Lalu dia mendengar lagi bisik-rayu yang lembut. “Sekar, aku ingin membawamu ke rumahku di Tanjung Gerinting. Kamu akan kupuja. Para pelayan akan memandikan kamu, melulur tubuhmu yang indah, merias paras cantikmu, memasak makanan lezat, mereka akan melayani semua keperluan dan dalam setiap tarikan nafasku aku akan memujamu. Tidak ada orang yang akan menyakitimu, kamu aman, aku akan melindungimu dengan nyawaku sebagai taruhan.”
Sekar terbuai. “Itu semua keinginanku yang terpendam selama ini, aku ingin dipuja, dilayani dan dicintai seorang suami yang hanya aku isterinya, aku permaisuri dalam rumah tangganya dan rumah hatinya.” teriak hatinya. “Aku bosan hidup dalam pertarungan, bosan melayani Wisang Geni yang nyatanya seorang suami tidak setia.”
“Tanjung Gerinting itu dimana?” Sekar bertanya.
“Lima hari perjalanan ke arah Timur.”
“Katamu kasmaran selama empat tahun? Kamu pasti bohong.” Katanya lirih.
Samba menyahut mesra. “Aku mencintaimu, setiap hari selama empat tahun. Kupikir, kamu pasti isteriku pada penitisan lalu, dan menjadi isteriku lagi di kehidupan sekarang.”
Semilir angin pegunungan dari celah belakang goa, yang sejuk mengelus tubuhnya serasa elusan tangan lelaki, lembut penuh cinta. Sekar menahan nafas, ada rasa birahi yang asing dalam dirinya. Dia merasa tubuhnya menuntut sentuhan lelaki. Dia juga merasa aman dalam pelukan Samba. Seperti dulu, malam itu didalam tenda yang gelap tanpa penerangan.
Lagi-lagi jantung Sekar berdebar kencang.
Suara Samba berbisik di telinganya. “Aku tahu kamu masih mencintaiku, tapi jika kamu telah melupakan aku, Sekar, kamu bebas pergi, kembali kepada suamimu.”
Mendengar suaminya disebut-sebut seketika Sekar teringat lagi akan kebohongan Wisang Geni. “Dia mengkhianati aku. Sekarang dia lebih mencintai Atis, dia telah membuang aku keluar dari hati dan pikirannya.”
“Kamu boleh pergi.” Kata Samba lirih.
Suara Samba menyadarkan dia dari lamunan. Dia sadar masih dalam pelukan Samba. Keduanya berdiri di tengah goa.
“Mengapa diam? Aku sungguh-sungguh, kamu bebas pergi kembali ke suamimu.”
Sekar teringat. Malam itu di lembah kera dia menatap bintang dan berkata kepada diri sendiri, akan mencari Samba, akan meninggalkan Geni, akan berhenti mencintai Geni, akan menceritakan rahasia besar Antaseno sebagai putra Samba. “Akan kukatakan aku mencintainya, dan memaksa dia memboyong aku ke tempat tersembunyi. Tetapi aku malu. Apakah dia sudah beristeri?”
Sekar ingin tahu isi hati Samba. “Kamu masih muda, usiamu kutaksir empatpuluhan. Sebagai adik mahamenteri kamu pasti kaya, kamu juga tampan, ilmu-silatmu tinggi, pasti banyak gadis rela menjadi isteri dan selirmu.” Suara Sekar terdengar bergetar.
“Usiaku empatpuluh lima, aku ingin hidup normal, punya isteri, makan bersama, tidur bersama, bercinta setiap hari. Tetapi hanya kamu Sekar yang aku mau. Tidak yang lain.”
“Samba mengatakan ingin hidup normal, punya satu isteri. Aku juga ingin hidup normal, hanya aku dan Geni. Tetapi semua janji Geni dusta belaka, dia tidak cinta padaku, dia lebih mencintai Atis. Aku dianggap perempuan tidak berharga lagi.” Pikiran ini memancing amarahnya. Lalu ide liar mengamuk dibenaknya. “Dia tidak setia, mengapa aku harus setia padanya? Aku juga menyukai Samba? Jika dia membawa aku ke rumahnya aku akan mulai mencintainya, lagipula dia lebih jantan dibanding Geni.”
Samba berbisik lirih. “Sekar, bunuh aku, bebaskan aku dari derita mencintaimu namun tak bisa memilikimu.”
“Aku tak akan membunuhmu, tidak mungkin.” Kini Sekar memeluk erat Samba.
“Kalau begitu pergilah, tinggalkan aku sendiri, aku akan duduk bertapa di sini.”
Perasaan birahi yang asing kembali mengganggu Sekar. “Kalau benar cinta padaku mengapa kamu memilih mati?” Tangan Sekar mengelus pungung Samba.
Elusan itu merangsang Samba memeluk erat tubuh Sekar. “Aku sangat mencintaimu, dan karena tidak bisa memiliki kamu, maka mati adalah lebih baik bagiku.”
Sekar mendorong pelahan tubuh Samba melepas dari pelukan. Menatap laki-laki itu. Dia merasa trenyuh, nelangsa melihat laki-laki itu yang dalam pandangannya makin lama makin tampan dan menarik. Tiba-tiba tercetus begitu saja ucapannya yang terasa asing di telinganya sendiri. Jantungnya berdebar kencang. “Kamu ingin memiliki aku?” Suaranya parau. Dia melangkah dengan kaki gemetar, membaring tubuhnya di amben.
Matahari pagi terik tetapi udara pegunungan terasa sejuk. Goa itu terang oleh cahaya mentari yang menerobos dari celah besar. Dua anak manusia itu masih berpelukan.
Ketika itu terdengar suara panggilan “Seeekaaarrrrrr!” yang menggema dan memantul ditebing-tebing. Suara panggilan itu berulang-ulang dan berlangsung cukup lama. Sekar mengenali suara suaminya. Keduanya diam seakan tidak bernafas.
“Goa ini aman?” Sekar berbisik. Ada rasa takut. “Itu suara Wisang Geni!”
“Mereka tak mungkin menemukan goa ini.” Lalu Samba mencium leher Sekar, sambil berbisik lirih. “Kamu bebas memilih, Sekar. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku.”
Sekar cepat berpakaian. Samba juga mengenakan celananya, memandangnya dengan perasaan galau. “Kamu bagaimana?” Tanya Sekar. Dia duduk di pinggiran pembaringan.
“Kalau mau pergi pergilah, aku akan mengenang dan mencintaimu sampai kapanpun.” Samba tersenyum. “Tadi itu, apakah aku memuaskanmu?”
Sekar tersenyum, mengangguk. “Tak perlu kujawab, kamu sudah tahu.”
Samba duduk di sisi Sekar. Dia menoleh memandang wanita cantik yang telah merebut seluruh jiwa raganya. “Aku akan mengenangmu, kenangan abadi.” Suaranya sendu.
Suara panggilan “Seeekaaaarrrrr” masih diulang-ulang mengumandang di seantero lembah dan gunung, tebing dan batu cadas. Suara itu menembus ke dalam goa dan bergaung lama membuat dua insan itu makin tidak nyaman.
( Bersambung Bab 17 bag 2 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







