Wisang Geni part Two Bab 15 bag 1 by John Halmahera
Posted on 30 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab Limabelas
Lemah Tulis Balas Dendam
Bab 15 bag 1
Perguruan Lemah Tulis telah berubah. Pagar tinggi yang mengelilingi perguruan telah tiada. Banyaknya penduduk sekitar perguruan yang mengirim putra-putrinya berlatih silat dan areal tanah dalam pagar yang tidak mampu menampung pertambahan murid memaksa perguruan mengubah sikap dan kebijakan.
Terjadi pembauran penduduk desa yang tidak mengenal ilmu-silat dengan murid-murid Lemah Tulis yang menguasai ilmu-silat. Lemah Tulis berkembang seperti desa-desa pada umumnya di tanah Jawa yang punya organisasi desa, perdagangan antar penduduk, adanya warung makan, warung serba ada.
Siang hari itu rombongan Wisang Geni tiba di Lemah Tulis. Tentu saja para murid geger dan gempita melihat munculnya sang ketua. Mereka berduyun-duyun memberi selamat dengan gembira. Wisang Geni langsung menemui Padeksa, guru yang seperti kakek sendiri.
Orangtua itu merangkul muridnya dengan sukacita. “Kamu bukan saja masih hidup, malah tampak sehat dan bugar.”
Setelah sungkem mencium lutut gurunya, Wisang Geni duduk sila. Guru yang terbiasa dipanggil kakek oleh Wisang Geni itu, tertawa-tawa memandang muridnya.
“Ceritakan kejadian yang menimpa kamu, kabar di luaran mengatakan kamu mati dibunuh isterimu.” Kata Padeksa. “Tapi aku tak pernah percaya kamu mati. Hatiku tidak bersedih, firasatku kamu masih hidup. Itu sebabnya aku perintahkan Prastawana membawa teman-temannya mencarimu.”
“Nyaris mati, guru. Lukaku cukup parah. Yang memukul aku, Arjapura. Bukan isteriku. Dia dendam, karena putranya mati ditanganku beberapa tahun lalu. Akan kuceritakan itu di depan para murid.” Kata Wisang Geni.
Padeksa tersenyum sambil mengelus jenggotnya yang pendek dan putih semuanya. “Katanya kamu telah mengambil-alih ketua. Benarkah kamu mau menyerang Brantas, balas dendam.” Dia tersenyum licik. “Itu maumu, aku tidak memaksa kamu bertarung.”
Wisang Geni tertawa geli. Senyum licik telah lama tidak menghias wajah orang tua itu. “Aku akan pimpin para murid menghancurkan Brantas!” Tegasnya.
“Aku setuju.” Seru Padeksa geram teringat matinya sang adik Gajah Watu.
“Tetapi kakek tidak ikut.”
Wisang Geni tertawa melihat Padeksa cemberut. “Kakek sesepuh perguruan, jadi harus berada di perguruan. Urusan di luar biar aku yang selesaikan.”
Prastawana datang memberi hormat, kemudian berkata kepada Wisang Geni. “Ketua, para murid menunggu, tampaknya mereka kangen padamu. Ingin mendengar petuahmu.”
Padeksa bertanya. “Geni, dadamu bergambar lalawa.”
“Iya, aku mendapat jurus baru, warisan guru lalawa. Dan aku suka gambar ini, guru.”
“Memang ilmu-silat tak ada batasnya.” Kata Padeksa. “Geni apakah tidak terlintas dalam pikiranmu untuk menciptakan jurus-jurus dari pecahan garudamukha? Kamu punya kemampuan untuk itu, hanya semangatmu yang tidak ada.”
Wisang Geni memandang kakeknya dengan penuh tanda-tanya. “Aku pernah menciptakan tiga jurus langit, jurus perpisahan, rasa suwung wenganing bumi, ngesti suwung wenganing bumi, wong mati ora kesasaban bumi, kakek masih ingat?”
“Maksudku yang lebih khusus yaitu jurus fisik yang bersumber dari garudamukha dan garudamukha prasidha, jangan-jangan kamu mulai melupakan asal-muasal kamu belajar kanuragan di perguruan Lemah Tulis?”
Wisang Geni terkejut mendengar ucapan Padeksa yang sangat tajam itu. “Apakah karena aku belajar jurus-jurus dari guru lalawa membuat kakek tidak senang?” Pikiran ini mengganggunya. “Aku tetap murid Lemah Tulis, mengapa kakek berkata demikian?”
“Aku sudah tua, aku tak mau mati dengan membawa pikiran buruk bahwa ajaran Lemah Tulis mulai hilang dari muka bumi. Aku ingin mewariskan jurus-jurus sakti garudamukha kepada murid-murid Lemah Tulis untuk mempertahankan ajaran kakek buyutku pendiri perguruan ini.”
Padeksa menghirup nafas panjang, menghembus pelan ke udara. “Lupakan saja pembicaraan ini, tidak penting lagi.” Dia melangkah masuk kamar, meninggalkan teka-teki kepada Wisang Geni dan Prastawana.
Sore hari itu matahari masih terang benderang, limapuluh lebih murid berkumpul di aula. Jumlah itu tidak mewakili semua murid, melainkan hanya para senior.
Melihat munculnya tiga pendekar itu, semua murid bertepuk tangan. Gegap gempita.
“Sudah lama suasana gempita ini tidak terdengar,” kata Padeksa tertawa. Dia duduk sila berhadapan dengan para murid. Disampingnya Prastawana dan Wisang Geni.
“Mulailah, hidupkan kembali semangat perguruan, seperti dulu kita membangun Lemah Tulis ini. Prastawana, mulailah.” Kata Padeksa. “Lihat, aku masih belum jompo, masih kuat dan perkasa.” Lalu tubuh pendekar tua itu terangkat dari lantai masih dalam sikap duduk sila. Dan tubuh itu melayang-layang setengah meter dari tanah.
Para murid tercengang dan terpesona melihat peragaan ringan-tubuh dan tenaga-dalam mumpuni itu. Seketika mereka bertepuk-tangan memuji Padeksa. Tidak demikian dengan Wisang Geni, perilaku gurunya seperti memberi tanda kepadanya akan ketidakpuasan sang kakek terhadapnya.
Padeksa duduk kembali dan berkata. “Ayo Prastawana mulailah.”
Prastawana berdiri, seketika suasana sunyi senyap. “Teman-teman, kemarin jabatan ketua, kukembalikan kepada ketua Wisang Geni. Selama ini aku hanya mewakili, tak pernah aku menganggap diri sebagai ketua. Dialah ketua, dahulu, sekarang dan masa depan. Jika ada salahku selama ini maafkan aku. Silahkan ketua untuk bicara.” Prastawana berkata dengan wajah berseri penuh kegembiraan.
Sorak sorai dan tepuk tangan ketika Wisang Geni berdiri.
Dia mengacung dua tangannya keatas sehingga tampak jelas ketiaknya yang berbulu. Dadanya yang bidang dengan gambar lalawa, wajah yang angker wibawa, dan sepasang mata tajam yang memandang sana-sini seketika meredam riuhnya sorak sorai.
“Orang-orang Brantas telah mengoyak kehormatan Lemah Tulis, tigapuluh satu saudara kita mati di Kandangan termasuk paman guru Gajah Watu. Aku hanya mendengar cerita, namun amarahku mendidih. Aku akan menyerang Brantas, balas dendam, hutang nyawa bayar nyawa, siapa diantara kalian mau ikut?”
Seketika terdengar teriakan semangat campur amarah para murid lelaki maupun wanita. Mereka bangkit, berdiri sambil mengacung kepalan. “Aku ikut, aku ikut, aku ikut.”
Wisang Geni mengangkat tangannya kembali, semua murid duduk dan suasana seketika hening. “Satu hari sebelum malapetaka di Kandangan, aku dilukai Arjapura. Dendamnya padaku sedalam lautan sebab aku membunuh putranya Wasudewa. Bukan isteriku Gayatri yang memukul aku, sekali lagi kukatakan, bukan Gayatri yang memukul aku. Cerita orang bahwa Gayatri memukul dan melukai aku? Itu tidak benar! Aku yang mengalami dan aku tahu apa yang terjadi. Saat itu Gayatri memelukku dan aku terpecah perhatian padanya. Aku lengah. Saat itu Arjapura menyerang, aku mendorong Gayatri menjauh, karenanya gerakanku terlambat. Aku hanya bisa memutar tubuh menghindarkan dadaku dari pukulan. Lenganku yang kena. Mengapa Gayatri bisa muncul bersama penjahat itu? Karena Gayatri kena racun jahat, dia ditawan dan dipaksa menemuiku. Saat itu dia telah memeringati aku, tetapi seperti kataku tadi, aku terlambat.”
Gayatri diam mematung. Terharu suaminya berbohong demi melindungi dirinya. Matanya berkaca-kaca. “Dia tidak hanya mengampuni juga melindungi aku, betapa besar kasih sayang dan pengorbanannya kepadaku.” Katanya dalam hati.
Kalau Gayatri senang mendengar kebohongan itu, tidak demikian Sekar yang tampak sangat kecewa. “Dia berbohong demi membela Gayatri sungguh tidak layak seorang pemimpin perguruan besar bersikap seperti itu. Orang lain boleh percaya, tetapi aku tahu persis apa yang terjadi. Pengkhianatan Gayatri itu kesalahan besar seorang isteri, tak boleh diampuni! Laki-laki lemah!”
Wisang Geni melanjutkan, matanya bersinar tajam, ada percikan amarah didalamnya. “Arjapura telah membunuh dua isteriku Manohara dan Prawesti. Dia pernah berusaha membunuh putriku, ini urusanku sendiri, akan kutagih hutang darah ini padanya! Sekarang kita bersiap-siap menyerang Brantas.”
“Ketua, banyak murid Mahameru tewas di Kandangan, kita berjanji akan bergabung menyerang Brantas. Bagaimana kalau kita ajak mereka?” Tukas Prastawana.
Wisang Geni menyahut cepat. “Ajak mereka. Biar ramai.”
“Berapa jumlah murid ikut kamu?” Padeksa memotong.
“Empatpuluh murid, Prastawana dan Dipta yang memilih.” Kata Wisang Geni.
Margana, yang bersama Daraka merupakan murid Gubar Baleman, bertanya. ”Kapan kita menyerang? Kami semua sudah lama menahan diri, menunggu datangnya saat ini.”
“Besok kita berangkat.” Jawab Wisang Geni.
Para murid menyambut gembira.
Pertemuan bubar. Semua murid kembali menjalankan kesibukan masing-masing. Wisang Geni berpesan kepada Dipta dan Prastawana menemuinya di rumah malam nanti. “Ajak isteri kalian, kita makan bersama.”
Malam harinya di rumah ketua Lemah Tulis.
Wisang Geni didampingi Sekar, Gayatri dan Atis. Dipta bersama isterinya Mingasi, Prastawana berdua Dyah Mekar. Mereka makan dan ngobrol akrab. Selesai makan Wisang Geni mengungkap rencananya.
“Markas pusat Brantas adanya di perahu besar yang keberadaannya sulit ditebak sebab selalu berpindah-pindah. Rencanaku, kalian berempat melakukan perjalanan mencari tahu lokasinya.” Kata Wisang Geni. “Setelah pasti lokasinya, baru kita menyerang.”
Tiba-tiba saja Atis memotong, suaranya serius. “Itu rencana yang buruk.”
Semua orang menoleh memandangnya, bahkan mata Wisang Geni melotot, seketika Atis kaget. Tanpa sadar tangannya menutup mulutnya.
“Apa katamu?” Wisang Geni bertanya. Matanya melototi Atis.
“Kataku, rencana itu buruk, apa tidak ada rencana lain yang lebih bagus?” Kata Atis.
Tangan Sekar mencubit paha Atis. “Jangan ngawur, Tis.”
“Aku tidak omong sembarangan. Memang rencana itu buruk.” Jawab Atis.
“Katakan apa yang buruk?” Wisang Geni sadar Atis pasti tidak sembarang asal bicara.
Atis memandang suaminya. “Anak buahmu keliling ke beberapa tempat, begitu ketemu lokasi perahu, balik kesini lapor padamu. Lalu kalian berangkat menyerang ke lokasi itu, sudah tentu perahu markas sudah pindah!” Dia memandang mata suaminya yang tadinya tajam mendadak bersinar. “Bisa satu bulan lebih tanpa hasil.”
Wisang Geni ingat isterinya yang cantik kemayu itu selalu punya pemikiran cerdas. “Tis, kamu punya usulan? Katakan!”
Atis tersenyum. “Utus empat kelompok pergi ke empat lokasi yang paling mungkin ditempati perahu itu. Kamu dan rombongan besar menunggu di tempat yang letaknya di tengah antara empat lokasi itu. Waktunya lebih singkat dan lokasi perahu itu belum akan berpindah. Kalau perlu utus enam kelompok ke enam lokasi.”
Wisang Geni saling pandang dengan dua wakilnya. Ketiganya tersenyum.
“Ternyata kamu tidak sembarang bicara,” tukas Wisang Geni.
“Aku setuju, ketua.” Ujar Dipta yang terkenal pendiam.
“Menurut kalian, dimana perahu itu sering berlabuh?”
“Setelah peristiwa Kandangan itu, aku keliling ke beberapa tempat, mencari tahu tentang Brantas, kupikir suatu saat keterangan ini pasti akan berguna.” Tutur Dipta yang tidak ikut rombongan mencari ketua ke gunung Lejar. “Lokasi paling memungkinkan, desa Trawas, desa Pute dekat kali Beji, desa Bareng, desa Karambang dekat Jedung, desa Gondang dan Sajen dekat kali Bangsal. Lima lokasi. Sebaiknya rombongan besar bersiap dan menunggu di hutan dekat desa Ngoro.”
“Bagaimana menurutmu Pras?” Tanya Wisang Geni.
“Usulan tepat. Rencana itu bisa dilaksanakan, ketua.” Jawab Prastawana.
Wisang Geni memutuskan nama-nama yang bertugas. “Lima lokasi, artinya lima kelompok. Prastawana, Dipta, Daraka, Gajah Lengar dan Gajah Nila. Masing-masing boleh membawa satu atau dua teman.”
Mingasi, isteri Dipta dan murid Wisang Geni, yang sejak tadi diam ikut nimbrung. “Guru, kamu sekarang punya penasehat ulung.” Katanya sambil menunjuk Atis.
Wisang Geni tertawa senang. Dia memeluk Atis, tanpa merasa malu dihadapan para murid. Dan Atis pun dengan manjanya tertawa senang sambil merebah di dada suaminya.
Sekar menahan diri, berusaha keras untuk tetap ceria. Meskipun dia sangat cemburu dan sakit hati, tetapi orang lain tidak perlu tahu.
Perubahan paras Sekar tidak luput dari pandangan para murid. Mereka seakan ikut merasakan derita Sekar. Bagaimanapun juga mereka merasa lebih dekat kepada Sekar, karena telah bertahun-tahun bergaul. Adapun Atis hanyalah isteri baru.
Sawitri berbisik pada Dyah Mekar. “Kasihan Sekar, ketua makin ngawur.” Dia lalu bangkit berdiri. “Aku ingin bicara denganmu.” Sambil dia menarik tangan Sekar yang terpaksa mengikutinya.
“Mau kemana kalian?” Daraka bertanya pada isterinya.
“Ini urusan perempuan Mas.”
Sawitri mengajak Sekar ke pojokan luar rumah. Dia memegang dua tangan Sekar, memandang air muka wanita itu yang tampak pucat. Tidak tahan melihat derita temannya, Sawitri memeluk Sekar. Tangannya mengelus kepala Sekar. “Sabar, adik. Ada saatnya nanti kamu kembali berada di atas.”
Seketika itu Sekar luluh dalam tangis. “Aku tak tahan lagi. Geni sudah melupakan aku, dia membuang aku dari hatinya.” Kata Sekar terisak-isak. “Dia juga membela Gayatri, aku tahu persis, aku satu-satunya saksi karena Manohara dan Prawesti sudah mati. Gayatri memukul Geni yang tentu saja tidak curiga. Tenaga-dalam Geni lumpuh dan saat itulah pukulan Arjapura mengenainya telak. Mengapa dia berbohong, karena hanya dengan itulah dia bisa meniduri Gayatri lagi.”
Sawitri kaget. “Oh begitu cerita sebenarnya? Tapi bukan kamu satu-satunya saksi, dua lainnya Wisang Geni dan Gayatri. Mungkin sebaiknya kamu rahasiakan.”
“Aku tidak takut. Jika Geni marah, aku akan minggat tanpa ragu sedikitpun! Aku juga sudah bosan diperlakukan tidak adil.”
Persiapan dilakukan dengan rinci. Sehari setelah pertemuan, Prastawana mengirim dua murid menuju Mahameru. Janji akan bertemu di desa Ngoro. Prastawana menghitung jalan dua murid ke Mahameru, persiapan dan perjalanan murid Mahameru ke desa Ngoro. Dia kemudian melapor kepada Wisang Geni. “Lima hari lagi kita berangkat.”
( Bersambung Bab 15 bag 2 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







