Wisang Geni part Two Bab 9 bag 2 John Halmahera
Posted on 12 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab 9 bag 2
Saat berikut ketika murid dua perguruan belum sadar, ratusan panah susul menyusul melayang di udara, menyebar menghunjam ke kubu Mahameru dan Lemah Tulis. Kumpulan panah bagaikan awan hitam yang menutup langit dan mencurah kebawah mencari sasaran. Terjadi hiruk pikuk kekacauan. Puluhan murid dua perguruan berjatuhan. Tewas.
Sebagian murid sempat mundur berlindung di balik pohon, sebagian memutar senjata bagai titiran, melolos diri dari sergapan ratusan panah yang tidak kenal ampun. Kemudian terdengar aba-aba keras mengguntur, “serang, bunuh Mahameru dan Lemah Tulis!”
Bragalba dan Gajah Watu tak pernah mengira serangan licik pasukan pemanah. Tapi kenyataan terjadi, separuh lebih murid dua perguruan tewas. Sementara musuh yang menyerang duaratusan orang. Dua tetua ini saling pandang lalu serentak berseru keras. “Lari, lari, cepat pergi! Sekarang juga!”
Murid dua perguruan yang tersisa sekitar tiga puluhan berlarian menyelamatkan diri dipimpin Prastawana, Dipta dan Narapati. Mereka lari berkelompok, tidak bercerai berai.
Gajah Watu, Bragalba dan Rawaja menyambut serangan musuh. Tiga pendekar tua ini dengan tenaga-dalamnya yang tidak terukur lagi dan ilmu silatnya yang tinggi mengamuk. Mereka membelah kelompok murid Brantas yang meluruk maju. Setiap bergerak musuh berjatuhan, tewas.
Sepak terjang mereka yang telengas dan kejam bagaikan raksasa haus darah membuat keder musuh. Dalam sekejap mata baju dan wajah mereka keciprat darah musuh.
Tigapuluhan murid Brantas tewas mengenaskan. Sepakterjang tiga pendekar tua ini tertahan ketika pendekar kelompok Linggapati datang menyerang. Terjadi tarung di tiga kelompok, delapan dewi formasi grasak petung mengepung Bragalba. Kelompok lain, Ganggati dibantu Kangsa dan Roro Gandis mengepung Gajah Watu. Kelompok lain Rawaja dikeroyok Samba, Hanggada dan Sangkala.
“Bunuh tiga kakek secepatnya, kita mengejar yang lari!” Teriak si Cebol kali Panggul yang meluruk maju mengeroyok Gajah Watu. Purocana si Gila dari Merbabu membantu Samba mengeroyok Rawaja.
Orang-orang Brantas lain mengejar kelompok Prastawana yang melarikan diri. Namun kehebatan sepak terjang tiga pendekar tua yang telah membunuh banyak murid Brantas dan menghalangi para pengejar, telah berhasil memberi waktu cukup bagi kelompok Prastawana melecut kudanya menjauh dari arena tarung.
Gajah Watu menggelar ilmunya yang paling dahsyat. Tangan kiri memainkan jurus penakluk raja, suatu pukulan tangan kosong yang angker dan menebar hawa panas. Tangan kanan dengan keris luk sebelas memainkan jurus garudamukha prasidha yang menjadi pusaka perguruan. Biasanya jurus ini merupakan pergerakan dari ilmu tangan kosong namun belakangan mengalami inovasi tarung menggunakan senjata. Itulah idea pemikiran Wisang Geni bertiga Padeksa dan Gajah Watu.
Tenaga-dalam pendekar tua dari Lemah Tulis ini sudah mencapai titik paling tinggi yang bisa dicapai hasil latihan puluhan tahun. Keris yang dia mainkan menguar hawa panas yang mengiris udara dengan suara mencicit. Tangan lainnya menebar maut dengan tepukan dan pukulan keras berhawa panas.
Kangsa dan Roro tidak berani mendekat setelah nyaris disambar dan dipatuk keris Gajah Watu. Melihat ini Ganggati menyeru dua muridnya menjauh dan menyerang dari kejauhan.
Ganggati sendiri meladeni dengan memainkan keris luk sembilan yang mengilap warna merah berhawa panas. Jurus lenyam-lenyom yang dia mainkan membuat kerisnya mematuk ke segala titik kematian tubuh lawan. Menikam, mematuk dan membabat dengan irisan tajam. Tidak terhindar beberapa kali terjadi benturan dua keris mengeluarkan suara keras dan percikan api. Tangan kiri Ganggati ikut memainkan jurus maut andalannya tapak racun panas yang menguar hawa panas.
Gajah Watu sangat perkasa. Sambil tarung menghadapi Ganggati dan dua muridnya, sekali-sekali dia melepas diri dan melabrak kumpulan Brantas. Sekali gebrak dia berhasil merenggut empat nyawa. Lalu berkelebat balik menempur Ganggati yang tentu saja bangkit amarahnya. Tetapi diam-diam Ganggati mengakui kehebatan Gajah Watu.
Sepak terjang Gajah Watu telah mengikat Ganggati dan dua muridnya serta belasan murid dan pendekar bayaran di kelompok Brantas. Mereka tak punya kesempatan mengejar para murid dua perguruan yang meloloskan diri itu.
Tidak kalah serunya sepakterjang dua tetua Mahameru, Bragalba dan Rawaja. Keduanya memainkan ilmu andalan brahmanagrha (rumah orang Brahma) diantaranya jurus dahsyat kadharmesta (kebajikan) dan amijilakna (bermanfaat) yang penuh perubahan tidak terduga.
Bragalba dikeroyok delapan pendekar wanita yang rata-rata usianya tigapuluhan murid utama Dewi Kajoran.
Delapan wanita ini mengepung Bragalba dengan formasi grasak petung yang aneh tetapi mematikan. Gerak semacam tari dengan liukan tubuh dan senyum menawan diselingi hentakan pinggul dan kaki namun dua tangan menebar hawa maut. Formasi itu sangat rapat dan kompak. Bragalba kewalahan, setiap dia menggedor salah seorang musuh, empat musuh memotongnya dengan pukulan hawa panas.
Sementara Rawaja berhadapan dengan tiga senopati lawas keraton Kediri, yakni Samba, Hanggada dan Sangkala yang dibantu Purocana dari Merbabu. Beberapa pendekar bayaran juga menyebar memasuki tarung mengeroyok tiga pendekar tua itu.
Mulanya Rawaja terdesak oleh keroyokan tiga senopati yang bersenjatakan keris. Dalam usianya yang enampuluhan tenaga-dalam Rawaja sudah sangat tinggi, dia menggunakan tangan kosong sasra ludira yang mengandung banyak perubahan dan tipuan. Terpaan dan tebasan tangan kosongnya dipergelangan tangan musuh mendatangkan rasa nyeri. Dalam duapuluh jurus, terjadi perubahan, Samba dan tiga temannya kewalahan.
Beberapa murid Brantas dan pendekar bayaran ikut menerjang masuk. Seketika itu Rawaja terdesak mundur. Dia melangkah mundur sambil menarik keluar tasbih yang terbuat dari batu granit lalu berseru. “Kangmas, kita tarung jurus gabungan.”
“Baik,” seru Bragalba yang lantas mendobrak kepungan lawan.
Dua kakak beradik ini lantas berjajar memainkan brahmanagrha yang jumlahnya 21 jurus dengan berpuluh-puluh pecahan. Bragalba memainkan kawikaran perubahan dari basis gereh (guntur) dan sedung (badai) sedangkan Rawaja menggelarnya dari basis karawistha (hiasan) dan muwun (menangis).
Jurus Rawaja biasanya jadi andalan murid wanita, namun sebagai guru dia dapat memainkan dengan sempurna. Sedang jurus Bragalba khusus untuk murid laki-laki. Jurus gabungan ini khusus dimainkan pasangan suami isteri atau pasangan kekasih karena saling mengisi, bantu membantu, bergantian menyerang dan bertahan.
Terdengar tawa Bragalba, keras. “Tak dinyana hari ini kita berdua memainkan jurus gabungan yang sudah lama tak pernah dimainkan para tetua Mahameru.”
Delapan dewi bersama Samba, Hanggada, Sangkala, Purocana, si Cebol mengepung dua jago tua ini. Tampaknya kepungan semakin rapat dengan penuh ancaman maut. Mendadak terjadi perubahan dua pendekar wanita kena gelontor pundaknya, luka parah. Sangkala kena terjangan kaki Rawaja yang melemparnya keluar gelanggang, dadanya remuk, mati.
Rawaja tertawa keras, menoleh pada Gajah Watu. “Kangmas, ayo gabung dengan kami, kita bersenang-senang bersama menikmati tarian maut para penjahat ini. Aku telah kirim beberapa penjahat ini ke neraka.”
Mendengar ajakan yang disertai tawa keras, Gajah Watu bangkit semangat tarungnya. “Baik. Tiga pendekar tua bersatu menghajar cecunguk busuk.” Seru Gajah Watu. “Kita jadikan peristiwa ini catatan sejarah buat dua perguruan kita Mahameru dan Lemah Tulis.”
Dalam posisi terdesak Gajah Watu menyerang Ganggati dengan jurus penakluk raja yang paling kejam yakni kapejah (kematian) berlebur dengan hayu (keselamatan). Angin keras menghantam Ganggati yang menahannya dengan pukulan tapak racun panas, terjadi benturan keras.
“Desss, desss, desss…”
Gajah Watu lincah mengunakan ringan-tubuh meminjam tenaga lawan melesat masuk arena tarung dua tetua Mahameru. Sambil masuk Gajah Watu menyerang Purocana yang kena gaplok kepalanya. Kontan Purocana mati ditempat dengan kepala pecah.
Gajah Watu tertawa keras. “Ini dia, persahabatan tulen kita bertiga, jalinan Lemah Tulis dengan Mahameru, bukan hanya perkawinan antara para murid kita, tetapi juga saat menyabung nyawa tiga tetua perguruan akan mati bersama.”
Bragalba tertawa sambil berseru. “Kita akan mati, tetapi kita akan mengajak banyak jiwa ikut jalan-jalan menembus lintas langit yang gelap misterius.”
Rawaja tak mau kalah menyahut. “Kita jalan menuju swargaloka, tapi mereka penjahat busuk ini kita kirim ke neraka tempat dedemit busuk berpesta pora dengan api.”
Tidak hanya berkoar, tiga tetua ini menyebar maut lewat serangan yang kejam telengas. Tak ada ampun siapa kena pasti mati atau minimal luka parah atau cacat. Berurutan Hanggada kena tampar pundaknya oleh Gajah Watu, masih untung Ganggati mengganggu sehingga senopati ini hanya luka ringan namun yang membuat dia harus keluar gelanggang.
Hadirnya Gajah Watu dalam barisan segitiga, meskipun tidak menyatu dalam ilmu dan jurus namun keberadaannya meningkatkan daya serang dua tetua Mahameru.
Hampir seratus jurus berlalu, beberapa pukulan dan torehan keris mulai menggoyah perlawanan ketiga tetua ini. Pada jurus sembilanpuluh Gajah Watu yang letih dan tubuhnya berdarah-darah dilukai senjata para pengeroyok, menggerung keras. Itulah jurus paling mendasar dari garudamukha tetapi yang paling telengas karena bertujuan membunuh atau dibunuh, jurus gongkrodha (besar amarah) dilebur dengan shuhdrawa (hancur luluh).
Ganggati menghindar sambil mendorong pundak muridnya Roro Gandis menjauh dari sasaran Gajah Watu, namun Kangsa yang berdiri dibelakangnya tidak sempat menghindar. Terpaksa Kangsa memukul dengan mengerahkan segenap tenaganya.
“Dess…. desss… desss…”
Tiga letupan tenaga terdengar keras. Kangsa berteriak keras, tubuhnya terhuyung ke belakang, muntah darah. Luka-dalam. Dia selamat karena tertolong gurunya, Ganggati, yang kaget dan lantas menyerang Gajah Watu dengan keris ampuhnya. Serangannya telengas karena ingin menolong murid kesayangannya.
Tenaga-dalam yang sudah berkurang, banyaknya luka ditubuhnya, membuat Gajah Watu tak bisa mengelak tebasan keris maut Ganggati. Keris itu mengiris melintang perut pendekar tua Lemah Tulis itu.
Perut Gajah Watu robek besar, sambil memegang perut menahan ususnya, dia melesat ke depan dengan tangan lain menghantam salah seorang murid Dewi Kajoran. Pendekar wanita itu terkejut berusaha mengelak namun sia-sia, kepalanya kena tampar, dia mati sebelum tubuhnya membentur bumi.
Berbarengan rubuhnya musuh, Gajah Watu ikut rubuh, tewas setelah mencabut beberapa nyawa pendekar pemberontak.
Bragalba dan Rawaja juga tidak luput dari kematian, Tubuhnya belepotan darah. Penuh luka tikaman senjata. Saat bersamaan tewasnya Gajah Watu, dua tetua Mahameru itu menggerung hebat. Mereka menggentak tasbihnya, seketika butiran tasbih terlepas dari ikatan. Sambil melontar butiran tasbih ke segenap arah, mereka menyerang dengan jurus maut, membunuh atau mati. Bragalba menyerang Samba dan si Cebol. Rawaja mengincar dua pendekar wanita adik perguruan dewi Kajoran.
Terdengar teriak sekarat butiran tasbih merenggut belasan nyawa murid Brantas. Dua adik perguruan dewi Kajoran mati dengan dada remuk dihantam Rawaja. Serangan Bragalba mengena, si Cebol kena gelontor kepalanya, mati ditempat. Samba sempat membungkus diri dengan jurus andalannya wrahaspati naracabala handagangi (mentari melepas seribu panah maut) membuatnya terhindar dari kematian.
Samba tak hanya menahan gempuran tetapi menyerang balik. Punggung Bragalba kena gempur, pada saat mana tikaman salah seorang murid dewi Kajoran menembus dadanya. Bragalba mati dengan senyum. Rawaja juga mati kena tusukan keris Ganggati yang kalap lantaran murid utamanya Kangsa, terluka.
Pertarungan berdarah itu selesai. Tiga pendekar tua itu tewas secara ksatria tetapi setelah memorak-poranda kelompok Brantas.
Puluhan murid Brantas mati. Kangsa murid Ganggati, terluka. Purocana dan si Cebol mati. Tiga anggota grasak petung mati, dua lainnya luka parah. Sangkala pembantu setia Samba, mati. Belum terhitung pendekar yang luka parah.
Dewi Kajoran datang terlambat. Air matanya menetes melihat tiga muridnya mati. Dua lainnya luka parah. Dia berteriak keras, macam kesetanan. Api dendamnya pada Lemah Tulis dan Mahameru berkobar bagaikan panasnya api lahar gunung berapi.
Matahari belum menjulang di titik puncak tetapi pertarungan sudah selesai. Mayat-mayat bergelimpangan. Enampuluh murid dua perguruan besar itu tewas bersama tiga tetuanya. Di pihak Brantas, sekitar lima puluhan yang mati terbunuh.
Teriak kemenangan para murid Brantas menggema di kawasan itu.
Dari jauh, adipati Linggapati bersama Dedes Ayu mengamati dengan rasa puas. “Hebat, hujan panah rodra sangat mematikan. Aku puas. Pasukan rodra telah menjadi pasukan pembunuh yang paling mematikan.” Puji Linggapati kepada Pulosari.
“Tetapi sayang Wisang Geni tidak ada di sini,” tukas Pulosari.
“Wisang Geni sudah mati, kalaupun dia hadir hari ini, nasibnya juga sama, mati!” Kata Linggapati dengan dingin.
(Bersambung Bab 9 bag 3)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







