Wisang Geni part Two bab 11 bag 2 by John Halmahera

Posted on 19 Juli 2014 ( 0 comments )


Bab 11 bag 2

      Keamanan pelabuhan Jedung mengalami perubahan besar setelah kejadian dua pemanah perguruan Brantas yang berupaya membunuh Setiati dalam pemilihan kepala desa. Hal ini membuat Gajah Pringgon marah. Dia memecat perguruan Brantas, mencabut haknya sebagai pengawal keamanan pelabuhan. Sebagai ganti, dia menugas limapuluh orang yang menyamar  dibawah pimpinan Cakil dan wakilnya Sasro. Mereka pasukan khusus Tumapel, pemanah jitu dan petarung handal.

      Begitu menerima perintah tertulis yang dibawa elang, Cakil dan Sasro segera mengumpul anggota pasukan. Hanya dalam sekejap tigapuluh orang memacu kuda menuju hutan diluar desa Karambang, enam kilo dari pelabuhan. Cakil berkata kepada wakil dan pasukannya, “kita tunggu para perampok di batas hutan.”

      Sepenanakan nasi berlalu mereka tiba di batas hutan yang rimbun dipadati pohon kayu. Mereka memisah diri mencari tempat sembunyi, sebagian memanjat pohon.

      Selang beberapa saat pasukan Gajah Pringgon tiba dan segera bergabung. Adipati mengambil alih pimpinan, mengatur strategi dan persiapan. Semuanya dilakukan serba cepat, semua anggota pasukan berpengalaman tarung dan perang. Tak lama kemudian pengintai diatas pohon memberi aba-aba musuh mendekat.

      Pulosari, Sangkapura, Dewi Kajoran, lima muridnya dan limabelas anggota rodra telah menyelesaikan misinya dengan hasil memuaskan. Mereka melecut kuda dengan perasaan gembira. “Tidak dinyana hanya dengan satu gebrakan mendapatkan hasil malah melebihi target.” Kata Sangkapura. “Beras sepuluh kuintal, keping emas dua peti, keping perak dua peti. Ini hasil besar.”

      Tidak berapa lama meninggalkan desa Karambang mereka memasuki hutan. Pulosari mengangkat tangannya pertanda semua berhenti. Dia memerintah tiga murid Dewi Kajoran maju ke depan memeriksa. Tiga wanita ini berkuda jauh kedalam hutan sambil mengamati sekeliling. Tak lama kemudian mereka balik ke pasukan. “Tak ada yang mencurigakan. Hutan sepi.” Kata salah seorang diantaranya.  

      Pulosari memberi tanda. Rombongan masuk hutan. Hari masih siang meskipun matahari mulai menggeser ke Barat. Sinar matahari menerangi kerimbunan hutan. Makin masuk kedalam hutan, kecurigaan dan kewaspadaan makin berkurang.

      Itu memang strategi Gajah Pringgon. “Membiarkan musuh merasa nyaman, saat itulah kita menyerang,” katanya kepada Cakil.

      Saat yang dinanti pasukan Tumapel akhirnya tiba. Gajah Pringgon memberi tanda kepada Cakil yang lantas bersiul. Saat berikut ratusan anak panah bagaikan hujan menusuk rombongan Pulosari. Panah tak pernah berhenti. Seorang pemanah sanggup melepas tiga panah sekaligus, lalu menarik busur lagi dan melepas panah susulan.

      Pulosari dan kawan-kawannya terkejut bukan alang kepalang. Tetapi semuanya terlambat.

      Dia bersama Sangkapura, Dewi Kajoran sibuk menangkis dan menghindar. Lima murid Dewi Kajoran sibuk menangkis. Para pemanah Rodra tersungkur bahkan kuda-kuda kereta ikut roboh tertancap panah.

      Serangan dadakan itu luar biasa mengerikan, saat dimana rombongan Pulosari merasa nyaman telah menyelesaikan misi dengan sukses. Mereka tidak menyangka akan diserang. Para pemanah khusus pasukan Tumapel sangat mumpuni, tenaga besar membuat anak panah melayang dengan kecepatan tinggi dan jitu, tidak heran rombongan Pulosari berantakan.

      Semua anggota Rodra mati. Tiga adik perguruan Dewi Kajoran mati, dua lainnya luka. Dewi Kajoran dan Sangkapura terluka, panah tertancap dibahu. Hanya Pulosari seorang yang lolos dari panah dengan memutar kerisnya menangkis panah.

      Melihat kerusakan yang begitu hebat, terutama semua kuda penarik kereta mati, Pulosari tak punya pilihan selain lari. Satu detik lebih lama berada di daerah terbuka itu dimana musuh tidak terlihat akibatnya mati. Dia tidak tahu berapa banyak musuh, namun dari banyaknya anak panah yang menghujani rombongannya, dia perkirakan jumlahnya banyak. Maka dia pun berseru, “lari, lari…!!!”

      Pasukan Tumapel tak mau melepas musuhnya begitu saja. Mereka menghujani panah. Dua adik Dewi Kajoran jatuh dari kuda, tewas. Pulosari dan dua temannya berhasil lolos tetapi dipunggung masing-masing tertancap panah.

      Adipati Gajah Pringgon memimpin pasukannya kembali ke Karambang sambil membawa kereta berisikan beras dan kepingan emas.

      Setiati dan penduduk desa menyambut kedatangan pasukan Tumapel. Pujian dan ucapan terimakasih mengalir dari para penduduk desa. Gajah Pringgon masuk ke ruang kerja Setiati, menulis laporan kemudian bersiul memanggil elang yang khusus  komunikasi dengan Sang Pamegat. Mengirim laporan kepada Sang Pamegat.

     Siang itu awan mendung menghalangi sinar matahari, menyebabkan hutan Karangan yang rimbun dan padat pepohonan tampak agak gelap. Meskipun demikian tak menghalangi pandangan serombongan orang yang melintas.

      Tampak lima kereta yang masing-masing ditarik dua ekor kuda melaju pelan diiringi puluhan pengawal berkuda. Mereka semuanya bersenjata. Duapuluh murid Brantas dan tigapuluh prajurit Tumapel mengawal kereta yang bermuatan beras dan keping emas dari pelabuhan Jedung menuju keraton.

      Rombongan  sudah tiga hari perjalanan ketika tiba di hutan Karangan. “Dua hari lagi kita masuk kawasan Karangploso, sebaiknya berhati-hati,”kata Cakar Macan, ponggawa Tumapel yang dipercaya sebagai penunjuk jalan. Dia memiliki ilmu-silat tinggi dan pengalaman luas, sudah berkali-kali menjadi pemandu jalan bagi rombongan kerajaan, menguasai seluk beluk hutan-hutan dibelahan timur tanah Jawa.

      Tiga purnama lalu rombongan keraton dirampok di tengah hutan, kali ini istana Tumapel mengutus empat dari delapan belas pendekar ikut mengawal. Walu sebagai pemimpin didampingi wakilnya Molas. Dua lainnya pendekar wanita, Ekadasa dan Trayodasa. Hanya Walu dan Molas berpakaian seragam seperti para prajurit. Dua pendekar wanita berpakaian rakyat jelata bercampur dengan anggota Brantas.

       Memasuki tengah hutan, Walu mengangkat tangan, petanda rombongan berhenti sejenak. Dia menoleh dan berseru. “Waspada dan berpencar, tapi jangan jauh-jauh, tetap berada disekitar kereta.”

      Rombongan memecah diri, berpencar tetapi tidak jauh dari kereta kuda.

      Pada saat itu ditengah hutan, agak jauh sekitar satu kilo dari rombongan Tumapel, empatpuluh pemanah dari pasukan Rodra dipimpin Samba bersiap dengan panah,  menyebar di rerumpun semak dan pohon-pohon, sebagian sembunyi di atas pohon. Korowelang dan Hanggada mengintai dari atas pohon. Jika Hanggada melambaikan tangan, artinya semua pemanah siap menyerang.

      Tanda akan diteruskan secara estafet sehingga menyebar. Berikutnya Hanggada akan memberi tanda dengan siulan yang mirip kicau burung. Begitu mendengar siulan semua pemanah melepas anak panah, masing-masing dengan sasaran terdekat.

      Ketika jarak semakin dekat, sekitar limaratusan meter, Walu memandang keliling. Nalurinya bekerja. Dia merasa seakan diintai bahaya, tetapi melihat Cakar Macan dan empat prajurit terus melangkah maju, kecurigaan pun lenyap.

      “Ah aku hanya kelewat khawatir.” Bisik Walu.

      “Tak ada apa-apa. Suasana biasa, di hutan memang sepi.” Molas menyahut.

      “Dua adik kita dimana posisinya?” Walu bertanya.

      “Keduanya dibelakang kereta yang terakhir.”

      “Bagus begitu.” Kata Walu.

      Rombongan tiba ditengah hutan, ketika terdengar siulan yang mirip kicau burung. Detik itu juga indera Walu menangkap suara berdesis, macam bunyi lebah. Dia berseru, “Awas!” Sambil dia melompat dari punggung kuda, mencabut keris dan menggerakkan mengitari tubuhnya. Molas juga bergerak sama pesat, melompat dari punggung kuda.

      Tetapi peringatannya terlambat, desis macam bunyi lebah timbul dari ratusan anak panah yang melayang deras ke arah rombongan Tumapel. Seketika itu terdengar keributan, ringkik kuda dan teriak kesakitan manusia yang kena panah. Tidak hanya manusia tetapi kuda juga tidak luput dari terjangan anak panah yang melayang bagaikan hujan. Kuda penarik kereta mati tersungkur. Saisnya mati dengan beberapa anak panah menembus dada dan lehernya.

      Hanya dalam beberapa detik saja hampir seluruh pengawal kereta berguguran baik pengawal dari Tumapel maupun yang dari Brantas.

      Molas dan Walu sempat menangkis terjangan anak panah, namun beberapa diantaranya lolos dan nancap ditubuhnya. Tetapi keduanya sempat berlindung dibalik kereta yang paling belakang bergabung dengan Ekadasa dan Trayodasa.

      “Kita kalah jumlah, semua pengawal mati, hanya kita berempat yang selamat.” Kata Walu. “Kalian bertiga mundur dan sembunyi. Kalian harus selamat dan sampaikan kabar ini ke istana. Cepat laksanakan!”

      Molas menoleh kepada dua rekan wanitanya. “Kalian berdua pergi. Aku temani kangmas Walu. Cepat pergi!”

      Sebelum Ekadasa membantah, Molas berseru. “Jangan terlambat. Cepat pergi!”

      Hujan panah masih berseliweran disekitar kereta, namun tidak menjangkau kereta yang paling belakang.

      Walu berseru. “Cepat pergi, Eka dan Trayo! Ini perintah, melanggar perintah artinya membangkang perintah Raja.”

      “Trayo, kita merayap cepat ke arah sungai!” Ekadasa menarik tangan temannya.

      Dua pendekar wanita itu merayap bagaikan ular. Selain karena pakaiannya hitam-hitam mereka tertolong gelapnya hutan karena mendung tebal. Dalam sekejap mereka tiba ditepian kali Welang. “Kita menyeberang dan sembunyi ditepian sana!” Bisik Ekadasa yang lebih senior dari temannya.

      Mereka berlari diatas permukaan air menyeberang sungai. Begitu menginjak kaki di seberang sungai, keduanya mencari pohon rindang yang terdekat dengan tepian sungai. Dari atas pohon keduanya mengintip. Suasana yang agak gelap di hutan menghalangi pemandangan. Mata mereka tak bisa menemukan dua temannya, Molas dan Walu begitu juga para pengawal Tumapel dan Brantas.

      “Kita tunggu sampai menjelang malam, mungkin para perampok sudah melarikan barang bawaan kita.” Bisik Ekadasa. 

      “Sssssttt lihat Mbak.” Bisik Trayodasa.

      Tampak beberapa orang menyeret mayat-mayat dan melempar ke sungai. Buaya-buaya yang kelaparan menerkam mayat-mayat, menimbulkan kecipak air dan buih yang meriah.

      “Kamu hitung mayat yang dibuang?” Ekadasa bertanya.

      “Tidak Mbak, aku tidak menghitung, lupa.” Kata Trayodasa.

      “Aku juga.”

      Mereka menunggu agak lama setelah mayat terakhir dilempar ke sungai.

      Ekadasa memegang tangan temannya. “Kita harus membuntuti para perampok, dari jauh. Kita harus tahu siapa mereka dan dibawa kemana barang rampasan itu.”

      Suara Trayodasa terdengar bergetar. Dia agak takut. “Sekarang mbak? Apakah disana sudah aman? Tidak ada lagi musuh?”

      “Mengapa nyalimu jadi ciut?”

      “Musuh tidak tampak lebih sulit dihadapi ketimbang yang kelihatan. Tapi aku tidak takut asalkan bersama-sama kamu.” Trayodasa berbisik.

      Dua pendekar Tumapel menyeberang sungai dengan mudah. Buaya-buaya sudah berada didasar sungai menyeret mayat-mayat, sebagian yang tidak kebagian masih berenang di permukaan mencari-cari mangsa. Mereka inilah jadi batu loncatan dua pendekar wanita menyeberang sungai.

      Mendung sudah bergerak menjauh, sinar matahari senja menerangi hutan yang tadinya gelap. Ekadasa dan Trayodasa mengindap-indap, meneliti satu per satu mayat yang bergelimpangan ditanah rerumputan yang masih merah bekas darah.

      Suasana hening, sepi. Tak ada orang.

      “Ini kangmas Molas,” bisik Trayodasa.

      “Ini mas Walu,” bisik Ekadasa.

      “Apakah kita kubur sekarang?” Tanya Trayodasa yang menahan tangis.

      “Kita ketinggalan jejak perampok, mana yang lebih penting?” Suara Ekadasa agak serak menahan kesedihan.

      “Kita masih bisa memeriksa jejak kereta.”

      “Bagaimana kalau mereka menghapus jejak kereta?” Ekadasa bertanya.

      “Kita kerja cepat saja, mbakyu. Gali satu lubang. Aku tidak tega kalau mayat kangmas berdua ini dimakan binatang.”

      “Kejadian ini aneh,” kata Ekadasa sambil menggali lubang. “Perampok itu tidak membuang mayat-mayat prajurit Tumapel ke sungai, mengapa?”

      “Benar Mbakyu. Aku hitung, jumlahnya lengkap. Ini aneh mbak.”

      “Jadi yang dibuang hanya mayat-mayat orang Brantas.”

      “Tepatnya yang jadi santapan buaya adalah mayat yang tidak berseragam.” Tiba-tiba sepasang mata Trayodasa mendelik. “Kalau kita mati, juga dibuang ke kali dan jadi santapan buaya. Beruntung kita masih hidup Mbakyu.”

      Keduanya bekerja cepat, mengubur mayat temannya dibawah pohon besar. Mereka memberi tanda silang di pohon.

      “Ayo berangkat sekarang.” Kata Trayodasa. “Kita cari kuda dulu, pasti masih ada yang tersesat disini.”

      Cepat sekali mereka menemukan jejak para perampok yang ternyata tidak menghapus bekas roda kereta. Ketika malam tiba, para perampok tidak berhenti untuk beristirahat. Mereka maju terus. Ekadasa dan temannya tetap membuntuti dari jauh.

      Satu hari lamanya mereka membuntuti. Dari hutan Karangan rombongan menuju Barat kemudian Utara.

      Siang hari keesokan harinya mereka melihat rombongan mendaki lereng bukit Gunduk. Dari jauh tampak sebuah desa yang dikelilingi rimbunan pohon-pohon jati. Ekadasa memperkirakan ada seratusan rumah. Itulah desa Bangu.

      “Cukup sampai disini. Sekarang kita pulang, melapor semua kejadian.” Ujar Ekadasa.

      Mereka berkuda, melakukan perjalanan cepat.

      Ditengah jalan di tepian kali Bango mereka melihat rombongan orang berkuda. Ekadasa dan temannya menjalankan kudanya agak menepi, tidak mau berpapasan dengan rombongan. Ekadasa dan Trayodasa berteriak girang ketika mengenal rombongan Tumapel, dipimpinan langsung Sang Pamegat.  

      Pertemuan yang tidak disangka-sangka.

(Bersambung Bab 11 bag 3)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com