Wisang Geni part Two Bab 13 bag 1 by John Halmahera

Posted on 25 Juli 2014 ( 0 comments )


Bab Tigabelas

Pertemuan                

(Bab 13 Bag 1)

Cukup sudah kisah cintaku denganmu, akan kukatakan kepada diriku setiap saat mulai sekarang ini, berhenti mencintai Wisang Geni.”

***

      Kita kehilangan dua hari di Welirang, sekarang harus jalan cepat, lebih cepat tiba di gunung Lejar, lebih baik.” Tukas Prastawana kepada lima kawannya.

      “Ini jelas-jelas tugas sulit, karena kita berenam belum pernah menginjak kaki di gunung Lejar dan tidak tahu dimana lembah kera berada. Jadinya kita perlu waktu lebih banyak untuk mencari. Aku setuju kita jalan cepat.” Kata Daraka.

      Sore hari ketiga mereka tiba di kaki gunung Lejar. Hari masih siang dan udara sejuk.

       Daraka berkata. “Istirahat dulu Mas Pras.”

      Mereka duduk-duduk di rerumputan.

      “Mencari ketua di gunung yang begini luas, jelas tidak mudah. Tetapi kita tak boleh putus asa, meski kita juga siap untuk gagal,” Kata Laras, isteri Gajah Lengar.

      Mereka mendirikan gubuk di tempat yang dianggap strategis yang akan dilalui siapapun yang turun dari gunung. Gubuk dipisah dengan sekat menjadi tiga ruang tidur dan satu ruang depan yang digunakan bersama. Prastawana dan Dyah Mekar menempati ruang tengah, dua lainnya ditempati Daraka dan Sawitri serta Gajah Lengar dan Laras.

      Malam itu mereka berkumpul di ruang depan menikmati santapan malam yang dimasak tiga wanita berame-rame. Semua barang bawaan diturunkan.

      “Besok kita mulai mencari, apa rencanamu?” kata Gajah Lengar kepada Prastawana.

      “Kita berpencar menjadi tiga kelompok. Satu tetap tinggal disini, mengawasi jalan turun ini. Dua pasang lainnya menyisir atas gunung. Siang hari kita bertemu di sini, makan dan berembuk. Ada yang kalian perlu tambahkan, silahkan.” Kata Prastawana.

      Laras berkata. ”Sebaiknya kita jalan kaki, supaya lebih gesit. Satu hal lagi, menurut keterangan Gayatri, Sekar membawa tiga ekor kuda Wulung, Batari dan Dawuk. Jika kita bisa temukan kuda-kuda itu maka sudah pasti ketua berada sekitar sini.”

      “Bagus, menemukan kuda-kuda itu lebih mudah. Mereka pasti berkeliaran mencari rerumputan yang subur.” Tukas Daraka.

      “Awasi tebing-tebing, jurang-jurang, goa-goa dan juga jejak kaki atau jejak kuda ditanah. Itu petunjuk yang berguna,” Prastawana menambahkan. “Menurut ketua Geni, tempat yang dia namai lembah kera itu dihuni ratusan kera. Inipun bisa jadi petunjuk kita.”

      “Di gunung biasanya terdapat kera dimana-mana.” Potong Daraka.

      “Kita cari tempat yang dihuni banyak kera.” Sambut Dyah Mekar.

      Malam itu mereka beristirahat. Esok paginya, pencarian dimulai.

      Malam hari ketiga, langit dihiasi rembulan dan puluhan bintang gemintang yang menyinari lereng gunung. Enam pendekar duduk di beranda gubuk.

      “Kita minum tuak sekadar saja, sisakan lima atau enam tabung untuk ketua Geni.” Dyah Mekar berkata sambil melahap paha ayam.

      Laras memandang Dyah dengan senyum misterius. “Benar, ketua suka tuak.”

      “Berapa lama kira-kira kita bertahan disini?” Tanya Sawitri.

      “Tak ada kepastian tapi aku akan bertahan sampai kapanpun.” Tukas Prastawana.

      “Bagaimana dengan tugas-tugasmu di Lemah Tulis?” Daraka bertanya, ingin tahu.

      “Sementara waktu paman Padeksa mengambil alih. Tetapi aku akan kembali bersama ketua Geni, kupaksa dia menjadi ketua lagi.” Tegas Prastawana berapi-api.

      “Hmmmm bisakah kamu memaksa Wisang Geni?” Gajah Lengar bertanya kemudian menjawabnya sendiri. “Tak seorang pun bisa memaksanya, tidak juga kakek Padeksa.”

      “Isterinya?” Tanya Laras.

      “Hmmm lihat saja, Sekar, Manohara, Prawesti dan juga Gayatri tidak berani menentang suaminya,” Potong Daraka. “Aku teringat Westi dan Manohara.”

      “Kecuali melalui bujuk-rayu dan sanggama.” Laras tertawa geli.

      “Itupun tidak mempan, dia akan pindah ke isteri yang lain.” Tukas Prastawana.

      “Kalau semua isterinya membujuk paksa dia?” Desak Laras. “Pasti dia luruh juga.”

      Prastawana tertawa. “Dia akan mencari isteri baru.”

      “Ketua kita itu memiliki kelemahan mudah terpikat paras ayu.” Kata Sawitri.

      “Pandanganmu terbalik, justru wanita-wanita itu yang kasmaran.” Tukas Prastawana.

      “Mas Pras selalu membela ketuanya. Dia pengikut yang setia.” Kata Daraka.

      “Kita semua pengikutnya yang setia,” Tukas Gajah Lengar.

      Seperti ada yang memberi isyarat, detik itu juga suasana hening. Hanya terdengar suara kodok bersahut-sahutan.

      “Aku menduga-duga apa tindakan ketua Geni terhadap Gayatri?” Dyah Mekar bertanya sambil menghela nafas. “Kasihan Gayatri, karmanya buruk, dia menjadi korban kejahatan Arjapura, kupikir-pikir aku akan membelanya.”

      “Dia sahabatmu. Aku bersamamu, kita akan membelanya Dyah.” Tukas Laras.

      “Maksudmu membela itu apa? Melawan dan menentang ketua Geni?” Sawitri bertanya.

      “Tidak perlu menentangnya, kita hanya perlu mengulang cerita dan pengakuan Arjapura bagaimana dia menipu, menawan dan membuat Gayatri ketagihan racun bius sehingga tak mampu berpikir waras. Jika tidak ditolong Jubah Kuning itu, mungkin Gayatri hanya tinggal tulang saja. Ketua menghargai kebenaran. Kita ceritakan kebenarannya, seterusnya ketua akan berpikir sendiri.” Tutur Dyah Mekar berapi-api.

      “Kamu saja yang bertutur mewakili kita semua.” Kata Laras kepada Dyah Mekar.

      “Aku akan membuka percakapan, selanjutnya kita semua saling melengkapi, karena kita semua mendengar sendiri langsung dari mulut Arjapura.” Kata Dyah Mekar.

      Hari keempat Gajah Lengar dan Laras membawa kabar gembira. Keduanya menemukan tiga ekor kuda. Namun tak ada tanda-tanda Wisang Geni berada disekitarnya.

      “Memang benar Wulung, ketika aku memanggil namanya, dia hanya meringkik kemudian kabur mendaki lereng diikuti dua temannya. Tetapi yang penting aku sudah melihatnya, berarti ketua Geni benar-benar ada di gunung ini.” Kata Gajah Lengar.

      Prastawana menyahut lantang. “Artinya ketua masih hidup. Kita akan temukan dia.”

      “Atau ketua yang menemukan kita,” cetus Gajah Lengar.

      Hari ketujuh mereka di lereng gunung. Cahaya matahari pagi yang kuning mulai menembus kabut. Tiga pasang suami isteri masih berpelukan. Tiba-tiba mereka terjaga mendengar gema tertawa yang membahana. Gema dipantulkan tebing seakan sahut menyahut menambah keangkeran tawa.

      Enam pendekar Lemah Tulis berlarian keluar gubuk memandang keliling. Gema suara tawa makin lama makin melemah, sampai akhirnya hilang ditelan kebisuan pagi. Saat berikut terdengar kidung dinyanyikan.

      Kidung itu menggema meskipun tidak segempita tawa tadi namun tetap  memperlihatkan laki-laki yang berkidung itu memiliki tenaga-dalam sangat tinggi.

Ilmu dari seberang,

Tak boleh tepuk dada,

 Di tanah Jawa ini

Dari gunung Lejar,

Jurus penakluk raja,

Ilmu dari segala ilmu,

Dari lembah kera,

Jurus Lalawa mengepak sayap

Menembus awan

Melenggang ke barat,

Meluruk ke timur,

Merangsak ke utara,

Merantau ke selatan

Tak ada lawan,

Tak ada Tandingan,

Ilmu dari segala ilmu

      Enam pendekar itu terpaku di tempat berdiri. Terpukau pertunjukan tenaga dalam melalui tertawa yang memekak telinga dan kidung yang tajam mengiris.

      “Itu ketua!” Seru mereka hampir bersamaan. Suara yang penuh kegembiraan namun ada rasa haru dan kerinduan didalamnya.

      Selang beberapa detik setelah gema kidung jurus penakluk raja hilang ditelan kesunyian gunung Lejar, tiga penunggang muncul dari kejauhan.

      “Itu ketua!” Teriak Gajah Lengar.           

      Tanpa ragu lagi Prastawana berseru lantang dengan tenaga-dalam. “Ketua Lemah Tulis Wisang Geni, kami murid Lemah Tulis memberi hormat.”

      Belum lenyap suara Prastawana yang juga gemanya dipantul tebing-tebing ketika tiga ekor kuda muncul mendekat.

      Tampak Wisang Geni bertelanjang dada dengan rambutnya yang putih keperakan diatas punggung kuda Wulung. Dua wanita yang cantik jelita mengikutinya dari belakang, masing-masing diatas punggung kuda putih dan coklat, Batari dan Dawuk. Keduanya Sekar dan Atis. Enam orang itu mengenal Sekar tetapi tidak mengenal perempuan muda yang lebih jelita dari Sekar. Wanita muda itu menunggang kuda coklat Dawuk.

      Prastawana dan kawan-kawannya menjatuhkan diri, berlutut memberi hormat. “Kami memberi hormat kepada ketua Lemah Tulis.”

      Wisang Geni melompat turun dari punggung Wulung diikuti Sekar dan Atis.

      “Cukup. Kalian berdiri.” Kata-kata Wisang Geni masih berwibawa. “Prastawana, kamu ketua Lemah Tulis mengapa memberi hormat kepada Wisang Geni, bukankah aku sudah mengundurkan diri dari jabatan ketua?”

      Prastawana berdiri tegap memandang ketuanya yang begitu dia rindukan. Ada rasa haru dan bangga dalam suaranya ketika dia berkata. “Kamu tetap ketua Lemah Tulis, aku tidak berani lancang menyebut diri sebagai ketua. Aku tak pernah merasa diri sebagai ketua.”

      Tampak mata tiga pasang suami isteri berkaca-kaca menahan haru. Air muka Laras dan Dyah Mekar berseri-seri memandang sang ketua. Tatapan mata dua wanita itu memancar pandangan cinta dan birahi. Wisang Geni tersenyum, senyum misterius.

      Wisang Geni yang dikabarkan mati terbunuh, kini berdiri didepan mereka dengan sehat bugar. Malah lebih segar. Dan lewat tawa dan kidungan tadi dia telah memperlihatkan tenaga-dalamnya yang begitu tinggi.

      Wisang Geni menghampiri Prastawana, memeluknya dengan erat. Dua laki-laki bertubuh kekar dan berotot hampir menyatu dalam pelukan persaudaraan yang begitu akrab. Dia menggapai dua laki-laki lainnya, merangkul Gajah Lengar dan Daraka. Mereka melangkah menuju pekarangan gubuk, duduk diatas pokok kayu yang basah oleh embun.

      Sementara itu Sekar berpelukan dengan Dyah Mekar, Laras dan Sawitri. Tidak larut dalam suasana haru, Sekar menarik tangan Atis, “Dia isteri kangmas Geni. Namanya Atis.” Suara Sekar datar dan tawar.

      Sembilan pendekar itu duduk bersama. Sekar dan Atis duduk terpisah, memberi kesempatan guru dan murid Lemah Tulis berbincang.

      Dyah Mekar duduk berdua Laras, keduanya memandang wajah sang ketua dengan gairah. Laras menoleh dan menempel mulutnya ke telinga Dyah Mekar, lalu berbisik lirih tak didengar orang, “Dyah, lihat guru kita, makin bugar, aku gemes.”

      Pipi Dyah Mekar memerah malu, balas berbisik. “Aku juga gemes.” Lalu sambil memandang mesra Wisang Geni dia berkata.         “Kami semua rindu padamu ketua.”

      Wisang Geni tersenyum misterius.

      “Perguruan memerintah kami mencarimu. Dari Lemah Tulis kami singgah di Welirang kemudian langsung menuju Lejar. Ini hari ketujuh kami di sini, senang bisa menemukan ketua.” Tutur Prastawana.

      Wisang Geni tertawa, lalu bersikap serius. “Nyawaku ditolong Sekar.” Dia menunjuk Atis yang duduk dekat Sekar. “Dia  Atis, cucu Ki Sagotra pendekar Merapi. Aku mengawininya satu bulan sebelum kejadian Kandangan. Aku dan Sekar bertemu dengan dia di tengah jalan, lalu bersama-sama ke lembah kera. Mereka berdua lah yang merawat dan menyembuhkan aku.”

      Enam pendekar yakin kisah singkat itu sesungguhnya panjang dan padat ketegangan. Tidak luput dari pengamatan mereka, gambar tato kelelawar warna hitam kental didada sang ketua dan wajah keras dengan rambut putih keperakan yang panjang riap-riapan.

      “Ini lukisan kelelawar, guruku bergelar lalawa. Kemarin Atis yang melukis.” Kata Wisang Geni menjelaskan kepada anak buahnya.

      Dyah Mekar berbisik di telinga Sekar. “Kalau ketua perlu baju, mas Pras membawa baju lebih. Ukuran tubuh hampir sama, meskipun ketua lebih bidang.”

      Sekar tertawa lirih. “Dia maunya telanjang dada, ingin semua orang melihat gambar kelelawar itu.” Suara Sekar bisa didengar semua orang.

      “Oh pasti ada hubungannya dengan lirik dalam kidung tadi dari lembah kera, Lalawa mengepak sayap menembus awan, benarkah perkiraanku Ketua?” Gajah Lengar tersenyum.

      Wisang Geni tidak menjawab. Dia menatap enam orang itu bergantian, tatapan yang tajam dan misterius. “Ceritakan semua, tak ada yang ditutupi, mulai dengan anak-anakku lalu isteriku, lalu Lemah Tulis.” Suaranya datar, dingin dan tidak bersahabat.

      Suasana hening. Tak ada suara.

      Dyah Mekar memecah kesunyian. “Kami sepakat aku yang bertutur, jika ada bagian yang kulupa maka teman lain akan membantuku. Mulai dari putra-putri ketua. Seno tidak terdengar kabar beritanya……”

      Cerita Dyah Mekar dipotong Sekar. “Seno aman bersama dua nenekku.”

      “Bagus kalau Seno aman. Angga sekarang ini bersama ibunya Gayatri, menetap di gubuk dekat danau di Welirang.” Sedetik itu Dyah Mekar menangkap sinar tajam mengilat di mata ketuanya ketika nama Gayatri disebut.

      Dyah Mekar menutur semua yang terjadi di Welirang. Tak ada yang disembunyikan. “Aku tidak mengurangi dan


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com