Wisang Geni part Two Bab 16 bag 2 by John Halmahera

Posted on 12 Agustus 2014 ( 0 comments )


Bab 16 bag 2

      Suaranya tidak keras namun sanggup menembus sampai ke tengah rombongan.              

      Pamegat berbisik pada Sang Raja. “Paduka Raja, Wisang Geni menepati janjinya.”

      “Sambut dia, supaya pasukan kita tidak salah faham.” Titah Raja.

      Sang Pamegat melecut kudanya, diiringi dua pendekar Tumapel. Tak lama kemudian dia  melihat belasan penunggang kuda berdiri di pinggir hutan. Dia mengenalnya, Wisang Geni dan rombongan Lemah Tulis.

      “Dimas Geni, lama kamu menanti? Bagaimana dengan Brantas?” Tanya Sang Pamegat.

      “Kami tiba sejak kemarin. Brantas sudah kami tumpas. Sebagian besar muridku pulang ke Lemah Tulis.” Lalu Wisang Geni balik bertanya. “Pasukan Tumapel begini besar dan angker, kupikir tenagaku tidak lagi diperlukan, kangmas?”

      “Ini perang. Kita tak akan pernah bisa mengira apa bakal terjadi. Tentu saja kamu dan para murid Lemah Tulis sangat membantu keraton.” Sang Pamegat menyodor sebelas ikat kepala kuning emas bersulam gambar keris. “Ini ikat kepala agar bisa membedakan teman dan lawan. Dimas, kamu ditempatkan dekat barisan Baginda Raja.”

      Wisang Geni menerima ikat kepala dan memberikan kepada Dipta untuk dibagikan. Dia terkejut mendengar kehadiran Raja. “Benarkah Baginda ikut perang?”

      “Malah Baginda yang menyuruh aku menjemputmu.” Tegas Sang Pamegat tersenyum.

      “Terimakasih atas perhatian Baginda. Tetapi berada didekatnya aku risih sebab telanjang dada, bagaimana baiknya?” Tampak Wisang Geni bingung.

      Sekar mengambil baju hitam dari buntalannya. “Ini bajumu Mas.” Betapapun cemburu  dan kekecewaan atas perlakuan mesra suaminya terhadap Atis, Sekar tetap menjaga sikap sebagai isteri yang telaten memerhatikan suaminya.

      Sang Pamegat tertawa. Para murid Lemah Tulis dan pendekar Tumapel ikut tawa.

      Tersipu malu Wisang Geni mengenakan baju sambil berbisik. “Terimakasih adindaku.”

      Malam tiba, pasukan berhenti di hutan radius satu kilo dari desa Bangu. Raja Ranggawuni, Mahisa Cempaka, Sang Pamegat, pimpinan sepuh jubah putih Ki Astika serta Wisang Geni berunding dalam kemah darurat. Seputar kemah dijaga ketat. Penjagaan berlapis para sepuh jubah putih di lingkar dalam. Pendekar Tumapel dan murid Lemah Tulis di lingkar dua dan pasukan pemukul di lingkar luar.

      “Di penghujung malam, sebelum dini hari, kelompok penelik Jedung yang dikirim Gajah Pringgon akan beraksi. Begitu pertunjukan kidung dan tari selesai enambelas pesinden akan melayani para penjahat dan membunuhnya. Mereka bersama penabuh musik tak mungkin bisa keluar tanpa bertarung. Karenanya sangat berharap serangan pasukan kita tepat waktunya.” Tutur Sang Pamegat.

      “Baginda Raja, pertama-tama pasukan khusus menyusup, membunuh dan membakar  sekaligus menolong para penelik Jedung. Pasukan khusus terdiri delapan belas pendekar, empat sesepuh jubah putih, para pendekar Lemah Tulis dibantu tigapuluh ponggawa. Secepatnya mereka menyelesaikan tarung kemudian mundur keluar dari radius panah. Saat itulah pasukan panah beraksi melepas hujan panah. Kemudian pasukan pemukul kedua bersama pasukan khusus menyerbu lebih jauh kedalam desa.” Tutur Mahisa Cempaka.

      Raja  Ranggawuni duduk ngangkang dengan dua tangannya menekan lutut. Sikap tidak lagi seperti Raja yang berbasa-basi, melainkan gaya pendekar. “Rencana bagus dan matang. Aku masuk setelah hujan panah selesai. Hati-hati bentrok dengan Linggapati, dia bersenjata keris prabakara. Aku sendiri yang akan membunuhnya, dan menjemput kembali keris pusaka keraton itu.” Suaranya berwibawa menggetarkan nyali semua orang.

      “Dia bukan lagi Ranggawuni yang kukenal dulu, dia sungguh-sungguh penguasa tanah Jawa, pasak bumi tanah Jawa.” Kata Wisang Geni dalam hati.

      Lamunannya buyar ketika Sang Raja menyapanya. “Kangmas Geni, terimakasih kamu telah datang bergabung, hadiah apa yang akan kuberikan?”

      Wisang Geni gugup, terbata-bata menyahut. “Tidak perlu Baginda. Hamba sudah senang memperoleh kuda hitam Wulung dan si putih Batari, serta perhiasan untuk isteriku. Sudah cukup Baginda.”

      “Kangmas Geni, kamu mau keris prabakara? Keris itu cocok untuk kamu sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa.” Kata Raja menguji kesetiaan ketua Lemah Tulis.

      Tidak hanya Wisang Geni yang kaget, semua yang mendengar terkejut.

      “Ampun Baginda, hamba tidak berani menerima.” Sahut Wisang Geni hormat sambil membungkuk dan merangkap dua tangannya.

       “Tidak pernah berubah. Benar kata Hyun permaisuriku, bahwa kakak perguruannya tak akan pernah berubah, tetap setia dan rendah hati. Pendekar nomor satu tanah Jawa yang selalu merendah. Aku sungguh menawarkan keris itu padamu.” Sang Raja menguji lagi.

      Dan sekali lagi Wisang Geni menolak. “Ampuni hamba. Keris itu harus sanding dengan Ki Gandring di keraton menjadi tanda kekuasaan Baginda atas tanah Jawa, menjadi tumbal kebesaran dan keagungan Tumapel.”

      “Kangmas Geni, berapa isterimu sekarang?” Pertanyaan yang sangat mendadak itu mengejutkan semua orang terutama Wisang Geni.

      “Tiga.” Suaranya agak malu-malu.

      “Mereka bersamamu di sini?”

      “Tidak Baginda. Hanya dua. Yang seorang menunggu di Lemah Tulis.”

      Sang Raja menoleh ke sepuh jubah putih. “Panggil dua isterinya.”

      Pendekar itu keluar kemah. Tidak lama kemudian masuk bersama Sekar dan Gayatri.

      Dua wanita ini agak bingung dan canggung. Mereka memandang suaminya, lalu duduk bersimpuh diatas lutut, memberi hormat kepada Sang Raja.

      “Aku menyampaikan hadiah perhiasan dari permaisuriku untuk isterimu.” Sambil dia memberi isyarat dengan tangannya kepada Mahisa Cempaka.

      Pangeran ini menyodor kotak perhiasan. “Kotak berisi tiga kalung emas yang masing-masing bergantung leontin, tiap leontin dihiasi batu jamrud persia. Ada tiga warna, merah delima, biru muda dan hijau. Terimalah.”

      Gayatri menyenggol lengan Sekar. “Mbakyu, kamu yang terima.”

      Sekar menerima kotak dari tangan Mahisa Cempaka. “Terimakasih Baginda atas hadiah  pemberian ini. Dulu, permaisuri memberi kami hadiah kalung emas. Terimakasih Baginda atas kemurahan hati permaisuri.” Kata Sekar. Bersama Gayatri, dia memberi hormat.

      Sang raja memberi isyarat. Sepuh Jubah Putih dengan sopan dan ramah mempersilahkan dua wanita itu keluar kemah.  Pertemuan selesai.

      Pertunjukan kidung dan tari yang meriah, usai sudah. Retno mengeluh ketika lengannya digenggam seseorang. Laki-laki itu menariknya melangkah.

      “Ayo Retno, aku sudah kasmaran selama dua hari, ayo kita ke rumah.” Kata Prabakesa yang lalu membopong Retno, menciuminya sambil melangkah ke rumah tak jauh dari gapura. Di tengah jalan Retno melihat semua teman sindennya sudah digendong para pendekar.

      Begitu mengunci pintu dengan palang kayu, langsung dia memeluk erat Retno. Suaranya macam dengus kuda habis berlari puluhan kilometer, ingin cepat-cepat meniduri wanita sinden yang menggemaskan itu.

      Dan Retno ingin muntah diciumi mulut yang berbau tuak yang tak pernah dicuci. “Tunggu Mas, aku lepas kebaya dulu.” Kata Retno.

      Prabakesa makin mabuk melihat dada Retno. Dia lantas memeluk. “Tunggu, sanggul aku lepas dulu.” Kata Retno. Dia melepas sanggul dan memegang erat tusuk kondenya. “Ayo lepas celanamu Kangmasku.” Bisik Retno sambil memeluk, dua tangan melingkar leher dan tusuk konde itu ditikamkan ke urat nadi leher. Benda itu masuk sampai separuh gagangnya.

      “Aduh apa itu Retno.” Prabakesa merasa kesakitan. Dia curiga. Dia kaget ketika tangan Retno telah menekan urat nadinya yang membuat dia lemas.

      “Apa? Semut? Kamu digigit semut?” Tanya Retno.

      Laki-laki itu masih melepas celananya. “Bukan semut, ada benda menikam leherku.”

      Retno tersenyum menggoda, mengenakan kembali kebayanya.

      Prabakesa limbung. “Mengapa aku lemas, pusing?”

      “Tidurlah selama-lamanya, tusuk konde mengandung racun, tiga kali kamu menarik nafas, racun langsung menyerang jantung. Tiga kali nafas lagi, mati.” Kata Retno tertawa.

      Prabakesa tidak mendengar lagi.

      Retno menendang laki-laki bugil itu merapat dinding. Terdengar ketukan dipintu.

      “Buka pintu! Retno, aku tahu kamu didalam! Buka pintunya!” Suara laki-laki.

      “Tunggu. Aku pakai baju dulu!” Seru Retno sambil melangkah melepas palang pintu.

      Laki-laki itu menerobos masuk, menutup pintu dengan palang. “Aduh Retno, aku cari-cari kamu.” Matanya melihat punggung Prabakesa yang bugil di pembaringan. “Siapa itu?”

      “Oh itu Prabakesa, orangnya gede tapi tidak tahan lama, langsung tertidur.” Retno tidak mengancing kebayanya, sengaja perlihatkan dadanya, khawatir sandiwaranya ketahuan. “Ayo kamu pendekar Kulon Semeru pasti lebih jantan.”

      Mata Kulon Semeru nanar mengamati dada Retno. Dia berlutut memeluk paha, dan menciumi perut yang putih mulus. “Aduh biyung, betapa cantiknya kamu.”

      “Mas, aku tadi belum puas. Kamu mau obat kuat? Aku punya.” Tanya Retno.

      Sambil menciumi dada Retno, dia menyahut sekenanya. “Mau, aku mau, sayangku.”

      Jari-jari lincah Retno menusukkan tusuk kondenya ke urat nadi leher. “Sakit sedikit, tetapi nantinya enak, tubuh jadi segar.” Kata Retno.

      Pendekar itu yang sesaat merasa sakit, lenyap rasa curiganya. Dia melepas celananya, sambil tetap menciumi dada Retno.

      Retno menggiring si laki-laki ke pembaringan. “Bagaimana rasanya, mulai enak?”

      “Pusing, aku pusing Retno, obat kuat apa tadi?” Tanya si laki-laki, nafasnya mulai menyesak.

      “Tadi itu racun, tiga kali kamu menarik nafas, racun langsung menyerang jantung. Tiga kali nafas lagi, mati.” Ujar Retno sambil menoleh ke pintu.

      Tidak ada yang mengetuk pintu. Dia mengira-kira waktu yang sudah terbuang.

      Sambil menyanggul kembali rambutnya, menyisip tusuk konde dia mengenakan ikat kepala kuning emas. Saat itu terdengar pintu rumah dipukul, seorang lelaki berikat kepala kuning emas masuk. “Ayo keluar!” Kata lelaki itu.

      Di luar rumah tampak para pendekar berikat kepala kuning emas menerobos ke rumah-rumah. Para pesinden berlarian dan bergabung dengan rombongan.

      Pemimpin pasukan bertanya dengan suara keras. “Mundur cepat!” 

      Bersama-sama mereka mundur. Pada saat itu pasukan panah melepas panah api. Seketika panah api menerangi gelapnya malam, menghunjam puluhan rumah. Pasukan menerobos jauh kedalam kampung sambil melepas panah api.                                                                                                                                            

      Dari beberapa rumah berlarian keluar para pendekar yang masih terpengaruh tuak. Mereka berpapasan dengan pasukan panah yang tanpa ragu sedikit pun melepas hujan panah.

      Dari dalam rumah-rumah yang agak jauh di dalam desa yang tidak terjangkau panah api, keluar puluhan pemberontak, tergopoh-gopoh. Lalu terdengar perintah dan aba-aba. “Siapkan panah, cepat, musuh menyerang!”

      Namun mereka menjadi korban pasukan panah yang melepas hujan panah. Ratusan anak panah meleset memenuhi langit yang gelap dan hanya diterangi temaram sinar bulan. Sesuai rencana pasukan keraton menyerbu bergelombang. Wisang Geni dan murid-muridnya ikut bergabung. Ratusan prajurit keraton mendesak maju sampai dekat tebing membuat Linggapati terjaga dari tidurnya.

      Serangan Tumapel melumpuhkan kekuatan Linggapati, separuh lebih anggota rodra mati diterkam hujan panah atau roboh ditebas para murid Lemah Tulis. Tidak hanya itu, sebagian besar pendekar bayaran ikut mati mengenaskan.

      Namun pasukan Linggapati masih memiliki kekuatan tersembunyi. Pendekar gugus dua yang semula berjumlah tigapuluh tiga sudah susut menjadi duapuluh. Mereka bersama empat penasehat, Dewi Kajoran, Pulosari, Sangkapura dan Samba memberikan perlawanan gencar. Linggapati bersenjatakan keris prabakara bersama Dedes Ayu ikut tarung.

      Pertarungan terjadi dimana-mana.

      Linggapati mengamuk, kerisnya menebar hawa maut. Prastawana dan Dipta yang diserang dipaksa mundur. Hawa panas keris menyergap dengan ancaman maut. Dua ponggawa keraton dari pasukan pemukul, mati hangus kena sabetan keris haus darah itu.

      Wisang Geni melihat keadaan membahayakan jiwa dua muridnya, melayang masuk arena. “Kalian mundur. Biar kuhadapi.”

      Tapi Wisang Geni tak menyangka keris prabakara segarang itu. Keris itu bergerak pesat bagai petir penebar hawa maha panas. Ketika keris memotong, terpaut dua jengkal dari tubuhnya, terasa hawa panas seakan membakar dadanya, membuat Wisang Geni terkejut.

      Tidak ayal lagi Wisang Geni mengerahkan segenap tenaga wiwaha dinginnya. Pukulan jarak jauhnya bisa mengekang sepak-terjang Linggapati. Pemimpin pemberontak ini lalu menggeram, mengerahkan segenap tenaganya, disalurkan ke badan keris.

      Keris ditangannya mengeluarkan cahaya warna warni menyinari wajah angker Linggapati. Dia memainkan jurus andalan “lokamandala nengkeringawiyat” (permukaan bumi naik terbang ke angkasa). Jurus warisan gurunya yang kemudian dia sempurnakan menjadi pamungkas bumi dan matahari. Diantaranya dua jurus maut “dhikara” (kemarahan) dan “kampita” (guncang-goyang) khusus memanfaatkan tuah dan keangkeran keris prabakara. 

      Lelaki itu berputar-putar, melayang dan menerkam, keris saktinya bergerak bagai ular mematuk dan melilit, saat berikut bagaikan lidah naga yang menyembur api.

      Wisang Geni terdesak, hanya bisa berkelit dan menghindar sambil menyerang dengan pukulan jarak jauh mengarah pergelangan dan siku lawannya. Dia pun menggelar lalawa mengepak sayap menembus awan membuat indera rasanya bisa memantau getaran keris musuh. Kepekaan indera jurus lalawa itu sangat membantu Wisang Geni menghadang sepak terjang Linggapati yang trengginas.

      Tidak bisa melukai Wisang Geni, gerakan Linggapati dengan kerisnya menelan korban beberapa anggota pasukan pemukul. Mati dengan bagian tubuh yang kena sabetan keris, hangus. Seketika orang-orang menepi ketika Linggapati bergerak maju.

      Hawa malam yang seharusnya sejuk dingin, terasa panas membara sekitar arena tarung dimana Linggapati pamer kedigjayaan. Sampai duapuluhan jurus Wisang Geni belum punya harapan mengalahkan lawannya. Sebaliknya Linggapati semakin ganas menyerang ingin cepat menghabisi nyawa pendekar tanah Jawa itu.

      Duapuluh pendekar bayaran yang mumpuni dari kubu Linggapati berada atas angin. Satu demi satu pendekar pasukan pemukul mulai jadi korban. Dipta dan Prastawana berseru agar semua murid Lemah Tulis tarung berdekatan sehingga bisa saling bantu. Hanya dengan demikian maka sepak-terjang musuh bisa ditahan.

      Keadaan sangat tidak menguntungkan bagi pihak keraton. Ketika itulah terdengar seruan keras dari Sang Raja Seminingrat. “Kangmas Geni silahkan mundur.”

(Bersambung Bab 16 bag 3 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com