Wisang Geni part Two Bab 14 bag 2 by John Halmahera
Posted on 27 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab 14 bag 2
Nenek itu berkelebat pergi sambil menggendong cucu muridnya. “Angga, kita berlatih silat dan meniup suling dulu, setelah itu tangkap ikan.” Suaranya terdengar jauh.
Wisang Geni berkata. “Ilmu-silatnya sangat tinggi, tidak terukur.”
Ketika itulah Gayatri yang masih duduk bersimpuh diatas lutut, merayap cepat dan memeluk kaki suaminya. “Ampuni aku Mas, ampun.” Suaranya bercampur isak tangis.
Heran. Sejuta rasa heran menerpa benak Wisang Geni. Tak pernah sebelumnya Gayatri mau bersimpuh apalagi mencium kaki suaminya. Wanita itu terlalu angkuh dan merasa diri lebih tinggi derajat.
Gayatri masih memeluk dan mencium kaki suaminya. “Bunuh aku, kangmas Geni. Bunuh aku. Kesalahanku sangat besar padamu. Aku berkhianat berupaya membunuhmu. Tak ada ampun bagi kesalahan seperti itu.”
Wisang Geni diam. Memandang rambut isterinya yang ikal hitam.
“Sejak lama aku yakin kamu masih hidup dan akan mencari aku. Bunuh aku Mas. Aku tak akan melawan, aku rela dibunuh. Aku legowo meninggalkan Angga karena tahu ayahnya sangat mencintainya, sangat sayang pada putrinya.” Lalu dia menangis.
Wisang Geni mengamati punggung isterinya yang masih telungkup memeluk kakinya.
Gayatri kurus. Tubuhnya yang gemuk susut banyak sekali. Tapi bokongnya masih semok. Pinggangnya kecil ramping.
Airmata Gayatri membasahi punggung kaki Wisang Geni yang diam mematung. “Mas bunuh aku, biarkan aku mati. Dosa dan penyesalan ini hanya bisa dibayar dengan kematian. Bunuh aku Mas, aku rela. Kamu pasti merawat Angga dengan baik. Kamu ayah dan suami yang baik, kamu sempurna. Selama ini aku banyak berbuat salah, terlalu mementingkan diri, terlalu sombong, tidak manut padamu, sering membantah, selalu curiga padamu, iri hati pada Sekar dan isterimu yang lain, kelakuanku buruk. Hari itu ketika di Jedung, aku bisa melihat semua kesalahanku, aku sadar dan berjanji akan memperbaiki diri menjadi isterimu yang manut. Tetapi ketika itulah nasib buruk datang padaku. Aku tidak membela diri, kesalahanku sangat besar, bunuh aku Mas, aku rela mati.”
Gayatri gemetar ketika tangan suaminya menariknya berdiri.
“Mas bunuh aku.” Katanya.
“Tidak.” Sahut Wisang Geni.
“Kamu membenciku.”
“Tidak.”
“Kamu tidak pantas mengampuni aku. Ijinkan aku bunuh diri.”
“Tidak.”
“Bunuh aku supaya aku terlepas dari mimpi buruk setiap malam, mimpi akan dosaku padamu.” Gayatri menangis, tetap merunduk tidak berani memandang wajah suaminya.
“Kamu harus hidup. Angga perlu kamu. Aku juga butuh kamu.”
“Mas kamu layak membenciku.”
“Tidak. Aku tidak membencimu.” Tangan Wisang Geni memegang lengan isterinya, memandang wajah Gayatri yang belepotan air mata. “Kamu kurus, Gayatri.” Bisiknya.
Tidak tahu apa yang dipikir suaminya, Gayatri hanya mengangguk. Terbata-bata dia berbisik. “Bunuh aku, cepat lakukan, mumpung Angga tidak melihat.”
“Mengapa harus membunuhmu?”
Gayatri memandang suaminya, tetapi hanya sedetik, dia merunduk memandang dada suaminya. Matanya menatap gambar kelelawar di dada bidang itu. Tanpa sadar dia bertanya, “ada gambar kelelawar didadamu.”
Saat berikut dia terdiam sadar akan situasi. Dia terkejut ketika suaminya menjawab. “Iya gambar kelelawar. Guruku kan bergelar lalawa.”
“Siapa yang gambar?”
“Atis.”
“Seorang gadis, isteri baru?”
“Iya isteri baru.”
“Kamu sudah dapat ganti, bunuh aku atau ijinkan aku bunuh diri.” Ada nada cemburu. Gayatri sendiri merasa heran mengapa tiba-tiba muncul rasa cemburunya.
“Mengapa harus membunuh kamu?”
“Aku tidak pantas diampuni, dosaku kelewat besar. Tubuhku kotor.”
“Kamu memukul aku karena pengaruh sihir penjahat itu. Aku tidak akan membunuhmu, aku tidak akan menyakiti isteriku yang sudah begini menderita.” Lalu tangan Wisang Geni menarik Gayatri kedalam pelukannya. “Kata gurumu, tubuhmu sudah bersih. Tak ada lagi kotoran bekas penjahat itu.”
Tubuh Gayatri bergetar. Menggigil diharubiru emosinya.
Wisang Geni memeluk erat isterinya, mengelus ubun-ubun kepalanya. Lalu memegang dua pipinya dan menengadahkan wajahnya, menatap sepasang mata indah itu yang masih saja berbinar menyirat cinta dan birahinya. Mata yang basah.
Tetapi mata wanita itu berkedip-kedip tidak keruan.
“Tatap aku Gayatri!”
Mata itu berusaha menetap pada mata suaminya. Tetapi tidak bisa lama, dia memejam mata, namun dia sempat menemukan sinar birahi dalam mata lelaki itu. Cinta dan birahi itu masih ada. Seketika tubuhnya gemetar.
Lalu laki-laki yang sebenarnya dia cintai dengan sepenuh hati itu, mengecup mulutnya. Gayatri terkejut, dia gemetaran. Ingin membalas ciuman melepas rindu dan kasmarannya tetapi tak ada keberanian. Dia takut itu hanya mimpi.
Sesaat kemudian dia merasa bukan ilusi, membuat hatinya berbunga-bunga, dan birahi serta kegembiraannya menyeruak tanpa batas. Dia tak sanggup menahan diri. Saat itu juga dia lunglai. Pingsan.
Wisang Geni meletakkan isterinya di lantai kayu gubuk mungil itu. Dia mengamati tubuh isterinya. Kurus langsing dan seksi. Parasnya cantik rupawan. Dia berjongkok, merunduk dan mencium mulut seksi itu.
“Bangun Gayatri. Jangan pura-pura pingsan.” Bisiknya mesra.
Bibir itu bergerak. “Aku takut, aku tak mau bangun dari mimpi indah ini.”
“Ini bukan mimpi. Coba katakan apakah ini mimpi?” Mencium lagi isterinya.
“Satu bulan tinggal disini, setiap detik aku merindu kamu.”
“Kalau begitu kamu ikut aku kembali ke rumah.”
“Aku tidak membantah, sejak saat ini aku tidak akan berani membantahmu. Tetapi aku malu bertemu Sekar dan murid-murid Lemah Tulis lainnya. Aku belum sanggup bertemu mereka. Aku malu akan kesalahanku dulu. Aku butuh waktu.”
“Dirumah itu ada Sekar dan Atis.” Kata Wisang Geni yang duduk dilantai, kepala isterinya berada di pangkuannya.
“Mas, aku tidak membunuh Mano dan Westi, penjahat itu yang membunuh.”
“Aku sudah tahu.”
Gayatri mengalih pembicaraan. “Kamu memang harus punya banyak isteri. Sekarang isterimu dua, Sekar dan Atis.”
“Tiga. Kamu masih yang nomor dua, setelah Sekar.”
“Aku tidak masuk hitungan.” Mata itu menatap tajam dengan kerlingan yang menggoda.
“Kamu masih isteriku.” Dia mengelus paras cantik itu, menyentuh hidung, bibir, leher dan rambutnya.
“Kamu masih menerima aku sebagai isterimu?”
“Aku tidak pernah mengusir kamu dari hatiku.”
“Aku tahu. Hanya aku saja yang bodoh, keras kepala dan suka curiga.”
“Sekarang?” Wisang Geni ingin tahu.
“Kini tidak lagi Mas. Kamu majikanku, aku manut padamu, tak akan pernah membantah. Kamu mengampuni aku. Aku bahagia.” Bisik Gayatri mesra.
Sore hari Nenek Jubah Kuning dan Anggreni kembali ke gubuk. Mereka makan bersama. Wisang Geni mengajak isteri dan putrinya, kembali ke rumah besar. Wisang Geni mengajak Nenek Jubah Kuning ikut, tetapi si nenek menolak.
“Aku akan menetap disini, setiap hari berlatih dan main-main dengan Angga.” Kata nenek itu. “Gayatri juga masih perlu mematangkan ilmu-silatnya.”
“Mas, aku belum siap bertemu orang-orang.” Ujar Gayatri.
“Pada saatnya nanti mereka harus menerima kamu. Tidak boleh ada pandangan menghina pada isteriku. Mereka harus tunduk padaku.” Suaranya terdengar tegas.
“Aku malu akan perbuatanku yang lalu dan malu bertemu Sekar.” Kata Gayatri.
“Bukan kamu, tetapi Arjapura yang melukai aku.”
Gayatri terkejut. “Bukan begitu kejadiannya. Aku telah melukai kamu, membuat tenaga wiwaha tercerai berai, ingat, kamu berkata padaku, mengapa kamu memukul aku?”
“Memang aku berkata demikian. Tetapi sesungguhnya pukulanmu itu tidak melukai aku dan tenaga wiwaha tidak bercerai-berai. Pukulan Arjapura yang melukai aku! Seandainya pukulanmu telah mencerai-beraikan tenaga wiwaha, bisakah aku bertahan dari pukulan telak Arjapura yang mengandung bisa kalajengking biru?”
“Tapi, tapi…” Gayatri berhenti melangkah, dan memandang wajah suaminya, mencari menemukan antara kebenaran atau kebohongan di wajah itu.
“Mana bisa tenaga pukulanmu melukai aku, isteriku?” Wisang Geni melotot memandang isterinya yang langsung merunduk.
“Iya, aku tahu, ilmu-silatmu jauh unggul diatas aku.” Gayatri berbisik.
Wisang Geni tertawa, senang bahwa kebohongannya untuk meringankan pikiran bersalah isterinya berjalan lancar.
“Penjahat itu bisa melukai aku karena perhatianku tersedot kecantikan parasmu, aku lengah. Tidak sempat mengelak, aku hanya kerahkan tenaga wiwaha dan memutar tubuhku memberikan lenganku sebagai sasaran. Sayang hanya sebagian wiwaha yang melapis tubuhku. Tetapi itu sudah cukup untuk menyelamatkan aku.” Kata Wisang Geni.
Tiba-tiba Gayatri menjatuhkan diri, memeluk kaki suaminya. Dia menangis.
Terisak-isak Gayatri berkata. “Aku tidak bodoh, aku tahu kamu menghiburku. Terimakasih suamiku. Kamu makin menarik aku kedalam jurang cinta yang dalam, dimana setiap saat dan setiap tarikan nafasku aku mencintaimu dan manut padamu.”
Kejadian itu terjadi di pekarangan rumah.
Sekar dan hampir semua murid Lemah Tulis menyaksikan pemandangan luar biasa itu. Seorang suami berdiri tegar dengan menggendong putrinya, sementara isterinya bersimpuh memeluk kaki suaminya sambil menengadah mengucap serangkai kata yang tidak terdengar oleh mereka.
Sekar menarik nafas panjang, terharu melihat luluhnya kesombongan Gayatri yang berlutut memeluk kaki Wisang Geni depan banyak orang.
Wisang Geni menarik tangan isterinya. “Sudahlah, orang-orang melihat.”
“Biarkan mereka melihat betapa aku menyembah padamu, aku tidak malu, bahkan bangga bisa mencium kaki suami yang begini sempurna.” Gayatri berdiri.
Wisang Geni menuntun tangan isterinya, satu tangan lainnya menggendong Anggreni.
Dia tersenyum membalas tegur sapa para murid.
Didalam kamar, Sekar duduk bersama Atis menunggu.
Wisang Geni menyapa. “Sekar aku bawa sahabatmu.”
Sekar berdiri memandang Gayatri. Gayatri lari menjatuhkan diri. Posisinya jongkok sambil dua tangannya meraih kaki Sekar. Dia merunduk hendak mencium kaki Sekar yang saking terkejutnya melompat mundur.
“Mbakyu Sekar, ampuni kesalahanku.” Dia beringsut maju.
Sekar berkata. “Apa yang kamu lakukan?”
“Aku mau mencium kakimu, mohon ampunanmu, kesalahanku banyak.”
“Jangan pakai cara ini, aku maafkan kamu, tapi kamu tak perlu merendah seperti itu. Kita bersahabat, dulu dan juga sekarang.” Sekar memegang pundak Gayatri, menariknya berdiri. Keduanya berpelukan. Tapi perasaan mereka berbeda. Gayatri senang bisa kembali ke rumahnya. Sekar kecewa akan keputusan suaminya.
Airmata membasahi pipi, Gayatri berkata tersendat-sendat. “Keluargaku sudah pergi, aku tak punya siapa-siapa lagi. Terimalah aku dalam keluarga mas Geni.”
“Kamu sahabatku, kamu bagian dari keluarga ini.” Kata Sekar.
“Aku akan manut padamu Mbakyu. Aku sudah berubah.” Gayatri berkata lirih.
Sekar mengelus kepala sahabatnya.”Kita tetap bersahabat, adik.”
Wisang Geni tersenyum melihat adegan bersahabat itu. Sebelum keluar kamar dia berkata. “Besok kita semua ke Lemah Tulis.”
Sekar makin kesal. Kedatangan Gayatri membuat Sekar merasa bakal makin tersingkir. Melihat paras Gayatri yang ceria berseri-seri dan sikap Wisang Geni yang bersemangat, Sekar memastikan keduanya telah bercinta. Dia makin kesal.
“Huhh! Di lembah kera dia mengatakan sakit hati akibat perbuatan Gayatri dan tak akan mengampuninya. Kini melihat tubuh Gayatri yang seksi seperti dulu, dia bernafsu dan mengajak bercinta. Dasar lelaki tak punya pendirian.” Sekar memaki dalam hati.
Dia makin kecewa terhadap Wisang Geni yang telah melupakannya. “Aku isteri utama setelah meninggalnya Walang Wulan. Semua isterinya yang lain datang setelah aku. Mengapa aku dibuang begitu saja? Apakah tak ada lagi ingatannya akan jasa-jasaku dan cintaku yang tulus kepadanya?”
( Bersambung Bab 14 bag 3)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







