Wisang Geni part Two Bab 11 bag 3 by John Halmahera
Posted on 21 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab 11 bag 3
Dua hari lalu ketika Sang Pamegat sedang berada diserambi rumah duduk berdampingan isterinya yang dari Kuangchou, Kim Mei, seekor elang melayang diatap rumah. Pamegat bersiul. Saat berikut elang hinggap ditangan majikannya. Kim Mei mengambil beberapa daging dari nampan, memberikannya kepada si elang. Suaminya melepas ikatan surat di kaki elang dan membacanya.
“Karambang dirampok, beras dan keping emas. Tetapi telah kuatasi, semua perampok mati terbunuh, sayang tidak ada seorangpun yang selamat sehingga kita tidak memperoleh keterangan. Tampaknya ada kelompok pemberontak mengganggu keamanan Tumapel.”
Sang Pamegat berpikir sejenak. Kemudian menulis surat balasan. Singkat. “Aku dan pasukan akan ke Jedung, segera.”
Dia menoleh ke isterinya. “Mau ikut?”
Kim Mei tersenyum. “Ikut. Aku kan pengawal khusus.”
Malam itu juga mereka bersiap.
Setelah melapor ke Mahisa Cempaka, maka Sang Pamegat bersama sepuluh pendekar Tumapel serta duapuluh pemanah jitu berangkat menuju Jedung.
Bertemu Sang Pamegat menguntungkan Ekadasa dan Trayodasa. Keduanya tak perlu pulang melapor ke istana. Mereka menutur peristiwa perampokan itu.
“Pemberontakan terhadap kerajaan.” Tukas Sang Pamegat dengan wajah serius.
Mereka menuju pelabuhan Jedung namun berhenti di tempat kejadian di hutan Karangan. Mereka menyelidiki dan mengamati setiap jengkal tanah. Mayat-mayat prajurit Tumapel berserak, sebagian sudah dimakan binatang. Kejadian aneh yang dilihat Ekadasa, mayat-mayat orang Brantas dibuang ke kali, akhirnya terpecahkan.
Mereka menemukan luka-luka bekas anak panah. “Panah dicabut dari tubuh mayat, rupanya ingin menyembunyikan identitasnya.”
Kim Mei tersenyum dan berbisik kepada suaminya. “Kangmas, jelas ini perbuatan orang ketiga, mereka bukan orang Brantas, bukan orang kerajaan. Mereka kelompok lain, semuanya ahli panah. Lihat ini.” Dia mengajak suaminya dan beberapa pendekar ke semak belukar. Dia menarik keluar dua batang anak panah. “Mungkin masih ada anak panah lain yang nyasar.”
Orang-orang kemudian menyebar. Benar apa yang dikatakan Kim Mei, beberapa anak panah ditemukan.
Kim Mei melanjutkan pemikirannya. “Mereka punya rencana cermat, sembunyi tangan, coba periksa teliti pasti semua korban mati dipanah. Bekas anak panah yang dicabut dari tubuh tidak bisa disembunyikan.”
“Kereta barang kerajaan ini dikawal prajurit Tumapel dan murid-murid Brantas, tetapi disini hanya ada mayat-mayat prajurit.” Kata Siki.
“Seperti laporan Ekadasa, mayat-mayat yang dibuang ke kali, adalah mayat orang Brantas, mereka mau kita berpikiran Brantas yang merampok.” Kata Pamegat.
“Supaya kita menghukum Brantas?” Tanya salah seorang pendekar Tumapel, Patwelas.
“Mungkin saja. Tetapi aku justru berpikir, mereka menyembunyikan diri, tidak mau kita tahu siapa mereka.” Tegas Kim Mei. “Mereka bukan perampok biasa, ada rencana menyusun kekuatan, merampok puluhan kuintal beras. Pasti untuk makan orang banyak, nah apalagi jika bukan satu pasukan besar.”
Sang Pamegat menatap tajam isterinya. “Kamu yakin Mei?”
Wanita Kuangchou yang cantik itu mengangguk. “Aku pasti Kangmas.”
Tiba-tiba kepala pasukan panah menyela pembicaraan. “Paduka, mohon ijin bicara. Hamba dan beberapa teman mengamati beberapa anak panah, ternyata itu panah pasukan rodra yang dulu menjadi tulangpunggung kekuatan Kediri.”
“Kamu yakin?” Tegas Sang Pamegat.
“Hamba yakin Paduka.”
“Rodra muncul kembali dan menjadi perampok, apa maunya?” Siki bertanya.
Semua orang saling pandang. Ada rasa kekhawatiran dari paras masing-masing. Apalagi ketika Sang Pamegat berbisik. “Rencana pemberontakan!”
Siki menambahkan. “Hamba setuju pendapat Paduka, pasti perbuatan makar!”
“Yang penting, aku tahu markas mereka, desa baru di kaki bukit Gunduk.” Kata Ekadasa. “Apakah kita kembali ke istana?” Dia bertanya pada Sang Pamegat.
Pamegat menggeleng. “Kita terus ke Jedung. Pelabuhan harus kita amankan. Aku menulis surat untuk istana agar siap-siap mulai sekarang.” Dia lalu bersiul memanggil elangnya. Memberinya sekerat daging. Menulis surat, mengikatnya dikaki si elang.
Elang itu melayang jauh ke angkasa biru, menuju keraton.
Rombongan Sang Pamegat melanjut perjalanan ke Jedung dan Karambang.
Esok harinya mereka tiba di pelabuhan. Dua pendekar diutus masing-masing menemui Gajah Pringgon dan Setiati. “Katakan pertemuan di rumah kepala desa, sekarang juga. Aku akan segera ke rumah kepala desa begitu selesai memeriksa keamanan pelabuhan.”
Linggapati dan Dedes Ayu mendengar laporan. Misi merampok rombongan Tumapel dihutan Karangan, Samba dan pasukannya membawa pulang beras dan keping emas yang dimuat dalam lima kereta kuda. Hebatnya lagi, tak ada korban di pihak pasukan Samba.
Misi ke Jedung dan Karambang gagal malah tiga penasehat Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran terluka kena panah. Beras dan keping emas yang telah diangkut dengan kereta kuda, ditengah jalan disergap pasukan panah keraton Tumapel. Semua mati kecuali ketiga penasehat. Mereka pulang dengan tangan hampa. Beras dan keping emas direbut balik oleh pasukan Tumapel.
Pulosari menutur dengan merunduk kepala, malu akan kegagalannya.
Mendengar laporan dari Pulosari, seketika wajah Linggapati merah padam. Amarahnya membakar dada. Tetapi dia masih ingat, Pulosari adalah kakak perguruannya yang telah banyak berjasa memelihara dan mendidiknya. Sudah bagaikan ayah kandung. Pulosari juga satu-satunya orang yang paling dia percaya, melebihi kepercayaan pada Sangkapura.
Tanpa berkata-kata dia masuk ke bilik pribadinya. Dedes Ayu mengikutinya.
Pulosari, Sangkapura, Dewi Kajoran dan Samba tetap menunggu.
Linggapati berkata, suaranya gemetar. “Jangan bicara, Dedes. Aku sedang marah.” Lagak bicara dan gerak tubuhnya membuat wanita cantik itu ketakutan.
Linggapati melepas bajunya, tinggal hanya celana panjang sebatas lutut warna kuning, dia lalu masuk ke goa latihannya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ribut, macam letusan mercon diselingi teriakan yang gegap gempita. Dedes Ayu tahu suaminya sedang menyalurkan amarah dalam latihan, pelampiasan marah yang sulit dia bendung.
Dia ingat, laki-laki itu pernah mengatakan sejak menguasai keris prabakara pada saat-saat tertentu acapkali dia harus berkutat mengendalikan hawa panas tenaga-dalamnya. “Panas itu menjadi pemicu amarahku, yang terkadang sulit kuatasi. Pada saat-saat seperti itu aku harus berlatih atau tarung.”
Sudah beberapa kali kejadian, ketika dikuasai amarah, Linggapati bisa berubah menjadi mahluk yang mengerikan. Mula-mula Dedes tidak berdaya dan tenggelam dalam ketakutan. Namun lambat-laun dia temukan cara menurunkan tensi amarah suaminya. Pertama-tama membiarkan suaminya melampias amarah, setelah itu membujuknya dengan rayuan seks. Ternyata cara itu menjadi penawar yang jitu.
Sementara suaminya sibuk berkutat dengan jurus-jurus maut keris prabakara, Dedes Ayu mendandani diri sebaik-baiknya. Beberapa saat berlalu Dedes Ayu berubah menjadi sosok yang cantik, montok dan luwes. Pakaiannya yang seronok memperjelas kemolekan tubuhnya bertaut dengan paras cantik yang berseri-seri.
Linggapati selesai berlatih, keluar dari ruang pribadinya dengan sekujur tubuh mandi keringat. Wajahnya masih merah padam. Dedes menghadapinya dengan tenang dan kemayu. Sambil menyeka keringat suaminya dengan air kendi yang sejuk, Dedes Ayu menggunakan semua pesona dirinya untuk menenangkan kemarahan Linggapati.
“Sebenarnya aku yang bersalah! Petunjuk yang kuberikan tidak lengkap. Karena memang aku tidak tahu bahwa di Jedung ada pasukan Tumapel yang sembunyi yang sewaktu-waktu bisa datang membantu desa Karambang. Itu salahku kangmas.”
Dedes tahu suaminya menyalahkan diri sendiri. Linggapati tidak tahu pasukan Tumapel sembunyi di pelabuhan. Ketika itu Dedes mempertanyakan kemungkinan ponggawa kerajaan sembunyi dalam samaran, Linggapati membantahnya.
Dedes Ayu tidak mengungkit kesalahan Linggapati, melainkan dia mengaku sebagai kesalahannya. “Tetapi Mas, jangan beritahu mereka bahwa aku salah dalam memberi petunjuk. Sebagai pemimpin, kamu adalah orang yang tak boleh dipersalahkan, dan aku sebagai sisianmu juga tak boleh disalahkan.”
“Apakah kesalahan harus dibiarkan? Itu kesalahan kangmas Pulosari dan peraturan kita setiap kesalahan harus dihukum. Tetapi bagaimana mungkin aku menghukum kangmasku?”
Melihat suaminya yang tampak sangat berduka. Dedes memeluk, mengelus dan mencium dadanya. “Jangan pikirkan itu, pikirkan aku, mas. lihat kecantikanku.”
Linggapati pun luruh dalam pelukan isterinya yang cantik. Apa yang diberikan Dedes Ayu bagaikan bius-candu yang tak mungkin bisa ditolak.
Masih diatas pembaringan Dedes memeluk suaminya dan berbisik lirih. “Kangmas jika kamu mengampuni mereka, tiga tetua itu akan mati-matian membelamu karena terimakasih, dan itulah yang penting. Kita akan menyerang dalam waktu dekat, daripada kehilangan tiga tetua itu, lebih baik jika mendapatkan jiwa raga mereka. Aku minta pengampunanmu bukan sebab Kajoran itu ibuku, tidak ada cintaku pada ibuku jika dihadapkan pada kepentinganmu. Kalau harus membunuh ibuku juga akan kulakukan jika kamu perintah.”
“Pijit aku dengan jari tanganmu yang lembut dan wangi.”
Dedes tersenyum, jari jemarinya mulai menari dikepala dan leher suaminya. “Ayo Mas, kamu ampuni mereka?”
“Tapi aku sudah membuat aturan, yang gagal akan aku hukum!”
“Kamu raja, kamu buat aturan, kamu bisa mengubah dan melanggar, kamu penguasa atas semua anak buahmu.” Bisik Dedes Ayu.
Linggapati berterimakasih atas anjuran dan pandangan isterinya. “Kamu benar, isteriku. Ayo kita keluar bertemu mereka.”
Setelah Dedes Ayu mengenakan busana, keduanya keluar menemui empat penasehat. Empat pendekar tahu bahwa Linggapati akan memutuskan sesuatu atas anjuran dan pandangan wanita cantik yang menjadi isterinya.
“Ada menang ada kalah, ada malam ada siang. Kalian telah menyelesaikan misi. Aku tak mau ada kegagalan lagi. Mulai saat ini, dewan penasehat kuhapus. Kalian masih boleh tinggal di tempatmu sekarang ini, tetapi pangkat kalian sama dengan pendekar gugus dua. Mengapa aku memutuskan kebijakan ini? Karena kita akan segera menyerang istana dalam waktu dekat dan aku mau kalian mengawasi dengan ketat semua pendekar dan pasukan yang di gugus dua maupun gugus tiga. Kalian akan menerima perintah dari aku dan juga isteriku.”
Tidak menyangka akan mendapat keringanan, Pulosari bertiga Sangkapura dan Dewi Kajoran berulang kali mengucap terimakasih.
Dedes Ayu tersenyum kepada tiga penasehat.
Seketika itu ketiga pendekar tahu keputusan Linggapati karena mengikuti bujukan wanita itu. Sinar mata Pulosari mengucap terimakasih pada Dedes Ayu.
Linggapati menarik tangan isterinya dan melangkah kedalam kamar. Ditengah jalan, Dedes Ayu berbisik. “Sekarang kamu telah mendapatkan seluruh jiwa raga tiga pendekar itu, dan mereka akan sedia mati membelamu, kangmas.”
Mendadak Linggapati berbalik. “Kalian boleh meninggalkan ruangan. Tetapi kangmas Pulosari harap tinggal.”
Semua melangkah pergi. Pulosari menanti dengan hati berdebar-debar.
“Kangmas, pasang mata dan telinga. Sering-sering melapor padaku. Kuperkirakan dalam waktu duapuluh hari kita akan menyerang istana. Kamu tangan kananku, Kangmas. Aku sangat mengandalkanmu.” Dia berbalik menggandeng isterinya. Dia sempat mendengar suara Pulosari.
“Terimakasih Dimas.”
(Bersambung Bab 12 bag 1)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







