Wisang Geni part Two Bab 11 bag 1 by John Halmahera
Posted on 19 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab Sebelas
Perampokan
(Bab 11 Bag 1)
Sore hari menjelang malam dilereng bukit Gunduk dibagian paling tinggi dari perumahan desa Bangu, di aula yang cukup luas, empat pendekar utama duduk sila, menanti dengan wajah tegang. Tak lama kemudian Linggapati muncul dari bilik pribadi. Dia mengenakan pakaian pendekar, serba hitam, celana longgar sebatas betis dan baju tanpa lengan yang bagian dadanya terbuka, tidak dikancing. Gagang keris mencuat dibalik pundak, ikat pinggang lebar menjepit pinggangnya yang ramping.
Dia melangkah sambil tangannya memegang tangan isterinya.
Dedes Ayu tidak berhias sebagaimana biasa, tetap saja parasnya yang cantik jelita membias bagai putri-putri keraton. Dia mengenakan busana pendekar, celana sebatas lutut warna hijau tua memperlihatkan betisnya yang kuning sawo.
Potongan tubuhnya yang ramping padat semakin menggoda dengan busana kebaya ketat yang pendek menggantung sebatas perutnya, memperlihatkan kulit perut dan pusar yang putih mengilat. Sepasang bukit kembarnya menonjol seakan ingin memberontak dari ketatnya kebaya warna hitam.
Pulosari, Sangkapura dan Samba merunduk tidak berani menatap kecantikan wanita itu. Khawatir pandangan birahi akan tertangkap mata tajam Linggapati.
Seperti biasa Linggapati duduk di kursi besar, satu-satunya kursi diruangan itu. Empat penasehat duduk di lantai. Dedes Ayu, penasehat utama, duduk sila dilantai yang dialas bantal warna kuning emas disisi kursi suaminya, satu tangannya bertumpu diatas paha suaminya.
Suasana hening. Empat penasehat memandang sang pemimpin.
Air muka Linggapati tampak muram. Dia menoleh kepada isterinya, memberi tanda untuk memulai pertemuan.
Dedes Ayu mengawali pembicaraan langsung kepada materi inti.
“Ada masalah penting. Markas kita kekurangan pangan. Untuk mencukupi makan bagi semua anggota pasukan diperlukan keping emas sebagai alat beli. Kita kehabisan keping emas. Gudang beras menipis persediaannya. Apa pendapat para penasehat?”
“Kita merampok lagi!” Kata Sangkapura tanpa basa basi. Pendekar dari Tanjung Anyar ini terkenal temperamen dan suka ceplas-ceplos tak punya tatakrama.
Dedes Ayu tersenyum. “Kangmas Sangkapura, itu namanya pinjaman paksa, bukan merampok karena kita bukan perampok.”
Sangkapura menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Kita ambil paksa milik Tumapel, pajak bulanan pelabuhan Jedung ke keraton kita sergap di tengah jalan.”
Dedes Ayu menoleh kepada suaminya. Linggapati tersenyum. Dedes Ayu membalas senyum, lalu menoleh ke para penasehat. “Kita harus cerdik, tidak boleh memperlihatkan diri. Artinya, kita yang berbuat, tetapi direkayasa sedemikian rupa sehingga keraton memastikan sebagai perbuatan kelompok Brantas.” Suara merdunya terdengar bagai desis ular berbisa.
“Wongayu Permaisuri kamu lupa bahwa pajak keraton itu dikawal ponggawa dan prajurit Tumapel serta puluhan anakbuah Brantas. Kita bisa membunuh mereka semua dalam sekejap tetapi bagaimana merekayasa Brantas sebagai kambing hitam?” Ujar Sangkapura.
“Mudah, mayat orang Brantas kita buang ke kali biar hanyut atau dimakan buaya. Jadi ditempat kejadian hanya ada mayat orang keraton. Nah tentu saja Tumapel akan memastikan itulah perbuatan Brantas.” Tutur Dedes Ayu.
Semua merasa kagum akan siasat itu.
“Siasat permaisuri sangat terpuji. Memang pantas permaisuri mengepalai kami dan mendampingi paduka Linggapati.” Senopati Samba memuji dan menjilat.
Linggapati senang. Begitu juga Dedes Ayu senang akan pujian itu.
Tangan Linggapati mengelus kepala isterinya, suatu pujian dan bentuk kasih sayang yang diperlihatkan depan umum. Keruan saja Dedes Ayu kian bersemangat.
“Kemarin dalam perjalanan merantau, kami mampir di pelabuhan Jedung. Aku tahu jalur perjalanan pengawal yang membawa keping emas ke Tumapel. Mereka ke Selatan lewat hutan Karangan, terus melalui kali Welang naik perahu menuju Singosari. Kita sergap mereka di hutan Karangan.” Tutur Dedes Ayu.
“Itu pemikiran cerdas, aku mendukung rencana itu.” Tukas Pulosari.
“Iyah, rencana yang cemerlang.” Tukas Linggapati.
Dedes Ayu mengerling dan tersenyum menggoda. Dia merasa semakin dekat dengan mimpinya, akan menjadi permaisuri dari Raja yang dipertuan di tanah Jawa. Selama ini dia telah memasang jerat-jerat cinta yang telah membelenggu laki-laki itu dalam pelukannya, menanamkan ketergantungan Linggapati pada dirinya. Sehingga jika tiba saatnya maka kursi permaisuri hanya bisa diduduki olehnya, dan tidak ada wanita lain sebagai saingan.
Sambil tetap menoleh memandang suaminya dia menutur rencananya. Dari mulutnya yang indah memikat meluncur kata-kata yang fasih dan rendah hati namun didalamnya tersirat kepercayaan diri akan kemampuan dan kecerdasannya.
Dedes Ayu melanjutkan. “Menyergap rombongan pembawa harta benda keraton sangat penting. Hamba usul misi ini dipimpin Samba, Hanggada dan Korowelang dengan pasukan rodra yang inti. Ketiganya punya andil kesalahan dalam memimpin anak buahnya sehingga kejadian Kandangan merugikan kita. Saatnya nanti Paduka Baginda sendiri yang menitah dengan ancaman, tidak boleh gagal. Jika gagal, hukumannya terserah paduka Baginda.”
Mendengar ancaman hukuman empat penasehat terutama senopati Samba merinding bulu kuduknya, merasa ngeri.
Linggapati tampak tak berdaya menghadapi isterinya. Dia menyetujui apapun usulan yang keluar dari mulut yang dihiasi sepasang bibir tebal basah itu. ”Apalagi yang ada dalam pemikiranmu?” Tanya Linggapati makin bersemangat. “
“Kepala desa Karambang juga penguasa Jedung, wanita bernama Setiati. Dia tidak punya kepandaian silat, disekelilingnya tak ada pendekar yang mumpuni. Jadi misi ini tidak sulit, pasti bisa mendapat beras dan keping emas.” Tutur Dedes Ayu. “Siapa yang memimpin misi ini Baginda lebih tahu.”
“Bagaimana pendapat para penasehat?” Linggapati menantang para penasehatnya.
Tetapi tak seorang pun berani mengajukan rencana. Bersaing dengan Dedes Ayu sama bahaya seperti menyodor kepala sendiri kedalam mulut buaya yang menganga. Hasilnya mati. Para penasehat itu lebih memilih diam.
Linggapati memandang tajam empat penasehatnya. “Misi penyergapan di hutan Karangan harus diperkuat. Ini misi paling penting karena beras dan keping emas sudah jelas di depan mata.” Dia menoleh memandang Samba. “Dimas Samba yang memimpin misi ini. Aku ingin tahu jumlah orang dan kondisi mental pasukan rodra?”
Sangat berhati-hati Samba menjelaskan. “Untuk misi hutan Karangan, hamba usul duapuluhlima pemanah. Misi ke Karambang, limabelas orang. Selain itu beberapa pendekar dari gugus dua ikut serta.”
Linggapati merenung sesaat. “Aku putuskan kamu dan Hanggada membawa empatpuluh pemanah yang paling handal. Ini misi yang paling penting, pasukan kita harus kuat. Dan untuk misi ke Jedung akan dipimpin penasehat Pulosari dibantu Sangkapura dan Kajoran dengan membawa serta limabelas anggota rodra. Sisanya berjaga-jaga disini. Bagaimana pendapat kalian penasehat?”
“Keputusan paduka Baginda sangat bijaksana dan terang benderang kebenarannya.” Pulosari menyahut dengan suara rendah.
“Tidak boleh ada kesalahan. Kesalahan dihukum, keberhasilan akan memperoleh imbalan jasa. Semua misi itu harus berhasil. Camkan pesanku pada semua prajurit. Hari penyerbuan ke istana Tumapel semakin dekat, kita harus benar-benar siap sebagai pasukan yang sangat kuat.” Suara Linggapati lirih tapi kata-katanya jelas.
Pulosari bersama Sangkapura dan Dewi Kajoran duduk berhadapan dengan Setiati yang dikawani empat wakilnya. Mawar juru tulis desa serta tiga pengawal Melati, Seruni dan Jatisewu. Empat pendekar itu berdiri disamping kepala desa.
Setelah berputar-putar Pulosari lalu menyampaikan maksud sebenarnya, memaksa Setiati meminjamkan sepuluh kuintal beras dan lima ribu keping emas.
Setiati terkejut sesaat, sadar sedang berhadapan dengan gerombolan perampok. “Mereka bawa pasukan. Aku harus hati-hati.” Berpikir demikian dia menyahut dengan suara yang dibuat-buat agar tidak tampak rasa takutnya. “Beras dan keping emas milik keraton. Tidak pernah dipinjamkan.”
Pulosari tersenyum sinis berkata dengan suara dingin. “Aku tidak mau membuang banyak waktu, kalau kamu tidak bersedia memberi dengan baik-baik, kami akan mengambil paksa, dan sayang sekali akan jatuh banyak korban jiwa.”
Sebelum Setiati menjawab, Jatisewu wakilnya memotong. “Siapa tuan dan dari kelompok mana? Mengapa mau mengambil paksa milik penduduk desa?”
Pulosari mengancam. “Aku membawa pasukan. Akan banyak korban dipihakmu.” Dia menatap tajam Setiati. “Cepat katakan jawabmu!”
Setiati ragu-ragu.
Jatisewu menyahut. “Kurangajar berani berlaku sombong di rumah orang!”
Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran serentak bergerak, pesat.
Pulosari dan Sangkapura menyerang Jatisewu, jurusnya ganas dan mematikan. Rupanya dua penasehat ini tak mau kehilangan banyak waktu.
Serangan Dewi Kajoran mengarah Setiati. Tidak ganas karena tujuannya mencengkeram dan menawan si kepala desa.
Serentak terjadi tarung.
Jatisewu cepat menghunus pedang, memutar dan menghantam kepala Pulosari, sambil dia bergerak kesamping menolong Setiati.
Saat itu Dewi Kajoran sedang tarung dikeroyok tiga pendekar wanita wakil Setiati. Setelah bertarung sepuluh jurus, Pulosari meninggalkan Jatisewu sambil mengajak Dewi Kajoran dan Sangkapura mundur. “Tarung diluar!” Teriaknya.
Melihat tiga orang itu melompat keluar ke pekarangan Jatisewu curiga. Dia tahu adanya gerombolan di pekarangan. Mendadak terdengar kesiur angin bagai desis ular. Puluhan panah menerobos masuk ruangan dengan kecepatan tinggi.
Jatisewu berseru. “Awas panah!” Sambil dia menendang meja besar yang terbalik dengan penampang menghadap arah luar. Setiati dan para wakilnya yang sempat berlindung dibalik meja, selamat. Panah-panah itu mendatangkan suara ribut ketika menerpa meja kayu jati yang tebal itu. Jatisewu yang tidak sempat berlindung, kalangkabut menangkis panah dengan pedangnya.
Tiga ponggawa yang berjaga-jaga di ruangan mati dihunjam panah. Mawar dan Melati sempat berlindung. Seruni dan Jatisewu terlambat bergerak sebab serangan panah yang begitu mendadak. Keduanya terkena panah, luka tapi tidak parah.
Tidak berlama-lama Setiati berseru kepada Jatisewu. “Mas Jati kita menyerah saja, sebelum banyak korban jiwa.”
Jatisewu menoleh. “Mengapa menyerah?”
“Kita menyerah, lakukan Mas. Aku punya akal.” Setiati berseru.
Sadar majikannya pasti punya rencana yang cerdas, Jatisewu berseru lantang. “Hentikan panah. Kami menyerah, silahkan ambil beras dan keping emas digudang.”
“Bagus, kalian tahu gelagat. Ayo buka pintu gudang!” Teriak Pulosari.
Ketika Mawar hendak berdiri, Setiati mencegah dengan menahan tangannya. “Kamu tetap di sini, biar ponggawa lain yang membuka, kamu serahkan kuncinya.”
Mawar melempar kuncinya kepada seorang ponggawa yang lantas dengan ketakutan membawanya ke Pulosari.
Pada saat itu Setiati mengambil alat tulis, menulis diatas kulit tipis. “Kami dirampok, beras dan keping emas dikuras dari gudang desa Karambang, perampok sedang memuat beras di kereta kuda, cepat tolong kami.”
Pulosari dan anak buahnya mengawasi para pegawai desa mengangkut beras dan memuatnya ke kereta kuda, sebagian lain mengawasi pintu rumah kepala desa.
Setiati bersama Mawar berindap-indap keluar lewat pintu belakang. Setiati sambil bersiul lirih mengambil sangkar mengeluarkan elang. Mawar menyodor sekerat daging ke paruh elang. Setiati mengikat surat di kaki elang dan melepas burung itu terbang ke angkasa.
Adipati Gajah Pringgon sedang makan siang didampingi tiga isteri ketika seekor elang berputar-putar diatas wuwungan. Suara elang itu dikenal Gajah Pringgon yang lantas bersiul. Saat berikut elang menerobos masuk, hinggap di tangan majikannya.
Laki-laki itu membuka ikatan kulit tipis di kaki elang. Dia mengambil beberapa potong daging meletakkan dimeja dekat si elang yang lantas melahap. Dia mengelus kepala elang yang lantas terbang balik ke rumah Setiati.
“Ambil alat tulis.” Serunya.
Isterinya, yang paling muda mengambil selembar kulit tipis dan alat tulis. Gajah Pringgon menulis. “Cakil, bawa tigapuluh pemanah ke Karambang, bunuh orang-orang yang sekarang ini sedang merampok gudang beras desa.”
Isteri utamanya membawa sangkar burung. Gajah Pringgon bersiul, mengeluarkan elang. Dia mengikat surat di kaki elang, memberinya sekerat daging besar. Elang menikmati daging mentah itu, saat berikut Gajah Pringgon menyuruhnya terbang. Elang itu melesat ke angkasa membawa kabar penting.
Selesai itu dia berseru memanggil pengawal. Lima ponggawa bertubuh besar berdiri dalam keadaan siaga. ”Kumpulkan tigapuluh pemanah, duapuluh petarung, kita berangkat sekarang.” Dia berdiri dari kursi, menyarungkan keris di punggung.
Ketika Gajah Pringgon memijak kakinya di pekarangan, pasukannya sudah siap di atas kuda masing-masing. Laki-laki ini yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi melompat ke atas kudanya. “Gerombolan mana berani merampok milik Tumapel?” Suaranya terdengar dingin, wajahnya bengis. Kumisnya yang tebal seakan berdiri saking marahnya.
Dia berseru kepada pasukannya. “Berangkat, ke Karambang.”
Mereka memaksa kuda berlari cepat ke batas hutan yang terpisah sekitar lima kilo dari markasnya yang letaknya tidak jauh di Utara pelabuhan.
(Bersambung Bab 11 bag 2)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







