Wisang Geni part Two Bab 13 bag 3 by John Halmahera
Posted on 27 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab 13 bag 3
“Siapa kalian berani temberang di lingkungan kerajaan, kalian cari mampus?” Matanya tajam meneliti tubuh yang bergelimpang. “Kalian telah membunuh ponggawa kerajaan.” Serunya berang.
“Keliru. Mereka dibunuh, dipanah oleh tujuh pemanah ini.”
Dua kakek jubah putih terdiam.
“Mereka berdua anggota dari sembilan sepuh jubah putih pengawal istana dan keraton, ilmu-silatnya tinggi, tanganku gatal ingin tarung.” Bisik Wisang Geni kepada pengikutnya, bisikan lirih namun bisa didengar Prastawana dan kawan-kawannya.
Semua terkejut mendengar niat sang ketua.
Sekar berkata. “Para ponggawa ini keterlaluan, menyebut aku pelacur, ponggawa keraton ternyata ulah kelakuannya tidak bermoral.”
“Apakah memang kamu pelacur?” Tanya kakek yang berjenggot.
Sekar terdiam. “Kakek ini kurangajar.” Gumamnya dalam hati.
Tetapi Atis dengan tangkas menyahut. “Kakek rupanya suka melacur, tapi sayang kami ini wanita terhormat, silahkan cari pelacur di tempat lain.” Lalu Atis tertawa geli melihat perubahan paras si kakek. “Dasar kakek pelacur!” Atis melanjutkan.
Wajah si kakek yang agak hitam semakin gelap saking marahnya.
Prastawana yang ingin menghindar dari pertikaian, mengingat tarung di kawasan kerajaan sangat membahayakan keselamatan mereka. Dia memberi hormat. “Kami dari perguruan Lemah Tulis, ini ketua kami Wisang Geni, dan ini isterinya.” Dia menunjuk Wisang Geni, Sekar dan Atis. “Kami dalam perjalanan pulang ke Lemah Tulis, mampir makan di warung ini, tak ada maksud mencari ribut atau berbuat onar.”
“Wisang Geni sudah mati. Bagaimana dia muncul di sini, tipu murahan semacam ini pikirmu bisa menipu kami?” Kata kakek muka hitam.
Prastawana terdiam.
Wisang Geni makin kesal. Muncul adatnya yang aneh dan sifat temberangnya. “Benar aku sudah mati. Tapi satu laksa kelelawar menggali kuburku, melatih jurus lalawa. Ketika sadar tahu-tahu ada gambar lalawa didada, lihat ini.” Dia menepuk dadanya, keras.
“Kurangajar beraninya mempermainkan kami.” Kata kakek kepala gundul.
“Mana berani aku kurangajar padamu. Kamu pasti dari sembilan sepuh pengawal istana yang namanya mengguncang langit dan tersohor seantero tanah Jawa.”
“Temanku ini, Wadung. Aku sendiri Wulung.” Kata sikakek paras hitam. Dia senang mendengar pujian Wisang Geni.
“Aneh. Namamu mirip nama kudaku.” Wisang Geni berseru nyaring. “Wulung!”
Belum lenyap gema suaranya, terdengar ringkik panjang kuda hitam itu.
Wisang Geni tertawa. “Itu dia, selalu menyahut jika kupanggil. Coba sekali lagi.” Dia berseru lagi. “Wulung!”
Sekali lagi Wulung meringkik.
“Kamu kelewat menghina!” Tubuh kakek Wulung gemetar menahan amarah.
Wisang Geni berkata dengan nada menyesal. “Kakek, kudaku menyukai namanya itu, nama pemberian permaisuri yang mulia Waning Hyun.”
“Penjahat cabul macam kamu berani menyebut nama baginda permaisuri. Kucabut nyawa kotormu!” Kakek bernama Wulung melayang dengan dua tangan menjulur mencengkeram dengan jurusnya yang mirip-mirip cakar macan.
Wisang Geni tertawa keras. “Mengapa menyebut aku penjahat cabul? Apakah kamu dendam sebab ibumu pernah kuperkosa? Atau cucumu kuperkosa, siapa nama cucumu?”
Tidak hanya berkata, Wisang Geni juga beraksi, gerak jurus menunggang angin digelar, seketika tubuhnya berputar bagai gasing, yang menerbangkan meja kursi ke arah dua kakek. Seketika meja kursi rusak berantakan dihantam pukulan dua kakek.
Wisang Geni menggebrak. Kakek Wulung melayaninya.
Terjadi benturan tenaga diudara, dua tubuh itu melayang terus sambil tukar pukulan. Cakar macan sang sepuh tidak ungkulan lawan tenaga wiwaha yang menggunakan jurus keras “gongkrodha” dari ”garudamukha.”
Tampak si kakek terdesak.
Prastawana dan murid lainnya terpukau melihat gebrakan sang ketua. “Gila. Tak kusangka gongkrodha bisa sehebat itu.” Tukas Daraka.
“Tenaga-dalam ketua semakin tinggi, dia bisa memainkan jurus apa saja dengan sama dahsyat, mungkin sudah sampai tingkat eyang sepuh Suryajagad.” Prastawana berkata.
Duapuluh jurus berlalu, kakek Wulung dalam keadaan terdesak.
“Bagaimana rasanya terdesak oleh cucumu yang kau sebut penjahat cabul. Kalau aku penjahat cabul, maka kamu kakek cabul si tukang perkosa. Kamu suka gadis perawan, janda atau nenek-nenek tua.” Wisang Geni tertawa geli melihat musuhnya tak mampu bicara. “Hei mengapa jadi bisu? Masih untung cucumu ini berbaik hati tidak melukaimu.”
Amarah kakek Wulung mencapai puncaknya, selama ini belum pernah ada yang berani mengolok-olok dirinya. Dia menggerung mengerahkan segenap tenaga-dalam. Wisang Geni melayani adu pukulan, terjadi benturan keras.
Kakek itu mundur tiga langkah. Luka-dalam namun tidak begitu parah. Dia belum mau menyerah, sigap dia mencabut keris luk sembilan yang mengilap ditimpa matahari pagi.
“Kubunuh kamu!” Teriaknya marah. Dia menyerang dengan jurus mautnya. Kerisnya berkelebat macam petir, mengeluarkan suara desis yang mengiris pendengaran penonton.
Melihat keampuhan keris dan amarah si kakek, Sekar yang merasa khawatir, berseru. “Mas, pake senjataku ini!” Dia mengeluarkan senjata tongkat pendeknya.
Tetapi Wisang Geni tertawa. “Aku tak pernah gunakan senjata, apalagi melawan kakek tua ini. Aku tak mau melukainya. Kamu mau lihat kubikin dia kencing di celananya.”
Sepuluh jurus berlalu dan suatu sabetan keris berhasil melukai tangan Wisang Geni yang berteriak kesakitan.
Kakek Wulung berseru. “Mampus kamu penjahat cabul!”
Wisang Geni tertawa keras. “Kerismu beracun. Ternyata kakek cabul ini pengecut curang. Tapi racunmu mana bisa membunuh aku!” Dia mengisap lukanya sambil tetap tarung. “Racunmu manis, lumayan penawar hausku.”
Tiba-tiba Wisang Geni menyerang, tubuhnya melayang bagai terbang dan mengapung. Dua tangannya mengembang dan mengepak-kepak bagai sayap kelelawar. Terdengar suara mencicit dari kepak tangannya. “Cccccsssss…. Cccsss..”
Keris di tangan kakek Wulung bergetar. Tubuhnya merasa ditekan tenaga-dalam dahsyat yang sangat dingin dan tidak terlihat. Memang tenaga mengepak sayap itu dimainkan Wisang Geni dengan tenaga wiwaha yang paling dingin.
Saat berikut dua tangan bersatu, terdengar suara “ledakan” dan tangan terus meluncur meninju serta mencakar. Sambil dia menyembur darah yang disimpan dimulutnya, darah beracun yang diisap dari luka tangannya.
Kakek Wadung berseru, “celaka!” Sambil dia melayang menolong Wulung, menyerang dengan jurus maut mencegah pukulan Wisang Geni yang bisa melukai temannya.
Pada saat kritis, pukulan Wisang Geni berubah, satu tangannya mengepak ke arah pukulan Wadung, tangan lainnya meneruskan serangan. Tangan yang mengepak Wadung balik lagi menyerang Wulung. Semua dilakukan dalam keadaan melayang.
Dua kakek itu berseru kaget.
Kakek Wadung terpukul mundur tiga langkah, nafasnya sesak. Dia menggoyang kepalanya melenyapkan rasa pusing.
Kakek Wulung mundur dengan wajah pucat pasi, jubahnya robek di beberapa tempat. Dadanya luka, ada bekas cakar, lima lajur yang menganga memperlihatkan darah merahnya. Wajahnya terasa panas kena semburan darah. Bulu romanya merinding, dia tahu dia lolos dari maut karena Wisang Geni tidak ingin membunuhnya. Tetapi dia ketakutan tahu darah beracun melekat di wajahnya. Dia merogoh saku jubahnya, tapi jubah sudah compang-camping dicakar Wisang Geni.
Saat itu Wisang Geni sudah menerjang kakek Wadung, dua tangan mengepak diiringi suara mencicit macam kelelawar. Dia tertawa sambil mengacung tabung bambu di tangannya, ”kakek cabul, kamu mencari tabung pemunah racun ini, terimalah.”
Wisang Geni melempar ke arah si kakek, namun di tengah jalan tabung itu pecah dan bubuk pemunah racun bertaburan diudara.
Kakek Wulung berteriak. “Jangan!” Dia melesat dan meraup sekenanya lalu menyapu bubuk ke wajahnya.
Selama tarung belasan jurus kaki Wisang Geni tidak memijak bumi. Mata Prastawana jeli melihat kepakan dua tangan, gerak menendang dua kakinya itulah yang membuat tubuh sang ketua melayang-layang di udara. “Jurus apa lagi yang dikuasai ketua?”
Gajah Lengar dan para murid terpesona. “Tidak menyangka ilmu-silat ketua sehebat ini.” Kata Daraka dengan suara parau saking tegangnya mengikuti jalannya tarung.
Di gelanggang tarung, kini dua kakek mengeroyok Wisang Geni.
Bukannya terdesak, malah Wisang Geni semakin gembira, dia tertawa keras, sambil meladeni dua lawannya. Gerakannya makin trengginas. Melayang, jumpalitan, melompat, menerkam, tangan mengepak, kaki menendang, tenaga-dalam dingin dan panas bergantian membuat dua kakek itu pontang-panting dalam kesibukan menghindar dan menangkis.
Kedua kakek bahkan tak mampu menyerang saking sibuk menghindari serangan. Tak pernah menyangka bahwa suatu hari keduanya akan dipermalukan seorang pendekar muda, bahkan mereka berdua mengeroyok pun tetap saja terdesak.
Baju dan celana mereka robek disana-sini kena cakaran Wisang Geni. Tampak jelas bahwa ketua Lemah Tulis itu tidak berniat membunuh, tetapi hanya mempermainkan dua kakek itu. Tapi bagi seorang pendekar dipermalukan jauh lebih malu dibanding misalnya mati dalam tarung.
Karenanya dua kakek itu sungguh nelangsa, serba-salah, mau mundur malu, maju terus lebih malu lagi. Karena jelas-jelas Wisang Geni sangat unggul, mereka juga sadar ketua Lemah Tulis itu tidak berniat melukai mereka.
Tiba-tiba terdengar suara wibawa. “Dimas Geni, cukuplah main-main, aku sudah lama mencarimu, tidak disangka-sangka bertemu di sini.”
Wisang Geni tak mau melukai atau mempermalukan lebih jauh kedua kakek itu, hanya memang dia terangsang ingin mencoba jurus lalawa yang baru. Sejak tadi ingin menyudahi tarung, namun tak ada kesempatan karena dua kakek yang kalap itu tak mau mundur.
Kali ini dia punya alasan menghentikan tarung. Dia juga mengenal suara itu.
Wisang Geni melontar tubuhnya ke belakang, melayang ringan dan bergantungan dengan kaki di atas mengait palang rumah. Persis kelelawar yang bergelantungan.
Sebenarnya ini bukan sikap istirahat, melainkan salah satu jurus dahsyat manarang manambayang majatha (menggantung ditempat tinggi siap untuk melayang dan menggigit). Tandanya dia siap melanjutkan tarung dan membela diri.
“Oh kiranya kangmas Pamegat. Kamu terlambat datang. Seharusnya kamu melihat lebih awal betapa orang-orangmu begitu kurangajar dan tak tahu diri.” Suara Wisang Geni datar dingin dan tajam. Tak ada getar ketakutan didalamnya.
“Aku baru tiba, tapi aku nonton peragaan ilmu-silatmu yang dahsyat.” Kata Pamegat yang datang bersama beberapa pendekar Tumapel yang dipimpin Siki.
“Sekarang apa yang kamu bawa untukku, tuduhan makar?” Tanya Wisang Geni. “Aku tidak cari urusan, tetapi ponggawamu yang cari urusan, berani memaki isteri dan muridku sebagai pelacur. Aku masih bersikap ramah dan tidak membunuh. Lantas dua kakek gila ini datang memaki isteriku pelacur, duapuluh jurus lagi kubikin mereka kencing di celana.”
Paras Sang Pamegat merah padam.
“Jadi apa maumu sahabatku Pamegat, menuduh aku makar dan mengerahkan segenap pasukan Tumapel?”
“Tidak ada makar. Tetapi aku membawa pesan baginda raja dan permaisuri untukmu.” Pamegat tahu Wisang Geni memiliki watak aneh, hanya tak pernah menyangka bisa membuat keributan sebesar itu.
Meskipun demikian dia tak bisa menyembunyikan rasa kagum melihat ilmu-silat ketua Lemah Tulis itu yang sanggup mengalahkan dua sesepuh pengawal istana. Dia memandang dua kakek itu, yang jubahnya robek, dadanya berbekas tanda cakar yang masih berdarah.
“Silahkan sesepuh kembali ke istana, ini hanya salah faham.” Katanya ramah namun tetap saja tidak menyembunyikan wibawa memerintah.
Wisang Geni tertawa, sambil melompat turun, dia mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. “Sahabat Pamegat, tidak seorangpun dari kami yang membunuh ponggawamu. Padahal mereka seharusnya mati karena telah berlaku biadab, mengatai isteriku pelacur. Aku masih bisa sabar, tetapi ketika pasukan panah menyerang, kami terpaksa gunakan tubuh ponggawa sebagai tameng. Mereka memanah teman sendiri. Lalu dua kakek mengatai aku penjahat cabul, tukang perkosa. Selayaknya kamu adili ponggawamu, hukum mereka supaya tidak berbuat yang tidak senonoh kepada tamu-tamu asing.”
Sang Pamegat bermerah-muka saking malu. Bagaimanapun juga dengan kedudukannya yang tinggi ditegur seperti itu oleh Wisang Geni membuatnya malu dan murka. Alih-alih membalas teguran Wisang Geni dengan kata-kata kasar, dia menggebrak tanah dengan kakinya sambil tangannya menuding para ponggawa dan pemanah. “Siki, selidiki semua ponggawa ini, kumpulkan bukti dan hukum mereka. Mereka mempermalukan kerajaan. Segera lapor padaku.”
Perintah keras dan kasar itu membuat Siki dan semua pendekar Tumapel sigap beraksi, memerintah orang-orangnya membayar ganti rugi kerusakan warung, membersihkan warung, membawa pergi mayat-mayat.
Wisang Geni duduk bersama Pamegat di pojokan.
“Baginda Raja dan permaisuri titip pesan. Tenagamu diperlukan untuk menghadapi Linggapati dan pasukannya yang dalam waktu dekat akan memberontak.”
“Kangmas maaf, aku tak mau ikut campur!”
“Dimas, kamu tahu peristiwa pertarungan di Kandangan?”
“Aku dengar cerita, banyak murid Lemah Tulis mati, termasuk paman Gajah Watu. Tewas dipanah orang-orang Brantas tanpa sempat membela diri, jebakan licik dan curang.”
“Para pemanah jitu bukan orang-orang Brantas! Itu perbuatan pasukan rodra pimpinan senopati Samba dan Hanggada. Mereka yang membunuh murid-muridmu, bukan Brantas.”
Wisang Geni bertanya. “Benarkah?”
“Nah, kamu berniat balas dendam?” desak Pamegat.
“Murid-muridku niat balas dendam, dimana pasukan rodra bersembunyi, di Brantas?”
“Mereka bagian dari pemberontak yang kusebut tadi. Kalau mau balas dendam, kamu ikut kerajaan menyerang Linggapati.”
Wisang Geni mengangguk. “Kapan waktunya?”
“Segera. Mungkin tujuh atau sepuluh hari kedepan.”
Pamegat memberitahu letak markas pasukan Linggapati. “Kita jumpa di sana.”
Mereka berpisah. Rombongan Sang Pamegat menuju istana melapor. Rombongan Wisang Geni melanjut perjalanan menuju Welirang.
( Bersambung Bab 14 bag 1)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







