Wisang Geni part Two bab 9 bag 2 John Halmahera
Posted on 12 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab 9 Bagian 1
Tarung Kandangan
Dua kali Atis jatuh, tetapi Sekar berhasil menariknya kembali ke atas.
Setengah harian mereka menuruni jalanan kecil yang penuh bahaya.
Sekar memiliki ringan-tubuh yang lebih mumpuni dari Atis sehingga bobot tubuh suaminya bukan hambatan. Atis dengan waringin sungsang juga tak mengalami kesulitan. Hambatan yang berbahaya, hanya pada beberapa bagian jalan yang putus.
Akhirnya mereka tiba di ujung jalan.
“Sekarang bagaimana kita melalui jarak sepuluh tombak, mbakyu.” Ujar Atis.
Hari menjelang sore, kabut tebal menutupi pemandangan.
Samar-samar Atis melihat hijaunya pepohonan, dia sudah tiba di dasar jurang. Tetapi kenakalan gadis remaja muncul, ingin menggoda Sekar.
“Aku lompat duluan mbakyu.” Atis melesat.
Sekar tidak sempat mencegah. “Atis …” dia berteriak.
Sedetik kemudian terdengar seruan Atis. “Aku jatuh, tolong aku mbakyu.”
Sesaat Sekar panik. Saat berikut terdengar lengking hiruk-pikuk suara kera.
Tiba-tiba datang angin besar meniup kabut yang bertebar-pecah kemana-mana.
Sekar melihat pemandangan yang menggembirakan. Dia melayang pandang sekeliling, ternyata mereka berada di dasar jurang. Dia tertawa geli. “Kurangajar Atis, kamu menggoda, hampir aku menangis.”
Sekar memandang kagum.
Tampak pemandangan indah. Pepohonan hijau, rumput dan bunga-bunga.
Dia terkejut ketika puluhan ekor kera mendatangi sambil jingkrak dan teriak-teriak. Dia pernah mendengar cerita suaminya tentang lembah di dasar jurang yang penghuninya kaum kera. Tetapi menyaksikan sendiri banyaknya kera datang mengerubungi sambil jingkrak dan berceloteh membuat hatinya gentar.
Hatinya agak tenteram menyaksikan Atis berkomunikasi dengan para kera. Tampak Atis menggerak-gerakkan tangan dan berceloteh dengan mereka. Sekar kemudian melepas ikatan yang melilit tubuh Wisang Geni, menurunkannya dari gendongan dan membaring suaminya di rumput. Dia duduk sila di samping suaminya. Atis juga sila di sampingnya.
Malam itu, udara sangat dingin di desa Bangu, di kaki bukit Gunduk yang disiram hujan sejak pagi hingga siang. Puluhan pendekar berkumpul di sembilan bangunan rumah di balik tebing dan lamping bukit tempat markas kelompok anti-kerajaan, tersembunyi dari penglihatan orang. Di salah satu rumah, yang terbesar, sembilanbelas pendekar sila di tanah di hadapan adipati Linggapati yang duduk disatu-satunya kursi dalam ruangan luas itu.
Diantaranya, Dewi Kajoran, Dedes Ayu, Pulosari, Sangkapura dan Samba. Lima penasehat itu telah memilih empatbelas pendekar khusus untuk misi tarung di Kandangan. Mereka yang terpilih delapan pendekar wanita formasi Grasak Petung murid Dewi Kajoran, dua pimpinan pasukan rodra Hanggada dan Sangkala, Janda Genit Ngargoyoso, Purocana Si Gila dari Merbabu, Korowelang dari Utara Brangsong dan Si Cebol Keris Bayangan dari kali Panggul.
“Misi kalian membantu Brantas menghancurkan musuhnya, selain itu aku ingin tahu seberapa kuat serangan pasukan rodra.” Linggapati berhenti sejenak dan bertanya kepada Samba. “Sekarang berapa jumlah pasukan rodra?”
“Tadinya empatpuluh tiga, kini jumlahnya enampuluh delapan. Masih ada tigapuluh calon sedang diuji. Untuk misi Brantas kami pilih limapuluh orang dengan kemampuan merata, mohon persetujuan dan perkenan Paduka.” Jawab Samba.
“Aku setuju. Jadi rodra membawa limapuluh pemanah. Aku ingin melihat dengan mata kepala sendiri keampuhan pasukan panahmu.” Tukas Linggapati.
“Mohon maaf, apakah Paduka ikut ke Kandangan?” Dedes Ayu bertanya.
“Misi utama adalah uji-coba pasukan rodra, kesanggupan menciptakan hujan panah. Itu yang ingin kusaksikan.” Linggapati diam sesaat lalu memandang kakak perguruannya. “Kangmas Pulosari kutunjuk sebagai pemimpin pasukan, apa strategi kakang?”
“Maaf Paduka. Hamba akan mengatur dengan pimpinan Brantas, rencananya tahap awal Brantas siap dalam barisan berhadapan musuh. Pasukan rodra dibelakang Brantas, dimas Samba akan memberi aba-aba pasukan rodra menebar panah ke arah musuh. Tahap dua, Brantas dan para pendekar menyerang. Mohon petunjuk Paduka.” Kata Pulosari.
“Strategi sempurna. Semua kuserahkan kepadamu.” Tegas Linggapati, menambahkan. “Kuharap Wisang Geni hadir, jika tidak mati oleh hujan panah, aku akan membunuhnya. Itu menjadikan aku yang dipertuan di tanah Jawa sebagai pendekar nomor satu.”
Semua yang hadir tergugah semangatnya.
“Kalau berangkat siang hari ini, kita tiba di hutan Kandangan besok sore, satu hari sebelum pertemuan.” Pulosari menoleh pada senopati Samba. “Dimas, siapkan pasukanmu, pilih yang segar dan handal.”
Senopati Samba menyahut tegas. “Segera dilaksanakan, ketua” Jawabnya. Tapi dalam hati memikirkan keselamatan Sekar. “Jika Sekar berada di kelompok Lemah Tulis, mampukah dia menyelamatkan diri?”
Bagi Samba ikutsertanya dalam pasukan Linggapati bukan untuk mencari harta atau jabatan. Dia hanya mencari kesempatan menculik wanita idamannya. Hanya dengan meminjam tenaga pasukan Linggapati maksudnya bisa tercapai. Dia tahu diri tak mungkin merebut Sekar dari tangan Wisang Geni secara terang-terangan. Setelah mendapatkan Sekar dia akan melarikan wanita itu ke Tanjung Gerinting dan hidup bersamanya.
Pulosari dan Linggapati menyembunyikan rahasia, pertemuan bertiga dengan Ganggati beberapa hari lalu. Dalam pertemuan itu Linggapati menjanjikan bantuan kepada Brantas menghancurkan Mahameru dan Lemah Tulis. Imbalannya Brantas ikut serta dalam pasukan Linggapati saat menyerang keraton. Ganggati setuju.
Hari menjelang pagi, malam masih gulita. Embun dan kabut dingin menggayut sekitar batas desa Kandangan. Rombongan Lemah Tulis berada di Selatan, bercampur dengan Mahameru, berhadapan dengan kelompok Brantas di Utara.
Prastawana, ketua Lemah Tulis yang baru, mondar mandir antara para murid. Semalaman dia tak bisa memejam mata. Banyak pikiran berkecamuk.
Berulangkali dia mengusir pikiran buruk bahwa Wisang Geni, ketua dan gurunya, sudah mati. Keyakinannya akan ilmu-silat dan tenaga-dalam Wisang Geni yang tidak tertandingi selama ini menjadi jaminan ketuanya itu selamat.
Setelah sanggup menguasai dirinya, Prastawana mengumpulkan semua murid. Air mukanya tegang. Diantara rombongan ikut serta Gajah Watu sebagai sesepuh dan orang yang paling diandalkan.
“Aku tidak percaya ketua Wisang Geni mati, aku yakin dia hanya terluka. Sekarang yang kita hadapi kelompok Brantas yang didukung banyak pendekar bayaran. Singkirkan keragu-raguan, nama Lemah Tulis bertumpu pada sepakterjang kita hari ini.” Prastawana menggugah semangat tarung para murid. “Saat ini aku mengajak kalian bertarung dengan semangat, membayar jasa Lemah Tulis yang telah membesarkan kita.”
Gajah Watu mengangkat tangannya, para murid diam memerhatikan. “Brantas tidak memiliki pemimpin dengan ilmu-silat tinggi. Warok dan Manyar Edan sudah mati. Jadi kalau mereka berani menantang Mahameru dan Lemah Tulis, artinya punya kekuatan tersembunyi. Mereka dibantu para penjahat bayaran. Jumlah kita empatpuluh, Mahameru lima puluh. Brantas lebih banyak, kuperkirakan lebih dari duaratus orang.
Diam sesaat kemudian dia melanjutkan. “Ingat peristiwa tiga puluh tahun lalu ketika perguruan kita hancur. Tetapi Lemah Tulis tidak musnah dan bisa bangkit dihari kemudian sebab kangmas Bergawa memerintah para murid lari mundur karena situasi tak mungkin bisa bertahan. Para murid patuh. Sekarang aku perintahkan, jika terjadi situasi buruk dan kita tak bisa bertahan maka Prastawana dan Dipta memimpin para murid meninggalkan tarung dan pulang ke perguruan. Ingat, Prastawana dan Dipta akan jadi orang paling berdosa dalam sejarah perguruan jika berani membangkang perintahku!”
Terdengar protes diantara para murid.
Gajah Watu berseru. “Ini perintahku, perintah perguruan!”
Seketika para murid terdiam.
Tampak Prastawana mengeluh. Dipta pun terpukul. Perintah harus mundur dan lari dari medan tarung sungguh berat untuk dilaksanakan. Bagaimana mungkin meninggalkan medan tarung? Itu moral pengecut. Tetapi itu perintah perguruan yang harus ditaati. “Paman Guru. Aku tak mau lari, jika perlu aku mau mati di medan tarung.” Kata Prastawana.
Dipta mengungkap ketidakpuasan. “Mengapa aku yang dipilih, mengapa tidak biarkan aku tarung dan mati demi perguruan. Cabut kembali perintahmu Paman Guru, aku mohon.”
Kali ini Gajah Watu berhasil menekan emosi protes para murid. Dia melanjutkan. “Aku akan memberi tanda dengan teriakan “lari” dan kalian cepat meninggalkan medan tarung. Aku akan menjadi benteng penghalang di belakang kalian.”
“Aku bersama guru, kita berdua.” Kata Prastawana yang diikuti Gajah Lengar.
“Tidak! Hanya aku sendiri! Kalian semua harus pergi! Itu perintahku!” Tegas Gajah Watu. Raut wajah dan suaranya yang berwibawa membuat semua murid tunduk. “Hal ini juga berlaku bagi murid-murid Mahameru, mereka akan ikut kalian pergi ke Lemah Tulis. Tetapi kalau kita bisa bertahan apalagi berada atas angin, kita bertarung terus dan membasmi Brantas yang telah membunuh banyak murid kita.”
Keadaan senyap lagi. Semua mata memandang kakek guru yang sudah berusia enam puluh lima itu. “Aku sepakat dengan dua guru Mahameru, Ki Bragalba dan Ki Rawaja. Jika situasi terancam, para murid Mahameru harus meninggalkan tarung. Kalian tidak boleh mati sia-sia, ada waktunya kalian membalas kekalahan. Aku bertiga Ki Bragalba dan Ki Rawaja akan bertahan, mencegah musuh mengejar kalian. Kalian bersama murid Mahameru pulang ke Lemah Tulis. Kalian dipimpin Prastawana dan Dipta, Mahameru dipimpin Narapati.”
“Guru, mengapa berkata seakan-akan kita akan kalah?” Desak Dyah Mekar.
“Hanya ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Adalah bijak, kita mempersiapkan kemungkinan yang paling buruk.”
Para murid diam.
Gajah Watu melanjutkan. “Hari ini ada yang ingin kuceritakan, cerita keburukanku yang selama ini kusembunyikan. Puluhan tahun lalu aku berbuat buruk kepada keponakan muridku yang masih gadis. Aku memaksa menidurinya. Berulangkali. Dia tidak berdaya menentang paman gurunya yang biadab ini. Lalu aku pergi, lari dari tanggungjawab. Ingkar janji mengawininya. Dia merahasiakan, tetapi kangmas Bergawa mengetahui dan mengusir aku dari perguruan.”
Para murid terkejut. Gajah Watu melanjutkan. “Dia Walang Wulan, murid kesayangan kangmas Bergawa, yang kemudian jadi isteri Wisang Geni. Aku yakin dia menceritakan aib itu kepada suaminya. Belakangan aku sering bertemu suami isteri itu, tetapi keduanya tetap hormat kepadaku, hal ini membuat aku kian tersiksa.”
Gajah Watu tersenyum pahit. Wajahnya diselimuti rasa duka. “Perbuatanku pada Wulan tak bisa dimaafkan. Bisa saja Geni dan Wulan telah memaafkan, tetapi aku sendiri tak bisa memaafkan diriku. Sekarang setelah kuceritakan aibku ini, hatiku lega. Jika aku mati hari ini, sampaikan pada Wisang Geni, aku minta maaf padanya.”
Sinar kuning kemerahan matahari menyingsing diufuk Timur. Petuah Gajah Watu telah membangkit semangat tarung anak-anak Lemah Tulis. Begitu juga murid Mahameru setelah mendapat petuah dua gurunya, Bragalba dan Rawaja. Kedua perguruan ini dengan cepat membentuk barisan, bercampur satu sama lain.
Beberapa tahun belakangan hubungan dua perguruan makin erat bersahabat seiring terjadinya perkawinan antara para murid. “Hari ini kita membunuh atau dibunuh, tak boleh punya rasa kasihan. Harus telengas dan kejam. Ingat itu.” Seru Narapati, murid utama Mahameru yang berdiri dampingan dengan Prastawana. Mereka memandang kelompok musuh yang terpisah seratusan meter.
Di Utara hutan Kandangan yang berimpit dengan sungai, kelompok Brantas berdiri menanti aba-aba. Jumlahnya berkisar duaratusan, mereka berdiri diam dalam posisi siap. Di belakang mereka, pasukan pemanah Rodra siap dengan busur dan panah. Mereka bahkan telah siap menyerang, merentang busur dan memasang anak panah. Menanti aba-aba dari Hanggada maka ratusan panah akan melesat menghujani kelompok dua perguruan yang berdiri dilapangan terbuka, bebas dari pepohonan.
Samar-samar Prastawana melihat gemerlap mata panah. Matahari pagi sudah mulai menyinar terang. “Apa itu?” Seru Prastawana, “Panah?”
Narapati yang juga melihat, berbisik. “Itu barisan pemanah!”
“Awas panah!” teriak Prastawana.
(Bersambung Bab 9 bag 2)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







