Wisang Geni part Two Bab 14 bag 1 by John Halmahera

Posted on 27 Juli 2014 ( 0 comments )


Bab Empatbelas

Marahnya Keraton              

Bab 14 bag 1

Hari itu terakhir Nenek Jubah Kuning menyembuhkan Gayatri. Racun bius telah punah. Gayatri pulih kembali, tampak kulit tubuhnya putih dan bersih, begitu juga parasnya yang jelita. “Racun sudah lenyap. Tak ada lagi bekas dari laki-laki jahat itu. Ibaratnya kamu sudah pulih kembali sebagaimana sebelum bertemu penjahat itu.” Kata gurunya.

Selama beberapa hari dia menghafal isi kitab lhakeswara sekaligus cara melatihnya. Gurunya membimbing cara melatih tenaga-dalam, mengajari bagaimana meningkatkan tenaga yang sudah ada. Sambil mematangkan jurus-jurus yang sudah dimilikinya dan jurus baru. Tanpa terasa ilmu-silatnya maju pesat, baik jurus maupun tenaga-dalam.

Setiap hari di waktu luangnya Gayatri menyempatkan diri bermain dengan Anggreni, malam harinya semedi dan melatih jurus-jurus hebat lhakeswara. Dia kesulitan tidur karena pikirannya melamun suaminya. “Mengapa aku mengkhianati suamiku?”

Dia menangis hampir setiap malam. Menyesal dan juga merindu.  

Rindu yang amat sangat pada suaminya. Dia membayang kisah cinta dengan suaminya. Membayang ketika digubuk tengah hutan pertama bertemu Wisang Geni yang nakal dan usil, yang menggunakan nama samaran Ambara.

“Nasibku buruk. Aku kepala batu. Seandainya aku tidak menolak ikutsertanya  suamiku ke Jedung mengantar keluargaku, mungkin nasib buruk itu tidak datang. Mengapa karma pertemukan aku dengan Arjapura, membiarkan penjahat itu menipu dan meracuni aku.”

Hampir setiap hari dia mandi dan berenang di danau. Dia tahu dirinya telah sembuh dan  bersih dari aroma busuk Arjapura. Namun sepertinya dia ingin mandi terus-menerus, mencuci tubuhnya. Pagi, siang dan sore dia mengajari Angga berenang. Malam harinya dia mandi sendirian.

Dia ingin mandi setiap hari, berendam selamanya di danau membersihkan tubuhnya yang sudah ternoda oleh Arjapura. Ingin melepas semua derita bathin dan mimpi buruk  ke dalam danau. Biarkan air danau yang sejuk dingin melarutkan semua deritanya. Dia ingin tubuhnya kembali bersih seperti ketika perawannya dinikmati suaminya di malam yang penuh arti dan makna cinta.

 

      Siang itu hari kedua awal bulan Iyestha suasana perkampungan di Welirang sunyi dan hening. Hanya terdengar suara kicau burung dan gemuruh air terjun. Wisang Geni duduk di serambi rumah, memandang kerimbunan hijau alam sekitarnya.

      Kemarin sore dia bersama rombongannya tiba di Welirang. Sepanjang malam, bahkan juga sejak pagi tadi dia masih belum bisa menetapkan keputusannya. Dia memandang danau, yang kecipak airnya tampak mengilat disinari matahari siang yang terik.

      Dia tahu ditepi danau nun di seberang, di rumah kecil itu putrinya menunggu. Mungkin sedang bermain-main dengan ibunya. Dia kangen Anggreni. Tetapi juga merindu Gayatri. Sejak memijak kaki di Welirang, sosok Gayatri dan Anggreni membayang terus.

      “Gayatri, lakon karmamu sungguh buruk. Aku bingung, mungkinkah menerima kamu kembali dalam pelukanku? Kamu telah diperkosa, tubuhmu telah dimasuki laki-laki lain. Sanggupkah aku mengatasi pikiran ini?” Dia bertanya kepada diri sendiri.

      Ingin dia bertanya kepada angin, kepada pepohonan, kepada air terjun, untuk menemukan jawaban dari pergulatan hati dan benaknya. Menerima Gayatri kembali, mungkinkah? Atau melupakan Gayatri, menutup kisah cintanya dengan gadis Himalaya yang telah memberinya seorang anak itu.

      Dia mengingat kilas balik pengalaman cintanya bersama Gayatri, dulu sampai masa-masa bahagia di Welirang. Lalu ingat pukulan Gayatri di hutan Kandangan yang membuat dia lumpuh sehingga pukulan maut Arjapura telah melukainya, dia nyaris tewas.

      Berganti-ganti bayangan isterinya menari dibenaknya. Dia menghirup udara, memenuhi paru dengan udara pegunungan yang sejuk. Dia menenggak tuak, tabung yang kedua. “Apa yang harus kulakukan?” Bisiknya.

      Dia mendengar desir angin dan langkah orang. Dia menoleh, melihat Sekar menghampiri.        Isterinya itu duduk disampingnya. “Katakan, apa yang membuatmu risau?”

      “Tidak tahu. Aku bingung.”

      “Gayatri? Kamu memikirkan Gayatri?” Sekar bertanya ramah.

      “Aku tak tahu harus berbuat apa terhadap Gayatri. Aku kangen Angga, kalau mau ketemu  Angga, pasti bertemu Gayatri. Lantas bagaimana sikapku?” Paras Wisang Geni tampak kusam petanda pikirannya sangat gundah dan bingung.

      “Sebaiknya aku tidak memberi pendapat, semua terserah kamu.” Kata Sekar yang sebenarnya tak ingin Gayatri masuk kembali dalam kehidupannya. Hadirnya seorang Atis sebagai saingan telah membuatnya menderita. Cemburu. Dia tak ingin ada wanita lain dalam kehidupannya bersama Wisang Geni.

      “Dia bersalah padaku, aku harus menghukumnya,” Wisang Geni diam sejenak lalu melanjutkan. “Itu aturan kependekaran. Kalau tidak kuhukum, aku akan menjadi tertawaan semua muridku. Tetapi dia itu ibunya Angga.”

      Bersikap hati-hati supaya tidak ada kesan cemburu atau iri, Sekar menyahut datar. “Kamu laki-laki berilmu tinggi, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan.”

      “Apa pendapatmu jika aku mengampuni Gayatri?” Bisik Wisang Geni, suaranya gemetar, ada rasa takut dan bimbang. Dia butuh dukungan Sekar. Jika Sekar setuju dan mendukungnya, rasanya dia sanggup mengatasi semua persoalan menyangkut Gayatri.  

      “Mengapa bertanya padaku?”

      “Bagiku, pendapatmu, setuju atau menolak Gayatri, sangat penting artinya bagiku.” Tutur Wisang Geni lirih.

      “Keputusan ditanganmu. Aku tak punya pendapat tentang itu.” Kata Sekar. Dalam hati dia menyumpahi kebodohannya. “Mengapa aku berbohong, seharusnya aku jawab tidak perlu menerima Gayatri kembali dalam keluarga.”

 

      Gayatri sedang bermain-main dengan Anggreni di dalam rumah ketika Wisang Geni muncul mendadak. Dia memandang paras suaminya, tapi tak berani lama-lama meski begitu besarnya keinginan melempar diri dalam pelukan suaminya.

      Diam-diam dia melirik suaminya. Tampak air muka Wisang Geni sulit ditebak. Tak ada emosi yang tampak. Hanya begitu mendengar teriak Anggreni, “Geni, Geni!” Air muka laki-laki itu tampak berseri-seri.

      “Angga si cantik, sayangku.” Tangannya mengembang, angin tenaga-dalamnya yang  lembut mengangkat tubuh anak kecil itu, perlahan-lahan melayang ke arahnya.

      “Ibu, ibu, aku terbang.” Seru Anggreni gembira. Saat berikut dua tangannya yang mungil memeluk leher bapaknya. “Geni, aku sudah lama menunggu. Mana mas Seno?”

      Wisang Geni memeluk putrinya, memandang wajahnya yang cantik lucu. Lesung pipitnya dan tahi lalatnya. “Mas Seno, berlatih silat di laut kidul.”

      “Aku juga berlatih silat, eyang guru mengajari aku.” Kata Anggreni.

      “Siapa eyang guru?” Tanya Wisang Geni.

      Mendadak terasa angin lembut berkesiur di ruangan. Nenek Jubah Kuning muncul di hadapan Wisang Geni, jaraknya lima meter. Tak ada bunyi tapak kakinya, petanda ringan-tubuh yang sangat mumpuni. Wisang Geni tidak bereaksi, tidak curiga, bisa menebak dialah Nenek yang diceritakan Prastawana, pendekar wanita yang telah menyembuhkan Gayatri dari racun bius dan menolong Anggreni dari ancaman Arjapura.

      “Aku eyang gurunya, maafkan aku Ki Wisang Geni, karena sudah lancang mengajari anakmu, terus terang aku tidak tahan melihat bakat luar biasa yang dimiliki putrimu. Dia bakal jadi pendekar besar.”

      Wisang Geni masih memeluk putrinya, membungkuk memberi hormat. “Terimalah hormat dan terimakasihku karena telah menyelamatkan isteri dan anakku.” Sambil dia menoleh memandang Gayatri yang duduk bersimpuh di tanah seperti pesakitan.

      Jantung Gayatri berdebar kencang melihat tatapan suaminya. Sejak kehadiran, baru sekali itu Wisang Geni memandangnya. Dan tatapan itu sangat misterius. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya, Gayatri ketakutan.

      “Maafkan aku yang telah mengangkat Gayatri sebagai muridku.” Kata si nenek.

      Wisang Geni tersenyum. Matanya menatap tajam mata si Nenek yang tampak bening bagai sumur tanpa dasar. “Terimakasih atas kebaikanmu. Boleh aku tahu, kisah pertemuanmu dengan isteriku?”

      Nenek itu menutur singkat pertemuannya dengan Gayatri yang sakit parah. Bagaimana dia mengeluarkan racun bius dari tubuh muridnya. Betapa jahat dan hebatnya racun bius itu yang dari hari ke hari  akan membuat Gayatri berubah menjadi tengkorak hidup dan mati dalam waktu tigapuluh hari.

      “Terlambat sepuluh hari, aku pun tak akan sanggup menolong Gayatri. Tetapi sekarang semua telah berlalu, Gayatri telah sembuh, tubuhnya kini bersih, tak ada lagi sisa kotoran atau racun dalam tubuhnya.”

      Anggreni yang sibuk memainkan rambut panjang bapaknya, berkata. “Eyang guru, hari ini kita main apa?”

      “Sekarang sudah sore.” Kata Nenek Jubah Kuning. “Kita pergi ke batu besar, duduk-duduk, berlatih silat, dan meniup suling.”

      “Tadi pagi, aku berenang sama ibu, aku naik punggung ibu, lalu ibu berenang cepat. Aku tidak jatuh.”

      “Kamu tidak jatuh?” Kata Wisang Geni sambil menciumi leher anaknya.

      “Aku memegang pundak ibu,” Angga tertawa geli. “Aduh Geni, cambangmu tajam.”

      “Aku gemas, sebab kamu cantik.” Kata Wisang Geni.

      “Geni, kamu janji mau ajak aku ketemu mas Seno?”

      “Kamu masih ingat?” Tanya Wisang Geni. “Iya, nanti kita pergi ke rumah mas Seno.”

      “Anakmu sangat cerdas, sekali kuajarkan langsung dia mengerti, ingatannya tajam, ini bakat yang sangat langka.” Potong Nenek Jubah Kuning. Dia mengulur dua tangannya. “Ayo Angga, ikut eyang, kita main-main di batu besar, mau?”

      “Mau!” Seru Anggreni, lalu berkata kepada bapaknya. “Geni jangan pergi lagi, aku masih kangen, tapi sekarang aku main dulu dengan eyang guru.”

      Wisang Geni merasa ada tenaga besar yang menarik putrinya, sesaat dia menahan anaknya. Terjadi benturan tenaga. Keduanya serentak melepas tenaga.

      Nenek tertawa. “Tenagamu besar, pantas dijuluki nomor satu di tanah Jawa.”

      “Itu pujian kosong, tenaga-dalam Nenek yang luar biasa, pantas Arjapura kabur setelah kamu sentil dengan kerikil.”  Wisang Geni melepas dan mendorong putrinya ke arah si Nenek yang langsung mendekap dan menciumi.

      “Geni, boleh aku panggil namamu begitu saja?” Kata si Nenek.

      “Boleh, silahkan.” Kata Wisang Geni.

      “Geni, anakmu ini anugerah untuk aku dihari tuaku, aku bahagia berada didekatnya. Terimakasih, kamu telah membolehkan aku mengajari anakmu, aku akan menurunkan semua ilmu-silatku kepadanya. Boleh?”

      “Tentu saja boleh. Tetapi sebagai apa, cucu murid atau murid?”

      “Cucu murid. Selama hidup aku tak punya murid apalagi cucu murid. Gayatri muridku, jadi Angga cucu murid.” Dia hendak pergi, berhenti sesaat. “Geni, isterimu sudah bersih, dia sudah seperti Gayatri sediakala.”

(Bersambung Bab 14 bag 2)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com