Wisang Geni part Two bab 10 bag 3 by John Halmahera
Posted on 16 Juli 2014 ( 0 comments )
Prastawana menahan diri, berkata kepada Laras. “Kembalikan Angga kepada ibunya.”
Anggreni berlari menghambur dalam pelukan ibunya. Gayatri memeluk, menciumi wajah putrinya sambil menangis. “Oh Angga, kamu selamat, kamu sehat. Ibu sangat rindu padamu, hari ini ibumu dipermalukan penjahat itu depan banyak orang, rasanya ibumu mau mati. Tetapi yang mencegah ibu bunuh diri hanyalah rindu padamu.”
“Jangan mati ibu.” Anggreni memeluk ibunya.
“Tidak. Ibu tak mau mati, ibu mau pelukan sama Angga.”
Ketika Gayatri hendak melangkah pergi, Prastawana menegurnya. “Akan kamu bawa kemana Anggreni?”
Gayatri berhenti, membalik badan. “Aku yang melahirkan Anggreni, aku tinggal dekat danau, menunggu suamiku.” Dia melangkah tertatih-tatih sambil membopong Angga.
Baru beberapa langkah dia berhenti, menoleh ke belakang.
Matanya melotot, memancar sinar hawa amarah. “Nasibku memang buruk, gara-gara Arjapura. Aku akan balas dendam. akan kubunuh penjahat itu!” Suaranya parau.
Semua orang yang hadir disitu dan yang menyaksikan sepakterjang Gayatri, terdiam. Rasanya mengerikan melihat dendam yang terpancar dari sepasang mata merah Gayatri.
“Kamu isteri ketua, kamu orang yang kuhormati, kami berenam sedang mencari ketua, dimana kira-kira aku bisa menemukan ketua?” Kata Prastawana dengan ramah.
Gayatri menatap tak percaya. “Benarkah kamu masih menganggap aku isteri ketuamu?”
“Aku sudah diangkat sebagai ketua Lemah Tulis tetapi bagiku Wisang Geni tetap ketuaku dan aku hanya mewakilinya. Kamu isteri ketua, dan tetap sebagai isteri ketua, sampai saatnya ketua berkata yang berbeda.” Kata Prastawana, ramah dan sopan.
“Prastawana, kamu pendekar sejati, tak percuma suamiku mengagumimu menyebutmu paling layak menjadi ketua Lemah Tulis. Kata-katamu bagai emas yang bisa kupegang.” Tegas Gayatri datar.
“Isteri ketua, bisakah memberitahu, kira-kira kemana aku harus mencari ketua?”
Gayatri berkata. “Tunggu saja di lereng bukit Lejar. Pasti akan bertemu ketuamu.”
Ketika itu sesosok bayangan berkelebat. Seakan turun dari langit, seorang nenek berjubah kuning berdiri dekat Gayatri. Tidak terlihat gerakannya, petanda ilmu-ringan tubuhnya sudah mencapai taraf kesempurnaan.
“Hai muridku, aku datang.” Kata si nenek.
“Guru!” Seru Gayatri. “Tadi aku gunakan jurus ajaranmu dan berhasil menyelamatkan Angga dari ancaman penjahat itu. Dia berniat membunuh anakku, sungguh jahat.” Saat berikut Gayatri tertawa. “Aku tahu diam-diam kamu menyambit penjahat itu dengan senjata rahasia membuat dia kalangkabut menari macam monyet.”
“Aku cuma perlu tujuh kerikil untuk mengusirnya.” Sahut nenek berjubah kuning.
Semua yang hadir merasa heran, mendadak Gayatri memanggil nenek tua dengan sebutan guru. Saat itu terjawab sudah mengapa Arjapura lari terbirit-birit. Pasti nenek tua itu memiliki ilmu-silat sangat tinggi. Sejak kapan Gayatri berguru padanya?
Nenek itu meraih Anggreni, menimang-timang sambil tertawa gembira. “Anak ini cantik, namamu Anggreni?”
“Namaku Angga.” Sahut Anggreni.
Nenek itu tertawa mendengar jawaban dan mimik lucu Anggreni. “Anakmu ini cerdas dan punya tulang bagus untuk jadi pendekar.”
Dia menciumi paras Anggreni yang keringatan. “Aku masih harus mengusir sisa racun dalam tubuhmu, memulihkan tenaga-dalam dan menyempurnakan ilmu-silatmu.”
Gayatri tertawa senang. “Kita nginap di dekat danau. Ayo Guru!”
Ketika itulah Dyah Mekar memanggil, “Gayatri, tunggu!”
Gayatri mengenal suara Dyah Mekar. Dia ingat masa sulitnya di perkampungan Lemah Tulis ketika banyak murid wanita tidak bersahabat dengannya, hanya Dyah Mekar yang mau berteman. Malah isteri Prastawana itu tarung membelanya dengan mempertaruhkan nyawa menghadapi keroyokan para penjahat di bukit Kukun dekat Lemah Tulis.
Dia membalik badan, memandang Dyah Mekar yang melangkah mendekatinya.
“Mbakyu Dyah.” Gayatri tenggelam dalam pelukan Dyah Mekar.
“Adikku,” Tangan Dyah Mekar mengelus rambut sahabatnya.
Gayatri berkata lirih. “Nasibku buruk mbakyu. Aku menunggu hukuman suamiku, kalau aku mati tolong kamu melihat-lihat si Angga, dia belahan jiwaku.”
Tidak sanggup menyembunyikan kesedihannya, Dyah Mekar ikut menangis. “Aku berjanji akan melindungi Angga.”
“Terimakasih mbakyu.” Kata Gayatri.
“Aku akan membelamu, akan kujelaskan bahwa karma yang kamu alami itu bukan kesalahanmu, itulah tipu daya penjahat Arjapura.” Bisik Dyah Mekar.
“Mbakyu, kamu pergilah mencari suamiku. Aku yakin dia masih hidup. Sampaikan sembahku padanya, katakan aku menunggu hukumannya, aku legowo.” Gayatri melepas pelukannya, menghapus air matanya.
Malam itu Prastawana berkumpul dengan para murid Lemah Tulis. “Besok kita berangkat. Siapkan bekal, beberapa tabung tuak, aku yakin ketua pasti rindu rasanya tuak.” Kata Prastawana, nada suaranya gembira.
“Pasti. Kita beli tuak di tengah perjalanan. Tapi mas Pras, kamu tampaknya yakin akan bertemu ketua.” Kata Laras sambil memandang teman lainnya.
“Kita pasti menemukan ketua.” Prastawana yakin.
Mereka saling pandang. Laras berkata kepada Prastawana. “Kangmas, aku tidak percaya Gayatri. Satu kali dia mengkhianati ketua, pasti usulnya ke bukit Lejar juga tipuan untuk menyesatkan kita.”
“Apa alasanmu?” Prastawana bertanya.
Laras diam, tampaknya dia ragu.
“Aku percaya pada Gayatri!” Tegas Dyah Mekar.
Kali ini Sawitri yang menyahut. “Kita mendengar semua yang dikatakan Gayatri bahwa dia menunggu hukuman dari ketua. Aku yakin Gayatri tidak mau kita temukan ketua.”
“Justru omongan Gayatri itu yang paling benar, bukit Lejar!” Prastawana berkata tegas.
“Kangmas, kamu percaya omongan Gayatri?” Gajah Lengar bertanya.
“Kamu sendiri, apakah kamu percaya?” Prastawana balik bertanya.
Gajah Lengar menyahut pasti. “Aku percaya. Aku cukup kenal pribadinya. Dia tidak akan berbohong atau menyesatkan kita.”
“Sejak awal firasatku kuat, ketua Geni akan memaksa Sekar membawanya ke lembah kera, jurang di kawasan gunung Lejar. Tempat itu sangat penting artinya bagi ketua, disitu dia mendapatkan tenaga wiwaha, disitu dia mendapatkan kembali hidupnya. Disitu titik awal perjalanan panjang ketua mengarungi lautan ilmu-silat.” Tutur Prastawana sambil memainkan jari-jari tangannya.
Dyah Mekar tahu tabiat suaminya, jika memainkan jari-jari tangan pertanda dia sedang menimbang keputusan yang paling penting.
“Tetapi kamu tidak pernah memberitahu kami,” Kata Daraka.
“Memang aku tak pernah memberitahu siapa pun, tidak juga pada isteriku.” Pandangan Prastawana agaknya hendak minta maaf atas sikap tertutupnya.
“Mengapa? Apakah sebab kamu tidak yakin?” Dyah Mekar bertanya ramah.
“Yakin. Aku yakin. Aku hanya perlu seorang lain yang mengatakan itu. Dan tadi aku mendengarnya dari Gayatri, aku melihat matanya, tatapan matanya. Tidak ada kebohongan disitu, bahkan aku melihat ketulusan. Ketika dia menyebut lereng bukit Lejar, seketika aku tahu benarnya firasatku.”
“Mas Pras, katakan apa firasatmu itu.” Gajah Lengar masih penasaran.
“Aku… , aku sudah lama menyelami alam pikiran ketua, berpikir seperti dia berpikir.” Penuturan Prastawana terhenti, suaranya parau. Matanya berkaca-kaca. Dia menahan haru.
Mereka semua diam.
Prastawana melanjut penuturannya. “Ketua pasti berpikir, satu-satunya tempat untuk sembuh adalah di lembah kera. Jikalau tidak sembuh maka dia mau mati dan dikubur disisi kuburan guru Lalawa.” Mata Prastawana berkaca-kaca.
Dyah Mekar memegang tangan suaminya. Seakan ikut merasakan duka yang dialami suaminya jika benar Wisang Geni mati.
Gajah Lengar berseru, mengejutkan semua orang. “Kini aku mengerti.”
“Apa? Kamu mengejutkan orang!” Kata Daraka.
“Itu sebab kangmas Prastawana cepat menguasai ilmu-silat yang diajarkan ketua, dia lebih cepat menguasai dan lebih sempurna ilmu-silatnya dibanding kita semua, padahal ketua mengajar dan membimbing kita semua tanpa pilih kasih.” Tegas Gajah Lengar.
Semua ingin mendengar.
“Karena kangmas Prastawana telah menyelami cara berpikir ketua, dia tahu apa maunya ketua, dia mengerti sebab akibat yang dijelaskan ketua yang terkadang sangat berbelit-belit saking tinggi ilmu-silat yang akan dibentang. Kita semua sulit mengerti, tetapi dia dengan mudahnya mengerti dan menyerap ajaran ketua.” Gajah Lengar berkata dengan penuh kagum, mengagumi kecintaan Prastawana terhadap ketuanya.
Prastawana menghela nafas lega. “Sudah kuputuskan, besok pagi-pagi aku berangkat ke bukit Lejar. Dyah Mekar harus ikut aku! Teman yang lain boleh ikut boleh tidak, mungkin saja kalian mau mencari ketua di tempat lain.”
“Mengapa kamu tidak mewajibkan kita semua ke bukit Lejar?” Seru Laras.
Prastawana tertawa. “Sekarang kuwajibkan kalian ikut aku!”
“Jangan lupa membeli tuak, ketua pasti sudah rindu rasanya tuak!” Seru Daraka gembira seakan sudah pasti akan bertemu Wisang Geni di bukit Lejar.
( Bersambung bab 11 bag 1)
***
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







