Wisang Geni part Two Bab 8 bag 1 John Halmahera
Posted on 10 Juli 2014 ( 0 comments )
Bab Delapan
Lembah Kera
Bab 8 bag 1
Usai makan Sekar rebah di sisi suaminya, sekali-sekali tangannya meraba dada, merasakan nafas. Berjaga-jaga jika Wisang Geni sulit bernafas. Dia ingin memastikan dada bidang itu tetap bergerak petanda masih ada kehidupan.
Sore baru saja berganti malam. Keadaan kuil tidak sepenuhnya gelap, ada berkas sinar rembulan yang menerobos masuk dari dinding dan pintu maupun atap yang berlubang.
Mata Sekar yang setengah terpejam diserang kantuk berat, bergerak-gerak. Telinganya seakan tegak. Dia mendengar suara kaki kuda, pelahan tapi cukup jelas. Kuda tidak berlari, tapi melangkah pelahan.
Tiba-tiba Sekar sadar, “ada orang.” Bisiknya.
Terdengar bisikan Wisang Geni. “Tetap disini, jangan keluar.”
Tangan Sekar memeluk suaminya. “Tak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu.”
Dia berduka. Sebelumnya tak pernah dia mengalami keadaan tak berdaya sebagaimana sekarang. Biasanya dia bersandar pada kemampuan suaminya. Kini terbalik, dia harus melindungi suaminya yang terluka parah.
Langkah kaki ringan memasuki kuil. Beberapa saat langkah berhenti. Sekar membayang orang itu pasti berhenti didepan arca Batari Laksmi. Tadi dia sudah meneliti ruangan kuil dan bisa mengira-ngira. “Dari getar langkahnya, dia seorang diri, pasti bukan Gayatri, karena dia pasti bersama Arjapura. Siapa orang ini?” Pikirnya.
Sekar mendengar dengan teliti ketika orang itu bersuara, seperti bicara dengan diri sendiri. Suara perempuan. “Aku nginap di sini. Diluar gelap, aku takut. Oh seandainya dia di sisiku pasti aku tidak takut. Mengapa dia ingkar janji? Dia hanya mau tubuhku padahal aku mencintainya. Tadinya hendak mencarinya di desa Kandangan. Tapi tengah jalan aku berubah. Buat apa? Tak ada gunanya, dia tidak mencintaiku. Lagipula disisinya ada Sekar yang lebih cantik.” Terdengar suara tangis memelas.
Sekar heran mendengar namanya disebut-sebut. “Ah mungkin Sekar yang lain, di tanah Jawa banyak perempuan bernama Sekar. Tapi siapa perempuan ini?” Bisiknya dalam hati.
Rasa penasaran dan ingin tahu mengganggu benaknya, Sekar berbisik ke telinga suaminya. “Kamu diam disini, aku mau ngintip.”
Tak ada jawaban. Dia meneliti suaminya. Rupanya Wisang Geni tidur lelap. Takut suara ngorok suaminya terdengar oleh perempuan itu, Sekar menotok urat leher suaminya.
Sekar melangkah ke batas dinding, dia tak berani terlalu jauh dari Wisang Geni, demi keselamatan suaminya.
Dia memandang ke bagian dalam kuil. Agak samar namun cukup jelas, dibawah sinar bulan yang menerobos atap kuil tampak punggung seorang perempuan rambut panjang, duduk melipat kaki di depan arca Dewi Laksmi.
Terdengar lagi suara perempuan itu. Suaranya merdu meski bercampur isak tangis.
“Aku tidak bisa membenci dia, aku mencintainya, semoga dia hidup bahagia bersama isterinya. Kupikir lebih baik aku bunuh diri. Tak ada gunanya aku hidup jika tidak bisa bersama dia yang kucinta.
“Katanya dia mencintai aku, tapi mengapa dia meninggalkan aku? Pergi tak pernah kembali? Dia janji akan menjemput aku dan mengenalkan dengan mbakyu Sekar. Apa salahku? Apakah memang ada kesalahanku?”
Hening sesaat lalu terdengar isak tangisnya. “Mungkin dia lupa, tapi aku tak pernah lupa pengalaman sebagai suami isteri. Tak mungkin aku bisa melupakan dia. Aku tidak tahan merindu seperti ini. Lebih baik bunuh diri.”
Tiba-tiba ada angin sejuk mengelus punggung dan lehernya.
“Oh Dewi Laksmi, kamu datang menemuiku?” Dia menoleh ke belakang. Tapi tak melihat seseorangpun.
Seketika Sekar mengagumi wajah cantik dengan rambut panjang riap-riapan. Sinar bulan yang samar dengan latar belakang gelap, tak bisa menyembunyikan kecantikan alamiah yang begitu memesona. Sekar terpesona.
Sekar tidak mengenalnya, tetapi ada firasat suka. Sekilas dia menyimpulkan sebagai gadis polos dan jujur.
Mendadak timbul idea liarnya, ingin tahu siapa laki-laki yang membuat si gadis patah hati. ”Dia menyebut Sekar, Sekar yang mana, aku? Apakah laki-laki itu Wisang Geni?”
Sekar menggunakan tenaga-dalam tingkat tinggi mengirim bisikan ke telinga si gadis. “Bukan Dewi Laksmi, aku nenek Astika penjaga kuil, kesaktianku tak ada tandingannya, siapa gerangan kamu, anakku?”
Atis celingukan mencari-cari. “Aku … aku … namaku Atis. Tapi kamu di… ma .. na…? Siapa kamu Nenek Astika…?”
“Kamu tak bisa melihat aku. Tapi aku akan menolongmu, katakan siapa laki-laki itu?” Sekar mengubah suaranya semerdu dan semesra mungkin. Saat itu dia teringat Geni mengaku telah mengawini gadis bernama Atis, cucu Ki Sagotra. ”Dia inikah Atis itu?”
“Aku mohon ampun Nenek, tapi sungguh aku tak mau hidup lagi.” Kata Atis.
“Katakan mengapa ingin bunuh diri, dan siapa laki-laki yang kurang ajar yang telah membuat kamu begitu nelangsa? Benarkah dia Wisang Geni?”
“Memang benar. Dia Wisang Geni, ketua Lemah Tulis. Bagaimana kamu bisa tahu namanya? Tetapi dia tidak kurang ajar, aku mencintainya!”
Sesaat Sekar terkejut. Refleks dia menoleh memandang suaminya dari jauh. Wisang Geni masih tidur pulas. Dia berbisik kepada Atis. “Aku sakti, itu sebab aku tahu namanya. Katamu dia tidak kurangajar, tapi dia meniduri kamu, lalu meninggalkan kamu.”
“Oh tidak begitu Nek. Kami sudah jadi suami isteri. Dia istimewa, aku tidak menyesal menjadi isterinya meskipun kini dia meninggalkan aku, aku tetap mencintainya Nek.”
“Ceritakan semuanya Atis supaya hatimu lega, supaya aku bisa menolongmu.”
Atis menceritakan pengalaman sejak luka parah oleh pukulan si Jubah Hitam, Wisang Geni menolongnya dan membawanya ke lembah kera. Lukanya sembuh dalam beberapa hari, mereka menjadi suami isteri dan menetap selama tigapuluh hari.
“Katanya dia mencintai aku. Dia akan mengenalkan aku dengan mbakyu Sekar, isteri yang sangat dia cintai. Meskipun menjadi pelayan mbakyu Sekar dan isteri-isterinya yang lain, aku mau saja. Aku hanya ingin berada dekatnya.”
Timbul sifat jenaka dan nakal Sekar untuk menggali lebih banyak perasaan wanita muda. “Tetapi kalau nomor buncit, kapan kamu dapat giliran bercinta dengan suamimu?”
“Aku punya rencana membujuk mbakyu Sekar supaya dapat giliran bercinta. Kata mas Geni, mbakyu Sekar bijaksana dan welas asih. Aku akan manut pada mbakyu Sekar.”
“Wisang Geni berjanji akan mengenalkan kamu dengan Sekar?” Tanya Sekar. Dalam hati dia memaki suaminya. “Dia merayu Atis menggunakan namaku, memang Geni perayu ulung. Semua isterinya terbujuk rayuannya, tidak heran karena kita semua perawan bodoh yang tak punya pengalaman dengan lelaki.” Sekar tersenyum, bukannya marah malah dia merasa geli akan kelakuan suaminya.
Atis tak lagi menangis, suaranya terdengar riang, terbayang pengalamannya bercinta dengan Wisang Geni. “Benar Nek, dia janji membawaku ke mbakyu Sekar. Katanya mbakyu Sekar pasti menerimaku sebagai anggota keluarga, katanya kalau mbakyu Sekar setuju maka isteri lainnya akan manut. Mbakyu Sekar itu permaisuri, yang lain itu selir.”
Sekar tertawa dalam hati. “Atis ini benar-benar lugu, mau saja dibohongi mas Geni.” Dia menoleh lagi memandang suaminya yang tampak tidur pulas. “Belum puas menggoda dan meniduri perempuan bahkan gadis lugu ini pun tak luput dari godaannya.”
“Atis, usiamu berapa?” Desaknya.
“Kalau dihitung-hitung, kata kakek, usiaku tujuhbelas tahun, tapi aku sudah dewasa, sangat pantas jadi isteri kangmas Geni.”
Sekar bergerak pesat ke sisi suaminya, memerhatikan suaminya dengan cermat. Benar-benar suaminya tidur pulas. Dia balik ke tempat semula, mengintip Atis.
Mendadak dia terkejut, memergoki Atis memegang keris. Ujung keris dihadapkan ke dada persis di bagian jantung. “Nek selamat tinggal, kamu cari Wisang Geni dan katakan padanya aku mencintainya dan selalu mengingatnya. Aku berharap dalam kehidupan yang akan datang aku bisa menjadi isterinya, katakan Nek.”
Sekar melayang pesat sambil membentak. “Hei goblok. Atis! Buat apa bunuh diri!” Dia memukul jatuh keris dari genggaman Atis.
Gadis itu terkejut mendengar bentakan yang keras. “Ohhh… siapa….?“ Dia menoleh ke belakang. Sesaat tubuhnya kejang, terkejut lalu ketakutan mewarnai wajahnya yang pucat pasi ketika memandang sosok wanita yang tiba-tiba muncul dekatnya.
“Siapa kamu? Kamu bukan Nenek itu?” Atis bertanya dengan gemetaran.
“Aku Sekar, isteri Wisang Geni.” Suaranya diucapkan selembut mungkin.
“Oh mbakyu Sekar.” Suaranya bergetar menyimpan rasa takut dan malu. Dia merunduk sampai kepalanya menyentuh kaki Sekar. “Kamu mendengar semuanya? Oh ampuni aku, mbakyu. Aku pantas dihukum.” Dia mencium kaki Sekar, kemudian memeluk mencium lutut isteri Wisang Geni itu. “Ampuni aku, mbakyu.”
“Kesalahanmu besar, kamu kawin dengan Wisang Geni suamiku?” Desak Sekar.
“Ampun, ampuni aku, mbakyu. Bunuh saja aku. Tadi aku sudah tekad bunuh diri, bunuh aku, mbakyu. Aku rela dan nerimo, tak ada dendam.” Suara Atis ketakutan.
“Kamu mencintai Wisang Geni? Seberapa besar cintamu?”
Atis diam, tak berani menjawab.
Sekar membentak. “Jawab dengan jujur, seberapa besar cintamu pada Wisang Geni?”
Atis memberanikan diri. “Bagaimanapun juga aku akan mati, bunuh diri atau dibunuh, sama saja, jadi kenapa harus takut?” Lalu dia menjawab dengan suara tegas. “Tak ada lelaki lain dalam hidupku, aku mencintainya melebihi nyawaku sendiri. Aku mencintainya sejak belum bertemu dengannya, sejak usiaku sepuluh tahun.”
“Lantas padaku, aku kan isteri Wisang Geni, apakah kamu merasa bersalah padaku?” Tegas Sekar dengan suara galak yang dibuat-buat.
“Tak ada maaf. Aku sudah mencuri suamimu. Bunuhlah aku, karena aku bersalah!” Suara Atis bergetar, tetapi kini lebih tegas.
“Benarkah kamu mau serahkan nyawamu padaku?”
“Iya mbakyu, bunuh aku saja, aku tidak dendam ... atau biarkan aku bunuh diri. Jika mati urusanku juga beres.” Kata Atis tegar.
“Kamu mencintai suamiku, itu dosa besar. Kalau sekarang aku setuju kamu sebagai isteri Wisang Geni, apa yang akan kamu berikan padaku?” Tanya Sekar.
Atis terkejut, wajahnya pucat. Bibirnya gemetar. “Aku tidak mengerti, apa… apa maksud mbakyu?”
“Aku akan terima kamu sebagai isteri Wisang Geni, apa balas jasamu padaku?”
Atis terkejut tapi sekilas mengerti bahwa Sekar menggodanya, mengolok-oloknya. Dia menjawab sekenanya. “Aku rela menyerahkan nyawaku padamu.“
Sekar melotot. “Aku tidak mau nyawamu, tak ada gunanya membunuhmu.”
Kali ini Atis sadar pertanyaan Sekar itu tidak main-main melainkan serius. “Aku akan manut dan setia padamu. Tapi mbakyu, kamu tidak sungguh-sungguh.“
“Aku sungguh-sungguh, Atis. Aku terima kamu menjadi keluargaku, menjadi isteri Wisang Geni suamiku.“
Atis yang masih dalam posisi jongkok memeluk lutut Sekar, bergetar tubuhnya. Dia mencium lutut Sekar. “Mbakyu, jadi kamu sunguh-sungguh?”
Sambil mengelus ubun-ubun si gadis, Sekar menjawab lirih. “Aku sungguh-sungguh.”
Atis menangis bahagia. Dia tetap memeluk menciumi lutut Sekar.
Suara Sekar terdengar sendu. “Atis, apakah bicaramu bisa dipercaya?”
Gadis itu menyahut dengan suara tegas. “Dewi Laksmi jadi saksi, aku bersumpah setia padamu, aku akan mengabdi padamu mbakyu, semua perintahmu akan kulaksanakan.”
“Sumpahmu berat.”
“Terimakasihku padamu dan cintaku pada kangmas Geni melebihi kepentinganku.”
“Kalau memang cinta kangmas Geni, sekarang waktunya kamu menolong dia.”
“Menolong Mas Geni? Ada apa mbakyu?” Atis bingung.
Saat berikut Sekar mendorong bahu Atis, membantu gadis itu berdiri. Kaki Atis masih gemetaran sehingga berdirinya tidak tetap. “Bangun Atis. Sekarang ini Mas Geni sekarat, antara mati dan hidup, aku sedang berburu waktu untuk menyembuhkannya.”
Kali ini Atis terkejut bagai disengat kalajengking. “Aduh kangmas Geni kenapa? Oh mbakyu mengapa dia luka? Sekarat? Dia sekarat?” Atis bingung.
Sekar menarik tangan Atis, mengajaknya ke belakang pembatas bilik. “Cukup sudah, jangan bertanya lagi, kita bergantian berjaga, aku khawatir pengejarnya akan tiba disini.”
Ketika melihat keadaan Wisang Geni yang menggeletak di tanah, Atis membekap mulut sendiri. Suara gagapnya terdengar. ”Oh Mas Geni kenapa? Siapa melukainya?”
“Sudah dua hari berkuda, aku sangat lelah dan mengantuk.” Sekar mengeluh.
Mendadak kependekaran Atis muncul. Pikirannya jernih seketika. “Sekarang sudah larut malam. Kamu tidurlah, biar aku yang berjaga-jaga, besok pagi aku bangunkan kamu dan kita pergi membawa kangmas Geni? Kita kemana?”
“Gunung Lejar!”
“Maksudmu lembah kera di gunung Lejar?” Tanya Atis.
Sekar mengangguk. “Kamu tahu?” Sebenarnya Sekar sudah mendengar dalam keluh-kesah tadi Atis menyebut pernah ke lembah kera bersama Wisang Geni.
“Aku pernah ke sana, aku tahu jalannya, masih ingat!”
Sekar seakan mendapat sesuatu yang paling berharga. “Sungguh kebetulan, sekarang kamu berjaga-jaga. Bangunkan aku jika ada orang datang.” Dia merebahkan diri disisi suaminya, tangan memeluk suaminya.
Sekar tidur pulas, begitu juga Wisang Geni.
Matahari memperlihatkan tanda-tanda akan muncul. Sinarnya yang merah kuning menerobos kuil. Atis sibuk mengumpulkan kayu bakar dan bahan makanan. Dia menguliti ayam hutan, mengolesnya dengan bumbu lalu menyalakan api.
Dia sedang memanggang santapan lezat itu ketika Sekar bangun menghampiri. “Aduh baunya harum, kamu pakai bumbu apa?”
“Bumbu darurat mbakyu. Tidak banyak bahan yang kuperoleh, tapi lumayan untuk sarapan supaya kita bisa jalan jauh.”
“Kamu pintar masak rupanya.” Teringat sesuatu Sekar beranjak dari duduknya. “Kamu jaga kangmas Geni, aku mau cari bahan ramuan obat.”
Atis tersenyum. “Sebaiknya ke arah Timur, kemarin sore aku melewatinya, di situ banyak rumput dan bunga-bunga liar, mungkin yang kamu cari ada di situ.”
Atis memandang keluar, embun dan kabut agak tebal menghalangi sinar mentari.
Tiba-tiba dia dikejutkan suara Wisang Geni, suara lirih tak bertenaga. “Sekar apa yang kamu masak? Baunya harum, pasti lezat, aku sudah lapar.”
Sejak tadi malam Atis hanya bisa memandangnya dalam keadaan tidur. Wisang Geni bahkan belum tahu keberadaannya.
Jantungnya memukul keras saat dia berpikir akan menghampiri lelaki yang dicintainya. Dia ragu melangkah, tapi memberanikan diri menyahut. “Mbakyu sedang pergi mencari ramuan obat, aku yang masak.”
“Siapa kamu?” Tanya Wisang Geni, curiga, khawatir terjadi sesuatu pada Sekar.
“Aku Atis, kangmas.” Suara Atis parau, dia cemas, khawatir Wisang Geni ingkar janji dan tak mau mengakuinya sebagai isteri.
“Atis? Atis?”
“Iya aku Atis isterimu, kamu lupa? Kita sudah ikrar sebagai suami isteri di lembah kera.” Suara Atis kini bercampur tegang.
Senyap seketika. Hening. Tak ada suara.
Lalu terdengar suara Wisang Geni. “Kamu Atis isteriku?”
“Oh kamu masih ingat aku, kangmasku?”
“Iya tak mungkin aku lupa.” Kata Wisang Geni, suaranya lirih, lemah.
Comments







