Wisang Geni part Two Bab 16 bag 1
Posted on 07 Agustus 2014 ( 0 comments )
Bab Enambelas
Keris Gandring
Bab 16 bag 1
Siang itu serombongan pejalan kaki singgah di gerbang desa Bangu dikaki bukit Gunduk kawasan Selatan gunung Arjuno. Cuaca sejuk, angin sepoi meskipun matahari menyorot garang. Mereka istirahat dekat gapura.
Belum lama beristirahat, ketika dua penjaga desa menghampiri dan mengusir dengan kata-kata kasar. “Pergi! Ini bukan tempat istirahat! Cari tempat di hutan sana!”
“Kami bukan orang jahat, kangmas.” Kata laki-laki tua berpakaian lusuh.
“Kalian dari mana mau kemana?” Penjaga bertubuh kekar bercambang lebat, bertanya. Dia berlaku ramah melihat beberapa wanita cantik dalam rombongan.
Seorang wanita usia di akhir duapuluhan, memberi hormat. Meskipun pakaiannya lusuh penuh tambalan dan parasnya dikotori debu namun tampak cantik, muda dan segar. Dadanya menonjol dengan pinggul yang besar. “Kami dari desa Susuk pinggir kali Porong. Desa dilanda banjir besar, semua harta benda kami ludes hanya sisa beberapa potong pakaian. Kami mencari desa yang bisa menjadi tempat tinggal, kami tidak akan mengemis, kami akan bekerja, pekerjaan apa saja.”
“Desa Bangu tidak bisa menampung kalian. Penduduk sudah berlebih. Silahkan pergi mencari desa lain.” Tukas si penjaga dengan suara datar tanpa belas kasihan.
Seorang wanita yang lebih tua namun tubuhnya masih segar dan seksi dibungkus kebaya lusuh yang agak ketat dan sewek yang robek sebatas dengkul, maju. Dia memberi hormat. “Namaku Retno, kami sinden dan penari, rombongan kami terbiasa tampil di panggung desa-desa sekitar kali Porong, malah juga pernah tampil di perayaan pelabuhan Jedung.” Dia bicara dengan menggerakkan tangan begitu rupa hingga dadanya ikut bergoyang. Wanita ini sengaja pamer kegenitannya.
Mata penjaga itu membelalak liar menelanjangi tubuh seksi wanita usia tigapuluh lima bernama Retno itu. Tanpa sadar dia menelan ludah. “Benarkah?”
“Benar kangmas, silahkan kami diuji, dirikan panggung di sini, dan lihatlah tarian dan kidungan kami.” Kata wanita yang pertama sambil tertawa genit. “Namaku Sinta, seperti isteri Sri Rama. Bedanya aku belum bersuami meskipun tidak perawan lagi.”
“Usulmu bagus.” Kata penjaga lainnya. “Tetapi kami harus memberitahu pemimpin kami, kalau dia setuju, kalian boleh manggung meramaikan desa. Tetapi jangan berharap bisa tinggal di desa kami.”
“Usulku supaya mereka kita uji lebih dahulu, jika benar-benar bagus, baru kita lapor kedalam,” Tukas penjaga yang pertama.
“Tidak usah dirikan panggung, coba kalian main, berkidung dan menari. Aku mau lihat.” Kata penjaga yang kedua.
Retno tampak gembira, berkata. “Ayo teman-teman, kita main di sini.”
Lima lelaki menyiapkan alat tabu, gendang, kecek, rebana, suling. Mereka duduk sila dan mulai membunyikan alatnya sebagai persiapan awal. Tiga perempuan, Sinta, Sri dan Menik dengan pakaian lusuh berbekal selendang panjang berdiri dalam formasi segitiga.
Tidak lama berselang terdengar suara merdu Retno mengalun dalam kidungan asmaradana yang bersemangat, dua wanita membantu sebagai suara latar belakang. Bunyi musik dan tabu mulai berdendang dan tiga penari berjoget dengan liuk tubuh memesona.
Dua penjaga itu diam mematung, saking hebatnya pesona tarian tiga wanita. Suara gendang dan kidung makin mengeras, tarian semakin panas. Hentakan kaki, getaran paha, goyang pinggul dan hentakan dada, membuat dua penjaga itu mabuk kepayang.
Belum juga satu lagu itu selesai, beberapa orang yang tadinya duduk-duduk di warung yang terpisah tigapuluhan meter dari gapura desa, datang menghampiri. Beberapa orang dari dalam rumah yang berada sekitar radius seratus meter, berlarian menghampiri tapal batas. Mereka nonton dengan bergairah.
Ketika satu lagu itu selesai, terdengar tepuk tangan dari beberapa lelaki yang berdiri disamping dua penjaga tadi.
Retno memberi hormat. Suaranya merdu. “Terimakasih atas tepuk-tangannya.”
Sinta dan dua temannya mundur ke belakang berkumpul bersama para wanita lain. Hampir semua wanita itu masih muda, sebagian lain matang, dan memiliki paras dan tubuh yang menarik.
“Satu kidungan lagi Jeng Retno.” Seru penjaga yang bengis tadi.
“Maaf kangmas, kami biasa dibayar. Tadi satu lagu untuk perkenalan. Lagu berikutnya dipungut bayaran, apalagi kami ini sedang kesulitan hidup.” Sahut Retno. “Kami butuh keping perak dan emas untuk membiayai hidup.”
“Dua kidungan lagi, biar aku yang bayar, satu keping perak, cukup?” Seru Prabakesa, satu dari empat pemilik warung. Dia mengambil alih warung karena Korowelang dan Janda Ngargoyoso tak pernah muncul lagi.
Retno menoleh dan memberi hormat. Dia memungut keping perak yang dilempar lelaki tubuh kekar itu. “Terimakasih kangmas.” Sahutnya tanpa merasa tersinggung.
Mereka berkidung masih dengan jenis asmaradana yang kesohor. Goyang pinggul, liuk dada yang montok, getar paha dan betis kuning memadi bunting yang mengintip dari sewek yang robek, memesona semua lelaki yang nonton.
Tidak terkira dari saat ke saat makin banyak penduduk desa Bangu keluar dan berderet dikalangan penonton. Selama ini jarang ada hiburan kidungan dan tari yang disuguhi wanita-wanita cantik.
Beberapa lelaki desa berseru minta agar kidungan dilanjutkan. Mereka membayar dengan beberapa keping uang perak. Sinta menerima uang bayaran tersebut, menghitung kemudian menyerahkan kepada Retno. “Empat lagu, dan ini yang terakhir, karena kami perlu istirahat, kangmas.” Kata Retno.
Satu demi satu kidungan disajikan, penonton semakin ramai. Tepuk tangan dan komentar berbau cabul keluar dari mulut para lelaki desa yang tampak bersemangat, malah sebagian ikut menari.
Selesai empat kidungan Retno memberi hormat. “Cukup, kangmas. Kami mau istirahat. Kami mohon ijin mendirikan gubuk darurat di hutan seberang untuk dua hari. Bolehkah?”
Pengawal itu menoleh ke arah lelaki jangkung kurus berwajah tirus, kepala botak dengan kumis lebat menutupi bibir atasnya, Prabakesa. Rupanya diantara semua pengawal dan orang desa Bangu yang berkumpul disitu, Prabakesa lebih tinggi jabatannya.
Prabakesa menyahut dingin. “Boleh. Tetapi tak boleh lebih dari dua malam.” Dia menatap Retno dengan sinar pandang yang bergairah.
“Terimakasih, kangmas yang mulia.” Sahut Retno sambil mengerling.
Mereka bebenah alat-alat musik dan buntalan pakaian, kemudian melangkah ke seberang, berhenti di pinggiran hutan. Rombongan terdiri dari duabelas pria dan enambelas wanita. Mereka menebang pohon-pohon kecil untuk tiang gubuk, beberapa lelaki desa membantu sambil merayu para wanita sinden.
Esok siangnya setelah memperoleh ijin dari pimpinan, orang-orang desa membantu mendirikan panggung di lapangan terbuka dekat gapura.
Malam harinya berlangsung pesta ronggeng dan tuak.
Orang-orang desa mulai mabuk tuak dan mabuk birahi menyaksikan ronggeng penari. Mereka semuanya anggota pasukan Rodra yang sudah lama tidak ditemani wanita, mengemis-ngemis mengajak pesinden bercinta.
Para pesinden dengan licik, menunda. “Besok saja selesai pertunjukan, peraturan sinden tak boleh dilanggar, kalau sedang manggung dilarang main cinta.”
Penghujung malam pertunjukan usai. Rombongan beristirahat di gubuk. Mendekati dini hari dua lelaki, Broto dan Ular Putih siap-siap pergi. “Hati-hati dijalan kangmas,” pesan Retno sambil memeluk kekasihnya.
Broto, mengecup pipi Retno. “Kalian berada di sarang macan, harus waspada dan hati-hati. Besok malam semoga rencana tidak berubah.” Katanya.
Kedua laki-laki itu cepat bergerak, mengindap-indap menyisir hutan menuju Selatan, ke arah Karangploso.
“Tanpa kuda tetapi kalau kita berjalan cepat dan semuanya sesuai rencana, kita akan bertemu rombongan keraton sebelum makan siang, kita bisa kembali secepatnya dan bergabung lagi dengan teman-teman sebelum malam tiba.” Tutur Ular Putih, teman Broto.
“Tergantung dimana tempat berpapasan dengan mereka, semakin dekat dengan desa Bangu semakin cepat kita bisa kembali ke rombongan.” Kata Broto.
Pagi hari, udara sekitar keraton Tumapel sejuk. Kabut dan embun masih bergayut, matahari belum terbit. Rombongan keraton melakukan persiapan tanpa menimbulkan suara. Suasana hening, hanya gemerencing senjata bersinggungan dengan sarung atau ikat pinggang. Kuda pun tenang, hanya mendengus. Tak ada ringkik.
Semua sudah diatur sejak tengah malam. Di baris terdepan pasukan pemukul yang terdiri dari prajurit kualitas unggul, duapuluh jajar masing-masing lima prajurit. Senjatanya tombak, keris dan tameng rotan. Di dua sisi beberapa pendekar Tumapel berkuda.
Dibelakang pasukan pemukul ini sebuah tandu besar dan mewah digotong delapan jagoan bertubuh kekar, itulah tandu sang Raja Tumapel, Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat yang lebih dikenal dengan nama Ranggawuni. Tandu dijaga ketat dikelilingi puluhan pengawal angker dan bengis. Tetapi tandu itu kosong. Itulah siasat menyesatkan jikalau ada musuh yang hendak menyerang sang Raja.
Sang Raja Ranggawuni berada di atas punggung kuda hitam pekat yang sebagian rambut dilehernya berwarna putih kecoklatan. Sang Raja berpakaian serba hitam lazimnya pendekar diapit Sang Pamegat dan Mahisa Cempaka yang duduk tegar di atas kuda, keduanya juga berbusana serba hitam.
Didepan Raja, tiga pendekar sepuh jubah putih. Di sisi kiri dan kanan serta belakang dikawal dua sepuh jubah putih. Sembilan sepuh jubah putih mengelilingi kuda sang Raja yang melangkah tiga meter di belakang tandu.
Para pendekar Tumapel menyebar diantara pasukan dan tandu kosong sang Raja. Pasukan panah yang kesohor berbaris satu-satu disepanjang tandu. Sebagian lagi, yang terbanyak berada dibelakang tandu, berbaris rapi.
Dibelakang, rombongan pasukan pemukul berkuda yang semuanya pendekar berilmu tinggi. Semua yang bergabung dalam rombongan Tumapel, duaratus prajurit dari pasukan pemukul dan duaratus pasukan panah.
Tanpa suara hanya derap langkah prajurit dan hentakan kaki kuda yang menimbulkan suara. Suasana tengah malam menjelang dini hari itu menguar aroma magis. Pasukan perang Tumapel dipimpin langsung sang raja Ranggawuni. Tampak semangat membias di wajah masing-masing prajurit kendati tidak tahu maksud tujuan. Namun mereka tahu akan berperang menumpas pemberontak.
Empat pendekar keraton dipimpin Dwi memimpin tigapuluh ponggawa pilihan menjadi pemandu dan penyapu, meneliti dan mewaspadai jalanan yang akan dilewati bahkan sisi jalan tidak luput dari pembersihan jika memang ada yang mencurigakan. Tanggungjawab mereka, mengamankan jalanan di depan, kiri dan kanan, mencegah serangan gelap.
Matahari siang semakin panas. Ketika itulah dua penelik, mata-mata, Broto dan Ular Putih berpapasan dengan pemandu terdepan. Keduanya jongkok dengan lutut bertumpu di tanah. “Kami Broto dan Ular Putih, utusan adipati Gajah Pringgon mohon menghadap paduka Sang Pamegat Ranu Kabayan Sang Apanji Patipati.” Broto memberi hormat.
“Tanda pengenalmu?” Dwi, pendekar Tumapel bertanya.
Broto menyebut kata-kata sandi yang diajarkan Adipati Gajah Pringgon.
Dwi memerhatikan. “Tunggu disini,” Kata Dwi lalu melirik beberapa ponggawa yang mengawal sisi rombongan. “Awasi dia!”
Dwi mendekati Sang Pamegat. Lalu berseru. “Tuanku yang mulia, seorang penelik utusan adipati Gajah Pringgon ingin menghadap tuanku.”
Sang Pamegat mengarah kudanya ke sisi luar, mengikuti Dwi ke arah depan. Rombongan tetap berjalan.
“Kamu siapa? Aku Sang Pamegat!”
Broto, sekali lagi mengulang kalimat sandi.
Sejenak meneliti, Sang Pamegat berkata. “Jelaskan.”
Broto berkata lirih, hampir berbisik tetapi cukup jelas didengar Sang Pamegat dan Dwi. “Kami duabelas pria dan enambelas wanita penelik kiriman adipati Gajah Pringgon. Kami nginap di hutan batas desa Bangu. Kami mengadakan pertunjukan. Pengamatan kami, penduduk desa hanya kaum pria, tidak ada wanita dan anak-anak. Kami punya kesempatan nginap sampai malam ini, esok pagi kami harus pergi.”
“Apa yang kamu siapkan untuk pesta malam nanti?” Tanya Pamegat.
“Perempuan-perempuan kami siapkan rencana, tengah malam ketika pertunjukan usai, musuh pasti mabuk tuak. Satu demi satu akan kami bunuh.” Kata Broto. “Mohon ijin hamba kembali sekarang.”
Sang Pamegat menggeleng. “Kamu tahu aturannya. Ini misi rahasia. Kamu tidak bisa kembali sekarang, kamu ikut pasukan ini, dan akan mendapat kesempatan maju bersama pasukan pemukul yang terdepan, untuk menolong teman-temanmu.”
Rombongan Wisang Geni melakukan perjalanan cepat. Siang hari kedua, mereka tiba di pinggiran desa Bangu. Di sebelah kiri tampak gapura desa, beberapa pengawal berjaga-jaga. Sebelah kanan tiga gubuk darurat, tampak beberapa orang lelaki wanita tidur-tiduran istirahat, makan dan ngobrol.
Wisang Geni dan para murid memperlambat kuda, agar tidak memancing kecurigaan. Tak ada orang yang menegur. Para pengawal gapura hanya memandang penuh selidik. Mata mereka memandang penuh curiga, tetapi tidak bereaksi lanjut.
Ketika sudah menjauh dari desa Bangu, Wisang Geni berkata kepada para muridnya. “Itu pasti desa Bangu, markas pemberontak, kita tetap menuju selatan.”
Mereka berhenti di hutan jauh, beberapa kilometer dari desa Bangu. “Kita istirahat di sini, memelihara semangat dan tenaga. Kalian bergantian berkeliling memantau kedatangan pasukan keraton. Mungkin hari ini atau besok.” Wisang Geni kemudian sila bersemedi.
Seharian menunggu, esok harinya dari pagi sampai sore tak ada tanda-tanda.
Malam harinya, rembulan belum lama muncul. Dipta berlari-lari menghampiri Wisang Geni. “Guru, ada pasukan mendatangi. Coba dengarkan.” Katanya sambil menelungkup merapatkan telinganya ke tanah.
Gajah Nila dan yang lain ikut-ikutan.
Mereka saling menyahut, “benar pasukan besar.”
Wisang Geni mengajak rombongan menyongsong pasukan.
Samar-samar dibawah sinar rembulan, tampak beberapa orang berkuda, grup pemandu. Di belakangnya pasukan kecil terdiri tigapuluh prajurit. Dibelakangnya, pasukan besar keraton Tumapel. Tidak ada pengenal seperti bendera dan umbul-umbul, tetapi seluruh pasukan mengenakan seragam.
Rombongan Lemah Tulis berdiri di tepi jalan. Wisang Geni mengirim suara menggunakan tenaga-dalam tingkat tinggi. “Kangmas Pamegat, aku Wisang Geni menunggu disini, siap bergabung.”
( Bersambung Bab 16 bag 2 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







