Wisang Geni part Two bab 15 bag 2 by John Halmahera

Posted on 02 Agustus 2014 ( 0 comments )


( Bab 15 bag 2 )

      Persiapan dilakukan dengan rinci. Sehari setelah pertemuan, Prastawana mengirim dua murid menuju Mahameru. Janji akan bertemu di desa Ngoro. Prastawana menghitung jalan dua murid ke Mahameru, persiapan dan perjalanan murid Mahameru ke desa Ngoro. Dia kemudian melapor kepada Wisang Geni. “Lima hari lagi kita berangkat.”

Pagi hari itu sepuluh murid terbagi dalam lima kelompok berangkat ke lima lokasi.

Keesokan harinya, rombongan besar dipimpin Wisang Geni meninggalkan perguruan. Menuju desa Ngoro, tigapuluh lima murid, tidak terhitung ketua dan tiga isterinya. Mereka berangkat dengan semangat tinggi. Mereka berjalan kaki, tapi membawa beberapa kuda untuk membawa perbekalan makan dan minum.

Malamnya nginap di hutan, esok siangnya tiba di pinggiran desa Ngoro. Mereka memilih tempat yang paling rimbun mendirikan gubuk darurat. Dua hari menanti. Rombongan Mahameru dipimpin Narapati tiba dan bergabung. Hari ketiga, Dipta dan Kumbaka, rombongan pengintai yang terakhir pulang.

Dipta melapor. “Markasnya dilekukan kali Bangsal dekat desa Trawas, tampaknya mereka mengadakan pertemuan, semua murid kumpul, sekitar dua ratus orang yang hadir.”

Narapati, pemimpin rombongan Mahameru sangat berhutang budi pada Wisang Geni yang menjodohkannya dengan Kirana, murid pendekar besar itu. “Kangmas Geni, jumlah kita seluruhnya tujuhpuluhan, cukup mampu menghancurkan Brantas. Sebaiknya kita  menyerang dadakan itu usulku.” Kata Narapati.

Dipta memotong. “Aku setuju, ketua. Kita tidak perlu malu menyerang dadakan, karena mereka melakukan cara pengecut di Kandangan. Kita serang waktu malam.”

Pertemuan yang hanya dihadiri segelintir pimpinan, setuju untuk menyerang dadakan. Waktunya malam hari menjelang pagi. “Sore ini semua istirahat. Jarak ke Trawas hanya separuh malam. Jika berangkat awal malam, kita tiba dini hari. Artinya malam masih kelam. Atur semua rombongan kita memakai ikat kepala putih.” Kata Wisang Geni.

Prastawana bertanya pada Dipta, kakak seperguruannya. “Kangmas, siapa-siapa pendekar yang ada di markas Brantas saat ini?”

“Pertemuan akan dipimpin ketua Brantas Roro Gandis. Hadir juga gurunya Ganggati, dan kakaknya Kangsa, selain itu Janda Ngargoyoso dan Korowelang pendekar dari Utara.” Tutur Dipta. “Tidak banyak berita yang kuperoleh.”

Wisang Geni tertawa sinis. “Aku pernah tarung dengan Ganggati. Dia bagianku. Dipta, Prastawana dan Narapati bagi-bagi tugas hadapi Kangsa, Korowelang dan Ngargoyoso. Ketua Brantas Roro Gandis biar bagian isteriku Sekar. Murid lainnya, waspada dan saling menjaga, begitu melihat ada lawan yang berilmu tinggi cepat tangani, jangan biarkan anak murid kita jadi korban. Gayatri dan Atis akan membantu.”

Sekar memperlihatkan rasa kesalnya. “Jika urusan tarung kamu mengandalkan tenagaku, jika urusan cinta kamu memilih si genit Atis. Kamu berlaku tidak adil padaku. Aku sudah bosan bertarung untuk kepentinganmu, Roro Gandis itu bukan musuhku, aku tak punya dendam dengannya tapi aku terpaksa tarung dengannya untuk membela kepentinganmu. Hari ini aku tidak takut mati, sebab jika aku mati di medan tarung sakit hatiku hilang.” Gumamnya dalam hati.

Suasana hening di penghujung malam itu. Rombongan Lemah Tulis dan Mahameru sudah mengambil posisi. Samar-samar tampak perahu besar di tepian kali, kelap kelip obor damar di geladak. Di tepian kali puluhan gubuk darurat berjejer. Para murid dua perguruan besar mengindap-indap mendekati gubuk musuh.

Begitu jarak terpisah hanya limapuluh meteran, mereka diam menunggu. Sudah disepakati Wisang Geni, Sekar, Gayatri, Prastawana, Narapati dan Dipta akan meluruk ke perahu besar. Tugasnya menyulut api membakar geladak dan layar kapal. Serangan akan dimulai serentak begitu melihat layar perahu terbakar.

Wisang Geni menggunakan ilmu ringan-tubuh waringinsungsang yang paling handal, cepat dan  tidak menimbulkan suara. Pertama menginjak kaki di geladak, dia menghantam pingsan dua penjaga. Mengambil tiga obor damar yang masih menyala, melemparnya ke tiang layar. Sekejap saja, layar itu menyala dan terbakar.  Pada saat bersamaan Dipta menghajar mati beberapa penjaga.

Saat berbarengan Sekar, Gayatri, Prastawana, Narapati menerobos palka, membunuh para penjaga, mencari tong kayu yang berisi minyak damar. Mereka memecah beberapa tong  dan menyulut api. Dalam sekejab api menyala di palka.

Mereka lari cepat ke atas geladak dengan masing-masing membawa satu tong berisi minyak. Mereka menuang minyak damar diatas geladak kayu, lalu menyulut api. Kebakaran  berkobar dimana-mana. Palka dan geladak terbakar, begitu juga layar perahu. Kobaran api tampak mencolok digelapnya malam.  

Ketika itu beberapa penjaga menerobos keluar kamar. Mereka teriak-teriak adanya kebakaran. Sebagian penjaga menyerang. Tetapi mereka bukan lawan sepadan Wisang Geni yang amarahnya menggila. Sekar, Gayatri, Prastawana, Dipta, Narapati ikut mengamuk. Satu demi satu para penjaga yang sebagian adalah penjahat bayaran jatuh bersimbah darah. Mati.

Hanya dalam hitungan menit yang singkat kapal itu terbakar.

Di malam hari, api yang membakar layar dan geladak kapal menimbulkan kekacauan. Orang-orang Brantas yang berada diatas kapal berlarian dengan panik.

Murid-murid dua perguruan melihat layar kapal tersulut api serentak menyergap musuh yang masih tidur lelap di gubuk-gubuk.

Para murid Brantas kaget dan panik mendengar teriakan para penyerang. “Bunuh Brantas! Hancurkan Brantas! Pembalasan! Tak ada ampun! Tumpas para penjahat, bunuh, jangan ada yang lolos!”

Di atas perahu markas, para pendekar Brantas dan tamu-tamunya gesit berlarian. Sebagian murid Brantas berteriak-teriak. “Padamkan api! Kebakaran!”

Suasana kacau balau, gegap gempita suara orang Brantas berteriak-teriak bercampur dengan letupan api dari palka bawah. Geladak juga sudah tidak tertolong lagi, api semakin membesar, asap menghalangi penglihatan.

“Mana musuh! Mana penyerangnya!” Terdengar teriakan suara wanita. Roro Gandis!

Paras wanita cantik itu merah padam saking marah, namun dibalik amarahnya dalam hatinya terbersit ketakutan. Besarnya kobaran api dan teriakan panik anak buahnya membuat malam dingin itu menjadi panas mengerikan. Dia memandang ke tepian kali, tampak orang-orang berlarian dan bertarung. Suara hiruk pikuk.

Terjadi pertarungan dimana-mana, di atas kapal maupun di darat. Teriak kesakitan atau jerit amarah bercampur erangan orang sekarat mewarnai pertarungan massal yang melibatkan tigaratusan orang. Satu per satu murid Brantas berjatuhan tewas.

     Wisang Geni, Sekar, Gayatri, Prastawana, Dipta dan Narapati melesat turun ke darat, berpindah arena tarung.

      Setelah sempat dilanda panik beberapa saat, orang-orang Brantas mulai mengenal para penyerangnya, yakni yang berikat kepala putih. Mereka mulai melawan, menyerang ganas.

Beberapa bayangan melesat turun dari kapal yang sudah bagaikan lautan api. “Menyerang dadakan bukan perbuatan pendekar, ayo unjuk diri, biar kulumat tulang-tulang tubuhmu. Aku Ganggati dari gunung Limas,  penghancur tulang dan pengisap darah.”

Gerakan pendekar wanita itu sangat trengginas karena dipicu amarah yang berapi-api. Sepak-terjang Ganggati dikuti beberapa tokoh pendekar lainnya, serta belasan ponggawa  Brantas yang cukup tinggi ilmu-silatnya. Terjadi pertarungan massal.

Ganggati tidak memilih lawan, dia menyerang musuh terdekat. Gajah Lengar kebetulan berada didekatnya. Serangan ganas Ganggati sangat mengerikan, keris luk sembilannya mengincar titik kematian. Gajah Lengar terkesiap. Untung saja Narapati berada didekatnya, membantu menyerang sehingga terjadi tarung yang mencekam. Dua pendekar muda mengeroyok Ganggati.

Namun Ganggati sedang berada di puncak amarahnya, nafsu membunuhnya tidak lagi bisa ditahan-tahan. Kebakaran di kapal markas Brantas telah memupus semua mimpinya. Tadinya ingin membawa Brantas menjadi bagian pasukan Linggapati dalam perebutan kekuasaan tanah Jawa. Mimpi itu kini sirna. Tidak heran amarahnya tumpah ruah ke alamat musuhnya. Dia menyerang dengan pukulan tangan dan tikaman keris dahsyat. Kontan Gajah Lengar dan Narapati terdesak hebat.

Wisang Geni melihat sana-sini, tahu pihaknya berada atas angin. Tiba-tiba dia  melihat Gajah Lengar dan Narapati yang terdesak amuk Ganggati, si pendekar wanita tua berilmu tinggi. Dia berkelebat menuju Ganggati sambil berseru. “Ganggati, aku lawanmu!”

Dia menyeruak tarung tiga orang itu,”kangmas berdua silahkan mundur! Nenek tua ini kekasih lamaku.” Dia tertawa keras, tawa kera yang membahana di arena tarung. “Ayo nenek kekasihku, kita main-main dulu sebelum bercumbu.”

“Kurangajar, penjahat cabul. Murid Suryajagad si cabul, kubunuh kamu hari ini!” Teriak Ganggati menyerang hebat. Jurus lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung dimainkan dengan keris luk sembilan. Serangan ganas yang tujuannya membunuh.

Wisang Geni tertawa senang menemukan lawan tanding yang ganas ini. Beberapa waktu lalu dia pernah tarung lawan wanita perkasa ini, hasilnya imbang alias sama kuat, tarung pun berjalan singkat. Sekarang suasana lain, inilah tarung hidup mati, dia langsung memainkan lalawa mengepak sayap menembus awan.

“Siapa diantara kalian yang bernama Kangsa?” Prastawana menyongsong kelompok pendekar yang melayang turun dari kapal.

Salah seorang bertubuh gempal, tinggi dengan paras tampan berseru. “Aku Kangsa, kamu  mencari mati? Sebut namamu!”

“Aku Prastawana dari Lemah Tulis, tugasku membunuh kamu!” Prastawana menyahut dengan dingin. Disinari kobaran api dari kapal besar, parasnya tampak kaku.

“Kalian pengecut hina, menyerang orang sedang tidur, kucincang tubuhmu!” seru Kangsa sambil melancar serangan maut. Terjadilah tarung hidup-mati.

Sekar yang sedang menghajar beberapa prajurit Brantas melihat wanita cantik berpakaian merah mencolok. Kontan dia berseru. “Hei Roro Gandis, aku di sini, bagaimana tandamataku di payudaramu, datangi aku biar kutambah lagi codet di dadamu.” Tadinya dia kurang bersemangat tarung karena kecewa terhadap suaminya, namun kini timbul kegembiraan melihat Roro Gandis.

Melihat musuh yang paling dia benci, yang siang malam menjadi mimpi buruknya, Roro Gandis berteriak murka. “Sekar pelacur hina, kubunuh kamu, kuminum darahmu!” Bergerak pesat dia melancar serangan dengan jurus-jurus maut dari kerisnya. Dia kalap!

Dua macan betina ini terlibat tarung mematikan, sedikit lengah nyawa melayang.

“Mana Korowelang?” teriak Narapati. Dia pernah mendapat laporan dua keponakan murid Mahameru dibunuh dengan kejam oleh Korowelang, murid wanitanya diperkosa lebih dahulu baru dibunuh. Kejadiannya sudah satu tahun, tetapi baru hari ini Narapati menemukan musuh yang dicari-carinya.

 “Aku Korowelang, siapa yang mau mati ditanganku?”

 “Kamu pembunuh dan pemerkosa murid Mahameru, kubunuh kamu!” Seru Narapati. “Sudah lama aku mencarimu, akan kukirim kamu ke neraka!”

Korowelang tertawa keras, temberang, memandang enteng Narapati. “Wanita cantik itu, dua hari aku menikmati tubuhnya setelah itu kugorok lehernya, siapa dia? Apakah dia isterimu, mbakyumu, atau anakmu?”

Narapati meledak amarahnya, segera menggelar ilmu brahmanagra yang terdiri 21 jurus penuh kawikaran (perubahan) basis gereh (guntur) dan sedung (badai). Serangannya telengas tak kenal kasihan. Dua tangannya bergerak macam kitiran menguar angin keras. Itulah jurus yang mengandalkan tenaga besar yang hanya bisa digelar seorang pendekar dengan tenaga-dalam mumpuni.

Suara angin dan letupan dari dua tangan Narapati memaksa Korowelang harus memusat perhatian sepenuhnya jika mau selamat. Dia pun melancarkan tangkisan dan serangan balasan memompa semua tenaga-dalam dan menggunakan jurus-jurus andalannya. Dalam sekejap pertarungan masuk ke wilayah mati hidup.

Janda Ngargoyoso berdua Korowelang mengunjungi Ganggati menagih janji bergabung dengan pasukan Linggapati justru datang pada waktu dan tempat yang salah. Jika Korowelang ditantang Narapati, Janda Ngargoyoso ketemu tarung lawan Gayatri. Tidak terhindar lagi pertarungan berdarah antara mereka.

Tarung massal ditingkat bawah berlangsung tak kalah serunya. Para murid dua perguruan satu tingkat lebih tinggi ilmu-silatnya, apalagi dengan serangan mendadak, tidak heran banyak jatuh korban di pihak Brantas.

Di kubu dua perguruan beberapa murid terluka, mereka ditolong temannya ditempatkan di gubuk-gubuk bekas milik orang-orang Brantas. Ada beberapa murid yang bertugas merawat temannya yang luka. Sementara beberapa murid lain menjaga dengan senjata terhunus. Setelah berlangsung satu jam, ketika matahari mulai muncul di ufuk Timur, banyak murid Brantas dan pendukungnya tewas. Sebagian lain yang masih selamat, melarikan diri.

Ketika para murid Brantas berlarian sambil menjerit-jerit menyelamatkan diri, pada saat itu pertarungan Sekar lawan Roro Gandis memasuki fase berbahaya. Sekar berada atas angin, namun belum berani merangsek lebih dekat. Keris pusaka Roro Gandis tidak hanya menguar hawa panas namun juga bau bacin dari racun mematikan.

Mengandalkan ilmu ringan tubuhnya wimanasara (gerak secepat panah sakti) Sekar melayang-layang ringan. Senjatanya, tongkat hitam dari logam keras dengan ujung tajam bagai silet. Ilmu pukulan sapwatanggwa meski hanya tujuhbelas jurus namun banyak perubahan, dimainkan dengan tenaga-dalam segoro menempatkan Sekar diatas angin.

Puluhan jurus berlalu jangankan melukai musuhnya, menyentuh saja dia tidak mampu. Hal ini membuat Roro Gandis yang dikuasai amarah semakin kalap, semakin menggila ingin menebas tangan Sekar dan menghunjam kerisnya kedada musuh yang sangat dibencinya. Dia pun menyerang tanpa memikirkan pertahanan.

Menurut pikirannya serangan gencar dan kejam akan membuat Sekar kesulitan menyerang balik. Ilmu andalan lenyamlenyom dan pangkelangpangkelung berganti-ganti dimainkan sehingga menyesatkan, dan sulit diduga arah serangannya. Pada mulanya Sekar berlaku sabar, mempelajari gerak serangan lawan.

Sekar mengerti serangan keris lawan meskipun sangat aneh namun hanya bervariasi tusuk dan potong. Tampaknya Roro Gandis ingin membuntungi tangan atau menghunjam kerisnya ke dada dan leher. Saking marahnya setiap menyerang Roro Gandis berseru, “mati kamu, kurobek dadamu, jantungmu kumakan mentah-mentah, kuminum darahmu.”

Sekar melayani dengan sabar dan semakin mengerti arah serangan lawan.

Hanya sekali-sekali dia menangkis dengan tongkatnya. Khawatir tongkatnya rusak beradu dengan keris pusaka lawan, dia berlaku cerdik. Saat benturan dia mengedut senjatanya seakan hanya menampar badan keris lawan dan menarik kembali. Tak ada benturan keras sepenuh tenaga. Sekar tak mau senjata warisan Nenek Sapu Lidi itu rusak.

Tarung melampaui jurus tujuhpuluh dua macan betina itu sudah mandi keringat disiram mentari pagi. Daya tahan Sekar semakin tangguh, tenaga segoro ibarat makin bekerja makin panas dan makin tangguh. Sebaliknya Roro Gandis yang malas berlatih sering mengumbar hawa nafsu bercinta dengan  lelaki, membuat tenaganya melemah. Tidak tahan bertarung dalam durasi panjang.

( Bersambung Bab 15 bag 3 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com