Wisang Geni part Two Bab 14 bag 3 by John Halmahera
Posted on 30 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab 14 bag 3
Istana Tumapel penjagaannya ketat. Ibarat seekor lalat pun sulit menerobos penjagaan yang berlapis. Bangunan berlapis dan saling berhubungan. Di beberapa tempat tersebar pendopo, bangunan yang luas terbuka tanpa dinding atau sekat disediakan untuk para pengawal khusus lingkar-dalam keraton.
Disalah satu bangunan-dalam, terdapat keputren yang bersebelahan dengan istana emas Ranggawuni, raja Tumapel yang bergelar Wisnuwhardhana. Ada pintu besar menghubung istana emas dengan keputren.
Untuk bisa masuk kesini seseorang harus sangat dikenal dan mendapat ijin langsung dari sang raja. Penjagaan berlapis dan sangat ketat. Para pengawal dalam istana adalah orang-orang pilihan dengan kesetiaan dan ilmu-silat tinggi, mereka pengawal khusus raja dan permaisuri. Kesetiaan mereka tak diragukan lagi, siap menukar keselamatan sang majikan dengan nyawa mereka.
Ranggawuni tidak pernah melupakan bantuan tiga orang yang berperan besar dalam hidupnya sampai menjadi raja Tumapel. Pertama-tama, dua bersaudara anak Maharaja Kediri Bhatara Parameswara alias Mahisa Wunga Teleng, yakni Waning Hyun yang lahir dari permaisuri dan Mahisa Cempaka anak dari selir.
Waning Hyun adalah pewaris sah kerajaan Kediri. Menikahi putri jelita Waning Hyun membuat Ranggawuni alias Seminingrat menjadi pewaris kerajaan Kediri.
Ranggawuni sendiri adalah pewaris sah kerajaan Tumapel dari ayahnya Anusapati yang dibunuh dan direbut tahtanya oleh Tohjaya. Sebagai pewaris kerajaan Tumapel dan juga Kediri, maka Ranggawuni bersama isteri Waning Hyun dan Mahisa Cempaka menjadi buronan Tohjaya dan pasukannya yang dipimpin Mahamenteri Pranaraja dan Samba.
Adalah Sang Pamegat Apanji Patipati yang menyembunyikan dan melindungi mereka bertiga, bahkan membantunya menggalang kekuatan menggulingkan Raja Tohjaya dan merebut tahta Tumapel.
Setelah memenangkan tahta raja Tumapel otomatis timbul keharusan menyatukan dua kerajaan itu, Kediri dan Tumapel. Gelombang protes pun bermunculan. Namun dengan dukungan permaisuri, Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat, maka Raja Wisnuwardhana bisa meredam protes terutama dari pihak aliran keras.
Raja Wisnuwardhana semakin mencintai dan memanjakan isterinya ketika lahir putra mahkota yang belakangan menjadi penggantinya dengan gelar Sri Kertanagara.
Dia memberi hadiah, pangkat dan jabatan kepada Mahisa Cempaka sebagai wakil Raja atau ratu angabhaya dengan gelar Narasingamurti. Juga penghargaan kepada Sang Pamegat yang diangkat sebagai dharmadikarana atau hakim agung bergelar Mpu Kapat.
Hubungan antara empat manusia utama ini, tiga lelaki dan satu wanita terpelihara sampai bertahun-tahun kedepan berdasar kesetiaan dan persahabatan.
Sebagai wakil raja, Mahisa Cempaka memimpin pasukan keamanan lingkar-dalam maupun lingkar-luar dengan kekuasaan tak terbatas. Dalam urusannya dia mempercayakan Sang Pamegat sebagai kepala pasukan urusan luar keraton.
Otomatis Sang Pamegat punya kekuasaan memerintah delapanbelas pendekar Tumapel serta sembilan sesepuh jubah putih pengawal istana. Dalam pelaksanaan keduanya saling melapor tapi Mahisa Cempaka sebagai pemimpin. Menyangkut kebijakan penting, keputusan berada ditangan Raja Wisnuwardhana.
Keputren tempat istirahat raja dan permaisuri serta putra mahkota Kertanegara tampak sibuk siang hari itu. Akan ada pertemuan penting. Hal ini diluar kebiasaan. Jarang sekali keputren menjadi tempat pertemuan. Biasanya raja berada di keputren pada malam hari untuk istirahat. Rapat atau penerimaan tamu biasanya dilakukan di istana emas.
Keputren merupakan bagian istana yang paling indah dan sejuk. Beberapa kamar besar tempat istirahat Raja, Permaisuri dan Putra Mahkota dijaga sangat ketat.
Halaman depan keputren dilingkari taman luas yang penuh dengan aneka pepohonan seperti mangga, jeruk, delima yang berbuah lebat. Juga dihiasi berbagai macam bunga aneka warna, bunga-bunga pilihan dan yang terbaik di wilayah kerajaan. Ditengah-tengah taman terdapat sebuah pendopo besar.
Pendopo itu cukup luas, ukuran dua puluh orang duduk. Bangunan megah dan indah ditunjang delapan tiang besar berukir emas menopang atap. Tersedia empat kursi besar berlapis emas bersarung kain beludru warna emas. Seputar pendopo terpisah belasan meter para pengawal khusus berjaga-jaga dipimpin sembilan sesepuh dan delapanbelas pendekar.
Raja Wisnuwardhana tersenyum kepada isterinya dan dua sahabatnya Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat. Empat dayang sibuk mengatur jamuan di atas meja besar. Dua orang kepala pelayan separuh baya mengawasi dengan teliti.
Keduanya adalah dayang dan inang pengasuh permaisuri Waning Hyun sejak masih gadis di kerajaan sang ayah di Kediri. Keduanya sangat teliti, dari sejak bahan mentah sampai kepada masakan siap saji, tak sedikitpun lolos dari pengamatannya. Jangankan racun, lalat pun tak bisa menerobos makanan bagi Raja dan permaisuri.
Dalam pertemuan yang akan membahas rapat penting menyangkut keputusan besar. Raja dan permaisuri bicara dalam logat dan bahasa kependekaran. Pada saat demikian tata krama keraton ditinggalkan menjadikan suasana akrab dan pertemanan makin menonjol.
Mereka bersantap sambil membincang hal-hal penting.
“Jadi Wisang Geni masih hidup? Dia muncul di karangploso, terjadi keributan dengan dua sesepuh jubah putih, bagaimana ceritanya?” Ranggawuni tertawa. “Kakak perguruanmu makin suka ugal-ugalan.” Katanya kepada sang permaisuri.
“Bukannya aku membela, tapi pasti ada sebab musababnya.” Tegas Waning Hyun sambil memandang Sang Pamegat. “Paman, kamu yang tahu ceritanya. Wisang Geni tidak bersalah, benar pendapatku?”
Sang Pamegat menutur kejadian di warung. Termasuk hebatnya ilmu-silat Wisang Geni yang sanggup melukai dua sesepuh jubah putih. “Salah faham. Tetapi para ponggawa itu berbuat tidak senonoh dengan mengolok-olok isteri Wisang Geni sebagai pelacur yang tentu saja memancing kemarahan si pendekar.”
“Tingkah laku tak senonoh ponggawa kerajaan seperti itu tidak bagus bagi citra Tumapel. Harus ada teguran keras, kalau perlu hukuman agar kejadian memalukan itu tidak terulang lagi.” Itulah sabda sang Raja.
“Sudah dilakukan tindakan. Para ponggawa yang bersalah akan menjalani hukuman cambuk dan kurungan.” Sahut Sang Pamegat.
Kemudian dia menambahkan telah mengajak Wisang Geni ikut membantu kerajaan jika saatnya menyerang markas Linggapati. Ada alasan pendekar Lemah Tulis itu bersedia, karena ingin balas dendam pada pasukan rodra yang telah membunuh banyak murid Lemah Tulis dan Mahameru di hutan Kandangan. Sang Pamegat juga melapor perampokan di hutan Karangan, dan desa Karambang.
“Banyak bukti terjadi perampokan harta milik keraton terutama beras. Ini usaha makar, ada kelompok besar yang sedang bersiap-siap menyerang keraton. Itu sebab mereka butuh beras untuk konsumsi pasukannya. Dua orang mata-mata yang berhasil menyusup kedalam pasukan rodra memberi informasi letak markas kaum pemberontak dan persiapannya terutama rekrutmen pasukan panah.” Tutur Mahisa Cempaka.
“Linggapati!” Suara Ranggawuni lirih tetapi terdengar jelas.
“Linggapati yang mencuri keris prabakara. Kini dengan keris itu ditangannya dia yakin dan percaya akan menjadi penguasa tanah Jawa yang tidak terkalahkan. Menjadi raja yang dipertuan di Tumapel dan tanah Jawa. Tak seorangpun sanggup menandingi keampuhan keris pembawa bencana yang berhawa panas itu.” Nada suara sang Raja seakan berita itu tidak menakutkan, bahwa itu hanya berita kecil dan sepele.
“Keris itu seampuh dan sehebat keris gandring, jika seorang dengan kepandaian ilmu-silat yang biasa-biasa bertarung menggunakan keris itu, dia menjelma menjadi pendekar kelas utama, keris akan jadi senjata pembunuh paling menakutkan.” Tutur Ranggawuni. “Jika pendekar itu punya pasukan besar maka dia akan menjadi raja.”
Semua diam.
Maharaja Wisnuwardhana bangkit dari duduknya.
Dia melangkah pelan-pelan, tangannya saling genggam dibokong, wajahnya tengadah memandang langit-langit pendopo. Lalu suaranya terdengar sangat wibawa, hilang sudah keakraban sebagai teman dan sahabat, kini berubah menjadi Maharaja Tumapel penguasa tanah dan kehidupan di seantero tanah Jawa.
“Aku pewaris sah tahta Tumapel. Permaisuriku Waning Hyun pewaris sah tahta Kediri bersama saudaranya Mahisa Cempaka. Jadinya aku penguasa pewaris tahta Tumapel Besar, aku yang menyatukan dua kerajaan besar itu menjadi Tumapel yang jaya dan subur.
Selama wanita utama bernama Waning Hyun yang disembah-tauladani semua wanita di tanah Jawa duduk bersanding sebagai permaisuriku, maka tak akan ada sesuatu kejadian pun, tidak juga seorang manusia yang sanggup mencabut hak milikku dari tahta tanah Jawa. Mustahil seorang penjahat yang tidak berdarah biru sanggup merebut tahtaku!
Tidak tahukah dia bahwa Waning Hyun telah mewarisi kewibawaan, kebesaran, kecantikan dan keutamaan seorang permaisuri dari eyang putri Ken Dedes? Tidak tahukah dia bahwa tanah Jawa telah menulis karma dan darma-bakti eyang putri Ken Dedes yang akan melahirkan raja-raja besar penguasa tanah Jawa? Tidak tahukah dia bahwa Hyun permaisuriku adalah emas berlian yang menyinari tahta kerajaanku, yang meniupkan kehidupan dan kesuburan di seantero tanah Jawa? Linggapati sungguh sembrono menggadaikan jiwa kotornya untuk mimpi yang sudah pasti tidak akan terjadi.”
Lalu menyambung dengan sumpah serapah. “Orang itu akan tenggelam dalam kehancuran, tidak punya kuburan untuk raganya yang bakal hancur lebur!”
Mereka yang mendengar terdiam, bulu roma berdiri.
Waning Hyun merunduk, tubuhnya gemetar dan hatinya menangis haru betapa suaminya, laki-laki yang sangat dia cintai, raja sesembahannya begitu memuliakan dirinya. Dia memang cucu Ken Dedes dari perkawinan dengan Ken Arok yang melahirkan bapaknya, Mahisa Wunga Teleng alias Bhatara Prameswara. Tetapi Ranggawuni, suaminya, juga cucu dari eyang putri Ken Dedes dari perkawinannya dengan Tunggul Ametung yang melahirkan Baginda Anusapati. Dia tahu mereka berdua setara, sama-sama pewaris tahta yang sah.
Dia memiliki ilmu karma-amamadang yang diwarisinya langsung dari eyang putri Ken Dedes dan telah melatihnya. Ilmu itu telah merasuk dalam tubuh, rahim dan alat betinanya sejak masih berusia sepuluh tahun. Keberuntungan pemilik ilmu karma-amamadang telah dia rasakan sendiri dimasa petualangan bersama Ranggawuni, Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat. Dalam situasi kritis mereka lolos dari kesulitan dan kematian.
Sesungguhnya ilmu itu rahasianya sendiri, tak seorang pun tahu. Tetapi suaminya bisa begitu waspada dan waskita bahwa keberuntungan dan kejayaan sebagai raja Tumapel berkat adanya isteri setia yang bernama Waning Hyun.
Dari mana suaminya tahu?
Dan betapa bangganya melihat dirinya begitu dihargai dan dicintai serta dimuliakan sang suami. Namun betapapun tak terbersit sedikitpun rasa bangga dan temberang membanggakan diri melebihi suaminya. Dia berbisik. “Kamu sesembahanku, paduka raja, kekasih permata hatiku.” Bisiknya lirih yang didengar tiga lelaki yang hadir. Dia mengucap kata-kata itu dengan air mata yang sebening mutiara.
Raja Wisnuwardhana tersenyum memandang permaisurinya. “Aku Ranggawuni pemilik keris gandring pusaka tanah Jawa, paku-bumi tanah Jawa. Keris Prabakara akan kehilangan tuah dan saktinya jika berhadapan dengan Gandring, itulah ibarat palsu ketemu asli. Sama halnya Linggapati ketemu aku, palsu ketemu asli. Aku diramalkan akan menurunkan raja-raja pewaris tanah Jawa. Semuanya berasal dari eyang putri Ken Dedes. Aku tidak terkalahkan selama masih memiliki isteri Waning Hyun.”
Dia melangkah menghadapkan wibawanya kepada dua sahabatnya. “Aku akan menghukum Linggapati, mencabut nyawanya dari tubuh kotornya, mengambil kembali keris prabakara dan menyimpannya di keraton Tumapel.” Lalu dengan suara wibawa dia memerintah dua sahabatnya. “Siapkan pasukan pemukul, secepatnya kita membumihangus markas kaum penjahat dan perampok itu.”
Ranggawuni meraih tangan isterinya, meninggalkan ruang pendopo.
Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat saling pandang. “Sudah jelas sekarang, kita akan menumpas Linggapati. Berapa lama pasukan siap?” Mahisa Cempaka bertanya.
“Pasukan sudah siap. Hanya tinggal mempersiapkan perbekalan yang akan disesuaikan dengan perencanaan. Esok lusa kita sudah siap berangkat ke medan perang.”
( Bersambung Bab 15 bag 1 )
Comments







